Tragedi Berdarah di Tana Toraja: Niat Mediasi Keluarga Malah Berakhir dengan Tikaman Badik

Hisan Halibin | KabarHarian
11 May 2026, 22:09 WIB
Tragedi Berdarah di Tana Toraja: Niat Mediasi Keluarga Malah Berakhir dengan Tikaman Badik

KabarHarian — Tanah Toraja yang dikenal dengan kedamaian adat dan kentalnya persaudaraan mendadak gempar. Sebuah proses mediasi yang seharusnya menjadi jalan keluar bagi perselisihan keluarga justru berubah menjadi panggung kekerasan yang mencekam. Insiden memilukan ini melibatkan dua orang yang masih memiliki ikatan kerabat, di mana sebilah badik menjadi saksi bisu pecahnya emosi yang tak terkendali di tengah upaya perdamaian.

Peristiwa berdarah ini menimpa Marthen Ballo (30), yang harus dilarikan ke rumah sakit setelah ditikam oleh kerabatnya sendiri, Reski Sono (45). Kejadian yang berlangsung di tengah musyawarah formal tersebut mengejutkan banyak pihak, terutama karena mediasi tersebut dihadiri oleh tokoh adat dan pemerintah setempat yang berharap masalah internal keluarga tersebut dapat diselesaikan secara dingin.

Kronologi Kejadian di Lembang Bau

Berdasarkan informasi yang dihimpun tim redaksi KabarHarian, peristiwa tragis ini terjadi di Lembang Bau, Kecamatan Bonggakaradeng, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Suasana siang yang tenang pada Sabtu (9/5) sekitar pukul 13.00 WITA mendadak berubah menjadi riuh rendah penuh kepanikan. Saat itu, keluarga besar bersama aparat pemerintah desa dan tokoh adat berkumpul dengan satu tujuan: mendamaikan kedua belah pihak atas sebuah persoalan keluarga yang sudah lama mengganjal.

Baca Juga Terbongkar! Predator Seksual Modus Loker Palsu Ditangkap di Surabaya Setelah Sekap Mahasiswi Makassar
Terbongkar! Predator Seksual Modus Loker Palsu Ditangkap di Surabaya Setelah Sekap Mahasiswi Makassar

Namun, di tengah jalannya diskusi yang mulai memanas, emosi Reski Sono tampaknya tidak lagi bisa dibendung. Alih-alih menemukan titik temu, sebuah kalimat yang terlontar dari mulut korban diduga menjadi pemicu ledakan amarah pelaku. Tanpa diduga oleh siapa pun yang hadir di lokasi, Reski yang telah membawa senjata tajam jenis badik langsung bereaksi secara agresif.

Detik-Detik Penyerangan yang Mencekam

Kapolres Tana Toraja, AKBP Budi Hermawan, dalam keterangan resminya kepada awak media mengonfirmasi bahwa penyerangan terjadi secara tiba-tiba. Menurut penuturan saksi mata, korban sempat menyadari bahaya yang mengancam dan berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menjauhi pelaku. Namun, nasib malang menimpa Marthen; saat berusaha kabur, ia tersandung oleh kain sarung yang dikenakannya sendiri.

“Pelaku tiba-tiba datang membawa badik dan menyerang korban. Korban sempat lari tapi jatuh karena tersandung sarung yang dipakainya sehingga mengalami dua luka robek di bagian punggung,” jelas AKBP Budi Hermawan saat memberikan keterangan pada Senin (11/5/2026). Jatuhnya Marthen menjadi celah bagi Reski untuk melayangkan tikaman sebanyak dua kali ke arah punggung korban, mengakibatkan luka robek yang cukup dalam dan pendarahan hebat.

Baca Juga Kalender Hijriah 3 Mei 2026: Menelusuri Keberkahan Bulan Dzulqa’dah dan Panduan Amalan Sunnahnya
Kalender Hijriah 3 Mei 2026: Menelusuri Keberkahan Bulan Dzulqa’dah dan Panduan Amalan Sunnahnya

Aksi Heroik Keluarga Menahan Pelaku

Melihat kejadian mengerikan tersebut, orang-orang yang hadir dalam mediasi tersebut tidak tinggal diam. Meskipun dalam kondisi syok, pihak keluarga dan aparat yang ada di lokasi langsung bergerak cepat untuk melerai. Reski yang masih dalam kondisi kalap sempat berusaha mengejar korban yang mencoba bangkit untuk kembali menyerang, namun langkahnya berhasil dihadang oleh massa.

“Setelah menikam korban, pelaku masih mengejar tapi tidak berhasil karena banyak orang yang menghadang dan melerai,” tambah Budi. Keberanian para saksi di lokasi kejadian mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut. Sementara pelaku berhasil ditenangkan dan diamankan, fokus utama segera beralih pada upaya penyelamatan nyawa Marthen Ballo yang mulai lemas akibat luka-lukanya.

Kondisi Terkini Korban di RSUD Lakipadada

Setelah situasi berhasil dikendalikan, korban segera dievakuasi oleh pihak keluarga menuju RSUD Lakipadada guna mendapatkan penanganan medis darurat. Luka tikaman di bagian punggung memerlukan perawatan intensif karena kedalamannya yang berisiko mengenai organ vital. Hingga berita ini diturunkan, Marthen masih dalam pemantauan tim medis, meskipun kondisinya dilaporkan mulai stabil pasca-operasi kecil untuk menutup luka robek tersebut.

Baca Juga Idul Adha 2026 Berapa Hijriah? Simak Jadwal Lengkap dan Panduan Persiapan Lebaran Haji 1447 H
Idul Adha 2026 Berapa Hijriah? Simak Jadwal Lengkap dan Panduan Persiapan Lebaran Haji 1447 H

Pihak keluarga korban yang tidak terima dengan aksi brutal tersebut langsung melayangkan laporan resmi ke Polres Tana Toraja. Mereka berharap hukum ditegakkan seadil-adilnya, mengingat aksi penikaman ini dilakukan di depan mata banyak orang dan di tengah upaya baik untuk menjalin perdamaian keluarga.

Konsekuensi Hukum dan Ancaman Penjara

Polres Tana Toraja bergerak cepat dalam menangani kasus ini. Tak butuh waktu lama bagi pihak kepolisian untuk mengamankan Reski Sono beserta barang bukti berupa sebilah badik yang digunakan untuk menganiaya korban. Pelaku kini mendekam di sel tahanan Mapolres Tana Toraja untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Atas tindakannya yang nekat tersebut, Reski Sono terancam dijerat dengan pasal penganiayaan berat yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). “Barang bukti dan pelaku telah kita amankan di Mapolres Tana Toraja untuk penyelidikan mendalam. Pelaku terancam hukuman penjara hingga 5 tahun,” tegas AKBP Budi Hermawan.

Pentingnya Kontrol Emosi dalam Budaya Musyawarah

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi masyarakat akan pentingnya menahan diri dan mengutamakan kepala dingin dalam setiap penyelesaian masalah. Budaya mediasi atau musyawarah yang seharusnya menjadi jalan keluar yang bermartabat justru tercoreng oleh ego dan emosi sesaat. Di Tana Toraja, nilai-nilai persaudaraan atau Sangtorayan seharusnya menjadi pondasi utama dalam menghadapi setiap konflik internal.

Baca Juga Misteri Hilangnya Emas Puluhan Juta di Tallo Terkuak: Pelarian Dua Pencuri Berakhir di Tangan Jatanras Polrestabes Makassar
Misteri Hilangnya Emas Puluhan Juta di Tallo Terkuak: Pelarian Dua Pencuri Berakhir di Tangan Jatanras Polrestabes Makassar

Para tokoh adat setempat sangat menyayangkan kejadian ini. Mereka mengimbau agar masyarakat tidak lagi membawa senjata tajam saat menghadiri pertemuan atau mediasi, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika tensi pembicaraan meningkat. Penggunaan badik yang seharusnya merupakan simbol identitas budaya, jangan sampai disalahgunakan sebagai alat untuk melukai sesama kerabat sendiri.

Langkah Antisipasi Kepolisian ke Depan

Pihak Kepolisian Resor Tana Toraja menegaskan akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya membawa senjata tajam di ruang publik atau dalam pertemuan warga. Kasus di Bonggakaradeng ini menjadi pelajaran berharga bahwa kehadiran pihak kepolisian atau penengah yang netral terkadang sangat diperlukan dalam proses mediasi yang melibatkan konflik sensitif.

Hingga saat ini, penyidik masih mendalami motif di balik ketersinggungan pelaku yang berujung pada tindakan anarkis tersebut. Polisi juga akan memanggil beberapa saksi tambahan yang hadir dalam acara mediasi tersebut untuk melengkapi berkas perkara agar kasus ini dapat segera dilimpahkan ke kejaksaan.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *