Tragedi di Sungai Bontokape: Bocah 8 Tahun Meninggal Dunia Saat Mencari Ikan, Duka Mendalam Selimuti Bima

Andre Pratama | KabarHarian
04 May 2026, 20:07 WIB
Tragedi di Sungai Bontokape: Bocah 8 Tahun Meninggal Dunia Saat Mencari Ikan, Duka Mendalam Selimuti Bima

KabarHarian — Sore yang seharusnya dipenuhi dengan tawa dan keceriaan anak-anak di Desa Bontokape, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, mendadak berubah menjadi suasana kelam yang mencekam. Sebuah insiden memilukan terjadi di aliran sungai setempat yang merenggut nyawa seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun berinisial MS. Bocah malang tersebut dilaporkan tewas tenggelam saat sedang asyik mencari ikan bersama rekan-rekan sebayanya pada Senin, 4 Mei 2026.

Suasana Kelam di Desa Bontokape

Peristiwa yang menggetarkan hati masyarakat Kabupaten Bima ini terjadi di tengah teriknya matahari siang. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi kami, korban bersama beberapa temannya memutuskan untuk menghabiskan waktu luang mereka dengan memancing atau mencari ikan di sungai. Aliran sungai di Desa Bontokape memang sering kali menjadi tempat favorit anak-anak lokal untuk bermain, namun sayangnya, hari itu alam sedang tidak berpihak pada mereka.

Kapolsek Bolo, AKP Nurdin, saat dikonfirmasi secara resmi membenarkan adanya laporan mengenai kejadian tragis tersebut. Beliau menyatakan bahwa pihak kepolisian segera meluncur ke lokasi begitu mendapatkan laporan dari warga yang panik. Kehadiran aparat di tengah kerumunan massa yang emosional menjadi krusial untuk mengoordinasikan proses evakuasi yang sedang berjalan secara darurat.

Baca Juga Gemerlap Festival Semarapura ke-8: Jejak Budaya Klungkung yang Menggerakkan Ekonomi Miliaran Rupiah
Gemerlap Festival Semarapura ke-8: Jejak Budaya Klungkung yang Menggerakkan Ekonomi Miliaran Rupiah

Kronologi Detik-Detik Insiden Memilukan

Kejadian ini bermula ketika MS dan teman-temannya sedang menyisir pinggiran sungai untuk mencari ikan. Aktivitas yang biasanya penuh canda tawa itu seketika berubah menjadi horor ketika MS tiba-tiba terpeleset atau terjatuh ke bagian sungai yang lebih dalam. Diduga kuat, korban tidak memiliki kemampuan berenang yang memadai untuk menyelamatkan diri dari arus atau kedalaman air yang menjebaknya.

Teman-teman sebaya korban yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa tertegun sejenak sebelum akhirnya berteriak histeris meminta tolong. “Tiba-tiba temannya melihat korban tenggelam dan tak dapat ditolong,” tutur AKP Nurdin dengan nada prihatin. Kepanikan pun pecah di tepian sungai. Anak-anak tersebut berlarian menuju pemukiman terdekat untuk memberitahu warga dewasa mengenai apa yang baru saja menimpa rekan mereka.

Dalam hitungan menit, warga Desa Bontokape berbondong-bondong menuju lokasi kejadian. Sebagian warga langsung terjun ke sungai untuk melakukan pencarian manual, sementara yang lain segera menghubungi Polsek Bolo agar mendapatkan bantuan profesional. Solidaritas warga Bima dalam situasi darurat seperti ini sangat terlihat, namun sayangnya, waktu seakan berjalan terlalu cepat bagi MS yang masih berada di bawah permukaan air.

Baca Juga Tragedi Tanah Ulayat di Flores Timur: Update Kondisi Korban dan Akar Konflik Menahun di Adonara
Tragedi Tanah Ulayat di Flores Timur: Update Kondisi Korban dan Akar Konflik Menahun di Adonara

Upaya Penyelamatan dan Evakuasi ke RSUD Sondosia

Setelah pencarian yang dilakukan dengan alat seadanya oleh warga dan dibantu oleh personel kepolisian yang tiba di lokasi, tubuh mungil MS akhirnya berhasil ditemukan. Saat itu, kondisi korban sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tanpa membuang waktu, petugas dan warga langsung membawa MS menuju RSUD Sondosia guna mendapatkan penanganan medis darurat.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, doa-doa terus dipanjatkan oleh keluarga dan kerabat yang turut mengantar. Namun, takdir berkata lain. Setibanya di unit gawat darurat RSUD Sondosia, tim medis segera melakukan pemeriksaan intensif dan upaya resusitasi. Sayangnya, nyawa bocah delapan tahun itu sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Dokter menyatakan bahwa MS telah meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Tiba di RSUD Sondosia, korban dinyatakan meninggal dunia. Nyawa korban tak dapat ditolong,” ujar AKP Nurdin mengonfirmasi akhir dari upaya penyelamatan tersebut. Kepergian MS menjadi luka yang sangat dalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Desa Bontokape yang mengenal korban sebagai anak yang ceria.

Baca Juga Ramalan Asmara Zodiak 17 Mei 2026: Scorpio Perlu Redam Ego, Aries Jaga Kepercayaan
Ramalan Asmara Zodiak 17 Mei 2026: Scorpio Perlu Redam Ego, Aries Jaga Kepercayaan

Tangis Pecah di Rumah Duka dan Pemakaman

Setelah dinyatakan meninggal dunia, jenazah MS segera dipulangkan ke rumah duka di Desa Bontokape menggunakan ambulans rumah sakit. Kedatangan jenazah disambut dengan isak tangis yang pecah dari ibu korban dan anggota keluarga lainnya. Mereka tidak menyangka bahwa kegiatan mencari ikan yang biasanya dilakukan dengan aman kali ini berakhir dengan kepulangan MS dalam kondisi tak bernyawa.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir dan sesuai dengan adat istiadat setempat, pihak keluarga memutuskan untuk segera memakamkan jenazah MS. Prosesi pemakaman dilakukan pada sore hari itu juga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bontokape. Ratusan warga turut mengantar MS ke peristirahatan terakhirnya, menunjukkan rasa simpati yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarga tersebut.

Kapolsek Bolo kembali menegaskan bahwa berdasarkan hasil identifikasi awal dan keterangan saksi-saksi di lapangan, murni merupakan kecelakaan akibat tenggelam. “Sudah dimakamkan langsung tadi sore. Korban tenggelam diduga karena tak bisa berenang,” pungkasnya dalam keterangannya kepada media.

Himbauan Keamanan: Pentingnya Pengawasan Anak di Area Perairan

Kejadian yang menimpa MS menjadi pengingat pahit bagi para orang tua dan masyarakat luas mengenai pentingnya pengawasan terhadap anak-anak saat bermain di dekat sumber air, baik itu sungai, danau, maupun pantai. Sungai-sungai di wilayah Nusa Tenggara Barat, meskipun terlihat tenang di permukaan, sering kali memiliki kedalaman yang tidak merata atau arus bawah yang cukup kuat bagi anak-anak kecil.

Baca Juga Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha 2026, Pemkot Mataram Sebar Pasar Murah di Enam Lokasi Strategis
Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha 2026, Pemkot Mataram Sebar Pasar Murah di Enam Lokasi Strategis

Pihak kepolisian menghimbau agar para orang tua lebih waspada dan selalu mendampingi anak-anak mereka saat beraktivitas di luar rumah, terutama di area yang berisiko tinggi. Kurangnya kemampuan berenang sering kali menjadi penyebab utama fatalitas dalam kasus tenggelamnya anak-anak di pedesaan.

Selain pengawasan, pemberian edukasi dasar mengenai keselamatan air kepada anak-anak juga dinilai sangat krusial. Memastikan anak-anak mengerti bahayanya bermain di area dalam tanpa pendampingan orang dewasa dapat mencegah tragedi serupa terulang kembali di masa depan. Kasus MS di Bima ini menjadi catatan kelam yang diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar lebih peduli terhadap keselamatan buah hati di lingkungan sekitar.

Kini, Desa Bontokape harus merelakan salah satu putra terbaiknya pergi terlalu dini. Aliran sungai yang biasanya menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka, kini meninggalkan trauma yang mendalam. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan berat ini.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *