Jejak Willem Iskander: Sang Visionaris Mandailing yang Melampaui Zamannya dalam Dunia Pendidikan
KabarHarian — Di tengah hiruk-pikuk narasi sejarah kolonialisme yang sering kali didominasi oleh perlawanan fisik dan angkat senjata, terselip sebuah kisah inspiratif tentang revolusi melalui literasi dan pendidikan. Adalah Willem Iskander, seorang putra asli Mandailing yang memilih jalan pedang berbeda; ia tidak menghunus parang, melainkan membangun fondasi intelektual bagi bangsanya di saat fajar kesadaran nasional belum sepenuhnya menyingsing.
Lahirnya Si Sati: Akar Budaya di Tanah Mandailing
Lahir dengan nama asli Si Sati pada Maret 1840 di Desa Pidoli Lombang, Mandailing Godang, sosok ini tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan adat dan tradisi. Beberapa catatan sejarah juga menyebutnya dengan nama Ali Sati Nasution. Sebagai putra dari seorang Mangaraja (Tinating), ia mewarisi gelar kebangsawanan yang cukup terpandang. Sesuai tradisi suku bangsa Mandailing, seorang putra Mangaraja lazimnya dianugerahi gelar Sutan, yang kemudian melekat padanya sebagai Sutan Iskandar.
Sejak kecil, aura kecerdasan Si Sati telah memancar kuat. Dalam buku “Lebih Jauh Tentang Willem Iskander dan Si Bulus Bulus, Si Rumbuk Rumbuk” karya Z. Pangaduan Lubis, digambarkan betapa Si Sati adalah murid yang luar biasa menonjol. Baik saat ia mengenyam pendidikan di Panyabungan maupun Kotanopan, reputasinya sebagai murid yang “luar biasa pintar” selalu mendahului langkahnya. Kecerdasan ini pula yang kemudian membukakan pintu-pintu kesempatan yang jarang didapatkan oleh anak-anak pribumi di masa itu.
Transformasi Identitas: Dari Ali Sati Menjadi Willem Iskander
Ketajaman berpikir Si Sati segera menarik perhatian pejabat kolonial. Pada usia yang sangat muda, yakni 15 tahun, ia sudah dipercaya bekerja di kantor pemerintahan Belanda. Ini adalah pencapaian langka yang membuktikan bahwa kapasitas intelektualnya telah diakui secara formal oleh otoritas saat itu. Titik balik dalam hidupnya terjadi pada tahun 1857, ketika ia diboyong ke Belanda oleh Asisten Residen Alexander Phillippus Godon untuk menempuh pendidikan lebih lanjut.
Setahun berselang, tepatnya pada 1858, sebuah perubahan besar terjadi pada identitasnya. Si Sati resmi berganti nama menjadi Willem Iskander. Hingga kini, para sejarawan masih memperdebatkan apakah perubahan ini atas dorongan pihak Belanda atau murni kemauannya sendiri. Namun, terselip sebuah simbolisme kuat di balik nama tersebut. Nama ‘Willem’ identik dengan Raja Belanda yang berkuasa kala itu, Raja Willem III, sementara ‘Iskander’ tetap mempertahankan akar nama aslinya. Nama ini seolah menjadi jembatan antara dua dunia: Barat yang modern dan Mandailing yang berakar kuat.
Kweekschool Tano Bato: Monumen Pendidikan di Jantung Sumatera
Sekembalinya dari Belanda pada tahun 1861 dengan bekal ilmu dan pengalaman internasional, Willem tidak memilih untuk hidup nyaman dalam birokrasi kolonial. Di usia yang masih sangat muda, yakni 22 tahun, ia membulatkan tekad untuk membangun tanah kelahirannya. Pada tahun 1862, ia mendirikan Kweekschool atau sekolah guru di Tano Bato, Mandailing.
Sekolah ini mungkin terlihat bersahaja secara fisik—bangunan kayu beralaskan bambu dengan atap rumbia yang sederhana. Namun, di balik dinding-dinding bambu itu, api intelektual berkobar hebat. Ini adalah sekolah guru kedua yang pernah berdiri di seantero Sumatera setelah Bukittinggi. Willem Iskander bukan sekadar pendiri; ia adalah jantung dari sekolah tersebut. Ia tinggal di salah satu ruangan sekolah agar bisa memantau perkembangan murid-muridnya setiap saat, menciptakan sebuah lingkungan belajar yang intim sekaligus disiplin.
Visi Bahasa dan Kemajuan Intelektual
Salah satu pemikiran progresif Willem Iskander adalah keyakinannya pada kekuatan bahasa. Ia mewajibkan murid-muridnya menguasai bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kunci pembuka gudang ilmu pengetahuan dunia. Dengan penguasaan bahasa, murid-muridnya memiliki martabat untuk menjadi guru, penulis, hingga penerjemah yang handal.
Dampak dari sekolah Tano Bato ini luar biasa. Para alumninya bertransformasi menjadi agen perubahan yang menyebar ke seluruh penjuru Tapanuli Selatan. Mereka menerjemahkan literatur-literatur Barat ke dalam bahasa Melayu dan Mandailing, membuka cakrawala berpikir masyarakat lokal yang selama ini terisolasi secara informasi. Inilah awal mula lahirnya kelas menengah intelektual di Mandailing yang kelak memainkan peran penting dalam pergerakan nasional.
Melampaui Zamannya: Penilaian Para Ahli
Rizali Harris Nasution, pendiri Pusat Informasi dan Dokumentasi Mandailing, menilai bahwa Willem Iskander adalah tokoh yang unik dan sulit dicari tandingannya. Dalam sebuah wawancara, Rizali menekankan bahwa keberanian Willem mendirikan sekolah guru menunjukkan visi jangka panjang yang luar biasa. Ia tidak hanya ingin mencerdaskan orang, tapi ia ingin menciptakan ‘pencerdas-pencerdas’ baru.
“Willem Iskander itu berpikir satu tingkat di atas yang lain. Beliau adalah tokoh pendidikan yang lengkap; seorang pendidik, pemikir, sekaligus penulis produktif,” ujar Rizali. Pengakuan terhadap karyanya bahkan datang dari otoritas tertinggi pendidikan saat itu, Inspektur Jenderal Pendidikan Bumiputera, Mr. JA Van der Chijs, yang memuji kecepatan perkembangan sekolah Tano Bato di bawah kepemimpinan Willem.
Warisan Sastra: Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk
Selain jasanya di dunia pendidikan formal, Willem Iskander juga meninggalkan warisan literasi yang monumental melalui karyanya, “Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk”. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan manifestasi pemikirannya tentang kemanusiaan, pendidikan, dan cinta tanah air. Melalui tulisannya, ia mengajak masyarakat Mandailing untuk senantiasa mengejar kemajuan tanpa melupakan jati diri.
Hingga hari ini, nama Willem Iskander tetap harum dan abadi. Ia bukan hanya pahlawan bagi masyarakat Mandailing, tetapi juga pionir bagi dunia pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Dedikasinya membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil yang konsisten, dari sebuah gedung beratap rumbia di pelosok desa, yang dibangun oleh pemuda dengan visi menembus awan.
Kesimpulan: Cahaya dari Tano Bato
Menelusuri jejak Willem Iskander adalah menelusuri perjalanan seorang intelektual yang sadar akan tanggung jawab sosialnya. Ia mengajarkan kita bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Meskipun fisiknya telah tiada, semangatnya tetap hidup dalam setiap helai buku dan setiap ruang kelas di Mandailing. Sosoknya mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, melainkan dari seberapa besar investasi yang ditanamkan pada pembangunan manusia.
Willem Iskander adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang bagi lahirnya gagasan besar. Dari Tano Bato, ia telah menyalakan lilin pendidikan yang sinarnya masih terasa hingga saat ini, memberikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi pada ibu pertiwi.