Tragedi Berdarah di Torgamba: Ayah dan Anak Pelaku Pembunuhan Remaja Akhirnya Menyerahkan Diri ke Polisi

Siska Amelia | KabarHarian
15 May 2026, 10:09 WIB
Tragedi Berdarah di Torgamba: Ayah dan Anak Pelaku Pembunuhan Remaja Akhirnya Menyerahkan Diri ke Polisi

KabarHarian — Sebuah awan mendung kesedihan menyelimuti Dusun Kandang Motor, Desa Aek Batu, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel). Ketenangan wilayah ini terusik oleh insiden berdarah yang merenggut nyawa seorang remaja muda. Namun, setelah sempat menjadi buronan dalam waktu singkat, drama pelarian para pelaku akhirnya berakhir di meja pemeriksaan kepolisian.

Dua pelaku utama dalam kasus pembunuhan tragis ini, yang secara mengejutkan merupakan pasangan ayah dan anak kandung, telah menyerahkan diri kepada pihak berwajib. Langkah ini diambil setelah upaya pelarian mereka terendus oleh petugas dan adanya desakan persuasif dari pihak kepolisian kepada keluarga tersangka. Kehadiran mereka di kantor polisi menandai dimulainya proses hukum panjang atas tindakan keji yang mereka lakukan terhadap Wahyudi Kurniawan, remaja berusia 17 tahun.

Kronologi Pertikaian Berujung Maut

Peristiwa memilukan ini bermula pada Kamis sore, 14 Mei 2026, sekitar pukul 17.00 WIB. Di bawah langit senja Torgamba, sebuah perselisihan terjadi di Dusun Kandang Motor. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ketegangan antara korban dan pelaku memuncak menjadi perkelahian fisik yang tidak seimbang. Dalam hiruk-pikuk pertikaian tersebut, sebuah senjata tajam jenis pisau muncul dan menjadi instrumen pencabut nyawa.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Leipzig: Mobil Hantam Kerumunan Warga, Dua Nyawa Melayang di Jantung Kota Jerman
Tragedi Berdarah di Leipzig: Mobil Hantam Kerumunan Warga, Dua Nyawa Melayang di Jantung Kota Jerman

Kapolsek Torgamba, AKP Sunipan Gurusinga, mengungkapkan bahwa salah satu pelaku melayangkan tikaman telak ke punggung bagian belakang korban. Serangan yang membabi buta itu membuat Wahyudi tak berdaya. Luka yang dalam menyebabkan pendarahan hebat yang tak terbendung. Di atas tanah merah Dusun Kandang Motor, remaja itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis.

“Kejadian itu berlangsung cepat. Pelaku terlibat duel dengan korban dan membawa pisau, lalu menikam punggung belakang korban hingga jatuh bersimbah darah. Korban kehilangan banyak darah di lokasi kejadian,” jelas AKP Sunipan dalam keterangannya kepada awak media.

Upaya Melarikan Diri dan Tekanan dari Pihak Kepolisian

Setelah melihat korbannya terkapar tak bergerak, ketakutan nampaknya mulai merayapi hati para pelaku. Bukannya menolong, Suprayetno (36) dan anaknya yang berinisial S (18) justru memilih untuk melarikan diri dari tempat kejadian perkara (TKP). Mereka meninggalkan korban sendirian dalam kondisi yang memprihatinkan, berharap jejak mereka bisa hilang di tengah kegelapan malam.

Namun, kepolisian dari Polsek Torgamba bergerak cepat. Segera setelah menerima laporan dari warga yang menemukan jasad korban, petugas langsung melakukan olah TKP dan mengidentifikasi terduga pelaku. Pengejaran pun dilakukan hingga ke kediaman tersangka di Dusun Cinta Makmur. Namun, saat itu rumah dalam keadaan kosong; para pelaku telah menghilang.

Baca Juga Misteri Kematian Siswi SMA di Nias Utara: Hilang Dua Hari, Ditemukan Tak Bernyawa di Aliran Sungai Perkebunan
Misteri Kematian Siswi SMA di Nias Utara: Hilang Dua Hari, Ditemukan Tak Bernyawa di Aliran Sungai Perkebunan

Tak kehilangan akal, polisi menggunakan pendekatan persuasif. AKP Sunipan memerintahkan anggotanya untuk berkomunikasi intens dengan keluarga pelaku. Petugas memberikan peringatan keras namun bijak agar pihak keluarga kooperatif dan meminta pelaku menyerahkan diri secara baik-baik daripada harus ditangkap dengan tindakan tegas di lapangan.

Pengakuan di Balik Pintu Rumah

Ada fakta menarik sekaligus memilukan di balik pelarian singkat ini. Sebelum memutuskan untuk menyerahkan diri, Suprayetno dikabarkan sempat pulang ke rumahnya secara sembunyi-sembunyi. Di sana, di hadapan istrinya yang syok, ia menceritakan seluruh kejadian yang baru saja ia alami bersama putranya.

Beban psikologis setelah menghabisi nyawa tetangga sendiri nampaknya menjadi alasan mengapa cerita itu keluar. Istri pelaku yang mendengarkan pengakuan tersebut berada dalam posisi yang sangat sulit, namun akhirnya kebenaran harus terungkap. Tekanan mental dan desakan polisi melalui keluarga akhirnya membuahkan hasil.

Tepat pada Kamis malam, sekitar pukul 18.45 WIB, Suprayetno dan anaknya S mendatangi Kantor Polsek Torgamba dengan diantar oleh pihak keluarga. Mereka datang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah merobek kedamaian desa mereka.

Baca Juga Menanti Gerbang Kampus Impian: Jadwal Lengkap, Link Resmi, dan Panduan Cek Pengumuman UTBK-SNBT 2026
Menanti Gerbang Kampus Impian: Jadwal Lengkap, Link Resmi, dan Panduan Cek Pengumuman UTBK-SNBT 2026

Proses Hukum dan Dampak Sosial

Kini, ayah dan anak tersebut harus mendekam di sel tahanan Polsek Torgamba. Tim penyidik masih bekerja ekstra keras untuk mendalami motif sebenarnya di balik perkelahian tersebut. Polisi juga tengah memeriksa sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi saat kejadian berlangsung guna melengkapi berkas perkara.

“Saat ini, kedua tersangka beserta saksi-saksi masih menjalani pemeriksaan intensif. Kami ingin memastikan semua fakta terungkap dengan jelas agar keadilan bagi korban dapat ditegakkan,” tegas AKP Sunipan Gurusinga.

Kasus ini mencuri perhatian luas masyarakat Labuhanbatu Selatan. Kehadiran sosok ayah yang justru terlibat dalam tindak kriminal bersama anaknya menjadi sorotan tajam. Banyak pihak menyayangkan bagaimana peran orang tua yang seharusnya menjadi pembimbing dan pelindung, justru menjadi rekan dalam melakukan tindakan kekerasan fatal.

Duka Mendalam bagi Keluarga Korban

Di sisi lain, keluarga Wahyudi Kurniawan masih terpukul atas kepergian remaja yang dikenal aktif tersebut. Rumah duka di Dusun Cinta Makmur terus didatangi kerabat dan tetangga yang memberikan belasungkawa. Harapan mereka hanya satu: proses hukum berjalan adil dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dengan hilangnya nyawa anak mereka.

Baca Juga Drama 50 Menit Mencekam: Mahasiswi UMP Terjebak di Lift Saat Pemadaman Listrik Masif Melanda Palembang
Drama 50 Menit Mencekam: Mahasiswi UMP Terjebak di Lift Saat Pemadaman Listrik Masif Melanda Palembang

Tragedi di Torgamba ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang betapa berbahayanya emosi yang tidak terkendali. Perselisihan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin justru berakhir dengan duka abadi dan jeruji besi. Pihak kepolisian pun mengimbau masyarakat untuk selalu mengedepankan dialog dalam setiap konflik dan tidak main hakim sendiri, apalagi menggunakan senjata tajam.

Kini, publik menunggu hasil akhir dari persidangan kasus ini. KabarHarian akan terus mengawal perkembangan penyidikan hingga kasus ini tuntas di meja hijau.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *