Ancaman “Lubang Maut” di Jalan Bhayangkara: Menelusuri Sengkarut Proyek Relokasi Kabel yang Terbengkalai di Medan

Siska Amelia | KabarHarian
11 May 2026, 12:10 WIB
Ancaman "Lubang Maut" di Jalan Bhayangkara: Menelusuri Sengkarut Proyek Relokasi Kabel yang Terbengkalai di Medan

KabarHarian — Wajah infrastruktur di sudut Kota Medan kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah ambisi Pemerintah Kota (Pemko) Medan dalam mempercantik estetika kota melalui proyek pembenahan kabel udara, sebuah persoalan klasik justru muncul ke permukaan: keselamatan warga yang terabaikan. Di sepanjang ruas Jalan Bhayangkara, Kelurahan Indra Kasih, Kecamatan Medan Tembung, pemandangan lubang-lubang besar yang menganga di tepian jalan kini menjadi momok menakutkan bagi setiap pengendara yang melintas.

Lubang-lubang ini bukan sekadar ketidaksempurnaan aspal biasa. Mereka adalah jejak dari sebuah proyek yang tampak kehilangan arah. Berdasarkan pengamatan langsung tim jurnalis kami di lapangan, lubang-lubang tersebut dibiarkan terbuka tanpa penutup, tanpa pembatas keamanan yang memadai, dan yang lebih memprihatinkan, tanpa adanya papan informasi proyek yang seharusnya menjadi standar operasional prosedur (SOP) di setiap pembangunan infrastruktur publik.

Jeritan Warga: Proyek Lambat dan Terkesan Asal-asalan

Bagi warga yang setiap hari menggantungkan aktivitasnya di jalur ini, keberadaan lubang-lubang tersebut adalah ancaman nyata. Intan, salah seorang warga sekitar yang rutin melintasi Jalan Bhayangkara, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap lambatnya pengerjaan proyek ini. Menurut penuturannya, kondisi memprihatinkan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang jelas.

Baca Juga Menguak Tabir Sejarah di Balik Julukan Medan Sebagai ‘Kota Preman’: Perspektif Sosiologis dan Dinamika Kekuasaan Lokal
Menguak Tabir Sejarah di Balik Julukan Medan Sebagai ‘Kota Preman’: Perspektif Sosiologis dan Dinamika Kekuasaan Lokal

“Kalau tidak salah ingat, kondisi ini sudah ada sejak tiga atau empat bulan yang lalu. Rasanya seperti proyek terbengkalai. Pengerjaannya sangat lambat dan tidak konsisten,” keluh Intan saat berbincang dengan tim kami pada Senin (11/5/2026). Ia menambahkan bahwa ritme kerja para petugas di lapangan sangat tidak beraturan. Ada kalanya pekerja terlihat sibuk, namun lebih sering area proyek tersebut tampak sepi dari aktivitas pembangunan.

Kesan terbengkalai ini diperkuat dengan tumpukan sampah yang mulai memenuhi dasar lubang. Bukannya menjadi saluran utilitas yang bersih, lubang-lubang tersebut justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah dadakan. Selain itu, jumlah personel yang dikerahkan untuk menangani proyek di sepanjang jalan yang cukup panjang ini dirasa sangat minim, sehingga progres pekerjaan terkesan jalan di tempat.

Risiko Keselamatan: Berjalan di Atas Garis Bahaya

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah nihilnya tali pengaman atau barikade peringatan di sekitar lubang. Di malam hari, saat pencahayaan minim, lubang-lubang ini menjadi jebakan mematikan bagi pengendara sepeda motor. Tanpa adanya papan informasi yang jelas, masyarakat dibiarkan menebak-nebak apa sebenarnya yang sedang dikerjakan di bawah kaki mereka.

Baca Juga Waspada Ancaman Hantavirus, Gubsu Bobby Nasution Ajak Warga Sumut Perketat Standar Kebersihan Lingkungan
Waspada Ancaman Hantavirus, Gubsu Bobby Nasution Ajak Warga Sumut Perketat Standar Kebersihan Lingkungan

“Saya melihat ada untaian kabel di dalam lubang itu. Kemungkinan besar ini memang proyek pemasangan kabel fiber optik untuk ditanam di bawah tanah. Tapi masalahnya, tidak ada transparansi informasi sama sekali. Tidak ada pembatas yang jelas, sehingga sangat membahayakan kalau ada pengendara yang lengah, terutama saat hujan atau malam hari,” tambah Intan dengan nada khawatir.

Masyarakat kini mendesak Pemko Medan untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir keindahan kota, tetapi juga pada proses pengerjaan yang manusiawi dan aman. Kecepatan pengerjaan menjadi tuntutan utama agar mobilitas warga di Medan Tembung tidak terus-menerus terganggu oleh proyek yang setengah hati.

Respons Pemerintah: Janji Koordinasi dan Tindak Lanjut Cepat

Menanggapi gelombang keluhan warga yang kian masif, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan, Khairul Azmi, akhirnya angkat bicara. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai kondisi di Jalan Bhayangkara dan berjanji akan segera mengambil langkah konkret.

“Kami telah menerima laporan tersebut dan segera melakukan koordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) terkait untuk ditindaklanjuti secepat mungkin di lapangan,” tegas Khairul Azmi. Meskipun janji telah terucap, warga tetap menanti pembuktian nyata di lapangan, mengingat janji serupa seringkali membutuhkan waktu lama untuk terealisasi menjadi tindakan perbaikan yang komprehensif.

Baca Juga Teror Siang Bolong di Bengkalis: Perampok Bersenjata Api Satroni Gerai ATM Mini, Uang Jutaan Rupiah Raib
Teror Siang Bolong di Bengkalis: Perampok Bersenjata Api Satroni Gerai ATM Mini, Uang Jutaan Rupiah Raib

Misi Besar Medan Tanpa Kabel Udara: Target 2026

Proyek di Jalan Bhayangkara ini sebenarnya merupakan bagian dari agenda besar Pemko Medan untuk merevitalisasi estetika kota. Pemerintah menargetkan relokasi kabel udara menjadi kabel tanam di sejumlah ruas jalan protokol guna menghilangkan kesan semrawut yang selama ini menghiasi langit Medan. Target ambisius ini dipatok selesai sepenuhnya pada tahun 2026.

Jalan Bhayangkara sendiri memiliki porsi pengerjaan yang cukup panjang, yakni mencapai 1.800 meter. Berikut adalah daftar 12 ruas jalan di Kota Medan yang masuk dalam zona prioritas relokasi kabel tanam:

  • Jalan Dr. Mansur: sepanjang 1.000 meter
  • Jalan Ir. Juanda: sepanjang 1.200 meter
  • Jalan K.H. Zainul Arifin: sepanjang 1.300 meter
  • Jalan Kapten Muslim: sepanjang 1.600 meter
  • Jalan Gaperta: sepanjang 900 meter
  • Jalan Bhayangkara: sepanjang 1.800 meter
  • Jalan Meteorologi: sepanjang 600 meter
  • Jalan GM Panggabean dan Seputaran Teladan: sepanjang 700 meter
  • Jalan Karya Wisata: sepanjang 1.200 meter
  • Jalan Kejaksaan: sepanjang 1.300 meter
  • Jalan Candi Mendut: sepanjang 350 meter
  • Jalan Candi Borobudur: sepanjang 200 meter

Melihat cakupan proyek yang begitu luas, manajemen proyek yang baik menjadi kunci utama. Kasus di Jalan Bhayangkara seharusnya menjadi pembelajaran bagi dinas terkait agar pengawasan terhadap kontraktor di lapangan dilakukan secara lebih ketat. Jangan sampai niat baik untuk mempercantik kota justru mengorbankan keamanan dan kenyamanan warga dalam berlalu lintas.

Baca Juga Seni Menabung ala Gen Z: Strategi Tetap Eksis Tanpa Harus Bokek di Akhir Bulan
Seni Menabung ala Gen Z: Strategi Tetap Eksis Tanpa Harus Bokek di Akhir Bulan

Harapan Ke Depan: Estetika Tanpa Mengabaikan Etika Pembangunan

Modernisasi infrastruktur memang memerlukan pengorbanan waktu dan kenyamanan sesaat, namun hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan standar keselamatan kerja. Penutupan lubang yang tidak segera dilakukan, minimnya rambu peringatan, serta durasi pengerjaan yang molor adalah indikasi lemahnya pengawasan di tingkat operasional.

Warga Medan, khususnya yang bermukim di sekitar Medan Tembung, berharap agar Pemko Medan tidak hanya mengejar target penyelesaian di tahun 2026, tetapi juga memastikan setiap tahapan pengerjaan berjalan sesuai aturan. Transparansi melalui papan proyek dan penggunaan barikade standar adalah harga mati yang tidak bisa ditawar demi nyawa para pengguna jalan. Mari kita kawal bersama agar pembangunan ini membawa berkah, bukan musibah.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *