Jelang Idul Adha, Harga Cabai Merah dan Rawit di Pasar Sukaramai Medan Mulai ‘Pedas’ Menyentuh Rp 40 Ribu per Kilogram

Siska Amelia | KabarHarian
20 May 2026, 14:08 WIB
Jelang Idul Adha, Harga Cabai Merah dan Rawit di Pasar Sukaramai Medan Mulai 'Pedas' Menyentuh Rp 40 Ribu per Kilogram

KabarHarian — Dinamika harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional Kota Medan kembali menunjukkan tren yang cukup mengejutkan bagi para ibu rumah tangga. Setelah sempat menikmati masa-masa penurunan harga yang relatif stabil, kini ‘si pedas’ kembali menunjukkan taringnya. Pantauan langsung di lapangan mengungkapkan bahwa komoditas cabai merah dan cabai rawit mulai merangkak naik, menciptakan gelombang kekhawatiran baru di tengah persiapan masyarakat menyambut hari besar keagamaan.

Lonjakan Harga di Pasar Sukaramai: Fenomena Jelang Hari Raya

Di Pasar Sukaramai, salah satu pusat niaga tradisional tersibuk di Kota Medan, suasana transaksi jual beli tampak sedikit berbeda dari biasanya. Keluhan demi keluhan terdengar dari para pembeli saat mengetahui label harga yang dipajang di lapak-lapak pedagang sayuran. Berdasarkan data yang dihimpun tim di lapangan pada Rabu (20/5/2026), harga cabai merah dan cabai rawit kini telah bertengger di angka Rp 40.000 per kilogram.

Kenaikan ini dianggap cukup signifikan mengingat beberapa waktu lalu harga sempat berada di level yang lebih rendah. Para pedagang menduga kuat bahwa pemicu utama dari fenomena ini adalah siklus tahunan yang selalu terjadi menjelang Hari Raya Idul Adha atau yang akrab disapa masyarakat setempat sebagai Raya Haji. Peningkatan permintaan yang tidak dibarengi dengan lonjakan pasokan disinyalir menjadi biang keladi di balik ‘pedasnya’ harga cabai saat ini.

Baca Juga Jadwal Resmi Sidang Isbat 1 Dzulhijjah 1447 H: Mengawal Penetapan Idul Adha 2026 dengan Akurasi dan Tradisi
Jadwal Resmi Sidang Isbat 1 Dzulhijjah 1447 H: Mengawal Penetapan Idul Adha 2026 dengan Akurasi dan Tradisi

Suara Pedagang: Prediksi Kenaikan yang Terus Berlanjut

Naomi, salah seorang pedagang cabai kawakan di Pasar Sukaramai, mengungkapkan bahwa kenaikan ini terjadi secara bertahap namun pasti. Baginya, angka Rp 40.000 per kilogram saat ini kemungkinan hanyalah permulaan. Ia melihat adanya pola yang konsisten setiap kali mendekati hari besar Islam.

“Mungkin karena sudah mau dekat Raya Haji ya, jadi harganya mulai naik. Hari ini saya jual cabai merah seharga Rp 40.000 per kilonya. Kalau beli eceran seperempat kilogram, harganya jadi Rp 10.000,” ujar Naomi saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan. Ia juga menambahkan bahwa harga yang sama berlaku untuk cabai rawit atau yang sering disebut warga Medan sebagai cabai kecil.

Kekhawatiran Naomi bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun berjualan, ia memprediksi harga ini belum mencapai puncaknya. “Cabai kecil juga sama, sekilo Rp 40.000. Sepertinya akan naik terus ini sampai hari raya nanti. Biasanya permintaan akan memuncak beberapa hari sebelum pemotongan hewan kurban,” lanjutnya dengan nada optimistis sekaligus waspada terhadap daya beli masyarakat.

Baca Juga Menteri PU Dody Hanggodo Tekan Gas Pembangunan Sekolah Rakyat di Dharmasraya: Target Rampung Sebelum Ajaran Baru 2026
Menteri PU Dody Hanggodo Tekan Gas Pembangunan Sekolah Rakyat di Dharmasraya: Target Rampung Sebelum Ajaran Baru 2026

Strategi Konsumen: Menyetok Sebelum Harga Kian Tak Terkendali

Di sisi lain, para pembeli mulai memutar otak untuk menyiasati lonjakan harga ini. Yani, seorang ibu rumah tangga yang rutin berbelanja di Pasar Sukaramai, mengaku sudah memiliki firasat akan adanya kenaikan ini. Baginya, cabai adalah bumbu dapur yang tak tergantikan, terutama untuk mengolah masakan khas Lebaran yang kaya akan rempah dan rasa pedas.

“Biasanya saya menyetok lebih awal. Misal hari ini beli 3 kilo untuk disimpan, jadi sebelum Raya Haji datang dan harga makin ‘gila’, saya sudah punya cadangan di rumah,” tutur Yani. Meski merasa berat dengan kenaikan harga, ia menganggap hal ini sebagai sesuatu yang lumrah atau wajar terjadi di Indonesia setiap kali menjelang hari besar.

Strategi menyetok ini menjadi pilihan populer bagi banyak warga Medan untuk menghindari antrean panjang dan harga selangit di hari-H. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga kesegaran cabai agar tidak cepat membusuk selama masa penyimpanan di lemari pendingin.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Bannu: Ledakan Bom Mobil dan Serangan Drone Militan Renggut 12 Nyawa Petugas Pakistan
Tragedi Berdarah di Bannu: Ledakan Bom Mobil dan Serangan Drone Militan Renggut 12 Nyawa Petugas Pakistan

Analisis Ekonomi Lokal dan Dampak Luas

Kenaikan harga cabai di Medan tidak berdiri sendiri. Fenomena serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah penyangga seperti Binjai, di mana harga cabai rawit dan hijau juga mulai merangkak naik. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran distribusi pasokan dari sentra-sentra produksi di Sumatera Utara, seperti dari tanah Karo yang selama ini menjadi pemasok utama kebutuhan sayur-mayur di Kota Medan.

Selain faktor hari besar, fluktuasi nilai tukar mata uang juga secara tidak langsung memengaruhi psikologi pasar. Di Medan, sentimen mengenai penguatan mata uang Ringgit Malaysia terhadap Rupiah juga menjadi perbincangan hangat, mengingat banyaknya mobilitas warga Medan ke negeri jiran tersebut. Meski tidak berkorelasi langsung dengan harga cabai, kondisi ekonomi makro ini turut memengaruhi persepsi masyarakat terhadap daya beli dan pengeluaran rumah tangga secara keseluruhan.

Tantangan bagi Pelaku Usaha Kuliner

Kenaikan harga cabai hingga Rp 40.000 per kilogram tentu menjadi pukulan tersendiri bagi para pengusaha kuliner di Medan, kota yang terkenal dengan kelezatan masakan pedasnya. Pemilik warung nasi, pedagang mi balap, hingga restoran besar harus menghitung ulang biaya produksi mereka agar tetap bisa meraup untung tanpa harus menaikkan harga jual ke konsumen secara drastis.

Baca Juga Menanti Takhta Juara Al Nassr: Antara Gengsi Trofi Liga Arab Saudi dan Ironi Hadiah Miliaran Rupiah
Menanti Takhta Juara Al Nassr: Antara Gengsi Trofi Liga Arab Saudi dan Ironi Hadiah Miliaran Rupiah

Banyak pengusaha kecil yang terpaksa mengurangi porsi sambal atau mencampurkan cabai merah dengan cabai kering untuk menyiasati biaya produksi. Namun, bagi pecinta kuliner sejati di Medan, rasa pedas yang autentik dari cabai segar tetap tidak bisa ditawar. Hal inilah yang membuat permintaan pasar tetap tinggi meski harga terus merangkak naik.

Harapan Stabilisasi Harga dari Pemerintah

Masyarakat kini menaruh harapan besar pada pemerintah daerah dan dinas terkait untuk melakukan intervensi pasar jika harga terus melonjak tak terkendali. Langkah-langkah seperti operasi pasar murah atau pemantauan jalur distribusi diharapkan dapat menekan laju kenaikan harga agar tidak memberangkatkan masyarakat kelas bawah.

Kehadiran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) sangat krusial dalam momen-momen seperti ini. Memastikan bahwa stok cabai di gudang-gudang distributor mencukupi untuk memenuhi lonjakan permintaan saat Idul Adha adalah kunci utama agar harga tetap berada dalam batas kewajaran. Tanpa pengawasan yang ketat, dikhawatirkan spekulan pasar akan mengambil keuntungan berlebih di tengah momentum hari besar keagamaan ini.

Baca Juga Ancaman Tersembunyi di Balik Batang Rokok: Dampak Destruktif pada Kesehatan Gigi dan Rongga Mulut
Ancaman Tersembunyi di Balik Batang Rokok: Dampak Destruktif pada Kesehatan Gigi dan Rongga Mulut

Kesimpulan dan Pandangan ke Depan

Kenaikan harga cabai di Pasar Sukaramai Medan saat ini merupakan sinyal awal dari dinamika ekonomi menjelang Idul Adha. Dengan harga yang kini menyentuh Rp 40.000 per kilogram, baik pedagang maupun pembeli sudah mulai menyesuaikan diri dengan realitas pasar yang ada. Strategi belanja cerdas dan pemantauan harga secara berkala menjadi kunci bagi masyarakat untuk tetap bisa merayakan hari raya dengan hidangan yang nikmat tanpa harus menguras kantong terlalu dalam.

Ke depannya, diprediksi tren kenaikan masih akan terus berlanjut hingga H-1 Idul Adha. Namun, setelah periode tersebut, harga biasanya akan kembali melandai seiring dengan normalnya tingkat konsumsi masyarakat. Bagi Anda yang berada di Medan, memantau pergerakan harga di pasar tradisional seperti Sukaramai adalah langkah bijak untuk mengelola anggaran dapur di tengah fluktuasi harga komoditas yang tidak menentu.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *