Menyusuri Jejak Gedung London Sumatera: Simbol Kemewahan Medan dan Pemilik Lift Pertama di Sumatera
KabarHarian — Jika Anda melangkahkan kaki di kawasan Kesawan, Kota Medan, Anda seolah ditarik kembali ke masa keemasan kolonial di mana deretan bangunan tua berdiri dengan angkuh dan megah. Di antara riuh rendah lalu lintas di persimpangan Jalan Jenderal Ahmad Yani, sebuah bangunan putih bersih dengan arsitektur Eropa yang kental selalu berhasil mencuri perhatian siapapun yang melintas. Bangunan itu adalah Gedung London Sumatera, atau yang lebih akrab di telinga warga lokal sebagai Gedung Lonsum.
Gedung ini bukan sekadar tumpukan batu bata tua yang bertahan di tengah gempuran modernitas. Berdasarkan kajian mendalam dalam jurnal Analisis Karya Arsitektur Gedung London Sumatera yang disusun oleh Angga Wiguna dan Dara Wisdianti, bangunan ini merupakan manifestasi dari kemakmuran ekonomi dan indikator paling nyata dari kemajuan peradaban di Pulau Sumatera pada awal abad ke-20. Ia adalah saksi bisu bagaimana Medan bertransformasi dari sebuah perkampungan menjadi pusat perdagangan global yang disegani dunia.
Sejarah Panjang Sang Ratu di Jantung Kota Medan
Pembangunan Gedung Lonsum rampung sepenuhnya pada tahun 1906. Menariknya, tahun tersebut dipilih bukan tanpa alasan, karena bertepatan dengan momen kelahiran Ratu Juliana dari Belanda. Sebagai bentuk penghormatan kepada sang putri kerajaan, gedung ini awalnya menyandang nama Gedung Juliana. Nama tersebut mencerminkan betapa eratnya hubungan antara geliat ekonomi di Tanah Deli dengan kepentingan politik dan ekonomi Kerajaan Belanda di masa itu.
Sosok di balik kemegahan bangunan ini adalah David Harrison, pemilik perusahaan perkebunan raksasa asal Inggris, Harrisons & Crosfield PLC (H&C). Perusahaan ini memiliki sejarah yang sangat panjang, dimulai dari Liverpool pada tahun 1844 oleh Daniel Harrison, Smith Harrison, dan Joseph Crosfield. Sebelum akhirnya menguasai industri karet dan kelapa sawit di Sumatera, H&C sudah lebih dulu memantapkan taringnya sebagai importir teh dan kopi kelas dunia.
Kehadiran Gedung Lonsum di Medan menandai ekspansi besar-besaran modal asing ke Sumatera Utara. Pada masa itu, Medan sedang mengalami masa ‘booming’ perkebunan yang membuat kota ini dijuluki sebagai Paris van Sumatra. Gedung ini difungsikan sebagai pusat administrasi yang mengatur ribuan hektar lahan perkebunan yang tersebar di berbagai wilayah, memastikan bahwa setiap komoditas yang dihasilkan mencapai pasar internasional dengan standar terbaik.
Revolusi Teknologi: Rahasia di Balik Lift Pertama di Medan
Salah satu aspek yang paling fenomenal dan selalu menjadi bahan pembicaraan para sejarawan serta arsitek adalah keberadaan teknologi di dalam gedung ini. Tahukah Anda bahwa Gedung Lonsum adalah bangunan pertama di Kota Medan —bahkan di luar Jawa pada masanya— yang memperkenalkan teknologi lift? Di saat bangunan lain masih mengandalkan tangga manual, Gedung Lonsum sudah melompat jauh ke depan melampaui zamannya.
Lift legendaris ini dipasang pada tahun 1910 dan memiliki karakteristik yang sangat unik. Berbeda dengan lift modern yang tertutup rapat oleh dinding logam minimalis, lift di Gedung Lonsum mengusung konsep ‘kandang besi’ yang artistik. Pagar besinya dihiasi dengan motif bunga-bunga yang indah, sebuah representasi visual dari gaya Art Deco yang mulai menyelinap masuk ke dalam tren desain dunia saat itu.
Hebatnya lagi, meski usianya kini telah melampaui satu abad, lift ini masih berfungsi dengan sempurna hingga saat ini. Keajaiban mekanis ini tidak lepas dari pemeliharaan yang luar biasa ketat. Setiap hari Sabtu, teknisi khusus melakukan perawatan rutin untuk memastikan seluruh komponen berfungsi optimal. Bahkan, kabarnya teknisi dari Inggris didatangkan secara berkala hanya untuk melakukan inspeksi menyeluruh. Ini menunjukkan betapa berharganya nilai sejarah yang tertanam dalam setiap inci kabel dan katrol lift tersebut.
Estetika Arsitektur: Perpaduan Antara Art Nouveau dan Renaissance
Secara visual, Gedung Lonsum adalah sebuah mahakarya yang memadukan berbagai aliran arsitektur Eropa. Banyak pengamat amatir yang sering salah mengidentifikasi bangunan ini sebagai murni bergaya Art Deco. Namun, jika ditelisik lebih dalam, gedung ini sebenarnya lebih condong ke arah Art Nouveau yang dipadukan dengan elemen-elemen Renaissance minimalis.
Perbedaan mendasarnya terletak pada detail. Jika Art Deco cenderung menggunakan bentuk-bentuk geometris yang kaku dan maskulin, Art Nouveau lebih menekankan pada naturalisme, keluwesan garis, dan detail kerajinan tangan yang rumit. Hal ini terlihat pada jendela-jendela besar yang mengapit gedung, memberikan pencahayaan alami yang melimpah sekaligus kesan anggun. Sementara itu, pilar-pilar kokoh di pintu masuk memberikan karakter kolonial Belanda yang megah dan berwibawa.
Desain jendela yang lebar bukan hanya soal estetika, melainkan juga solusi cerdas untuk menghadapi iklim tropis Medan yang panas. Dengan plafon yang tinggi dan ventilasi yang dirancang sedemikian rupa, udara di dalam gedung tetap terasa sejuk meski tanpa teknologi pendingin ruangan modern. Inilah bukti betapa arsitek zaman dulu sangat mempertimbangkan keselarasan antara bangunan dan lingkungannya.
Transformasi dari Pusat Kolonial Menuju Kebanggaan Nasional
Pada masa jayanya, Harrisons & Crosfield menggunakan gedung ini untuk mengelola aset perkebunan mereka yang membentang dari Malaysia hingga Sri Lanka. Ketika harga karet dunia meroket, perusahaan ini melakukan investasi besar di Sumatera melalui sistem konsesi dengan pemerintah kolonial. Mereka berekspansi ke komoditas kelapa sawit, teh, kopi, hingga cokelat yang menjadi tulang punggung ekonomi wilayah tersebut.
Namun, sejarah terus berputar. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, aset-aset perusahaan asing mulai dinasionalisasi. Kepemilikan gedung ini pun beralih ke tangan Indonesia. Kini, bangunan yang berdiri kokoh ini menjadi kantor pusat bagi PT. PP London Sumatera Indonesia Tbk. Meskipun fungsi administratifnya tetap sama, semangat yang diusungnya kini adalah untuk kemajuan ekonomi nasional.
Keberadaan Gedung Lonsum di lokasi strategis dekat Lapangan Merdeka menjadikannya ikon wisata sejarah yang tak ternilai. Kawasan Kesawan tempatnya berada kini tengah dipoles kembali oleh pemerintah kota untuk menjadi pusat kreativitas dan pariwisata. Bagi para pemburu foto vintage atau mereka yang ingin merasakan atmosfer Medan tempo dulu, berfoto di depan Gedung Lonsum adalah sebuah keharusan.
Pesan dari Masa Lalu untuk Generasi Masa Depan
Gedung London Sumatera mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga warisan sejarah di tengah arus modernisasi yang begitu deras. Ia adalah contoh sukses bagaimana sebuah bangunan cagar budaya tetap bisa berfungsi secara komersial tanpa harus kehilangan identitas aslinya. Perawatan yang konsisten, penghormatan terhadap detail arsitektur, dan pelestarian teknologi kuno seperti lift besinya adalah teladan bagi pengelolaan bangunan bersejarah lainnya di Indonesia.
Jadi, jika suatu saat Anda berkesempatan melintasi kawasan Kesawan, janganlah hanya sekadar lewat. Luangkanlah waktu sejenak untuk berhenti, menatap fasad putihnya yang anggun, dan bayangkan betapa sibuknya aktivitas perdagangan global yang pernah terjadi di sana seratus tahun yang lalu. Gedung Lonsum bukan sekadar kantor; ia adalah monumen yang mengingatkan kita bahwa Medan pernah, dan akan selalu menjadi, kota penting dalam peta sejarah dunia.