Potret Buram Investasi Rp 1,6 Miliar: Belasan Lapak UMKM Teras Udayana Mataram Kini Terbengkalai dan Tak Berpenghuni
KabarHarian — Deretan bangunan bernuansa modern yang berdiri megah di kawasan Teras Udayana, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini justru menyisakan pemandangan yang memilukan. Alih-alih menjadi pusat denyut nadi ekonomi kreatif masyarakat lokal, belasan lapak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dibangun dengan kucuran dana miliaran rupiah tersebut tampak sunyi senyap, layaknya deretan gedung tak berpenghuni yang menunggu waktu untuk lapuk dimakan usia.
Proyek prestisius yang menelan anggaran fantastis mencapai Rp 1,6 miliar ini mulanya digadang-gadang sebagai ikon baru tempat berkumpulnya para pelaku usaha lokal untuk menjajakan produk unggulan mereka. Namun, realita di lapangan berbicara lain. Fasilitas yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan tersebut kini justru terbengkalai dan terkesan diabaikan begitu saja oleh para penghuninya.
Saksi Bisu Kemegahan yang Meredup
Berdasarkan pantauan langsung tim di lokasi, deretan lapak yang masing-masing berukuran 4×4 meter tersebut kini tampak kusam. Debu tebal menyelimuti lantai dan dinding bangunan, sementara beberapa sudut plafon mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat cuaca dan kurangnya perawatan. Tak ada aroma kopi atau harum makanan khas Mataram yang tercium, yang ada hanyalah aroma lembap dari ruangan yang tertutup rapat dalam waktu lama.
Kawasan Teras Udayana yang biasanya ramai oleh warga yang berolahraga atau sekadar bersantai, kini menyajikan kontras yang tajam. Di satu sisi, ruang publiknya tetap dimanfaatkan warga, namun di sisi lain, deretan lapak UMKM yang berada di lokasi strategis tersebut justru menjadi saksi bisu dari sebuah rencana yang belum menemui titik keberhasilan yang diharapkan.
Pengakuan Dinas Perdagangan: Penataan Ulang Menjadi Keharusan
Menanggapi kondisi yang memprihatinkan ini, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram, Irwan Harimansyah, tidak menampik kenyataan bahwa fasilitas tersebut memang belum beroperasi secara maksimal. Menurutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram saat ini tengah berada dalam fase evaluasi dan penataan ulang secara menyeluruh terhadap kawasan tersebut.
“Dulu memang sempat dilakukan pembukaan secara seremonial yang cukup meriah, namun seiring berjalannya waktu, kondisinya justru menjadi sepi. Saat ini kami sedang melakukan penataan ulang untuk mencari solusi terbaik agar kawasan ini kembali hidup,” ungkap Irwan saat memberikan keterangan resmi pada Selasa (19/5/2026).
Irwan juga menjelaskan bahwa ketidakhadiran aktivitas di lapak-lapak tersebut berdampak langsung pada pendapatan daerah. Karena fasilitas tersebut belum dimanfaatkan oleh para pedagang, pihak Pemerintah Kota memutuskan untuk tidak memungut retribusi apa pun. “Kami belum berani menarik retribusi karena memang para pelaku usaha belum bisa memanfaatkan lapak tersebut secara maksimal. Kami ingin memastikan dulu ekosistem usahanya berjalan sebelum memikirkan soal retribusi,” tambahnya.
Dilema Pedagang: Menanti Keramaian yang Tak Kunjung Datang
Persoalan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil penelusuran lebih lanjut, banyak pedagang yang sebelumnya sempat menempati lapak-lapak tersebut memilih untuk mundur sementara waktu. Alasan utamanya klasik namun krusial: minimnya jumlah pengunjung yang masuk ke area lapak, sehingga pendapatan tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Irwan Harimansyah mengaku telah memanggil sejumlah pedagang yang pernah mengisi area Teras Udayana tersebut untuk duduk bersama. Dari pertemuan itu, terungkap sebuah aspirasi besar dari para pelaku UMKM. Mereka menginginkan adanya magnet atau penarik massa yang konsisten agar kawasan tersebut tidak hanya ramai pada saat-saat tertentu saja.
“Para pedagang sebenarnya punya semangat untuk kembali berjualan, namun mereka meminta adanya intervensi dari pemerintah dalam bentuk kegiatan atau event-event rutin. Mereka merasa kawasan itu butuh ‘nyawa’ tambahan agar masyarakat tertarik untuk masuk dan berbelanja di sana,” jelas Irwan.
Membangun Sinergi Antar-Instansi
Langkah penanganan ke depan tidak bisa dilakukan oleh Dinas Perdagangan sendirian. Irwan menegaskan bahwa pihaknya telah menjadwalkan koordinasi lintas sektoral untuk menghidupkan kembali Teras Udayana. Sinergi ini akan melibatkan Dinas Pariwisata (Dispar), Dinas Perhubungan (Dishub), hingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Rencananya, dalam tiga bulan ke depan, akan ada diskusi intensif untuk merumuskan kalender kegiatan di lokasi tersebut. Dinas Pariwisata diharapkan dapat mengarahkan berbagai event budaya atau pertunjukan seni ke Teras Udayana, sementara Dishub dan DLH akan berperan dalam penataan parkir dan kebersihan lingkungan agar pengunjung merasa nyaman.
“Kami memberikan waktu tiga bulan bagi semua pihak terkait untuk berembuk. Fokus utamanya adalah bagaimana menciptakan keramaian. Kami akan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata untuk memastikan ada agenda rutin yang bisa menarik orang datang. Jika orang sudah ramai, otomatis UMKM akan hidup dengan sendirinya,” tegasnya optimis.
Tantangan Besar Menanti di Balik Angka Rp 1,6 Miliar
Publik kini menanti pembuktian dari Pemerintah Kota Mataram. Anggaran sebesar Rp 1,6 miliar bukanlah jumlah yang sedikit jika hanya berakhir sebagai monumen kegagalan manajemen ruang publik. Kritik pun mulai bermunculan dari berbagai kalangan yang menilai bahwa pembangunan fisik seharusnya berjalan beriringan dengan perencanaan strategi pemasaran dan aktivasi kawasan yang matang.
Sejatinya, Teras Udayana memiliki potensi luar biasa sebagai sentra ekonomi kreatif baru di Kota Mataram. Lokasinya yang berada di jantung kota dan dekat dengan pusat keramaian warga seharusnya menjadi modal kuat. Namun, tanpa pengelolaan yang profesional dan kreatif, kemegahan bangunan tersebut hanya akan tetap menjadi deretan lapak kosong yang terbengkalai.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah setempat. Apakah dalam tiga bulan ke depan Teras Udayana akan benar-benar bertransformasi menjadi pusat kuliner dan kerajinan yang semarak, atau justru tetap menjadi potret buram dari investasi yang sia-sia? Warga Mataram tentu berharap yang terbaik bagi kemajuan UMKM lokal mereka.