Menelusuri Jejak Manis Cakar Ayam: Jajanan Legendaris Medan yang Tak Lekang Oleh Waktu

Siska Amelia | KabarHarian
07 May 2026, 04:07 WIB
Menelusuri Jejak Manis Cakar Ayam: Jajanan Legendaris Medan yang Tak Lekang Oleh Waktu

KabarHarian — Di tengah hiruk-pikuk Kota Medan yang kini kian disesaki oleh gerai kopi kekinian dan berbagai kudapan mancanegara yang estetik, sebuah kejutan manis nan klasik masih tetap tegak berdiri di sudut-sudut pasar tradisional. Camilan itu adalah cakar ayam, sebuah nama yang mungkin terdengar gahar bagi mereka yang belum mengenalnya, namun menawarkan sensasi rasa manis yang mampu membangkitkan nostalgia mendalam bagi warga lokal.

Kota Medan memang dikenal sebagai surga kuliner, mulai dari makanan berat yang kaya rempah hingga jajanan kaki lima yang menggugah selera. Namun, di antara gempuran tren kuliner modern seperti croissant atau dessert box, cakar ayam tetap memiliki basis penggemar setia. Panganan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan simbol ketahanan kuliner tradisional di era digital.

Bukan Sekadar Nama: Filosofi di Balik Keunikan Cakar Ayam

Bagi wisatawan atau pendatang baru, nama “Cakar Ayam” mungkin akan mengarahkan imajinasi pada olahan daging unggas. Namun, realitanya jauh berbeda dan jauh lebih manis. Kudapan khas Medan ini sepenuhnya berbasis nabati, menggunakan ubi rambat sebagai bahan utamanya. Penamaan unik ini konon berasal dari bentuk visualnya yang menyerupai cakaran ayam atau sarang burung yang terjalin tidak beraturan namun tetap kokoh.

Baca Juga Kabar Terkini Kesehatan Jemaah Haji Aceh: Perjuangan di Tanah Suci dan Penanganan Medis Intensif
Kabar Terkini Kesehatan Jemaah Haji Aceh: Perjuangan di Tanah Suci dan Penanganan Medis Intensif

Secara tekstur, cakar ayam menawarkan perpaduan yang sangat kontras namun harmonis: renyah di luar akibat balutan karamel gula merah yang mengeras, namun tetap memiliki jejak kelembutan ubi di dalamnya. Di beberapa daerah lain di Indonesia, jajanan serupa mungkin dikenal dengan nama grubi, kremes ubi, atau sarang balam. Namun bagi masyarakat Medan, cakar ayam memiliki tempat tersendiri dalam memori kolektif mereka.

Cerita dari Balik Lapak: Konsistensi Selama Dekade

Menelusuri keberadaan cakar ayam membawa tim KabarHarian bertemu dengan Enjel, salah satu pedagang setia di pasar tradisional Medan. Sosok wanita ramah ini telah menghabiskan lebih dari sepuluh tahun hidupnya bergelut dengan aroma manis gula merah dan parutan ubi. Baginya, berjualan cakar ayam bukan sekadar mencari nafkah, melainkan merawat sebuah warisan.

“Sejak dulu sampai sekarang, peminat cakar ayam itu tidak pernah benar-benar hilang. Selalu ada saja yang mencari,” tutur Enjel saat ditemui di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan pada Rabu (6/5/2026). Menurutnya, pembeli cakar ayam berasal dari spektrum usia yang sangat luas. Jika dulu identik dengan camilan orang tua saat meminum teh atau kopi di sore hari, kini wajah-wajah muda mulai sering menghampiri lapaknya.

Baca Juga Strategi Jitu Mengusir Kecoak: 4 Langkah Krusial untuk Melindungi Hunian dari Serangan Serangga Pengganggu
Strategi Jitu Mengusir Kecoak: 4 Langkah Krusial untuk Melindungi Hunian dari Serangan Serangga Pengganggu

“Anak-anak muda sekarang justru banyak yang suka. Mungkin karena rasanya yang manis alami dan harganya yang sangat terjangkau di kantong pelajar,” tambahnya sembari membungkus beberapa paket cakar ayam pesanan pelanggan.

Seni Mengolah Ubi: Ketelitian dalam Kesederhanaan

Meskipun bahan dasarnya terlihat sederhana, proses pembuatan cakar ayam yang berkualitas membutuhkan ketelitian seorang maestro. Enjel menjelaskan bahwa semuanya dimulai dari pemilihan ubi rambat yang tepat. Ubi tidak boleh terlalu muda karena akan mengandung terlalu banyak air, dan tidak boleh terlalu tua agar seratnya tidak kasar.

Proses pembuatannya diawali dengan mengupas dan mencuci ubi hingga bersih, kemudian memarutnya dalam bentuk memanjang tipis menyerupai korek api. Setelah itu, ubi digoreng hingga garing namun tetap mempertahankan warna aslinya. Tahap krusial terletak pada pengolahan gula merah atau gula nira. Gula harus dimasak hingga mencapai tingkat kekentalan tertentu (karamelisasi) sebelum dicampur dengan ubi goreng.

“Yang paling penting itu keseimbangan antara tekstur ubi dan gula merahnya. Harus pas suhunya supaya gula menyelimuti ubi dengan rata dan tidak pahit karena gosong. Jika tekniknya salah, cakar ayam akan terasa keras seperti batu atau justru lembek dan cepat melempem,” jelas Enjel dengan nada profesional.

Baca Juga Tragedi Maut di Tol Tebing Tinggi: Ambulans Pembawa Jenazah Hantam Truk, Dua Orang Meninggal Dunia
Tragedi Maut di Tol Tebing Tinggi: Ambulans Pembawa Jenazah Hantam Truk, Dua Orang Meninggal Dunia

Jembatan Antargenerasi: Kenapa Masih Digemari?

Ada beberapa alasan mengapa cakar ayam tetap mampu bersaing di tengah banjir kuliner modern. Pertama adalah faktor ekonomi. Di saat harga camilan kekinian melambung tinggi, cakar ayam tetap bertahan sebagai opsi yang ramah kantong bagi semua kalangan. Kedua, adalah faktor rasa yang jujur. Penggunaan gula merah memberikan manis yang ‘dalam’ dan aromatik, berbeda dengan pemanis buatan yang sering ditemukan pada makanan modern.

Selain itu, cakar ayam sering kali menjadi tamu wajib dalam berbagai acara keluarga di Medan. Mulai dari arisan, pengajian, hingga pesta adat, keberadaannya seolah melengkapi kehangatan suasana. “Banyak juga yang memesan dalam jumlah besar untuk dibawa pulang kampung sebagai oleh-oleh. Katanya, kalau belum bawa cakar ayam, rasanya belum sah berkunjung ke Medan,” ujar Enjel tertawa.

Melestarikan Identitas Kuliner Lokal

Keberadaan pedagang seperti Enjel adalah bukti bahwa kearifan lokal dalam bentuk kuliner masih memiliki nafas yang panjang. Namun, tantangan ke depan tetap ada. Masuknya produk-produk pabrikan yang menggunakan pengawet sering kali mengancam eksistensi jajanan pasar yang dibuat secara manual dan alami.

Baca Juga Malam Bersejarah di Villa Park: Aston Villa Hancurkan Liverpool 4-2 dan Amankan Tiket Liga Champions
Malam Bersejarah di Villa Park: Aston Villa Hancurkan Liverpool 4-2 dan Amankan Tiket Liga Champions

Oleh karena itu, dukungan dari masyarakat lokal untuk terus membeli di pasar tradisional sangatlah krusial. Menikmati sepotong cakar ayam bukan hanya tentang memanjakan lidah dengan rasa manis, tetapi juga tentang apresiasi terhadap proses panjang dan kerja keras para pengrajin makanan tradisional yang menjaga identitas Kota Medan tetap hidup.

Sebagai penutup, cakar ayam adalah pengingat bahwa terkadang kebahagiaan paling murni ditemukan dalam kesederhanaan. Secangkir teh hangat di sore hari ditemani renyahnya cakar ayam adalah kemewahan tersendiri yang tak bisa digantikan oleh kemasan mewah sekalipun. Di tangan orang-orang seperti Enjel, manisnya cakar ayam akan terus mewarnai sudut-sudut kota Medan untuk tahun-tahun mendatang.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *