Teror Berdarah di Sungai Mandar: Rentetan Serangan Buaya Ganas Resahkan Warga Polman Selama 2026

Hisan Halibin | KabarHarian
01 May 2026, 06:07 WIB
Teror Berdarah di Sungai Mandar: Rentetan Serangan Buaya Ganas Resahkan Warga Polman Selama 2026

KabarHarian — Kabut ketakutan kini tengah menyelimuti warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Mandar, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Memasuki pertengahan tahun 2026, intensitas serangan reptil purba di aliran sungai tersebut meningkat drastis. Tidak hanya sekadar penampakan, predator berdarah dingin ini mulai menunjukkan agresi yang nyata, menyebabkan jatuhnya korban jiwa hingga luka-luka serius yang membekas di ingatan masyarakat setempat.

Tragedi Kelam di Malam Jumat: Muhlis dan Sang Predator 4 Meter

Keheningan malam di Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung, pecah seketika pada Kamis (23/4) malam. Muhlis (50), seorang warga lokal yang berniat membersihkan diri di sungai, tidak pernah menyangka bahwa rutinitas sederhananya akan berakhir tragis. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan, malam itu berubah menjadi ladang perburuan bagi seekor buaya muara berukuran raksasa.

Saksi mata menyebutkan bahwa sempat terdengar teriakan histeris meminta pertolongan yang membelah kesunyian malam. Suara tersebut memicu kepanikan warga yang kemudian berbondong-bondong menuju pinggir sungai dengan peralatan seadanya. Upaya penyelamatan pun segera diorganisir secara spontan oleh para nelayan dan pemuda setempat menggunakan perahu-perahu kecil.

Baca Juga Tragedi di Balik Pintu Terkunci: Kisah Pilu Bocah Panti Asuhan di Kendari yang Tewas dalam Mobil
Tragedi di Balik Pintu Terkunci: Kisah Pilu Bocah Panti Asuhan di Kendari yang Tewas dalam Mobil

Lurah Tinambung, Ali Sadikin, dalam keterangannya kepada tim KabarHarian menjelaskan bahwa proses pencarian berlangsung mencekam selama kurang lebih dua jam. Di bawah temaram lampu senter, warga menyisir permukaan air yang tenang namun mematikan. Akhirnya, jasad Muhlis ditemukan sekitar 50 meter dari titik awal serangan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

“Korban ditemukan masih dalam cengkeraman buaya yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 4 meter. Saat itu, predator tersebut tampak sedang mengoyak mangsanya. Beruntung, karena kehadiran massa yang cukup banyak dan suara gaduh dari mesin kapal, buaya itu akhirnya melepaskan tubuh korban dan menghilang ke kedalaman air,” ungkap Ali Sadikin dengan nada bicara yang masih menunjukkan rasa prihatin mendalam.

Kronologi Serangan dan Luka yang Tak Terelakkan

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Muhlis mengalami luka robek yang sangat parah akibat gigitan predator tersebut. Luka-luka fatal ditemukan pada bagian leher dan dada, yang menunjukkan bahwa buaya tersebut menyerang dengan teknik mengincar organ vital. Kejadian ini dicatat sebagai serangan ketiga yang paling mematikan di wilayah tersebut sepanjang tahun 2026.

Baca Juga Kritik Publik Menang, Rencana Plesiran Berkedok Studi Tiru 21 Istri Anggota DPRD Pangkep ke Bali Resmi Dibatalkan
Kritik Publik Menang, Rencana Plesiran Berkedok Studi Tiru 21 Istri Anggota DPRD Pangkep ke Bali Resmi Dibatalkan

Kejadian tragis ini memicu gelombang kekhawatiran yang lebih besar. Sungai Mandar yang dulunya menjadi tempat anak-anak bermain dan para ibu mencuci pakaian, kini menjadi zona merah yang dihindari. Namun, bagi sebagian warga yang mata pencahariannya bergantung sepenuhnya pada sungai, menghindari aliran air bukanlah pilihan yang mudah.

Keberuntungan Mustari: Lolos dari Maut di Usia Senja

Hanya berselang beberapa hari setelah pemakaman Muhlis, teror kembali menghantui. Pada Rabu (29/4) sore, saat matahari mulai condong ke ufuk barat, seorang lansia bernama Mustari (72) menjadi sasaran berikutnya. Mustari yang saat itu berniat menyeberangi sungai untuk memberi makan ternak kerbaunya, tiba-tiba disergap oleh kekuatan besar dari bawah permukaan air.

“Saya sedang berjalan menuju seberang, tiba-tiba muncul buaya tepat di samping saya,” ujar seorang saksi, Haedir, menirukan kesaksian korban. Beruntung bagi Mustari, insting bertahan hidupnya masih sangat kuat. Meskipun usianya tak lagi muda, ia berhasil meronta dan berlari menuju dataran yang lebih tinggi tepat saat buaya tersebut berusaha menyeretnya ke tengah sungai.

Baca Juga Renungan Syahdu Kenaikan Yesus Kristus 14 Mei 2026: Menemukan Janji Penyertaan Abadi di Tengah Ketidakpastian
Renungan Syahdu Kenaikan Yesus Kristus 14 Mei 2026: Menemukan Janji Penyertaan Abadi di Tengah Ketidakpastian

Meski berhasil meloloskan diri dari maut, Mustari tidak keluar tanpa luka. Gigitan buaya tersebut meninggalkan bekas yang cukup dalam di bagian pinggang belakangnya. Ia harus dilarikan ke puskesmas terdekat dan mendapatkan sedikitnya 10 jahitan. Kejadian ini membuktikan bahwa buaya-buaya di Sungai Mandar kini mulai berani menyerang manusia bahkan di waktu sore hari yang masih cukup terang.

Keajaiban di Pinggir Sungai: Bangkai Hewan yang Menyelamatkan Nyawa

Di hari yang sama dengan insiden Mustari, seorang wanita penggali kerikil juga nyaris menjadi korban. Saat ia tengah sibuk mengumpulkan batu di tepian sungai, seekor buaya terlihat mulai mengendap-endap mendekatinya. Namun, sebuah fenomena alam yang tak terduga menyelamatkan nyawanya. Sebuah bangkai hewan yang hanyut terbawa arus sungai lewat di dekat posisi buaya tersebut.

Perhatian sang predator pun teralihkan. Buaya itu memilih mengejar bangkai hewan yang hanyut daripada melanjutkan serangannya terhadap sang penggali kerikil. Kejadian ini memberikan jeda waktu bagi wanita tersebut untuk segera naik ke daratan dan menyelamatkan diri. Meski selamat, trauma yang dialami warga kini mencapai titik nadir.

Baca Juga Menemukan Damai Sejati di Tengah Badai: Renungan Harian Katolik Selasa 5 Mei 2026
Menemukan Damai Sejati di Tengah Badai: Renungan Harian Katolik Selasa 5 Mei 2026

Mengapa Buaya Semakin Masif Menyerang?

Meningkatnya serangan buaya di Sungai Mandar memicu pertanyaan besar bagi para ahli lingkungan dan pemerintah setempat. KabarHarian mencoba menggali lebih dalam mengenai fenomena ini. Beberapa pakar menduga bahwa kerusakan habitat di hulu sungai serta berkurangnya ketersediaan pakan alami menjadi faktor utama mengapa buaya-buaya ini mulai mengincar manusia dan hewan ternak sebagai sumber makanan alternatif.

Selain itu, siklus kawin dan musim bertelur juga disinyalir membuat perilaku reptil ini menjadi jauh lebih agresif dan teritorial. Sungai Mandar yang kini mulai padat oleh aktivitas pemukiman dan pengerukan material sungai secara tidak langsung mempersempit ruang gerak alami sang predator, memicu konflik horizontal yang tak terhindarkan antara manusia dan satwa liar.

Langkah Darurat dan Desakan kepada Pemerintah

Merespons rentetan kejadian berdarah ini, warga mendesak Pemerintah Kabupaten Polman dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk segera bertindak. Keinginan warga sederhana: mereka ingin merasa aman kembali saat beraktivitas di dekat air.

Baca Juga Aksi Pencurian Berantai di Pasar Sentral Pinrang Terbongkar: Remaja 16 Tahun Terjaring CCTV Usai Gasak iPhone dan Uang Tunai
Aksi Pencurian Berantai di Pasar Sentral Pinrang Terbongkar: Remaja 16 Tahun Terjaring CCTV Usai Gasak iPhone dan Uang Tunai

Rifai, salah satu tokoh masyarakat setempat, menyatakan bahwa tim gabungan sedang direncanakan untuk menyisir sungai dan mengamankan hewan-hewan liar yang dianggap berbahaya. “Kami tidak ingin ada lebih banyak korban jatuh. Tim gabungan akan melakukan upaya pencarian dan evakuasi sehingga buaya-buaya ini bisa dipindahkan ke habitat yang lebih jauh dari pemukiman warga,” tegasnya.

Hingga saat ini, himbauan terus disuarakan agar warga tetap waspada, terutama saat fajar dan senja, serta menghindari aktivitas sendirian di sungai. Pemerintah setempat juga diharapkan segera memasang papan peringatan di titik-titik rawan sebagai langkah preventif awal sebelum tindakan penangkapan dilakukan secara menyeluruh.

Sungai Mandar kini tak lagi sama. Di balik ketenangan alirannya, ada mata yang mengawasi, menunggu momentum untuk kembali menyerang. Perlu sinergi antara kesadaran masyarakat dan kebijakan pemerintah untuk memastikan bahwa sejarah kelam tahun 2026 ini tidak terus berlanjut menjadi tragedi yang lebih besar di masa depan.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *