Tragedi Tanah Ulayat di Flores Timur: Update Kondisi Korban dan Akar Konflik Menahun di Adonara

Andre Pratama | KabarHarian
11 May 2026, 16:08 WIB
Tragedi Tanah Ulayat di Flores Timur: Update Kondisi Korban dan Akar Konflik Menahun di Adonara

KabarHarian — Ketegangan yang menyelimuti Pulau Adonara kembali memuncak menyusul bentrokan berdarah antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden yang pecah dalam beberapa hari terakhir ini tidak hanya meninggalkan trauma mendalam bagi warga, tetapi juga memaksa sejumlah korban untuk menjalani perawatan medis intensif akibat luka serius yang diderita.

Hingga Senin (11/5/2026), dilaporkan bahwa satu orang warga terpaksa dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai di Kupang guna mendapatkan penanganan spesialis. Sementara itu, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, tim medis tengah berjuang menyelamatkan dua korban lainnya melalui prosedur operasi pembedahan yang cukup kompleks.

Kondisi Terkini Korban: Operasi Pengangkatan Proyektil

Direktur RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, dr. Gregorius Bato Koten, memberikan keterangan resmi terkait kondisi para penyintas yang dilarikan ke rumah sakit. Menurutnya, pada hari Minggu (10/5), terdapat tiga orang pasien yang masuk dengan kondisi luka-luka akibat bentrokan tersebut. Namun, tingkat keparahan luka yang dialami para korban bervariasi.

Baca Juga Terobosan Baru Kejari Karangasem: Bazar Pelayanan Publik Terpadu Jadi Solusi Administrasi Praktis di Satu Lokasi
Terobosan Baru Kejari Karangasem: Bazar Pelayanan Publik Terpadu Jadi Solusi Administrasi Praktis di Satu Lokasi

“Dari tiga pasien yang kami terima pada hari Minggu, satu orang sudah stabil dan diperbolehkan pulang pada sore harinya untuk menjalani rawat jalan. Namun, dua pasien lainnya harus segera masuk ruang operasi karena luka yang cukup fatal,” ungkap Gregorius saat memberikan keterangan kepada tim redaksi KabarHarian, Senin (11/5/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa prosedur operasi tersebut dilakukan untuk mengeluarkan proyektil yang bersarang di tubuh korban. Operasi dilakukan secara maraton dari Minggu sore hingga malam hari. Proyektil yang diduga berasal dari senjata rakitan tersebut berhasil dievakuasi oleh tim bedah, dan saat ini kedua pasien masih dalam pengawasan ketat untuk masa pemulihan.

Evakuasi ke Kupang dan Keterbatasan Fasilitas Lokal

Keputusan untuk merujuk satu korban ke Kupang diambil berdasarkan pertimbangan medis yang mendesak. Mengingat jenis luka yang dialami membutuhkan peralatan pendukung dan dokter spesialis yang lebih lengkap, pihak rumah sakit di Larantuka merasa perlu memindahkan pasien agar mendapatkan perawatan maksimal. Langkah ini menjadi cerminan betapa seriusnya dampak fisik yang ditimbulkan dari konflik horizontal di wilayah tersebut.

Baca Juga Wajah Baru Pasar Senggol Tabanan: Di Balik Relokasi ke Gedung Marya dan Kecemasan Para Pedagang
Wajah Baru Pasar Senggol Tabanan: Di Balik Relokasi ke Gedung Marya dan Kecemasan Para Pedagang

Insiden ini menambah daftar panjang korban luka yang mencapai tujuh orang. Sebagian besar dari mereka menderita luka akibat hantaman senjata tajam dan terjangan peluru senjata rakitan yang digunakan saat bentrokan pecah. Situasi ini memicu keprihatinan luas, terutama terkait akses layanan kesehatan darurat di wilayah kepulauan yang terbatas.

Jejak Kerusakan: Rumah Hangus dan Fasilitas Umum Terbakar

Bentrokan yang terjadi pada Sabtu (9/5/2026) tidak hanya mengorbankan nyawa dan fisik warga, tetapi juga meluluhlantakkan infrastruktur desa. KabarHarian mencatat sedikitnya 12 rumah warga hangus terbakar atau mengalami kerusakan berat. Tidak hanya rumah tinggal, satu-satunya apotek di lokasi kejadian juga menjadi sasaran amukan massa dan ikut terbakar, yang praktis memutus akses obat-obatan bagi warga sekitar secara mendadak.

Pemandangan puing-puing bangunan yang masih berasap menjadi saksi bisu betapa panasnya eskalasi konflik di Adonara Timur. Warga yang rumahnya hancur kini harus mengungsi ke kerabat terdekat atau posko darurat, dihantui rasa was-was akan adanya serangan susulan, meskipun aparat keamanan telah disiagakan di titik-titik rawan.

Baca Juga Geliat Pariwisata Mataram: Tetap Tangguh Meski Harga Tiket Pesawat Meroket di Langit Indonesia
Geliat Pariwisata Mataram: Tetap Tangguh Meski Harga Tiket Pesawat Meroket di Langit Indonesia

Meluruskan Simpang Siur: Bukan Soal Koperasi Desa

Di tengah suasana panas, sempat beredar isu yang menyebutkan bahwa pemicu kemarahan warga adalah pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Namun, narasi ini segera ditepis oleh pemerintah pusat. Sekretaris Kementerian Koperasi, Ahmad Zabadi, dalam konferensi pers resminya menegaskan bahwa tidak ada kaitan antara program koperasi tersebut dengan bentrokan yang terjadi.

“Perlu kami tegaskan secara tegas bahwa konflik yang terjadi di Flores Timur ini sama sekali bukan terkait dengan program Koperasi Desa Merah Putih. Ini adalah murni persoalan lain yang sudah lama mengakar di tengah masyarakat,” kata Ahmad Zabadi saat memberikan klarifikasi di Jakarta.

Akar Konflik: Sengkarut Tanah Ulayat yang Turun-Temurun

Berdasarkan penelusuran lebih dalam, pemicu utama bentrokan antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina adalah sengketa tanah ulayat atau tanah adat yang tak kunjung menemui titik temu. Masalah pembagian wilayah administratif secara formal seringkali berbenturan dengan klaim hak adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketidakjelasan batas-batas tanah ulayat ini menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Persoalan ini dikategorikan sebagai konflik lama yang belum “clear” secara hukum adat maupun hukum negara. Meskipun proses mediasi telah dilakukan berkali-kali, ego sektoral dan sentimen kesukuan seringkali menghambat terciptanya kesepakatan damai yang permanen.

Baca Juga Diplomasi Hangat di Beijing: Donald Trump Sanjung Xi Jinping Sebagai Pemimpin Hebat Demi Stabilitas Global
Diplomasi Hangat di Beijing: Donald Trump Sanjung Xi Jinping Sebagai Pemimpin Hebat Demi Stabilitas Global

Kegagalan Mediasi dan Bara yang Kembali Menyala

Pemerintah Kabupaten Flores Timur sebenarnya tidak tinggal diam. Upaya rekonsiliasi sempat diupayakan pada Kamis (26/2/2026) di Kantor Bupati. Bahkan, setelah konflik sempat pecah pada Jumat (6/3/2026), mediasi lanjutan dilakukan secara terpisah untuk meredam emosi kedua belah pihak. Namun, kenyataannya upaya diplomasi di atas meja belum mampu meredam amarah di lapangan.

Bentrokan susulan yang terjadi pada awal Mei ini menunjukkan bahwa terdapat luka lama yang belum sembuh atau adanya provokasi baru yang memicu kembalinya kekerasan fisik. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Bupati Flores Timur dan jajaran Forkopimda untuk mencari solusi jangka panjang yang tidak hanya sekadar formalitas di atas kertas.

Situasi Keamanan Terkini: Siaga Satu di Adonara

Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, menyatakan bahwa hingga Senin siang (11/5/2026), situasi di Adonara Timur sudah mulai terkendali. Personel gabungan dari TNI dan Polri terus melakukan patroli rutin dan penjagaan statis di perbatasan kedua desa untuk mencegah gesekan sekecil apa pun.

Baca Juga Langkah Strategis Gianyar Menuju Kota Percontohan Kawasan Tanpa Rokok: Upaya Menjaga Kualitas Pariwisata dan Kesehatan Masyarakat
Langkah Strategis Gianyar Menuju Kota Percontohan Kawasan Tanpa Rokok: Upaya Menjaga Kualitas Pariwisata dan Kesehatan Masyarakat

“Kami pastikan saat ini situasi di Adonara aman dan kondusif. Anggota kami masih terus berjaga di lokasi-lokasi terdampak untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dan memastikan tidak ada aksi provokasi lanjutan,” ujar Eliezer singkat.

Harapan untuk Kedamaian Abadi di Flores Timur

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa sengketa agraria, terutama terkait tanah adat, memerlukan pendekatan yang lebih humanis dan komprehensif. Masyarakat diharapkan dapat menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Sementara itu, pemerintah daerah didesak untuk bertindak sebagai mediator yang adil tanpa memihak, guna memutus rantai kekerasan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di tanah Flores Timur.

Hanya dengan dialog yang jujur dan transparansi dalam penetapan batas wilayah, kedamaian di Adonara dapat benar-benar terwujud, sehingga tidak ada lagi darah yang tumpah demi sejengkal tanah leluhur.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *