Operasi Senyap di Bandara: Satgas Damai Cartenz Ringkus Bos KKB Yahukimo dan Sita Ratusan Amunisi
KabarHarian — Sebuah keberhasilan signifikan dalam upaya penegakan hukum di tanah Papua kembali dicatatkan oleh aparat keamanan. Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz 2026 berhasil melumpuhkan salah satu tokoh sentral dalam struktur kelompok bersenjata di wilayah Pegunungan Papua. Penangkapan ini bukan sekadar keberhasilan taktis, melainkan sebuah pukulan telak bagi jaringan logistik dan komando kelompok kriminal yang selama ini mengganggu stabilitas keamanan di Kabupaten Yahukimo.
Sosok yang berhasil diamankan berinisial YB (34), yang diidentifikasi sebagai Wakil Komandan Batalion HSSBI Kodap XVI Yahukimo. Penangkapan YB terjadi di sebuah lokasi yang cukup mengejutkan, yakni di tengah keramaian ruang tunggu Bandara Nop Goliat Dekai, pada Selasa sore, 19 Mei 2026. Operasi yang berlangsung cepat dan terukur ini memastikan target tidak memiliki celah untuk melakukan perlawanan atau melarikan diri ke hutan yang menjadi basis pertahanan mereka.
Penangkapan Dramatis di Pintu Gerbang Udara Yahukimo
Suasana di Bandara Nop Goliat Dekai pada pukul 16.50 WIT mulanya tampak normal seperti biasanya. Namun, di balik kerumunan calon penumpang, personel Satgas Damai Cartenz telah melakukan pemantauan intensif. Berdasarkan informasi intelijen yang akurat, petugas berhasil mengidentifikasi YB yang saat itu diduga hendak melakukan perjalanan atau koordinasi dengan jaringan lainnya.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Faizal Ramadhani, dalam keterangan resminya kepada tim KabarHarian, mengonfirmasi bahwa penangkapan ini merupakan hasil dari pengembangan penyelidikan panjang. “Kehadiran YB di bandara telah kami antisipasi. Penangkapan ini dilakukan secara profesional tanpa mengganggu kenyamanan publik di area bandara, namun tetap dengan kewaspadaan penuh mengingat profil tersangka yang cukup berbahaya,” ungkap Irjen Faizal.
YB tidak bergerak sendiri dalam struktur organisasinya. Sebagai Wakil Komandan Batalyon HSSBI, ia memiliki pengaruh besar dalam mengoordinasikan aksi-aksi lapangan serta distribusi logistik tempur bagi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Kodap XVI Yahukimo. Penangkapannya diharapkan dapat memutus rantai komando yang selama ini meresahkan warga sipil dan aparat keamanan setempat.
Penggeledahan di Kali Merah: Temuan Gudang Amunisi dan Komponen Senjata
Keberhasilan di bandara segera ditindaklanjuti dengan pengembangan di lapangan. Tim gabungan langsung bergerak menuju sebuah rumah yang diduga kuat menjadi tempat persembunyian sekaligus gudang penyimpanan logistik kelompok tersebut di kawasan Kali Merah, Kota Dekai. Di lokasi inilah, tabir gelap aktivitas kelompok HSSBI semakin terkuak lebar.
Dalam penggeledahan yang dilakukan dengan ketelitian tinggi, petugas menemukan berbagai barang bukti yang mengindikasikan persiapan aksi kekerasan skala besar. Berbagai jenis amunisi lintas kaliber ditemukan tersembunyi dengan rapi. “Kami menyita amunisi kaliber 5,56 mm, yang biasanya digunakan untuk senjata serbu standar militer, amunisi kaliber 9 mm, serta kaliber 38,” papar Faizal mendetail.
Selain peluru tajam, petugas juga mengamankan berbagai alat pendukung peperangan lainnya, seperti:
- Sejumlah selongsong peluru bekas pakai.
- Senjata tajam berupa pisau sangkur, parang, dan kapak yang sangat tajam.
- Ketapel berbahan besi yang dimodifikasi untuk serangan jarak dekat.
- Senapan angin bermotif loreng yang kerap digunakan untuk kamuflase di hutan.
- Komponen krusial perakitan senjata, termasuk trigger (pelatuk), pelatuk besi, dan hand grip.
- Perlengkapan alat komunikasi radio untuk koordinasi lapangan.
Temuan komponen senjata ini menjadi perhatian khusus bagi tim penyidik KabarHarian. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak hanya mengandalkan senjata hasil rampasan, tetapi juga memiliki kemampuan atau upaya untuk merakit dan memperbaiki senjata api secara mandiri.
Keterlibatan Jaringan KNPB dan Aksi Teror Gereja Katolik
Operasi penggeledahan di Kali Merah tidak hanya membuahkan barang bukti fisik, tetapi juga menyeret nama lain ke dalam pusaran hukum. Petugas mengamankan seorang pria berinisial RK (27) alias KK. Berdasarkan data kepolisian, RK diduga kuat berafiliasi dengan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Yahukimo, sebuah organisasi yang sering kali dikaitkan dengan gerakan pro-kemerdekaan yang memiliki garis perjuangan radikal.
Hubungan antara kelompok bersenjata seperti HSSBI dan organisasi massa seperti KNPB di Yahukimo kini tengah didalami lebih lanjut. Kuat dugaan adanya simbiosis mutualisme dalam hal distribusi informasi dan logistik di antara kedua entitas ini. Irjen Faizal menjelaskan bahwa amunisi yang ditemukan di kediaman YB merupakan ‘titipan’ yang disiapkan untuk melancarkan gangguan keamanan di masa mendatang.
Lebih jauh lagi, YB diduga kuat terlibat dalam serangkaian aksi kekerasan berdarah di Yahukimo. Salah satu rekam jejak yang paling menonjol adalah keterlibatannya dalam aksi penembakan kendaraan sipil di jalan masuk Gereja Katolik Yahukimo pada April 2026 silam. Tidak hanya itu, YB juga terindikasi kuat sebagai sosok di balik pembuatan video pernyataan sikap kelompok HSSBI yang bernada ancaman pasca-insiden penembakan tersebut.
Jeratan Hukum dan Upaya Pemulihan Stabilitas Papua
Pemerintah dan aparat keamanan menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi tindakan anarkis yang mengancam nyawa masyarakat. Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Adarma Sinaga, menegaskan bahwa proses hukum terhadap YB dan RK akan dilakukan secara transparan dan sesuai dengan regulasi yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kedua tersangka kini terancam dijerat dengan pasal berlapis. Pasal utama yang dikenakan adalah Pasal 306 dan Pasal 307 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru. Pasal-pasal ini mengatur dengan sangat ketat mengenai larangan penguasaan, kepemilikan, dan penyimpanan senjata api, amunisi, maupun bahan peledak tanpa izin yang sah.
“Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, ancaman hukuman maksimal bagi pelanggaran ini adalah 15 tahun penjara. Kami juga tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan pasal-pasal terkait permufakatan jahat dan perbantuan terhadap kelompok kriminal bersenjata,” tegas Kombes Adarma. Saat ini, tim penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif untuk membedah lebih dalam peta kekuatan kelompok HSSBI di Yahukimo.
Imbauan bagi Masyarakat Yahukimo
Pasca penangkapan besar ini, situasi di Kota Dekai dan sekitarnya dilaporkan relatif kondusif. Namun, aparat keamanan tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang sengaja disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kehadiran Satgas Damai Cartenz bertujuan untuk memberikan rasa aman sehingga roda ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat dapat berjalan normal tanpa rasa takut.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang. Dukungan dari masyarakat sangat kami perlukan dalam menciptakan situasi kamtibmas yang stabil. Jika melihat atau mengetahui aktivitas yang mencurigakan, jangan ragu untuk melaporkannya kepada pos keamanan terdekat,” pungkas Kombes Adarma.
Dengan tertangkapnya pucuk pimpinan lapangan seperti YB, diharapkan intensitas gangguan keamanan di Yahukimo dapat ditekan secara signifikan. Perjuangan menjaga kedamaian di tanah Papua terus berlanjut, dan penegakan hukum tetap menjadi garda terdepan dalam menghadapi setiap bentuk ancaman kedaulatan dan kemanusiaan.