Tragedi Maut di Jembatan Gantung Cunca Wulang: Detik-detik Dua Wisatawan Austria Tewas Terhempas dari Ketinggian 20 Meter

Andre Pratama | KabarHarian
24 May 2026, 18:08 WIB
Tragedi Maut di Jembatan Gantung Cunca Wulang: Detik-detik Dua Wisatawan Austria Tewas Terhempas dari Ketinggian 20 Mete

KabarHarian — Langit biru yang menyelimuti kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak kelabu saat sebuah tragedi memilukan merenggut nyawa dua wisatawan mancanegara. Destinasi yang selama ini dikenal sebagai permata tersembunyi di pinggiran Labuan Bajo tersebut berubah menjadi lokasi kecelakaan maut yang menyisakan duka mendalam bagi dunia pariwisata tanah air.

Peristiwa naas ini menimpa pasangan warga negara asing (WNA) asal Austria, Jurgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57). Keduanya dilaporkan tewas seketika setelah terjatuh dari jembatan gantung setinggi 20 meter yang melintasi aliran sungai di bawahnya. Jembatan yang seharusnya menjadi sarana penghubung bagi para petualang itu justru menjadi saksi bisu terhentinya langkah sepasang turis yang tengah menikmati masa liburannya di tanah Flores.

Keceriaan yang Berujung Duka di Jembatan Maut

Pagi itu, Minggu, 24 Mei 2026, suasana di pos registrasi Air Terjun Cunca Wulang tampak seperti hari-hari biasanya. Jurgen dan Astrid tiba sekitar pukul 09.20 Wita dengan semangat yang membuncah untuk mengeksplorasi keindahan alam NTT. Mereka tidak datang sendiri; perjalanan mereka difasilitasi oleh seorang sopir pribadi bernama Julius Mam (45) dan dipandu oleh Muhamad Muhardin (30), seorang pemandu wisata lokal yang sudah sangat mengenal medan tersebut.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Muara Naus: Upaya Pencarian Mindis yang Hilang Diterkam Predator Air
Tragedi Berdarah di Muara Naus: Upaya Pencarian Mindis yang Hilang Diterkam Predator Air

Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan membayar tiket masuk di gerbang utama, rombongan kecil ini memulai petualangan mereka dengan melakukan trekking melintasi hutan kecil yang menjadi akses menuju air terjun. Tidak ada firasat buruk yang membayangi. Jurgen dan Astrid terlihat sangat menikmati suasana alam yang asri, sesekali berbincang ringan dengan Muhardin mengenai keunikan geologi di kawasan Mbeliling tersebut.

Sesampainya di jembatan gantung yang membentang tinggi di atas sungai berbatu, pasangan ini terpukau dengan pemandangan yang tersaji. Jembatan kayu tersebut merupakan akses vital menuju titik terbaik untuk melihat Air Terjun Cunca Wulang dari ketinggian. Di sinilah momen terakhir mereka terekam dalam ingatan sang pemandu wisata.

Kesaksian Sang Pemandu: Senyum Terakhir di Balik Lensa Kamera

Muhamad Muhardin, yang menjadi saksi mata langsung kejadian tersebut, masih tampak terpukul saat menceritakan kronologi peristiwa kepada tim KabarHarian. Ia mengisahkan bagaimana kedua korban ingin mengabadikan momen kebersamaan mereka di atas jembatan yang ikonik tersebut.

“Mereka berjalan beriringan dengan sangat santai. Keduanya sempat melemparkan senyum hangat ke arah kamera. Mereka meminta saya untuk merekam video dari arah belakang saat mereka menyeberangi jembatan tersebut, ingin mendokumentasikan langkah mereka menuju keindahan air terjun,” tutur Muhardin dengan nada suara yang masih bergetar.

Baca Juga Ramalan Zodiak Hari Ini 24 Mei 2026: Strategi Cerdas Capricorn dan Tantangan Komunikasi Aries
Ramalan Zodiak Hari Ini 24 Mei 2026: Strategi Cerdas Capricorn dan Tantangan Komunikasi Aries

Dalam rekaman video yang seharusnya menjadi kenang-kenangan indah itu, Jurgen dan Astrid tampak serasi melangkah di atas bilah-bilah kayu jembatan. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Baru sekitar sepuluh meter mereka melangkah meninggalkan bibir jembatan, sebuah suara mengerikan memecah keheningan hutan Cunca Wulang.

Detik-detik Runtuhnya Struktur Jembatan Gantung

Stabilitas jembatan yang tampak kokoh dari kejauhan ternyata menyimpan kerapuhan yang fatal. Saat kedua korban berada di titik tengah bentangan, papan-papan kayu yang menjadi tumpuan kaki mereka mendadak patah dan terlepas dari struktur pengaitnya. Suara kayu yang patah itu digambarkan sangat keras, menyerupai dahan pohon raksasa yang tumbang diterjang badai.

“Tiba-tiba terdengar suara kayu patah yang sangat keras. Dalam hitungan detik, jembatan langsung ambruk total di bagian tengah. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka berdua jatuh bebas ke bawah,” ungkap Muhardin. Ketinggian 20 meter bukanlah jarak yang sepele; jatuh dari ketinggian tersebut ke permukaan air sungai yang dangkal dan dipenuhi batuan granit besar hampir dipastikan berujung fatal.

Baca Juga Bongkar Sindikat Prostitusi Online di X dan Telegram, Polda Bali Amankan Tiga Wanita: Begini Modus Operandinya
Bongkar Sindikat Prostitusi Online di X dan Telegram, Polda Bali Amankan Tiga Wanita: Begini Modus Operandinya

Kedua korban terhempas langsung ke bebatuan besar di dasar jurang. Benturan keras tersebut membuat keduanya tidak sadarkan diri seketika. Muhardin yang panik segera berlari kembali ke pos tiket untuk mencari bantuan warga dan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang. Lokasi yang berada di pedalaman membuat proses komunikasi awal menjadi tantangan tersendiri.

Evakuasi Dramatis di Tengah Medan Terjal

Mendapat laporan adanya kecelakaan wisatawan, tim SAR gabungan dari Labuan Bajo segera dikerahkan menuju lokasi kejadian. Namun, proses evakuasi jenazah Jurgen dan Astrid bukanlah perkara mudah. Medan di sekitar Air Terjun Cunca Wulang dikenal sangat menantang dengan topografi yang terjal, jalanan sempit, serta bebatuan yang licin akibat kelembapan tinggi.

Tim SAR harus menggunakan peralatan mountaineering lengkap untuk menuruni tebing menuju dasar sungai tempat kedua korban berada. Kondisi arus sungai yang cukup deras di beberapa titik serta ruang gerak yang terbatas di antara celah-celah batu besar memaksa petugas untuk bekerja dengan ekstra hati-hati. Setelah perjuangan selama beberapa jam, kedua jenazah akhirnya berhasil diangkat dari dasar jurang menggunakan tandu khusus.

Baca Juga Tragedi di Sumba Timur: Keluar Penjara, Ayah Tega Cabuli Anak Kandung Hingga Hamil
Tragedi di Sumba Timur: Keluar Penjara, Ayah Tega Cabuli Anak Kandung Hingga Hamil

Jasad Jurgen dan Astrid kemudian dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo di Labuan Bajo untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut dan menunggu koordinasi dengan pihak kedutaan Austria. Sementara itu, di lokasi kejadian, petugas kepolisian dari Polres Manggarai Barat telah memasang garis polisi (police line) untuk mengamankan area dan melarang siapapun melintasi jembatan yang kini tinggal puing tersebut.

Penyelidikan Polisi dan Sorotan Terhadap Standar Keamanan Wisata

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi mendalam terkait penyebab pasti runtuhnya jembatan gantung tersebut. Fokus utama penyelidikan adalah untuk melihat apakah ada unsur kelalaian dalam pemeliharaan sarana dan prasarana di objek wisata tersebut.

“Prioritas utama kami sesaat setelah kejadian adalah mengevakuasi korban dan langsung mengamankan TKP guna menjaga keaslian bukti-bukti fisik atau mempertahankan status quo. Kami akan memeriksa saksi-saksi, termasuk pengelola dan pemandu wisata, untuk memastikan kronologi secara komprehensif,” jelas AKBP Christian Kadang kepada KabarHarian.

Baca Juga Banjir Bandang Terjang Desa Manong Manggarai: Delapan Rumah Terendam, Sembilan KK Terpaksa Mengungsi
Banjir Bandang Terjang Desa Manong Manggarai: Delapan Rumah Terendam, Sembilan KK Terpaksa Mengungsi

Tragedi ini memicu sorotan tajam terhadap standar keamanan destinasi wisata di kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya. Air Terjun Cunca Wulang merupakan aset wisata yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai jadwal inspeksi rutin terhadap infrastruktur fisik di lokasi-lokasi wisata yang memiliki risiko tinggi.

Pelajaran Berharga bagi Pariwisata Manggarai Barat

Air Terjun Cunca Wulang memang memiliki daya tarik luar biasa dengan formasi batuan yang menyerupai ‘Grand Canyon’ versi kecil. Namun, akses darat yang memakan waktu sekitar 1,5 jam dari pusat kota Labuan Bajo seharusnya dibarengi dengan fasilitas keamanan yang mumpuni. Kematian dua turis asing ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah untuk lebih serius dalam memperhatikan keselamatan pengunjung.

Industri pariwisata tidak hanya soal mempromosikan keindahan, tetapi juga menjamin bahwa setiap wisatawan yang datang dapat pulang dengan selamat. Jembatan gantung yang menjadi akses utama menuju keindahan Cunca Wulang kini telah memakan korban, dan diperlukan evaluasi total terhadap seluruh jembatan serupa di wilayah NTT.

Hingga berita ini diturunkan, kawasan Air Terjun Cunca Wulang ditutup sementara untuk umum guna kepentingan penyelidikan dan perbaikan infrastruktur. Publik berharap agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali, dan Labuan Bajo tetap menjadi destinasi yang aman serta ramah bagi para petualang dari seluruh penjuru dunia.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *