Aksi Heroik Suster Marisa: Bertaruh Nyawa Tembus Kobaran Api Demi Selamatkan Bayi di Kupang

Andre Pratama | KabarHarian
13 May 2026, 22:07 WIB
Aksi Heroik Suster Marisa: Bertaruh Nyawa Tembus Kobaran Api Demi Selamatkan Bayi di Kupang

KabarHarian — Pekatnya asap hitam yang membumbung tinggi di langit Kelurahan Naikoten I, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu siang (13/5/2026), menjadi saksi bisu sebuah drama kemanusiaan yang menggetarkan hati. Di tengah amukan si jago merah yang melahap habis bangunan Panti Asuhan Guardian Holy Angel Katolik, muncul sesosok pahlawan tanpa tanda jasa. Suster Marisa Da Costa, dengan keberanian yang melampaui batas nalar, nekat menerobos kepungan api demi memastikan tak ada satu pun nyawa mungil yang tertinggal di dalam bangunan yang tengah sekarat tersebut.

Detik-Detik Mencekam di Siang Bolong

Kejadian naas itu bermula sekitar pukul 14.30 Wita. Saat itu, suasana panti asuhan sebenarnya tengah transisi dari kesibukan pagi menuju ketenangan siang. Sebagian besar anak-anak penghuni panti baru saja kembali dari sekolah. Beberapa dari mereka mungkin sedang berganti pakaian atau sekadar melepas lelah setelah seharian menimba ilmu. Namun, ketenangan itu seketika pecah ketika kepulan asap tiba-tiba muncul dan api dengan sangat cepat menjalar ke langit-langit bangunan.

Baca Juga Ramalan Keuangan Zodiak 7 Mei 2026: Navigasi Cerdas Mengatur Arus Kas di Bawah Naungan Bintang
Ramalan Keuangan Zodiak 7 Mei 2026: Navigasi Cerdas Mengatur Arus Kas di Bawah Naungan Bintang

Suster Marisa Da Costa, yang saat itu sedang terjaga, menjadi orang pertama yang menyadari bahaya besar yang mengintai. Dalam wawancara mendalam bersama tim lapangan KabarHarian, ia menceritakan bagaimana situasi kacau balau terjadi dalam hitungan detik. “Saya sedang sendiri saat itu, dalam artian saya satu-satunya pengasuh yang tidak tidur. Jika saat itu saya ikut beristirahat, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada anak-anak kami,” kenangnya dengan nada suara yang masih bergetar akibat trauma.

Aksi Heroik Menyelamatkan Bayi Lima Bulan

Insting seorang ibu dan pelindung langsung mengambil alih kendali diri Suster Marisa. Di tengah kepanikan, ia teringat akan seorang bayi berusia 5 bulan yang berada di salah satu ruangan. Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, dan bahkan tanpa sempat mencari alas kaki, ia berlari menuju sumber tangisan. Api saat itu sudah mulai menutup akses jalan keluar, menciptakan lorong panas yang mematikan.

“Saya hanya berpikir untuk mencari anak-anak. Mereka sudah terpencar ke mana-mana karena panik. Saya langsung menyambar bayi itu dan mendekapnya erat. Saat saya berbalik untuk keluar, api sudah menyala besar dan menutup jalan. Saya tidak tahu lagi api itu datang dari mana, rasanya semuanya terjadi begitu cepat,” tutur Suster Marisa. Dengan langkah seribu, ia menerjang panasnya suhu udara dan jilatan api yang mulai menyentuh kulitnya, hingga akhirnya berhasil mencapai halaman luar panti.

Baca Juga Jelang Idul Adha, Geliat Harga Pangan di Denpasar Mulai Merangkak: Beras Premium dan Cabai Rawit Jadi Sorotan
Jelang Idul Adha, Geliat Harga Pangan di Denpasar Mulai Merangkak: Beras Premium dan Cabai Rawit Jadi Sorotan

Keberaniannya tidak berhenti di situ. Meski berhasil menyelamatkan sang bayi, tubuh Suster Marisa mencapai titik limitnya. Setelah memastikan bayi dalam dekapannya aman dan menyerahkannya kepada warga, ia jatuh pingsan. Kelelahan fisik yang ekstrem bercampur dengan syok psikologis membuatnya tak sadarkan diri di lokasi kejadian. Namun, pengorbanannya tidak sia-sia; bayi tersebut selamat tanpa luka berarti.

Data Penghuni dan Proses Evakuasi yang Dramatis

Panti Asuhan Guardian Holy Angel Katolik bukan sekadar bangunan; ia adalah rumah bagi 19 anak yatim piatu dan telantar, serta 4 orang suster pengasuh. Komposisi penghuninya terdiri dari 10 anak laki-laki dan 9 anak perempuan dengan rentang usia yang beragam. Beruntung, solidaritas warga Kelurahan Naikoten I sangat luar biasa. Begitu melihat api membumbung, warga sekitar langsung berhamburan membawa peralatan seadanya untuk memadamkan api dan membantu proses evakuasi.

Tak lama kemudian, tim pemadam kebakaran Kota Kupang tiba di lokasi untuk menjinakkan api yang kian beringas. Sinergi antara masyarakat dan petugas pemadam kebakaran memastikan bahwa ke-19 anak dan 4 suster tersebut berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Meski selamat secara fisik, gurat trauma terlihat jelas di wajah anak-anak yang kini harus kehilangan tempat bernaung mereka.

Baca Juga BBW Bali 2026: Surganya Buku Internasional Murah di Jantung Kuta, Fokus Bangun Literasi Anak Sejak Dini
BBW Bali 2026: Surganya Buku Internasional Murah di Jantung Kuta, Fokus Bangun Literasi Anak Sejak Dini

Seluruh Harta Benda dan Dokumen Berharga Ludes Terbakar

Puji syukur memang dipanjatkan karena tidak ada korban jiwa dalam tragedi ini. Namun, secara materiil, panti asuhan ini mengalami kerugian yang sangat masif. Bangunan utama beserta isinya hampir rata dengan tanah. Tidak ada barang berharga yang sempat diselamatkan kecuali pakaian yang melekat di badan para penghuninya.

Suster Marisa mengungkapkan dengan sedih bahwa dokumen-dokumen penting yang menjadi tulang punggung administrasi panti dan masa depan anak-anak kini telah menjadi abu. Sertifikat tanah panti, ijazah asli milik anak-anak, hingga arsip-arsip penting lainnya tidak tersisa. Selain itu, fasilitas penunjang pendidikan seperti tiga unit laptop dan 24 lemari pakaian juga habis terbakar.

“Semua kosong, surat-surat habis semua. Kami tidak punya apa-apa lagi sekarang. Yang tersisa hanya pakaian di badan,” ucap Suster Marisa sembari menatap puing-puing bangunan yang masih mengepulkan asap. Kehilangan ijazah menjadi pukulan telak bagi anak-anak yang sudah berada di tingkat akhir sekolah, karena dokumen tersebut adalah kunci bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan atau mencari kerja di masa depan.

Baca Juga Jadwal Lengkap Puasa Arafah 2026: Niat, Keutamaan, dan Panduan Ibadah di Bulan Dzulhijjah
Jadwal Lengkap Puasa Arafah 2026: Niat, Keutamaan, dan Panduan Ibadah di Bulan Dzulhijjah

Duka Mendalam dan Harapan untuk Bangkit

Pasca-kebakaran, suasana di lokasi kejadian masih diselimuti rasa duka. Anak-anak panti sementara waktu diungsikan ke bangunan terdekat yang lebih aman. Beberapa suster dilaporkan mengalami trauma psikologis yang cukup berat, mengingat betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati saat kejadian berlangsung.

KabarHarian mencatat bahwa bantuan mulai berdatangan dari para relawan dan dermawan di Kota Kupang, namun kebutuhan mendesak seperti pakaian layak pakai, bahan makanan, perlengkapan bayi, dan alat tulis sangat dibutuhkan saat ini. Terlebih lagi, proses pengurusan kembali dokumen-dokumen negara yang terbakar akan membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah setempat agar masa depan anak-anak panti tidak terhambat.

Pelajaran Berharga tentang Mitigasi Kebakaran

Tragedi yang menimpa Panti Asuhan Guardian Holy Angel ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya sistem mitigasi kebakaran di gedung-gedung fasilitas sosial. Keberadaan alat pemadam api ringan (APAR) dan jalur evakuasi yang jelas menjadi hal yang krusial, terutama di bangunan yang dihuni oleh anak-anak dan balita.

Baca Juga Krisis Fiskal Menghantui NTB: Dana Bagi Hasil AMMAN Mineral Anjlok Rp 48 Miliar, APBD Terancam Defisit
Krisis Fiskal Menghantui NTB: Dana Bagi Hasil AMMAN Mineral Anjlok Rp 48 Miliar, APBD Terancam Defisit

Suster Marisa Da Costa telah menjalankan tugasnya melampaui panggilan jiwa. Aksi heroiknya akan selalu dikenang sebagai pengingat bahwa di tengah bencana yang paling gelap sekalipun, cahaya kemanusiaan tetap bisa bersinar terang melalui keberanian seseorang yang rela berkorban demi sesama. Kini, tugas kita bersama adalah membantu mereka kembali tegak berdiri dari puing-puing abu kesedihan ini.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *