Jelang Idul Adha, Geliat Harga Pangan di Denpasar Mulai Merangkak: Beras Premium dan Cabai Rawit Jadi Sorotan
KabarHarian — Suasana hiruk pikuk di berbagai pasar tradisional di Kota Denpasar mulai diwarnai dengan dinamika harga kebutuhan pokok yang merangkak naik menjelang peringatan Hari Raya Idul Adha. Fenomena tahunan ini kembali menyapa warga ibu kota Provinsi Bali tersebut, di mana sejumlah komoditas esensial seperti beras premium, cabai rawit, bawang merah, hingga daging ayam mulai menunjukkan tren kenaikan harga yang cukup signifikan di lapak-lapak pedagang.
Meski tekanan inflasi musiman ini mulai terasa, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bergerak cepat untuk memberikan ketenangan bagi masyarakat. Otoritas setempat menegaskan bahwa meskipun grafik harga sedang menanjak, ketersediaan stok pangan di gudang-gudang penyimpanan masih berada dalam level aman. Kepastian ini diharapkan dapat meredam potensi kepanikan belanja atau panic buying yang sering kali justru memperburuk kondisi pasar.
Geliat Harga Beras Premium di Tengah Stok Medium yang Melimpah
Berdasarkan pantauan langsung tim KabarHarian di lapangan, salah satu komoditas yang paling disorot adalah beras kelas premium. Beras dengan merek dagang populer seperti Putri Sejati dan Beras Ratu kini dibanderol dengan harga yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika merujuk pada regulasi, HET untuk beras premium berada di angka Rp 14.900 per kilogram, namun realita di pasar menunjukkan harga telah menyentuh angka Rp 16.000 per kilogram.
Menanggapi hal ini, I Bagus Aditia Wardhana, Kepala Bidang Metrologi dan Tertib Niaga Disperindag Kota Denpasar, mengungkapkan bahwa fenomena ini telah diprediksi sebelumnya. Menurutnya, masyarakat Denpasar cenderung memiliki tingkat literasi pasar yang baik, di mana mereka memahami bahwa menjelang hari raya besar, fluktuasi harga adalah hal yang lumrah terjadi.
“Masyarakat kita sudah sangat paham dengan siklus ini. Menjelang hari raya, kenaikan harga hampir selalu terjadi. Sejauh ini, kami melihat situasi tetap kondusif tanpa adanya gejolak yang berarti. Masyarakat tampaknya sudah menyiapkan strategi belanja mereka sendiri,” ujar Wardhana saat ditemui di ruang kerjanya pada Jumat (22/5/2026).
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah mengandalkan ketersediaan beras medium jenis SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang disalurkan oleh Bulog. Wardhana memastikan bahwa stok beras medium ini sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga hingga sembilan bulan ke depan. Dengan adanya alternatif beras medium yang harganya lebih terjangkau, konsumen memiliki pilihan untuk tetap memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus terbebani oleh tingginya harga beras premium.
Anomali Cuaca dan Pedasnya Harga Cabai di Pasar Rakyat
Selain beras, “pedasnya” harga cabai rawit merah juga menjadi perbincangan hangat di kalangan ibu rumah tangga. Data terbaru dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2K) menunjukkan lonjakan yang cukup drastis. Harga cabai rawit merah yang sebelumnya memiliki HET sebesar Rp 57.000 kini telah melesat hingga ke angka Rp 73.000 per kilogram.
Kondisi ini diperparah oleh faktor alam yang sulit dikendalikan. Puspa Sari Dewi, Kontributor SP2K, menjelaskan bahwa anomali cuaca berupa intensitas hujan yang masih tinggi di beberapa wilayah sentra produksi menjadi penyebab utama menurunnya kualitas dan kuantitas pasokan. Cabai dan bawang merah adalah komoditas yang sangat rentan terhadap kelembapan tinggi; mereka cenderung cepat membusuk jika terkena air hujan secara terus-menerus.
“Faktor cuaca belakangan ini memang tidak menentu. Hujan yang turun secara mendadak membuat komoditas cabai cepat basah dan rusak saat proses distribusi. Inilah yang menyebabkan stok di pasar menipis sementara permintaan menjelang Idul Adha justru meningkat tajam,” jelas Puspa kepada tim KabarHarian.
Menariknya, pasar di Denpasar menawarkan keberagaman varietas yang menjadi penyelamat bagi konsumen. Bagi warga yang merasa harga Cabai Bali (yang mencapai Rp 85.000 – Rp 90.000 per kg) terlalu mahal, mereka bisa beralih ke Cabai Baskara yang dibanderol sedikit lebih rendah di kisaran Rp 75.000. Ada pula varian unik seperti Cabai Strawberry yang sering ditemukan di Pasar Badung sebagai alternatif kelas atas. Hal yang sama berlaku untuk bawang merah, di mana ketersediaan varian Bawang Bali Karet dan Bawang Bima memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyesuaikan belanja dengan isi dompet mereka.
Daging Ayam dan Dampak Program Sosial Strategis
Komoditas protein hewani, khususnya daging ayam, juga tidak luput dari koreksi harga. Meskipun kenaikannya dinilai belum mengkhawatirkan—yakni di bawah 5 persen—namun dinamika di lapangan menunjukkan adanya perebutan pasokan. Selain karena faktor permintaan Idul Adha, naiknya harga daging ayam ditengarai juga dipengaruhi oleh peningkatan serapan untuk program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Puspa Sari Dewi mengonfirmasi bahwa distribusi subsidi untuk setiap pasar kini menjadi lebih terbatas. “Ada kecenderungan pasokan banyak terserap untuk program-program sosial berskala besar. Meski demikian, stok daging ayam untuk konsumsi umum di pasar-pasar besar seperti Pasar Badung dan Pasar Kreneng tetap tersedia, meski harganya sedikit terkerek naik,” tambahnya.
Intervensi Pemerintah Melalui Operasi Pasar Berkala
Menyadari beban ekonomi yang mungkin dirasakan warga, Pemerintah Kota Denpasar tidak tinggal diam. Melalui Perumda Pasar Sewakadarma, serangkaian operasi pasar terus digencarkan. Ni Made Sartini, Kepala Unit Bina Usaha Sewakajaya, menegaskan bahwa jadwal operasi pasar tetap berjalan sesuai agenda normal pada hari Senin, Kamis, dan Jumat.
“Kami memantau pergerakan harga setiap hari melalui survei di pasar-pasar utama. Jika terjadi lonjakan yang ekstrem, kami siap mengintervensi. Saat ini, subsidi tetap kami salurkan,” kata Sartini. Berdasarkan laporan terakhir, subsidi yang disalurkan mencapai ratusan ribu rupiah untuk komoditas cabai dan daging ayam di masing-masing pasar besar seperti Pasar Badung dan Kreneng. Langkah ini diambil agar harga di tingkat pedagang eceran tetap dalam batas kewajaran yang bisa dijangkau oleh daya beli masyarakat luas.
Melalui kombinasi antara kesadaran masyarakat dalam berbelanja sesuai kebutuhan dan langkah sigap pemerintah dalam menjaga rantai pasok, diharapkan perayaan Idul Adha tahun ini di Denpasar tetap berjalan khidmat tanpa terganggu oleh persoalan ketersediaan pangan. KabarHarian akan terus memantau perkembangan harga di lapangan untuk memastikan informasi terkini sampai ke tangan pembaca secara akurat.