Ringgit Melejit dan Tiket Melambung: Mengapa Liburan ke Malaysia Tak Lagi Ramah Kantong bagi Warga Medan?

Siska Amelia | KabarHarian
19 May 2026, 08:12 WIB
Ringgit Melejit dan Tiket Melambung: Mengapa Liburan ke Malaysia Tak Lagi Ramah Kantong bagi Warga Medan?

KabarHarian — Bagi masyarakat Kota Medan, berlibur ke Malaysia bukan sekadar perjalanan luar negeri biasa. Kedekatan geografis yang hanya dipisahkan oleh Selat Malaka menjadikan Kuala Lumpur dan Penang layaknya ‘halaman belakang’ rumah sendiri. Namun, romantisme perjalanan singkat dan murah tersebut kini tengah diuji oleh realitas ekonomi yang pahit. Fenomena menguatnya nilai tukar Ringgit Malaysia (MYR) terhadap Rupiah (IDR) yang dibarengi dengan lonjakan harga tiket pesawat memaksa banyak pelancong lokal untuk berpikir ulang sebelum memesan tiket perjalanan.

Tren Penguatan Ringgit yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan pantauan data terbaru dari Bank Indonesia pada Senin (18/5/2026), posisi nilai tukar Ringgit terhadap Rupiah kini telah menyentuh angka Rp 4.479 per Ringgit. Tren kenaikan ini sejatinya bukanlah kejutan sesaat, melainkan kelanjutan dari pergerakan mendaki yang sudah terlihat sejak akhir April 2026. Sebagai perbandingan, pada 30 April 2026, nilai tukar masih berada di kisaran Rp 4.408. Kenaikan yang tampak tipis di atas kertas ini nyatanya memberikan dampak domino yang signifikan saat dikonversikan ke dalam anggaran belanja wisatawan.

Baca Juga Oase Baru Petani Aceh Utara: Bendungan Krueng Pase Tuntas, Harapan Panen Melimpah Kembali Bersemi
Oase Baru Petani Aceh Utara: Bendungan Krueng Pase Tuntas, Harapan Panen Melimpah Kembali Bersemi

Bagi warga Medan, kenaikan nilai tukar ini berarti setiap mangkuk Laksa di Penang atau biaya transportasi menggunakan transportasi daring di Kuala Lumpur kini terasa lebih membebani dompet. Melemahnya Rupiah secara sistematis terhadap mata uang tetangga ini menciptakan tekanan psikologis bagi para traveler yang terbiasa dengan gaya hidup hemat saat menyeberang ke negeri jiran.

Tiket Pesawat: Tak Ada Lagi Istilah ‘Tiket Murah’

Masalah tidak berhenti pada nilai tukar mata uang. Sektor transportasi udara yang biasanya menjadi andalan warga Medan dengan durasi terbang kurang dari satu jam juga mengalami guncangan harga. Rute Medan-Kuala Lumpur yang biasanya bisa didapatkan dengan harga kompetitif, kini meroket hingga menyentuh angka Rp 800 ribuan per sekali jalan. Kenaikan ini nyaris mencapai dua kali lipat dari harga normal yang biasanya dinikmati masyarakat.

Setali tiga uang, rute penerbangan menuju Penang pun mengalami nasib serupa. Jika sebelumnya wisatawan bisa dengan mudah mendapatkan tiket di kisaran Rp 400 ribu, kini harga terendah yang dipatok maskapai rata-rata berada di angka Rp 600 ribuan. Selisih Rp 200 ribu per tiket mungkin terlihat kecil bagi individu, namun bagi keluarga yang berangkat dalam rombongan, angka ini menjadi penghambat utama dalam perencanaan liburan mereka.

Baca Juga Dilema Perdamaian Trump: Menakar Peluang Proposal 14 Poin Iran di Tengah Kebuntuan Diplomasi Global
Dilema Perdamaian Trump: Menakar Peluang Proposal 14 Poin Iran di Tengah Kebuntuan Diplomasi Global

Kesaksian Wisatawan: Anggaran yang Tak Lagi Cukup

Suci, seorang warga Medan yang baru saja kembali dari perjalanan empat hari tiga malam di Penang, berbagi pengalamannya kepada tim liputan. Ia mengaku terkejut dengan betapa cepatnya uang tunai yang ia bawa habis hanya untuk kebutuhan dasar selama berlibur. “Lumayan terasa sekarang, pengeluaran jauh lebih besar. Tahun lalu, bawa Rp 4 juta itu sudah sangat cukup untuk kulineran puas dan belanja oleh-oleh. Tapi kemarin, habis Rp 5 juta lebih dalam bentuk tunai, itu pun saya masih harus mengandalkan QRIS untuk beberapa transaksi tambahan,” tuturnya dengan nada kecewa.

Suci menambahkan bahwa ketika seluruh biaya tersebut dirupiahkan kembali di rumah, ia baru menyadari bahwa standar hidup di Malaysia kini terasa jauh lebih mahal dibandingkan kunjungan-kunjungan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan daya beli Rupiah di luar negeri bukan lagi sekadar isu statistik di media massa, melainkan realitas yang dirasakan langsung di meja-meja makan di luar negeri.

Strategi Menunda: Antara Harapan dan Realitas

Di sisi lain, tidak sedikit warga yang memilih untuk mengambil langkah defensif dengan membatalkan atau menunda rencana perjalanan mereka. Kiki, warga Medan lainnya, adalah salah satu yang merasa sangat menyesal tidak melakukan pemesanan tiket lebih awal. Ia menceritakan bagaimana rencananya untuk berlibur ke Kuala Lumpur pada bulan Agustus mendatang harus terhambat karena ketidaksigapannya dalam memantau harga.

Baca Juga Kabar Bahagia! Al Ghazali dan Alyssa Daguise Sambut Kelahiran Putri Pertama, Nama Sang Buah Hati Mencuri Perhatian
Kabar Bahagia! Al Ghazali dan Alyssa Daguise Sambut Kelahiran Putri Pertama, Nama Sang Buah Hati Mencuri Perhatian

“Bulan Desember lalu saya sempat cek tiket pulang-pergi (PP) ke Kuala Lumpur masih di angka Rp 900 ribuan. Saat itu saya pikir harganya akan stabil, jadi saya tunda belinya. Ternyata sekarang saat dicek kembali sudah melonjak ke Rp 1,6 juta PP. Ditambah lagi Ringgit sedang tinggi-tingginya, jadi lebih baik ditunda dulu sampai harga tiket kembali masuk akal,” ungkap Kiki.

Tekanan Mata Ukang Regional: Bukan Hanya Ringgit

Pelemahan Rupiah ternyata tidak hanya terjadi di hadapan Ringgit Malaysia. Mata uang negara tetangga lainnya, Dollar Singapura (SGD), juga menunjukkan ototnya. Data menunjukkan 1 Dollar Singapura kini dibanderol sebesar Rp 13.822, naik dari posisi akhir April yang masih berada di angka Rp 13.636. Hal ini menandakan adanya tren pelemahan Rupiah secara regional terhadap mata uang utama di Asia Tenggara.

Bahkan, jika melirik ke skala yang lebih luas, tekanan terhadap Rupiah semakin nyata dengan nilai tukar Dollar AS yang sempat menembus angka fantastis Rp 17.658. Kondisi makroekonomi ini tentu saja memengaruhi kebijakan harga maskapai penerbangan, terutama dalam hal biaya bahan bakar (fuel surcharge) dan biaya operasional lainnya yang dipatok dalam mata uang asing.

Baca Juga Investigasi Menyeluruh Tragedi Kebakaran USK: Belasan Mahasiswa dan Dosen Jalani Pemeriksaan Intensif
Investigasi Menyeluruh Tragedi Kebakaran USK: Belasan Mahasiswa dan Dosen Jalani Pemeriksaan Intensif

Kesimpulan: Menimbang Ulang Destinasi Liburan

Situasi ini membawa tantangan tersendiri bagi industri pariwisata luar negeri di Sumatera Utara. Warga Medan yang sebelumnya sangat loyal berkunjung ke Malaysia kini mulai melirik alternatif lain. Beberapa mulai mempertimbangkan destinasi domestik seperti Danau Toba atau Berastagi yang lebih stabil dari sisi biaya, meskipun pesona modernitas Malaysia tetap sulit untuk digantikan sepenuhnya.

Hingga nilai tukar kembali stabil atau maskapai memberikan promo yang lebih agresif, tampaknya bandara Kualanamu akan melihat penurunan antusiasme warga Medan menuju Malaysia. Bagi para traveler, kuncinya kini adalah perencanaan yang lebih matang, pemantauan kurs secara berkala, dan kesiapan mental bahwa liburan luar negeri kini memang membutuhkan anggaran yang lebih ‘ekstra’ dari sebelumnya.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *