Aksi Menegangkan Vincent Rompies di Bali: Nyaris Terhempas Angin Saat Jinakkan Layangan Raksasa di Pantai Mertasari

Andre Pratama | KabarHarian
12 May 2026, 14:07 WIB
Aksi Menegangkan Vincent Rompies di Bali: Nyaris Terhempas Angin Saat Jinakkan Layangan Raksasa di Pantai Mertasari

KabarHarian — Langit biru di atas Pantai Mertasari, Sanur, Bali, mendadak menjadi saksi bisu aksi heroik sekaligus menegangkan yang melibatkan presenter kenamaan tanah air, Vincent Rompies. Di tengah embusan angin laut yang cukup kencang, personil band The Prediksi ini harus beradu tenaga dengan kekuatan alam saat mencoba mengendalikan layangan tradisional Bali berukuran jumbo. Bukan sekadar rekreasi biasa, pengalaman ini menjadi momen tak terlupakan bagi Vincent yang mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di pantai yang menjadi kiblat para pecinta layang-layang tersebut.

Kehadiran Vincent di pesisir Sanur ini sejatinya merupakan bagian dari rangkaian agenda kerja sama dengan salah satu produsen otomotif ternama, Yamaha Motor Indonesia. Dalam sebuah tayangan visual yang diunggah melalui kanal YouTube resmi jenama tersebut, terlihat Vincent tampil dengan gaya kasual yang tetap modis; mengenakan kaus putih polos yang dipadukan dengan celana jeans hitam serta topi merah yang kontras. Meski berada dalam agenda formal brand, jiwa eksploratif Vincent tampaknya tak bisa dibendung saat melihat kerumunan warga lokal yang tengah sibuk dengan benang dan bambu di pinggir pantai.

Baca Juga Nestapa Pendidikan di SDN 3 Sembung Gede: Antara Puing Sekolah dan Risiko Jalur Tengkorak
Nestapa Pendidikan di SDN 3 Sembung Gede: Antara Puing Sekolah dan Risiko Jalur Tengkorak

Sentuhan Pertama Vincent dengan Budaya Melayangan

Pantai Mertasari memang dikenal memiliki garis pantai yang luas dan arah angin yang stabil, menjadikannya lokasi favorit bagi masyarakat Bali untuk menyalurkan hobi “melayangan” atau bermain layang-layang. Vincent yang awalnya hanya berniat mengamati, akhirnya tak kuasa menahan rasa penasaran. Ia pun menghampiri sekelompok warga yang sedang bersiap menerbangkan layangan berukuran sedang.

Langkah awal Vincent dimulai dengan mencoba menerbangkan layangan tradisional dengan dimensi sekitar 2,5 meter. Layangan ini memiliki kombinasi warna ikonik; putih, merah, dan hitam—warna yang dalam filosofi masyarakat Bali dikenal sebagai Tridatu. Pada tahap ini, Vincent masih tampak santai dan mampu mengendalikan tarikan tali dengan senyum lebar di wajahnya. Namun, tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai saat ia ditawari untuk memegang kendali layangan yang jauh lebih besar.

Duel Melawan Angin: Layangan Bebean 6,2 Meter

Adrenalin Vincent mulai terpacu saat ia dihadapkan pada sebuah layangan jenis Bebean (berbentuk ikan) yang memiliki bentang ukuran mencapai 6,2 meter. Ukuran ini bukanlah ukuran sembarangan; layangan sebesar ini biasanya membutuhkan tenaga beberapa orang dewasa untuk sekadar menjaga kestabilannya di udara. Begitu tali besar berpindah ke tangannya, raut wajah santai sang presenter seketika berubah menjadi penuh konsentrasi.

Baca Juga Jadwal dan Panduan Lengkap SIM Keliling Badung 4 Mei 2026: Lokasi Strategis dan Estimasi Biaya
Jadwal dan Panduan Lengkap SIM Keliling Badung 4 Mei 2026: Lokasi Strategis dan Estimasi Biaya

Hembusan angin Pantai Mertasari yang saat itu sedang berada pada puncaknya memberikan perlawanan yang luar biasa. Vincent bahkan sempat terseret beberapa langkah saat mencoba menahan tarikan kuat dari atas langit. Dalam rekaman tersebut, terlihat tubuhnya agak condong ke belakang demi menyeimbangkan beban yang ditarik oleh layangan raksasa tersebut. Kekuatan angin yang mengisi rongga-rongga kain layangan Bebean itu menciptakan daya angkat yang hampir membawa Vincent terangkat dari tanah.

“Ini beneran kayak lagi main tarik tambang, gila!” teriak Vincent sambil tertawa kecil, meski napasnya terdengar mulai terengah-engah. Ia tidak menyangka bahwa bermain layang-layang tradisional Bali memerlukan kekuatan fisik yang setara dengan olahraga berat di pusat kebugaran. Bersama beberapa pemuda lokal, ia bahu-membahu menjaga agar layangan tetap mengudara dengan anggun tanpa harus membanting orang yang memegangnya.

Rasa Sakit di Balik Kegembiraan

Meskipun Vincent sudah dilengkapi dengan sarung tangan pelindung untuk menghindari gesekan tali (gelasan atau tali nilon besar), kekuatan tarikan layangan tetap memberikan dampak fisik. Ia mengaku jemarinya terasa sangat nyeri dan kaku akibat harus mencengkeram tali dengan sangat kuat dalam waktu yang cukup lama. Ketegangan ini menunjukkan bahwa tradisi melayangan di Bali bukan sekadar permainan anak-anak, melainkan sebuah seni ketangkasan yang melibatkan nyali dan otot.

Baca Juga Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Badung 9 Mei 2026: Layanan Praktis dan Syarat Lengkap Perpanjangan
Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Badung 9 Mei 2026: Layanan Praktis dan Syarat Lengkap Perpanjangan

Kelelahan tampak jelas di wajah presenter yang dikenal kocak ini. Namun, ia merasa sangat puas bisa merasakan langsung sensasi menjadi seorang rare angur (sebutan untuk pecinta layang-layang di Bali). Pengalaman ini memberikan perspektif baru baginya mengenai betapa seriusnya masyarakat lokal dalam melestarikan budaya ini.

Mertasari dan Musim Layang-Layang di Pulau Dewata

Sebagai informasi tambahan bagi pembaca, momen kunjungan Vincent ini sangat tepat karena bertepatan dengan musim layang-layang di Bali yang biasanya berlangsung antara bulan April hingga Agustus. Pada periode ini, angin muson timur bertiup cukup kencang dan stabil, menciptakan kondisi ideal untuk menerbangkan struktur bambu dan kain yang rumit. Di Bali, layang-layang bukan hanya soal hobi, tetapi juga memiliki nilai religius sebagai simbol ucapan terima kasih kepada Rare Angon (manifestasi Dewa Indra) atas panen yang melimpah.

Pantai Mertasari sendiri merupakan jantung dari perhelatan festival layang-layang internasional maupun lokal. Setiap tahunnya, ribuan orang berkumpul di sini untuk menyaksikan layangan raksasa dengan berbagai bentuk, mulai dari Bebean (ikan), Janggan (naga dengan ekor hingga ratusan meter), hingga Pecukan (berbentuk daun). Tak heran jika Vincent merasa sangat terkesan, mengingat atmosfer di pantai ini memang sangat berbeda dibandingkan pantai-pantai lain di Bali.

Baca Juga Tragedi Kelam di Seketeng: Pasangan Lansia di Sumbawa Ditemukan Tewas, Diduga Dihabisi Teman Cucu Sendiri
Tragedi Kelam di Seketeng: Pasangan Lansia di Sumbawa Ditemukan Tewas, Diduga Dihabisi Teman Cucu Sendiri

Warisan Budaya yang Menarik Minat Figur Publik

Aksi Vincent Rompies ini menambah daftar panjang figur publik yang mulai tertarik mengeksplorasi sisi lain kebudayaan Bali yang lebih otentik. Melalui kegiatan seperti ini, secara tidak langsung popularitas tradisi lokal ikut terangkat ke kancah nasional. Vincent menunjukkan bahwa meskipun ia adalah seorang bintang besar, mencoba hal baru dan berbaur dengan warga lokal adalah cara terbaik untuk menikmati keindahan sebuah daerah.

Sebelum mengakhiri sesinya di pantai, Vincent sempat berbincang dengan para pengrajin layangan lokal mengenai cara pembuatan rangka yang seimbang. Ia tampak kagum dengan ketelitian warga Bali dalam memperhitungkan aerodinamika tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Kunjungannya ke Pantai Mertasari hari itu ditutup dengan tawa dan rasa hormat yang mendalam terhadap budaya Bali yang begitu dinamis namun tetap kental dengan nilai tradisi.

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Bali dalam waktu dekat, jangan lewatkan kesempatan untuk mampir ke Pantai Mertasari. Siapa tahu, Anda bisa merasakan sensasi yang sama dengan Vincent Rompies—beradu kekuatan dengan angin sambil menikmati tarian layangan raksasa di langit Sanur yang menawan.

Baca Juga Ketegangan di Balik Kemegahan Beijing: Xi Jinping Beri Peringatan Keras kepada Donald Trump Terkait Masa Depan Hubungan AS-Tiongkok
Ketegangan di Balik Kemegahan Beijing: Xi Jinping Beri Peringatan Keras kepada Donald Trump Terkait Masa Depan Hubungan AS-Tiongkok
Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *