Aksi Keji Pak Ogah di Makassar: Driver Ojol Terkapar Terkena Busur, Polisi Amankan Enam Rekan Pelaku
KabarHarian — Ketegangan di jalanan Kota Makassar kembali memuncak dan berujung pada aksi kriminalitas yang memprihatinkan. Seorang pengemudi ojek online (ojol) harus dilarikan ke rumah sakit setelah menjadi korban pembusuran oleh seorang pengatur lalu lintas liar, atau yang akrab disapa ‘Pak Ogah’. Insiden berdarah ini terjadi di kawasan Jembatan Puri Taman Sari, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu siang yang seharusnya tenang.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Teguran di Jalan Raya
Peristiwa yang menggegerkan warga sekitar ini terjadi sekitar pukul 11.00 WITA. Berdasarkan informasi yang dihimpun tim redaksi KabarHarian, konflik bermula dari hal sepele yang kerap terjadi di hiruk-pikuk jalanan kota besar. Korban, yang saat itu sedang menjalankan tugasnya mencari nafkah, merasa terganggu dengan cara pelaku mengatur lalu lintas di area putaran jalan.
Saksi mata menyebutkan bahwa korban menegur pelaku karena dianggap tidak adil dalam mengatur kendaraan. Pelaku diduga hanya memprioritaskan pengendara yang memberikan sejumlah uang, sementara pengendara lain, termasuk driver ojol tersebut, diabaikan hingga memicu kemacetan. Teguran tersebut ternyata tidak diterima baik oleh pelaku yang diketahui berinisial RHN.
Cekcok mulut pun tak terhindarkan. Situasi semakin memanas hingga terjadi perkelahian fisik di pinggir jalan. Dalam duel tersebut, pelaku RHN dikabarkan sempat terdesak dan kalah secara fisik. Namun, bukannya mundur, rasa dendam justru membuat pelaku gelap mata. Ia mengambil senjata tajam jenis busur (panah tradisional khas jalanan Makassar) dan langsung melepaskannya ke arah korban dari jarak dekat.
Luka Serius di Pinggang dan Upaya Pengejaran Pelaku
Anak panah besi tersebut melesat dan menancap tepat di pinggang sebelah kanan korban. Meskipun dalam keadaan terluka parah dan menahan sakit yang luar biasa, jiwa ksatria driver ojol ini sempat muncul. Ia berusaha mengejar pelaku menggunakan sepeda motornya demi meminta pertanggungjawaban. Namun, luka robek dan pendarahan membuatnya lemas, sementara pelaku RHN berhasil melesat hilang di gang-gang sempit pemukiman warga.
Melihat kondisi korban yang semakin menurun, warga dan rekan sesama ojol segera melarikannya ke Rumah Sakit Hermina Makassar untuk mendapatkan pertolongan pertama. Mengingat luka yang cukup dalam dan risiko infeksi dari logam busur tersebut, korban kemudian dirujuk ke RSUD Daya untuk menjalani tindakan operasi pengangkatan mata busur yang masih tertancap di tubuhnya.
Polisi Bergerak Cepat: Enam Rekan Pelaku Diamankan
Merespons kejadian yang meresahkan publik ini, aparat kepolisian dari Polsek Manggala langsung bergerak melakukan penyisiran di lokasi kejadian. Kapolsek Manggala, Kompol Samuel To’longan, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir aksi premanisme jalanan semacam ini. Hingga Minggu (18/5), kepolisian telah mengamankan enam orang pria yang merupakan rekan-rekan pelaku sesama pengatur jalan liar di lokasi tersebut.
“Enam orang yang diduga saksi dan merupakan teman dari pelaku utama saat ini masih kami amankan di Mapolsek Manggala. Penyidik tengah mendalami sejauh mana keterlibatan mereka dalam insiden ini, apakah ada unsur pembiaran atau bahkan ikut membantu pelaku saat melarikan diri,” ujar Kompol Samuel To’longan secara eksklusif kepada tim KabarHarian.
Meskipun enam orang telah diamankan, pelaku utama berinisial RHN masih berstatus buron. Pihak kepolisian telah melakukan penggerebekan di rumah tinggal pelaku pada Minggu subuh, namun hasilnya masih nihil. Diduga kuat pelaku telah melarikan diri ke luar daerah atau bersembunyi di suatu tempat yang tersembunyi.
Fenomena Pak Ogah dan Ancaman Senjata Busur di Makassar
Kasus ini kembali membuka mata publik mengenai fenomena ‘Pak Ogah’ atau pengatur lalu lintas liar yang kian menjamur di titik-titik kemacetan Makassar. Keberadaan mereka seringkali menjadi pedang bermata dua; di satu sisi membantu mengurai macet di putaran jalan (U-turn), namun di sisi lain kerap meresahkan karena adanya paksaan untuk memberi uang dan perilaku kasar jika keinginan mereka tidak terpenuhi.
Selain itu, penggunaan busur sebagai senjata untuk menyelesaikan konflik jalanan menjadi catatan merah bagi keamanan kota. Busur yang terbuat dari jeruji motor atau besi runcing yang dikaitkan dengan karet pelontar ini merupakan senjata mematikan yang sangat sulit dideteksi karena ukurannya yang kecil. Kejadian pembusuran terhadap driver ojol ini menambah daftar panjang kekerasan jalanan yang melibatkan senjata tradisional tersebut.
Langkah Antisipasi dan Imbauan Kepolisian
Kompol Samuel menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pengembangan kasus untuk melacak keberadaan RHN. Ia juga mengimbau kepada pihak keluarga pelaku agar kooperatif dan menyerahkan RHN secara baik-baik kepada pihak berwajib sebelum diambil tindakan tegas dan terukur di lapangan.
“Kami sudah mengantongi identitas lengkap pelaku. Tim opsnal sedang bekerja di lapangan. Kami pastikan proses hukum akan berjalan sesuai aturan yang berlaku untuk memberikan rasa keadilan bagi korban,” tambahnya. Kepolisian juga berencana akan melakukan penertiban rutin terhadap para pengatur lalu lintas liar di wilayah Manggala guna mencegah terulangnya kejadian serupa yang mengancam nyawa warga.
Solidaritas Komunitas Ojol di Makassar
Insiden ini juga memicu reaksi keras dari komunitas driver ojek online di Makassar. Sebagai bentuk solidaritas, puluhan driver ojol sempat mendatangi RSUD Daya untuk memantau kondisi rekan mereka. Mereka berharap pihak kepolisian segera menangkap pelaku utama agar tidak ada lagi rekan seprofesi mereka yang menjadi sasaran kekerasan saat sedang bekerja di jalanan.
KabarHarian akan terus memantau perkembangan kasus ini, termasuk kondisi terkini korban pasca-operasi dan hasil pengejaran tim kepolisian terhadap pelaku utama RHN. Keamanan di ruang publik, terutama jalan raya, harus menjadi prioritas bersama agar masyarakat Makassar dapat beraktivitas tanpa rasa takut akan ancaman kekerasan premanisme.