Tragedi di Balik Gemerlap Scam Poipet: Kisah Pilu Pria Binjai yang Mengadu Nasib Berujung Maut di Kamboja
KabarHarian — Suasana duka yang mendalam menyelimuti sebuah rumah di sudut Kota Binjai, Sumatera Utara. Harapan untuk melihat sang kepala keluarga pulang membawa kesuksesan sirna seketika, digantikan oleh tangis pilu yang pecah saat kabar duka datang dari negeri seberang, Kamboja. Rasdy Fauzi (39), seorang pria yang berangkat dengan mimpi memperbaiki ekonomi keluarga, justru harus mengembuskan napas terakhirnya di tengah belantara industri gelap di wilayah Poipet.
Kini, yang tersisa hanyalah sebuah permintaan sederhana namun sarat kepedihan dari sang istri, Kiki Tresia. Ia hanya ingin jasad suaminya dipulangkan ke tanah air agar bisa dimakamkan dengan layak di kampung halamannya. Kisah Rasdy bukan sekadar berita kematian biasa; ini adalah potret nyata tentang bagaimana kemiskinan dan keputusasaan mampu mendorong seseorang masuk ke dalam pusaran risiko yang mematikan.
Awal Mula Perjalanan: Terhimpit Ekonomi, Tergiur Janji
Perjalanan tragis Rasdy dimulai pada awal tahun 2025. Sejak akhir tahun 2024, ia terpaksa menelan pil pahit menjadi pengangguran. Di tengah kebutuhan hidup yang terus mendesak dan tumpukan utang yang kian menggunung, Rasdy merasa tidak memiliki banyak pilihan. Dalam kondisi buntu, sebuah tawaran datang melalui sambungan telepon dari seorang kawan lama pada Februari 2025.
Sang teman menjanjikan sebuah pekerjaan di Kamboja dengan jaminan keamanan dan gaji yang stabil, meski tidak fantastis. “Bulan Februari 2025 itu dia benar-benar buntu mencari kerja baru. Lalu kawannya menelepon, dibilang aman, gaji memang tidak besar tapi selalu ada, sekitar 300 Dollar per bulan,” kenang Kiki Tresia dengan nada lirih saat dihubungi oleh tim redaksi pada Rabu (6/5/2026).
Meski gaji tersebut setara dengan sekitar Rp 4,5 hingga 5 juta rupiah, bagi Rasdy yang sedang terjerat utang, angka tersebut adalah nafas baru. Keluarga besarnya sempat mencoba menghalangi niatnya untuk berangkat ke luar negeri, mengingat risiko yang belum jelas. Namun, beban sebagai tulang punggung keluarga membuatnya tetap teguh pada pendirian untuk mencoba peruntungan di negeri orang.
Proses Keberangkatan yang Janggal: Bayang-bayang Calo
Kejanggalan demi kejanggalan sebenarnya sudah terlihat sejak proses keberangkatan. Rasdy tidak melalui jalur resmi ketenagakerjaan sebagaimana mestinya. Segala urusan administrasi, termasuk paspor, diatur oleh seseorang yang berperan sebagai agen atau calo. Rasdy hanya diminta datang ke kantor Imigrasi untuk sesi foto, sementara dokumen lainnya diselesaikan secara kilat di balik layar.
“Dia tidak mengurus visa, cuma paspor saja. Itupun semua temannya yang atur. Katanya nanti ada yang buatkan, dia cuma tinggal datang foto di Imigrasi, habis itu semua sudah disiapkan,” ujar Kiki. Keberangkatan melalui Bandara Internasional Kualanamu itu menjadi momen terakhir keluarga melihat sosok Rasdy secara langsung. Tanpa pembekalan yang cukup dan tanpa pengetahuan mendalam tentang jenis pekerjaan yang akan dijalani, Rasdy terbang menuju Poipet, sebuah kota di perbatasan Kamboja-Thailand yang dikenal sebagai salah satu pusat industri perjudian dan penipuan daring (online scamming).
Terjebak dalam Pusaran Industri Scammer
Setibanya di sana, kenyataan pahit mulai terkuak. Rasdy bekerja sebagai bagian dari sindikat scammer di sebuah perusahaan di Poipet. Pekerjaan ini penuh tekanan, di mana para pekerjanya seringkali dibatasi ruang geraknya dan dipaksa mencapai target tertentu. Selama beberapa bulan, ia bertahan di tengah ketidakpastian, berharap bonus yang dijanjikan perusahaan bisa segera cair agar ia bisa melunasi utang-utang di Binjai dan kembali pulang.
Menurut penuturan Kiki, suaminya sebenarnya sudah berencana untuk pulang pada bulan Mei ini. Ada harapan besar bahwa bonus yang merupakan akumulasi dari potongan gajinya selama ini akan diberikan oleh pihak perusahaan. Nilainya tidak main-main, diperkirakan mencapai Rp 20 hingga 30 juta rupiah. Angka itulah yang menjadi alasan utama Rasdy tetap bertahan meski kondisi kesehatan dan mentalnya mulai menurun.
“Seharusnya bulan ini dia pulang. Waktu ada kabar razia di sana, saya sudah bilang supaya dia pulang saja, tidak apa-apa kita berutang lagi untuk beli tiket yang penting dia selamat. Tapi dia bilang mau menunggu bonus itu dulu. Kalau tidak menunggu bonus, mungkin bulan kemarin dia sudah di sini,” jelas Kiki dengan penuh penyesalan.
Detik-detik Terakhir dan Penyebab Kematian
Naas, bonus yang dinanti justru menjadi pemicu stres yang berujung maut. Pada Minggu (3/5/2026) dini hari, sekitar pukul 03.00, sebuah kabar mengejutkan datang dari kakak kandung Rasdy. Rasdy dilaporkan telah meninggal dunia di mess perusahaan tempatnya bekerja. Penyebabnya diduga kuat adalah komplikasi penyakit asam lambung yang diperparah oleh kondisi psikologis yang tertekan.
“Informasi yang kami dapat, dia stres karena bonus yang dijanjikan tidak kunjung keluar. Karena pikiran, dia jadi tidak mau makan, lalu asam lambungnya kambuh hebat. Dia pingsan dan kemudian dinyatakan meninggal di mess tersebut,” ungkap Kiki. Kondisi mess yang tertutup dan pengawasan ketat dari perusahaan scam membuat akses bantuan medis mungkin menjadi terlambat atau tidak memadai.
Harapan di Tengah Ketidakpastian Birokrasi
Kini, jenazah Rasdy dilaporkan masih tertahan di mess perusahaan di Poipet. Pihak keluarga merasa terombang-ambing karena minimnya informasi resmi dari otoritas terkait. Kiki mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja, namun jawaban yang diterima dirasa belum memberikan solusi nyata.
“Sampai sekarang jenazah masih di sana. Pihak KBRI belum memberikan penjelasan yang detail. Mereka hanya bilang sudah menghubungi polisi setempat, hanya itu saja jawabannya sejak beberapa hari lalu. Kami sangat cemas,” tuturnya dengan suara yang bergetar. Ketiadaan biaya dan jalur koordinasi yang rumit membuat pihak keluarga di Binjai hanya bisa berharap pada keajaiban dan kemurahan hati pemerintah.
Keluarga besar Rasdy Fauzi kini mengetuk pintu hati pemerintah pusat, khususnya Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait, untuk turun tangan mempercepat proses repatriasi. Mereka ingin Rasdy pulang, bukan lagi untuk membawa Dollar atau bonus puluhan juta, melainkan untuk disemayamkan dengan doa dan penghormatan terakhir di tanah kelahirannya.
Refleksi Atas Fenomena Pekerja Migran Ilegal
Tragedi yang menimpa Rasdy Fauzi menambah panjang daftar warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam pusaran industri scamming di Asia Tenggara. Fenomena ini seolah menjadi pengingat keras bahwa pengawasan terhadap jalur keberangkatan non-prosedural harus semakin diperketat. Di sisi lain, lapangan kerja yang sempit dan tekanan ekonomi di dalam negeri tetap menjadi akar masalah yang harus segera dibenahi agar tidak ada lagi warga negara yang ‘terpaksa’ mempertaruhkan nyawa di negeri asing demi sesuap nasi.
Kasus ini menjadi duka bersama, tidak hanya bagi warga Binjai, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Kepulangan jenazah Rasdy kini menjadi ujian bagi responsivitas perlindungan WNI di luar negeri. Harapan Kiki Tresia sangat jelas: “Saya minta tolong kepada siapapun yang bisa membantu memulangkan jenazah suami saya. Biarkan saya memakamkannya di sini, di rumahnya sendiri.”