Dibalik Seragam dan Jabatan: Kisah Pilu Istri Polisi di Bima yang Ditelantarkan Setelah Suami Jadi Ajudan Bupati
KabarHarian — Sebuah potret buram mengenai integritas personal dan tanggung jawab rumah tangga kini tengah menyelimuti korps kepolisian di wilayah Nusa Tenggara Barat. Seorang anggota Polres Bima Kota berinisial Bripka A, kini menjadi sorotan publik bukan karena prestasinya di lapangan, melainkan karena dugaan penelantaran terhadap istrinya, Dewi Anggraini (30). Ironisnya, perubahan sikap drastis ini ditengarai muncul setelah sang suami mendapatkan posisi mentereng sebagai ajudan Bupati Bima, Ady Mahyudi.
Awal Mula Prahara: Dari Harmoni Menuju Pengabaian
Janji suci yang diikrarkan pada tahun 2018 silam mulanya menjadi fondasi harapan bagi Dewi Anggraini untuk merajut masa depan yang stabil bersama Bripka A. Selama kurang lebih delapan tahun membina rumah tangga, Dewi mengaku bahwa kehidupan mereka berjalan layaknya pasangan pada umumnya—tenang, tanpa keributan yang berarti, dan penuh dengan kesederhanaan. Sebagai seorang istri, Dewi dikenal tidak pernah menuntut kemewahan dari suaminya yang berprofesi sebagai abdi negara tersebut.
Namun, badai mulai datang tanpa peringatan yang jelas. Dewi menceritakan bahwa segala keharmonisan itu perlahan sirna sekitar dua tahun yang lalu. Titik balik perubahan sikap Bripka A terjadi tepat saat dirinya mendapatkan penugasan baru untuk mendampingi Bupati Bima, Ady Mahyudi, sebagai ajudan pribadi. Sejak saat itulah, jarak emosional dan fisik mulai terbangun, menciptakan jurang yang kian hari kian dalam di antara keduanya.
“Sudah dua tahun lamanya saya merasa ditelantarkan begitu saja,” ungkap Dewi dengan nada bicara yang menyiratkan kekecewaan mendalam saat memberikan keterangan. Menurutnya, sejak sang suami sibuk dengan tugas-tugas kedinasan mendampingi pimpinan daerah, komunikasi di antara mereka terputus total. Bripka A bahkan disebut tidak lagi pernah pulang ke rumah dan memilih untuk memutus akses komunikasi dengan memblokir nomor telepon istrinya sendiri.
Kejanggalan Ekonomi dan Pengorbanan Pihak Keluarga
Dibalik seragam polisi yang dikenakan Bripka A, tersimpan fakta mengejutkan mengenai pengelolaan finansial dalam rumah tangga mereka. Dewi membeberkan sebuah kenyataan pahit bahwa selama bertahun-tahun menikah, ia tidak pernah mengetahui secara transparan berapa besaran gaji yang diterima suaminya setiap bulan. Nafkah yang seharusnya menjadi kewajiban mutlak seorang suami diberikan secara tidak menentu, bahkan seringkali tidak diberikan sama sekali.
Guna menutupi lubang kebutuhan sehari-hari, Dewi terpaksa bersandar pada kebaikan hati orang tuanya. Selama masa pernikahan tersebut, orang tua Dewi berperan besar dalam menjaga dapur tetap mengepul. Mulai dari kiriman beras hingga sokongan dana segar mencapai puluhan juta rupiah mengalir dari keluarga Dewi demi menyokong kehidupan sang polisi dan istrinya.
Tak berhenti di situ, sebuah pengorbanan besar lainnya sempat diberikan oleh keluarga Dewi berupa sebuah mobil pribadi. Namun, bukannya digunakan untuk keperluan mobilitas keluarga, mobil pemberian tersebut justru berakhir dijual oleh Bripka A tanpa alasan yang jelas bagi Dewi. Hal ini menambah daftar panjang kekecewaan keluarga besar terhadap sikap sang ajudan bupati tersebut.
Gugatan Cerai yang Mengejutkan di Tengah Kebuntuan
Setelah dua tahun hidup dalam ketidakpastian dan tanpa nafkah batin maupun lahir yang layak, Dewi dikejutkan dengan datangnya surat gugatan cerai. Kabar ini bak petir di siang bolong bagi Dewi dan keluarga besarnya yang bermukim di Desa Rai Oi, Kecamatan Sape. Mereka merasa syok karena di tengah upaya Dewi untuk bersabar dan memahami kesibukan suami, justru surat perceraian yang ia terima.
“Sampai detik ini saya masih merasa bingung. Kami tidak sedang terlibat pertengkaran hebat, namun tiba-tiba saja muncul surat cerai itu,” tutur Dewi dengan mata berkaca-kaca. Ketidakjelasan alasan di balik gugatan tersebut membuat pihak keluarga merasa bahwa Bripka A telah menyalahgunakan posisi dan pengaruhnya setelah berada di lingkaran kekuasaan.
Proses Mediasi di Markas Kepolisian
Menanggapi laporan dan situasi yang berkembang, pihak Polres Bima Kota tidak tinggal diam. Kasus rumah tangga yang melibatkan anggotanya ini kini telah masuk ke ranah mediasi internal. Wakapolres Bima Kota, Kompol Herman, turun langsung untuk menengahi konflik antara Bripka A dan Dewi Anggraini. Hingga saat ini, proses mediasi telah dilakukan sebanyak dua kali di markas Polres Bima Kota.
Dalam sesi mediasi tersebut, Bripka A dilaporkan tetap pada pendirian teguhnya untuk mengakhiri ikatan pernikahan dengan Dewi. Meskipun ditekan untuk menjelaskan apa yang menjadi akar permasalahan hingga dirinya tega menelantarkan istri selama dua tahun, Bripka A dikabarkan tetap bungkam dan tidak memberikan alasan yang substantif di hadapan pimpinan dan istrinya.
Kompol Herman membenarkan adanya permohonan cerai yang diajukan oleh anggotanya tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian tetap mengedepankan prosedur yang berlaku, yakni memberikan ruang mediasi sebelum keputusan final diambil. “Benar, permohonan itu diajukan oleh A. Kami telah melakukan mediasi dan tetap memberikan waktu bagi kedua belah pihak untuk berpikir jernih kembali sebelum melangkah lebih jauh,” jelas Herman secara singkat kepada awak media.
Dampak Psikologis dan Sosial bagi Keluarga
Kasus ini bukan sekadar tentang urusan domestik, melainkan juga menyoroti bagaimana integritas seorang aparat penegak hukum diuji ketika berada di lingkaran kekuasaan. Bagi masyarakat di Desa Rai Oi, kasus ini memicu keprihatinan mendalam. Bagaimana mungkin seorang yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom, justru diduga abai terhadap tanggung jawab paling dasarnya di rumah tangga.
Dewi Anggraini kini hanya bisa berharap adanya keadilan dan kejelasan. Keberaniannya untuk bersuara bukan semata-mata untuk mempermalukan sang suami, melainkan untuk menuntut hak-haknya sebagai istri yang telah diabaikan selama bertahun-tahun. Publik kini menanti bagaimana hasil akhir dari proses di internal kepolisian ini, apakah integritas institusi akan tetap terjaga di atas kepentingan personal anggotanya yang tengah menduduki posisi strategis sebagai ajudan bupati.
Kisah Dewi ini menjadi pengingat bagi banyak pihak bahwa jabatan dan kedekatan dengan kekuasaan seringkali menjadi ujian berat bagi karakter seseorang. Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya mendapatkan pernyataan resmi dari pihak Bupati Bima terkait status Bripka A sebagai ajudannya di tengah kemelut rumah tangga yang sedang bergulir.