Tragedi di Kawasan Industri Medan: Longsor PT Gunung Gahapi Sakti Menelan Korban, Satu Pekerja Tewas dan Satu Hilang
KabarHarian — Suasana hening di kawasan industri Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa pada Senin tengah malam. Sebuah insiden memilukan terjadi di area operasional PT Gunung Gahapi Sakti, di mana dua orang warga yang tengah beraktivitas mengumpulkan sisa-sisa material timah tertimbun longsoran tanah dan bebatuan besar. Musibah ini menyisakan duka mendalam setelah satu korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, sementara satu korban lainnya masih dalam upaya pencarian intensif oleh tim penyelamat.
Kronologi Kejadian: Maut di Tengah Malam
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi di lapangan, peristiwa nahas tersebut diperkirakan terjadi pada pukul 23.30 WIB. Saat sebagian besar warga Kota Medan tengah beristirahat, dua pria yakni Rinaldi (38) dan Roni Fauzi (38) justru masih bergelut dengan nasib di area Lingkungan II, Kelurahan Mabar. Keduanya diketahui sedang melakukan aktivitas pengambilan sisa timah atau yang sering disebut sebagai aktivitas ‘pemulung material industri’ di area lahan milik PT Gunung Gahapi Sakti.
Tanpa diduga, struktur tanah yang berada di atas posisi mereka berdiri mendadak labil. Tonase material tanah bercampur batu yang sangat besar merosot jatuh dengan cepat, menutup akses keluar dan mengubur kedua pria tersebut dalam sekejap. Suara gemuruh longsoran sempat terdengar samar oleh warga sekitar, namun kondisi lokasi yang gelap dan tertutup membuat pertolongan pertama sulit dilakukan secara instan.
Kabar mengenai hilangnya kedua pria ini baru terkonfirmasi secara resmi setelah pihak keluarga yang merasa khawatir mulai mencari keberadaan mereka. Setelah menyadari adanya longsoran di lokasi biasa kedua korban beraktivitas, keluarga segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang guna meminta bantuan evakuasi darurat.
Operasi SAR: Perjuangan Melawan Medan yang Berisiko
Menanggapi laporan tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Medan segera menerjunkan tim rescue menuju lokasi kejadian pada Selasa pagi. Kepala Kantor Basarnas Medan, Hery Marantika, menjelaskan bahwa operasi pencarian ini bukanlah hal yang mudah. Medan yang dihadapi oleh para personel di lapangan memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi.
“Begitu menerima informasi dari pihak keluarga korban, kami langsung menginstruksikan tim untuk bergerak cepat ke lokasi di PT Gahapi. Namun, kami harus sangat berhati-hati karena kondisi tanah masih labil dan ada risiko longsor susulan,” ujar Hery saat memberikan keterangan resmi kepada awak media.
Salah satu hambatan utama yang dihadapi tim di lapangan adalah adanya genangan air yang cukup dalam di bagian bawah area longsoran. Diketahui bahwa genangan ini berasal dari aliran air Sungai Deli yang merembes ke lubang galian, menciptakan lumpur cair yang menyulitkan pergerakan alat berat maupun personel yang melakukan penggalian manual. Kondisi ini membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak membahayakan keselamatan para penolong itu sendiri.
Penemuan Korban Pertama: Isak Tangis di RS Mitra Medika
Setelah melakukan penyisiran dan penggalian selama beberapa jam menggunakan alat seadanya serta bantuan personel gabungan, titik terang mulai muncul di tengah hari. Sekitar pukul 13.46 WIB, tim SAR berhasil mendeteksi keberadaan salah satu tubuh korban di bawah tumpukan material.
Korban yang berhasil ditemukan pertama kali diidentifikasi sebagai Roni Fauzi (38). Sayangnya, saat dievakuasi dari timbunan tanah, Roni ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia. Tubuhnya terjepit di antara material batu yang cukup berat, sehingga proses pengangkatan jasad memerlukan waktu dan ketelitian agar tidak merusak kondisi jenazah.
Jasad Roni segera dibawa ke Rumah Sakit Mitra Medika Yos Sudarso untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan. Kepergian Roni meninggalkan luka yang mendalam bagi kerabat dan teman sejawat yang tak menyangka aktivitas rutinnya mencari nafkah berakhir dengan tragedi yang menyayat hati.
Pencarian Korban Kedua: Rinaldi Masih Misteri
Hingga berita ini diturunkan, nasib satu korban lainnya, yakni Rinaldi (38), masih belum diketahui secara pasti. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, BPBD Kota Medan, unsur TNI-Polri, serta dibantu oleh relawan dan masyarakat setempat, terus berupaya membongkar tumpukan tanah yang masih menimbun area kejadian.
Hery Marantika menegaskan bahwa pencarian tidak akan dihentikan sampai korban kedua ditemukan. Strategi pencarian kini difokuskan pada titik-titik yang dicurigai berdasarkan keterangan saksi mata yang terakhir kali melihat posisi kedua korban sebelum longsor terjadi. Kendati demikian, faktor cuaca dan debit air dari Sungai Deli tetap menjadi variabel yang sangat menentukan kelancaran operasi di lapangan.
“Fokus utama kami saat ini adalah menemukan saudara Rinaldi. Kami mengerahkan segala daya upaya, namun tetap mengedepankan prosedur keselamatan kerja di area bencana. Kami mohon doa dari masyarakat agar proses ini berjalan lancar dan korban segera ditemukan,” tambah Hery dengan nada penuh harapan.
Potret Risiko di Balik Pengambilan Sisa Material
Kejadian di PT Gunung Gahapi Sakti ini membuka mata publik mengenai besarnya risiko yang dihadapi oleh para pengambil timah atau material industri bekas di kawasan-kawasan pabrik. Seringkali, demi memenuhi kebutuhan ekonomi, warga nekat masuk ke area yang memiliki tingkat keamanan rendah atau kondisi geologis yang tidak stabil.
Aktivitas pengambilan timah bekas ini biasanya dilakukan di area pembuangan sisa produksi atau lahan kosong milik perusahaan yang mengandung residu logam bernilai ekonomi. Namun, ketiadaan perlengkapan keselamatan kerja (APD) serta kurangnya pengetahuan tentang struktur tanah membuat para pekerja ini sangat rentan terhadap kecelakaan kerja yang fatal seperti longsor atau runtuhan bangunan.
Pihak kepolisian setempat pun mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di area berbahaya, terutama pada malam hari atau saat kondisi cuaca sedang ekstrem. Kawasan industri yang bersinggungan langsung dengan bantaran sungai seperti Deli memiliki karakteristik tanah yang lebih gembur dan mudah tererosi, sehingga potensi pergeseran tanah sangat besar terjadi sewaktu-waktu.
Langkah Antisipasi dan Evaluasi Keamanan
Insiden ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan-perusahaan di kawasan industri Medan Deli untuk lebih memperketat pengawasan di area lahan mereka. Pengamanan perimeter sangat penting dilakukan guna mencegah warga yang tidak berkepentingan masuk ke zona berbahaya yang berisiko menimbulkan kecelakaan.
Selain itu, peran aktif pemerintah daerah melalui Camat dan Lurah sangat diperlukan untuk memberikan edukasi kepada warga mengenai bahaya melakukan aktivitas pengambilan material di area yang rawan bencana. Koordinasi antara pihak swasta dan pemerintah harus ditingkatkan agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Pencarian Rinaldi akan terus dilanjutkan dengan memantau pergerakan tanah dan kondisi debit air sungai. Tim SAR berencana menambah bantuan peralatan jika diperlukan guna mempercepat proses pembersihan material longsor. Semua mata kini tertuju pada lokasi kejadian, menanti kabar baik mengenai penemuan korban terakhir yang masih terperangkap dalam pelukan bumi Mabar.