Menjemput Kemenangan dalam Kesunyian: PSM Makassar Siap Hadapi Bhayangkara FC Tanpa Sorakan Suporter

Hisan Halibin | KabarHarian
04 May 2026, 14:07 WIB
Menjemput Kemenangan dalam Kesunyian: PSM Makassar Siap Hadapi Bhayangkara FC Tanpa Sorakan Suporter

KabarHarian — Atmosfer Stadion Gelora BJ Habibie (GBH) di Kota Parepare diprediksi akan terasa jauh berbeda dari biasanya saat laga krusial antara PSM Makassar menjamu Bhayangkara FC digelar. Stadion yang biasanya bergetar oleh nyanyian dan tabuhan drum para pendukung setia Laskar Ayam Jantan dari Timur itu, kini dipastikan bakal hening. Keputusan pahit harus diterima oleh manajemen dan seluruh elemen tim, lantaran pertandingan pekan ini terpaksa dilangsungkan tanpa kehadiran penonton di tribun.

Kabar ini tentu menjadi pukulan telak bagi PSM Makassar yang tengah berupaya keras memperbaiki posisi mereka di tabel klasemen. Kehadiran suporter selama ini dianggap sebagai ‘pemain kedua belas’ yang mampu memberikan suntikan adrenalin ekstra bagi para punggawa Juku Eja. Namun, dalam laga kali ini, strategi dan mentalitas pemain akan diuji dalam kesunyian yang mencekam di markas sendiri.

Dampak Psikologis di Balik Tribun yang Kosong

Pelatih interim PSM Makassar, Ahmad Amiruddin, tidak menampik bahwa absennya suporter memberikan pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak asuhnya. Dalam sesi konferensi pers yang digelar menjelang laga, Amiruddin mengungkapkan keresahannya. Ia menyadari bahwa energi yang biasanya terpancar dari tribun penonton adalah katalisator utama semangat juang para pemain di lapangan hijau.

Baca Juga Strategi Besar Munafri Appi Redam Teror Geng Motor: Revitalisasi Pos Kamling hingga Penindakan Tegas di Makassar
Strategi Besar Munafri Appi Redam Teror Geng Motor: Revitalisasi Pos Kamling hingga Penindakan Tegas di Makassar

“Ya, pastinya tanpa kehadiran suporter itu sedikit mengurangi motivasi dari pemain. Ada sesuatu yang hilang saat kita bertanding tanpa dukungan langsung. Getaran dari suporter itu biasanya membuat pemain bisa memberikan kemampuan lebih dari seratus persen,” ungkap Amiruddin dengan nada yang tenang namun penuh penekanan.

Meski demikian, sang pelatih menegaskan bahwa ia telah menyiapkan mental tim agar tidak goyah. Fokus utama tim saat ini adalah profesionalisme. Amiruddin telah berulang kali mengingatkan para pemain bahwa meskipun tribun kosong, tanggung jawab untuk membawa pulang tiga poin tetaplah sama. Target kemenangan menjadi harga mati demi mendongkrak posisi PSM Makassar yang saat ini masih berjuang di papan tengah klasemen.

Solidaritas Tanpa Batas: Dukungan dari Luar Stadion

Menariknya, meskipun pintu stadion tertutup rapat bagi mereka, loyalitas suporter PSM Makassar seolah tidak mengenal batas. Mengetahui tim kesayangan mereka tidak akan didampingi di dalam stadion, berbagai kelompok suporter mengambil inisiatif untuk memberikan dukungan moril dengan cara yang berbeda. Pagi sebelum keberangkatan tim menuju Parepare, mess pemain PSM Makassar mendadak ramai oleh kedatangan ratusan pendukung.

Baca Juga Aksi Keji Pak Ogah di Makassar: Driver Ojol Terkapar Terkena Busur, Polisi Amankan Enam Rekan Pelaku
Aksi Keji Pak Ogah di Makassar: Driver Ojol Terkapar Terkena Busur, Polisi Amankan Enam Rekan Pelaku

Ahmad Amiruddin mengaku terharu dengan aksi solidaritas tersebut. Menurutnya, kehadiran suporter di mess pemain menjadi titik balik motivasi yang sempat meredup. Para pemain merasa tidak berjuang sendirian meskipun nanti mereka harus bertanding di stadion yang sepi. Dukungan yang diberikan secara langsung di mess seolah menjadi bekal energi yang dibawa masuk ke dalam bus tim menuju medan laga.

“Tapi karena mereka sudah datang lebih awal di mess untuk memberikan semangat, saya pikir teman-teman pemain sudah bertekad kuat. Kami ingin membalas dukungan dan ketulusan mereka dengan hasil terbaik di pertandingan nanti,” tambah Amiruddin dengan penuh optimisme.

Aksi Konvoi dan Pesan ‘Fight Spirit’ dari Suporter

Cerita tentang kesetiaan pendukung PSM tidak berhenti di mess pemain saja. Media Officer PSM Makassar, Sulaiman Abdul Karim, menceritakan bagaimana perjalanan tim menuju Parepare dikawal ketat oleh para pendukung. Setidaknya ada sekitar 50 unit sepeda motor yang melakukan konvoi, membentuk barisan panjang mengiringi bus pemain dari titik keberangkatan hingga memasuki perbatasan kota.

Baca Juga Skandal Korupsi Bibit Nanas Sulsel: Saling Bantah Bahtiar Baharuddin dan Eks Pimpinan DPRD Memanas
Skandal Korupsi Bibit Nanas Sulsel: Saling Bantah Bahtiar Baharuddin dan Eks Pimpinan DPRD Memanas

Suasana haru sekaligus heroik terasa ketika para suporter berteriak memberikan semangat di sepanjang jalan. Mereka tidak meminta banyak, hanya satu pesan yang terus digaungkan: “Fight Spirit”. Para suporter ingin para pemain menunjukkan semangat juang yang pantang menyerah, sebagaimana karakter asli masyarakat Sulawesi Selatan yang dikenal keras dan gigih.

“Ada sekitar 50-an konvoi motor dari suporter yang mengantar tim. Pada momen itu, suporter mengajak para pemain untuk benar-benar mengutamakan fight spirit. Mereka ingin melihat PSM bermain dengan hati, meskipun stadion sedang dihukum tanpa penonton,” ujar Sulaiman saat memberikan keterangan kepada awak media.

Optimisme Rezky Fandi: Energi yang Tetap Sampai ke Ruang Ganti

Senada dengan sang pelatih, gelandang andalan PSM Makassar, Rezky Fandi, juga merasakan dorongan semangat yang serupa. Rezky mengakui bahwa sempat ada rasa kecewa ketika mendengar kabar laga akan digelar tertutup. Namun, setelah melihat pengorbanan suporter yang rela datang ke mess dan mengawal tim di jalanan, rasa kecewa itu berubah menjadi motivasi yang berlipat ganda.

Baca Juga Tragedi Maut di Jalan Poros Topoyo: Dua Pemuda Mamuju Tengah Tewas Usai Dihantam Truk
Tragedi Maut di Jalan Poros Topoyo: Dua Pemuda Mamuju Tengah Tewas Usai Dihantam Truk

Bagi Rezky, kehadiran suporter di pagi hari sebelum laga sudah cukup untuk membakar semangat para pemain di ruang ganti. Ia percaya bahwa doa dan energi dari para pendukung akan tetap sampai ke lapangan, meskipun raga mereka tertahan di luar pagar stadion. Baginya, setiap tetap keringat yang jatuh di lapangan BJ Habibie adalah persembahan untuk para pendukung yang tak kenal lelah mendukung dari kejauhan.

“Tentunya kami merasa kurang lengkap tanpa didampingi suporter secara langsung. Tapi dengan datangnya mereka tadi pagi, semoga itu bisa menjadi bahan bagi kami semua untuk tetap menganggap bahwa mereka tetap ada di sana, bersorak di belakang kami,” tutur Rezky Fandi dengan penuh keyakinan.

Tembok Perizinan: Alasan di Balik Laga Tanpa Penonton

Keputusan menggelar laga PSM Makassar vs Bhayangkara FC tanpa penonton bukanlah tanpa alasan. Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) PSM Makassar, Ispriyanto, menjelaskan bahwa langkah ini diambil berdasarkan hasil koordinasi yang ketat dengan pihak keamanan. Pihak Panpel sebenarnya telah berupaya maksimal untuk mendapatkan izin keramaian, namun kondisi keamanan dan ketertiban menjadi prioritas utama pihak kepolisian.

Baca Juga Mendulang Pahala Tanpa Batas: 8 Amalan Utama 10 Hari Pertama Dzulhijjah bagi Wanita Haid
Mendulang Pahala Tanpa Batas: 8 Amalan Utama 10 Hari Pertama Dzulhijjah bagi Wanita Haid

Ispriyanto menambahkan bahwa pihaknya telah berkomunikasi secara intensif dengan para koordinator kelompok suporter untuk memberikan pengertian atas situasi ini. Ia mengapresiasi kedewasaan para pendukung yang mampu menerima keputusan sulit ini dengan lapang dada tanpa melakukan aksi protes yang merugikan tim.

Di sisi lain, Kapolres Parepare, AKBP Indra Waspada Yuda, mengonfirmasi bahwa status laga tanpa penonton tersebut merupakan rekomendasi langsung dari Polda Sulawesi Selatan. Pertimbangan keamanan menjadi faktor krusial, mengingat tensi pertandingan yang diprediksi akan tinggi serta evaluasi keamanan dari laga-laga sebelumnya. “Itu memang usulan dari Polda,” singkat AKBP Indra saat memberikan pernyataan resmi.

Menatap Masa Depan di Klasemen Super League

Pertandingan melawan Bhayangkara FC ini bukan sekadar laga biasa. Di tengah dinamika kompetisi Super League yang semakin ketat, setiap poin sangat berarti. PSM Makassar tidak boleh tergelincir jika ingin tetap bersaing di papan atas. Apalagi, kompetisi belakangan ini penuh dengan kejutan, termasuk degradasi tim-tim besar seperti Semen Padang yang menyusul nasib PSBS Biak.

Kemenangan atas Bhayangkara FC akan memberikan napas baru bagi skuad Pasukan Ramang. Dengan mentalitas yang telah ditempa oleh dukungan militan suporter di luar lapangan, PSM diharapkan mampu menunjukkan kelasnya sebagai juara bertahan yang tangguh. Meskipun dalam kesunyian Stadion Gelora BJ Habibie, gaung semangat Juku Eja diharapkan tetap terdengar lantang hingga ke pelosok Sulawesi.

Kini, bola ada di kaki para pemain. Apakah kesunyian stadion akan menjadi beban, atau justru menjadi panggung pembuktian bahwa mental juara PSM Makassar tetap menyala meski tanpa tepuk tangan? Kita tunggu jawabannya di lapangan hijau.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *