Menelusuri Jalur Maut di Percut Sei Tuan: Nestapa Warga Deli Serdang Terjebak Lubang dan Ancaman Begal

Siska Amelia | KabarHarian
07 May 2026, 12:08 WIB
Menelusuri Jalur Maut di Percut Sei Tuan: Nestapa Warga Deli Serdang Terjebak Lubang dan Ancaman Begal

KabarHarian — Infrastruktur jalan yang mumpuni seharusnya menjadi urat nadi perekonomian dan penopang utama mobilitas masyarakat. Namun, pemandangan kontras justru tersaji di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Alih-alih menikmati aspal mulus, warga di kawasan ini harus bertaruh nyawa setiap hari saat melintasi sejumlah ruas jalan yang kondisinya sudah menyerupai kubangan kerbau atau permukaan bulan yang penuh kawah.

Kondisi memprihatinkan ini bukanlah cerita baru. Berdasarkan penelusuran tim di lapangan, kerusakan infrastruktur ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada tanda-tanda perbaikan yang signifikan dari pemerintah daerah setempat. Kerusakan parah terpantau di beberapa titik krusial, di antaranya Jalan Terusan di Desa Bandar Khalipah, serta Jalan Lapangan dan Jalan Buntu di Desa Bandar Klippa. Lubang-lubang menganga dengan kedalaman mencapai 10 sentimeter menjadi ‘ranjau’ mematikan bagi para pengendara, terutama saat hujan mengguyur dan menutupi lubang tersebut dengan genangan air.

Ironi Lima Tahun Tanpa Sentuhan Perbaikan

Bagi warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut, setiap perjalanan terasa seperti sebuah perjuangan fisik. Yanti, salah seorang warga lokal, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap pengabaian yang dilakukan oleh pihak berwenang. Menurutnya, kondisi Jalan Terusan sudah rusak parah selama kurang lebih lima tahun terakhir. Selama setengah dekade itu pula, warga hanya bisa pasrah melihat kondisi aspal yang semakin hari semakin terkikis.

Baca Juga Aksi Nekat Penyelundupan Emas Rp 1,45 Miliar ke Malaysia Kandas di Bandara SIM Aceh: Begini Kronologinya
Aksi Nekat Penyelundupan Emas Rp 1,45 Miliar ke Malaysia Kandas di Bandara SIM Aceh: Begini Kronologinya

“Iya, sudah lama sekali tidak diperbaiki. Kira-kira sudah ada lima tahunan kondisi jalannya begini. Lubangnya sangat dalam, kalau orang lewat situ susah sekali pilih jalan yang aman,” ujar Yanti dengan nada kecewa saat memberikan keterangan kepada tim kami. Ia menambahkan bahwa kerusakan jalan ini tidak hanya menghambat waktu perjalanan, tetapi juga merusak komponen kendaraan milik warga yang terpaksa melintas setiap harinya.

Pengabaian selama lima tahun ini dianggap warga sebagai bentuk ketidakpedulian pemerintah terhadap keselamatan publik. Mengingat Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi di Deli Serdang, mobilitas warga di kawasan ini sangatlah padat. Kerusakan jalan otomatis berdampak langsung pada distribusi logistik dan aktivitas ekonomi warga sekitar.

Saksi Bisu Kecelakaan dan Luka Fisik

Kerusakan infrastruktur ini bukan sekadar masalah estetika atau kenyamanan berkendara, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa. Yanti menceritakan rentetan kecelakaan yang telah terjadi di Jalan Terusan. Bukan sekali dua kali pengendara motor terjatuh karena terjebak ke dalam lubang yang dalam, terutama pada malam hari atau saat cuaca buruk.

Baca Juga Petaka Investasi Trading dari Dana Desa: Eks Ketua BUMNag Simalungun Dituntut 5,5 Tahun Penjara
Petaka Investasi Trading dari Dana Desa: Eks Ketua BUMNag Simalungun Dituntut 5,5 Tahun Penjara

“Sudah berapa kali ada yang jatuh di sini. Pernah ada pengendara yang mengalami luka cukup serius sampai harus dijahit karena terperosok. Ini kan salah satu jalan besar, akses utama masyarakat. Ya kalau bisa secepatnyalah diperbaiki sebelum ada korban jiwa yang lebih banyak lagi,” tegas Yanti. Narasi tentang luka fisik dan trauma pengendara menjadi saksi bisu betapa mendesaknya kebutuhan akan perbaikan aspal di wilayah tersebut.

Kecelakaan sering kali terjadi saat pengendara mencoba menghindari satu lubang, namun justru terperosok ke lubang lainnya yang tak kalah dalam. Bagi warga pendatang atau mereka yang tidak terbiasa melintasi jalur tersebut, risikonya jauh lebih besar karena mereka belum hafal letak ‘ranjau-ranjau’ aspal tersebut.

Jalan Lapangan: Gelap, Rusak, dan Rawan Kriminalitas

Permasalahan di Kecamatan Percut Sei Tuan ternyata tidak berhenti pada infrastruktur jalan yang hancur. Di lokasi lain, tepatnya di Jalan Lapangan, warga menghadapi ancaman ganda: jalan rusak dan minimnya penerangan lampu jalan. Kombinasi ini menciptakan suasana mencekam saat malam tiba, yang kemudian memicu masalah keamanan baru, yakni kerawanan terhadap aksi pembegalan.

Baca Juga Tragedi Estetika Berdarah: Nestapa 15 Korban ‘Dokter Gadungan’ Eks Finalis Putri Indonesia di Pekanbaru
Tragedi Estetika Berdarah: Nestapa 15 Korban ‘Dokter Gadungan’ Eks Finalis Putri Indonesia di Pekanbaru

Rico, warga lainnya yang kerap melintas di kawasan tersebut, memaparkan betapa Jalan Lapangan kini menjadi momok bagi warga. Akibat kondisi jalan yang rusak parah, pengendara tidak bisa melaju kencang, sehingga menjadi sasaran empuk bagi pelaku kriminal. Ditambah lagi dengan ketiadaan lampu jalan yang membuat pandangan sangat terbatas.

“Rusak sekali memang jalannya, lubangnya dalam-dalam. Sudah begitu, tidak ada lampu jalan sama sekali, jadi jarang orang berani lewat sini kalau malam. Akibatnya jalanan jadi sepi dan rawan begal. Saya lupa pastinya kapan, tapi kemarin itu sempat ada kejadian begal di sini, bahkan sampai masuk berita,” ungkap Rico dengan raut wajah khawatir.

Kondisi ini menciptakan dilema bagi warga. Di satu sisi mereka harus menggunakan jalan tersebut sebagai akses tercepat menuju tujuan, namun di sisi lain mereka harus mempertaruhkan keselamatan nyawa dan harta benda dari ancaman kejahatan jalanan yang mengintai di balik kegelapan.

Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Masyarakat Sekitar

Kerusakan jalan yang masif di Percut Sei Tuan ini membawa dampak domino yang luas. Berikut adalah beberapa poin kerugian yang dirasakan langsung oleh masyarakat:

Baca Juga Aksi Nekat ‘Rayap Besi’ di Deli Serdang: Kepergok Petugas Satpol PP Saat Jarah Eks Delimas Plaza
Aksi Nekat ‘Rayap Besi’ di Deli Serdang: Kepergok Petugas Satpol PP Saat Jarah Eks Delimas Plaza
  • Biaya Perawatan Kendaraan Membengkak: Guncangan terus-menerus akibat jalan berlubang mempercepat kerusakan pada ban, shockbreaker, dan kaki-kaki kendaraan warga.
  • Hambatan Distribusi Barang: Truk pengangkut logistik harus melaju sangat lambat, yang mengakibatkan keterlambatan pengiriman dan potensi kenaikan biaya transportasi.
  • Penurunan Omzet Pelaku Usaha: Toko-toko di sepanjang jalan rusak mengeluhkan penurunan jumlah pelanggan karena orang enggan melintasi jalan yang berdebu saat panas dan berlumpur saat hujan.
  • Gangguan Kesehatan: Saat musim kemarau, debu dari jalan yang tidak beraspal sering kali memicu gangguan pernapasan bagi warga yang tinggal di pinggir jalan.

Melihat kompleksitas masalah ini, tidaklah mengherankan jika warga mulai menyuarakan kegelisahan mereka secara lebih lantang di media sosial dan forum-forum publik. Mereka menuntut adanya transparansi mengenai alokasi dana pemeliharaan jalan di Kabupaten Deli Serdang.

Menanti Respon dan Tindakan Nyata Pemerintah

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menanti kehadiran alat berat dan tumpukan aspal di lokasi-lokasi tersebut. Harapan besar digantungkan kepada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan dinas terkait untuk segera melakukan peninjauan dan perbaikan secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam yang biasanya kembali rusak dalam hitungan minggu.

Baca Juga Dilema Puasa Ayyamul Bidh di Hari Tasyrik: Simak Solusi, Jadwal, dan Panduan Lengkap Zulhijah 1447 H
Dilema Puasa Ayyamul Bidh di Hari Tasyrik: Simak Solusi, Jadwal, dan Panduan Lengkap Zulhijah 1447 H

Pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya berfokus pada pusat kota, tetapi juga harus menyentuh desa-desa seperti Bandar Khalipah dan Bandar Klippa. Mengingat pajak kendaraan bermotor terus dipungut dari warga, sudah sepatutnya hak mereka untuk mendapatkan jalan yang layak dan aman dapat dipenuhi oleh negara. Keselamatan warga tidak boleh dikompromikan dengan alasan keterbatasan anggaran yang berkepanjangan.

Masyarakat Percut Sei Tuan hanya menginginkan satu hal sederhana: mereka ingin pulang ke rumah dengan selamat tanpa harus merasa was-was akan lubang jalan yang mengancam atau begal yang mengintai di kegelapan. Kini bola panas ada di tangan pemerintah daerah, apakah keluhan warga ini akan segera dijawab dengan aksi nyata, ataukah tetap menjadi angin lalu yang terkubur bersama lubang-lubang di jalanan tersebut.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *