Tragedi di Puncak Halmahera: Kronologi Gugurnya 3 Pendaki Akibat Erupsi Dahsyat Gunung Dukono
KabarHarian — Alam terkadang menyimpan misteri yang tak terduga, di mana keindahan puncaknya bisa seketika berubah menjadi jeram maut yang mematikan. Kabar duka menyelimuti dunia pendakian tanah air dan internasional setelah Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, melepaskan energi vulkaniknya dengan cara yang paling tragis. Insiden memilukan ini mengakibatkan dua warga negara asing asal Singapura dan seorang pendaki asal Jayapura kehilangan nyawa mereka di tengah amukan abu vulkanik dan lava pijar.
Erupsi yang terjadi pada Jumat pagi, tepatnya tanggal 8 Mei 2026 pukul 07.41 WIT, bukan sekadar letusan biasa. Langit Halmahera Utara seketika berubah gelap ketika kolom abu hitam pekat membumbung tinggi hingga mencapai ketinggian 10 kilometer ke angkasa. Suasana mencekam diperkuat dengan suara dentuman yang merambat di udara, mulai dari intensitas lemah hingga getaran kuat yang mengguncang pemukiman di sekitar lereng gunung.
Kronologi Amukan Vulkanik Gunung Dukono
Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim redaksi kami, Gunung Dukono menunjukkan aktivitas kegempaan yang sangat intens saat kejadian berlangsung. Amplitudo maksimum tercatat mencapai 34 mm dengan durasi gempa letusan yang sangat panjang, yakni sekitar 967,56 detik. Bagi para ahli vulkanologi, angka ini adalah sinyal bahaya tingkat tinggi, namun bagi rombongan pendaki yang saat itu berada di kawasan puncak, ini adalah awal dari perjuangan hidup dan mati yang sangat melelahkan.
Kematian ketiga korban ini menjadi sorotan tajam karena adanya dugaan kuat mengenai prosedur pendakian yang tidak legal. Di tengah larangan yang sudah dikeluarkan oleh otoritas setempat, rombongan ini disinyalir tetap nekat menembus batas-batas berbahaya demi mencapai kawah Dukono yang memang dikenal sangat aktif namun mempesona.
Daftar Korban dan Luka-luka dalam Evakuasi Darurat
Saat letusan pertama terjadi, kepanikan luar biasa melanda para pendaki. KabarHarian mencatat bahwa awalnya dilaporkan terdapat sedikitnya lima orang pendaki yang mengalami luka-luka akibat hantaman material vulkanik dan paparan panas. Tim SAR yang bergerak cepat kemudian mendata bahwa terdapat total 20 orang pendaki yang terjebak di zona bahaya saat erupsi berlangsung.
Komposisi rombongan ini cukup beragam, yang menambah kompleksitas proses koordinasi internasional. Dari 20 orang tersebut, sembilan di antaranya adalah warga negara Singapura yang sedang melakukan perjalanan wisata petualangan. Sisanya terdiri dari tiga warga asal Ternate dan delapan warga lokal yang bertindak sebagai pemandu atau pendamping di wilayah tersebut. Namun, kegembiraan ekspedisi itu sirna dalam hitungan detik saat abu panas mulai turun menyelimuti jalur pendakian.
Pelanggaran Larangan Pendakian: Sebuah Kelalaian Berujung Maut
Fakta yang paling menyakitkan dari tragedi ini adalah kenyataan bahwa Gunung Dukono sebenarnya sudah dalam status tertutup untuk umum. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah melaporkan adanya peningkatan aktivitas visual dan kegempaan yang signifikan sejak akhir Maret 2026. Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Halmahera Utara pun telah menerbitkan surat keputusan nomor 556/061 yang melarang total aktivitas pendakian sejak 17 April 2026.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menegaskan adanya dugaan kelalaian serius dari pihak penyelenggara wisata atau agen perjalanan yang mengizinkan rombongan ini naik. Meski papan peringatan telah dipasang dan pengumuman telah disebarkan, rombongan ini seolah ‘lolos’ dari pengawasan aparat di lapangan. Hal ini memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas penjagaan di pintu-pintu masuk hutan yang menuju ke puncak gunung.
Perjuangan Tim SAR di Tengah Hujan Lava Pijar
Operasi penyelamatan yang dilakukan oleh tim SAR gabungan bukanlah perkara mudah. Sejak Jumat siang, tim mulai melakukan penyisiran di tengah risiko tinggi. Aktivitas vulkanik yang fluktuatif memaksa tim pencari untuk ekstra waspada. Bahkan, operasi sempat dihentikan total karena adanya ancaman lontaran lava pijar yang jangkauannya mencapai 1,5 kilometer dari bibir kawah.
Keberhasilan evakuasi 17 pendaki lainnya yang selamat berkat bantuan dua pendaki berinisial RS dan JA yang mampu memberikan titik koordinat terakhir rekan-rekan mereka. Namun, bagi tiga korban yang tertinggal, takdir berkata lain. Tim SAR harus beradu cepat dengan waktu dan material panas yang terus keluar dari perut bumi.
Penemuan Memilukan: Jenazah yang Berdekatan dengan Kawah
Pencarian hari kedua membuahkan hasil yang memilukan. Pendaki wanita asal Jayapura bernama Enjel ditemukan tak bernyawa hanya sekitar 50 meter dari bibir kawah. Tubuhnya ditemukan di bawah lapisan tipis abu, menunjukkan betapa dekatnya korban dengan pusat letusan saat musibah terjadi. Evakuasi Enjel diprioritaskan karena kondisinya yang lebih mudah dijangkau dibandingkan dua korban lainnya yang saat itu masih tertimbun material pasir vulkanik yang tebal.
Memasuki hari ketiga, pencarian difokuskan pada dua warga negara Singapura yang hilang. Tim SAR harus bekerja keras menggali timbunan material vulkanik yang cukup dalam. Akhirnya, pada Minggu siang, jasad Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid (27) ditemukan. Sebuah pemandangan yang menyayat hati tersaji di depan mata tim evakuasi: kedua korban ditemukan dalam posisi saling berpelukan, seolah mencoba saling melindungi di detik-detik terakhir hidup mereka di bawah himpitan batu besar.
Langkah Hukum dan Evaluasi Keamanan Pendakian
Meskipun operasi SAR telah dinyatakan berakhir seiring ditemukannya seluruh korban, babak baru dalam kasus ini baru saja dimulai. Pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Halmahera Utara, telah membuka penyelidikan resmi terkait dugaan tindak pidana kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain. Investigasi akan diarahkan kepada pihak-pihak yang memfasilitasi pendakian ilegal ini, termasuk kemungkinan adanya keterlibatan oknum yang sengaja membuka jalur tersembunyi.
Tragedi Gunung Dukono ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pegiat alam bebas dan wisatawan mancanegara. Keinginan untuk menaklukkan puncak gunung tidak boleh mengalahkan akal sehat dan kepatuhan terhadap peringatan dari pihak berwenang. Alam tidak pernah berkompromi dengan kecerobohan manusia. KabarHarian terus mengimbau masyarakat untuk selalu memantau status gunung api melalui aplikasi resmi dan menghormati setiap larangan yang dikeluarkan demi keselamatan bersama.