Oase Baru Petani Aceh Utara: Bendungan Krueng Pase Tuntas, Harapan Panen Melimpah Kembali Bersemi

Siska Amelia | KabarHarian
05 May 2026, 16:08 WIB
Oase Baru Petani Aceh Utara: Bendungan Krueng Pase Tuntas, Harapan Panen Melimpah Kembali Bersemi

KabarHarian — Angin segar akhirnya berembus di hamparan sawah Kabupaten Aceh Utara. Setelah menanti dalam ketidakpastian selama beberapa tahun terakhir, para petani kini bisa bernapas lega. Proyek rehabilitasi Bendung Krueng Pase yang berlokasi di Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, akhirnya dinyatakan rampung. Kepastian ini disambut dengan rasa syukur mendalam oleh ribuan petani yang menggantungkan hidup dari aliran sungai tersebut.

Diplomasi Rangkang: Saat Menteri PU Mendengar Langsung Keluh Kesah Petani

Suasana hangat menyelimuti sebuah rangkang—gubuk kecil tempat berteduh di pinggir sawah—di Desa Blang Majron, Kecamatan Syamtalira Bayu, pada Selasa (5/5/2026). Tanpa sekat protokoler yang kaku, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, tampak melepas sepatunya dan duduk bersila bersama para petani setempat. Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan sebuah momen emosional bagi masyarakat tani Aceh Utara.

Di bawah atap rangkang yang sederhana, obrolan mengalir dengan akrab. Menteri Dody tampak tekun mendengarkan penuturan para petani yang selama ini berjuang melawan kekeringan. Kehadiran pejabat negara di tengah sawah ini memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk memulihkan kedaulatan pangan dari akar rumput.

Baca Juga Misteri Luka dan Teror: Hakim Militer Desak Kehadiran Andrie Yunus dalam Sidang Kasus Penyiraman Air Keras
Misteri Luka dan Teror: Hakim Militer Desak Kehadiran Andrie Yunus dalam Sidang Kasus Penyiraman Air Keras

Masa Penantian 4,5 Tahun yang Berujung Syukur

Bagi para petani, selesainya proyek rehabilitasi ini adalah sebuah keajaiban yang datang lebih cepat. Ketua Kelompok Tani (Kapoktan) Desa Blang Majron, Lidan Ahmad, mengungkapkan bahwa pada awalnya masyarakat merasa pesimis. Mengingat tingkat kerusakan bendungan yang cukup parah, mereka sempat memprediksi pembangunan akan memakan waktu hingga satu dekade atau sepuluh tahun.

“Masyarakat di sini tidak pernah putus berdoa agar Bendung Krueng Pase diperbaiki secepat mungkin. Saat awal terjadi kerusakan, kami memperkirakan prosesnya bisa mencapai sepuluh tahun. Namun, kenyataannya dalam waktu 4 tahun 6 bulan sudah siap digunakan. Kami sangat bersyukur,” ujar Lidan dengan nada haru di hadapan Menteri Dody.

Selama periode kerusakan tersebut, ribuan hektare sawah di Aceh Utara hanya mengandalkan sistem tadah hujan. Ketidakpastian cuaca membuat hasil panen tidak maksimal, bahkan seringkali petani mengalami gagal panen yang berdampak sistemik pada kesejahteraan keluarga mereka. Dengan rampungnya bendungan ini, harapan untuk kembali ke masa kejayaan pertanian Aceh Utara kini terbuka lebar.

Baca Juga Badai di Emirates: Ben White Absen Hingga Akhir Musim, Arsenal Kehilangan Pilar Penting Jelang Final Liga Champions
Badai di Emirates: Ben White Absen Hingga Akhir Musim, Arsenal Kehilangan Pilar Penting Jelang Final Liga Champions

Menghidupkan Kembali Ekonomi Sembilan Kecamatan

Manfaat dari selesainya Bendung Krueng Pase tidak hanya dirasakan oleh satu atau dua desa saja. Air yang mengalir dari bendungan ini diproyeksikan mampu mengairi hampir 9.000 hektare lahan persawahan yang tersebar di delapan kecamatan di Kabupaten Aceh Utara dan satu kecamatan di Kota Lhokseumawe.

Kecamatan-kecamatan yang akan segera merasakan dampak positifnya meliputi:

  • Kecamatan Meurah Mulia
  • Kecamatan Samudera
  • Kecamatan Syamtalira Bayu
  • Kecamatan Matang Kuli
  • Kecamatan Syamtalira Aron
  • Kecamatan Tanah Luas
  • Kecamatan Nibong
  • Kecamatan Tanah Pasir
  • Kecamatan Blang Mangat (Kota Lhokseumawe)

Menteri Dody menegaskan bahwa air adalah urat nadi pertanian. Dengan selesainya infrastruktur ini, pemerintah menaruh harapan besar agar produktivitas lahan meningkat drastis. Jika sebelumnya petani hanya bisa mengandalkan satu kali musim tanam dengan hasil yang tidak menentu, kini peluang untuk melakukan panen minimal dua kali dalam setahun sudah di depan mata.

Lebih dari Sekadar Air: Permintaan Traktor dan Optimalisasi Demplot

Meskipun air sudah mulai mengalir, para petani tetap menyampaikan aspirasi tambahan untuk mengoptimalkan hasil pertanian mereka. Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi Panyang, Lidan Ahmad mengusulkan adanya penambahan luas lahan percontohan atau demplot.

Baca Juga Terobosan Berani Presiden Prabowo: Instruksi Penurunan Potongan Ojol di Bawah 10 Persen demi Kesejahteraan Driver
Terobosan Berani Presiden Prabowo: Instruksi Penurunan Potongan Ojol di Bawah 10 Persen demi Kesejahteraan Driver

“Demplot yang dijanjikan pemerintah daerah saat ini hanya 2 hektare, itu terasa sangat tanggung. Kami meminta agar ditambah menjadi 5 hektare agar hasilnya lebih terlihat dan bisa dipelajari oleh lebih banyak petani,” usul Lidan. Selain itu, ia juga menyoroti kebutuhan akan alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor untuk membajak sawah dan mesin pemotong padi modern (combine harvester) guna menekan biaya operasional.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Dody berjanji akan menjembatani kebutuhan petani dengan kementerian terkait. Masalah alsintan merupakan ranah Kementerian Pertanian, dan ia berkomitmen untuk menyampaikan langsung permintaan ini kepada Menteri Pertanian demi memastikan ekosistem pertanian di Aceh Utara berjalan sempurna dari hulu hingga hilir.

Jadwal Tanam Serentak: Babak Baru Pertanian Pasca-Rehabilitasi

Selesainya bendungan ini langsung disambut dengan aksi nyata. Para petani telah menyepakati jadwal kerja kolektif untuk memulai musim tanam baru. Semangat gotong royong kembali menyala di desa-desa. Berdasarkan kesepakatan bersama, proses penyemaian bibit akan dimulai serentak pada 10 Mei mendatang, sementara masa tanam utama akan dilakukan pada 25 Mei.

Baca Juga Estafet Kepemimpinan Korps Adhyaksa: Muhibuddin Resmi Nahkodai Kejati Sumut, Formasi Baru Membawa Harapan Segar
Estafet Kepemimpinan Korps Adhyaksa: Muhibuddin Resmi Nahkodai Kejati Sumut, Formasi Baru Membawa Harapan Segar

Langkah ini diambil untuk memastikan pembagian air dapat dilakukan secara merata dan mencegah serangan hama secara sporadis. “Kami sudah siap menjalankan roda ekonomi kami lagi. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo dan Pak Menteri yang sudah hadir langsung melihat kondisi kami,” tambah Lidan.

Komitmen Pemerintah untuk Infrastruktur Daerah

Kunjungan Menteri Dody ke Aceh kali ini tidak hanya terbatas pada Bendung Krueng Pase. Sebelumnya, ia juga memantau progres pembangunan infrastruktur lainnya, termasuk Sekolah Rakyat di Lhokseumawe yang realisasinya sudah mencapai 54%. Ini menunjukkan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap pembangunan di wilayah ujung barat Indonesia tersebut.

Rehabilitasi Bendung Krueng Pase menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat membuahkan hasil yang melampaui ekspektasi. Kini, bola ada di tangan para petani dan dinas terkait untuk menjaga aset vital ini agar manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang. Aceh Utara kini menatap masa depan dengan lebih optimis, menanti kuningnya bulir padi yang dialiri air keberkahan dari sungai Krueng Pase.

Baca Juga Mengupas Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Si Protein Nabati Ini Menjadi Biang Kerok Nyeri Sendi?
Mengupas Mitos Tempe dan Asam Urat: Benarkah Si Protein Nabati Ini Menjadi Biang Kerok Nyeri Sendi?
Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *