Massa Ngamuk di Polsek Kadatua: Buntut Pengeroyokan Purnawirawan TNI dan Ketegangan Antar-Desa
KabarHarian — Suasana mencekam menyelimuti wilayah hukum Polsek Kadatua, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, setelah aksi anarkis massa pecah dan menyasar fasilitas kepolisian. Kejadian yang berlangsung dramatis ini dipicu oleh gelombang kemarahan warga yang merasa penegakan hukum berjalan lamban pasca-insiden pengeroyokan terhadap seorang purnawirawan TNI berinisial LS. Tak sekadar protes biasa, ketegangan ini berujung pada kerusakan fisik bangunan kantor polisi, menciptakan potret muram dari sebuah konflik sosial yang bermula dari hal sepele di jagat maya.
Berdasarkan pantauan lapangan dan rekaman amatir yang beredar luas, area kantor Polsek Kadatua tampak porak-poranda. Kaca-kaca jendela yang semula berdiri kokoh kini hancur berkeping-keping, berserakan di lantai sebagai saksi bisu amukan massa yang tak terbendung. Di luar gedung, situasi tak kalah mencekam. Sejumlah warga berkumpul menutup akses jalan utama dengan membakar tumpukan kayu, menciptakan kepulan asap hitam yang membubung tinggi di Kelurahan Lipu. Aksi ini menjadi simbol perlawanan sekaligus ekspresi keputusasaan publik atas rasa aman yang terusik.
Tragedi di Balik Layar Gawai: Bermula dari Media Sosial
Siapa sangka jika konflik fisik yang melibatkan massa besar ini berawal dari gesekan di media sosial? Penelusuran KabarHarian mengungkap bahwa benih pertikaian telah tertanam sejak beberapa hari sebelumnya melalui platform TikTok. Dua kelompok pemuda, masing-masing berasal dari Desa Kaofe dan Desa Banabungi, terlibat aksi saling sindir dan cekcok saat melakukan siaran langsung (live TikTok). Provokasi yang terjadi di ruang digital tersebut ternyata tidak berhenti di kolom komentar, melainkan merembet menjadi perselisihan nyata yang memicu dendam antar-kelompok.
Pihak kepolisian sebenarnya telah mencium adanya potensi konflik ini. Iptu Rino Asnan, Kasi Humas Polres Baubau, mengonfirmasi bahwa aktivitas mencurigakan dari para pemuda tersebut sudah terpantau. Rencananya, mediasi formal akan digelar pada hari Jumat untuk meredakan tensi. Namun, takdir berkata lain. Sebelum meja perundingan disiapkan, sebuah insiden di lapangan justru meledakkan situasi lebih cepat dari yang diperkirakan.
Pengeroyokan Purnawirawan TNI: Pemicu Amuk Massa
Pada Rabu siang, LS, seorang purnawirawan TNI yang dihormati di lingkungannya, mendatangi Desa Kaofe. Belum diketahui secara pasti apa tujuan utama kehadirannya di sana, namun kunjungannya berakhir tragis. LS justru menjadi sasaran pengeroyokan oleh sekelompok pemuda setempat yang diduga berjumlah sekitar tujuh orang. Tindakan brutal ini tak pelak melukai fisik dan harga diri sang purnawirawan, yang kemudian memicu solidaritas serta kemarahan dari warga Desa Banabungi, tempat LS bernaung.
Berita mengenai pengeroyokan tersebut menyebar secepat kilat melalui pesan berantai. Dalam hitungan jam, emosi warga Banabungi mencapai puncaknya. Mereka merasa tidak terima atas perlakuan yang menimpa LS. Tuduhan bahwa polisi bergerak lamban dalam mengamankan para pelaku pun mencuat, yang kemudian mendorong massa untuk mendatangi Polsek Kadatua sore itu juga. Mereka menuntut keadilan instan: tangkap semua pelaku sekarang juga atau massa akan mengambil tindakan sendiri.
Markas Polisi Menjadi Sasaran Pelampiasan
Setibanya di depan Mapolsek Kadatua, negosiasi yang coba dibangun aparat tak membuahkan hasil memuaskan bagi massa yang sudah kadung emosi. Teriakan tuntutan keadilan berganti menjadi aksi pelemparan. Satu per satu fasilitas kantor mulai rusak. Kekecewaan warga terhadap prosedur penyelidikan kepolisian yang dianggap memakan waktu lama menjadi alasan utama di balik aksi anarkis tersebut. Bagi massa, birokrasi hukum tak sebanding dengan rasa sakit hati yang mereka rasakan.
“Polisi dianggap lambat menangkap pelaku pengeroyokan, sehingga mereka datang meminta agar pelaku segera diamankan,” jelas Iptu Rino Asnan dalam keterangannya kepada KabarHarian. Meskipun polisi menjelaskan bahwa ada prosedur penyelidikan yang harus dilalui, massa yang tengah dikuasai amarah menolak untuk memahami batasan-batasan hukum tersebut. Ketegangan baru mulai sedikit mereda setelah bantuan personel tambahan tiba di lokasi untuk mengendalikan situasi.
Intervensi Brimob dan Langkah Tegas Kapolres Baubau
Menyadari situasi di Kadatua kian tak terkendali, Polda Sultra segera mengerahkan personel Brimob untuk memperkuat pengamanan di lokasi kejadian. Langkah preventif ini diambil guna mencegah bentrokan susulan antar-warga maupun serangan lebih lanjut terhadap aset negara. Kehadiran personel bersenjata lengkap di lapangan bertujuan untuk memberikan efek jera sekaligus menjamin stabilitas keamanan di Buton Selatan yang mulai goyah.
Kapolres Baubau bahkan turun langsung ke titik konflik untuk berdialog dengan tokoh masyarakat dan menenangkan massa. Dalam instruksinya, ia menegaskan bahwa polisi tidak akan membiarkan tindakan main hakim sendiri merajalela. Prioritas saat ini adalah memulihkan ketertiban sambil terus memburu para pelaku pengeroyokan yang masih berkeliaran. Hingga laporan ini diturunkan, polisi baru berhasil mengamankan satu dari tujuh terduga pelaku, sementara sisanya masih dalam pengejaran intensif oleh tim gabungan.
Pelajaran dari Konflik Kadatua: Bahaya Polarisasi Digital
Peristiwa di Polsek Kadatua ini menjadi pengingat keras betapa rentannya tatanan sosial masyarakat saat ini terhadap pengaruh negatif media sosial. Sebuah perselisihan di TikTok bisa dengan mudah bertransformasi menjadi konflik berdarah di dunia nyata jika tidak segera dimitigasi dengan baik. Selain itu, insiden ini mencerminkan adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap kecepatan respons institusi penegak hukum dalam menangani kasus-kasus sensitif yang melibatkan figur publik atau tokoh masyarakat.
KabarHarian terus memantau perkembangan kasus ini, terutama terkait proses hukum terhadap para pelaku pengeroyokan LS dan tindak lanjut terhadap pelaku perusakan kantor polisi. Diharapkan, melalui pendekatan persuasif dan penegakan hukum yang transparan, kedamaian di Buton Selatan dapat segera pulih. Warga pun diimbau untuk tetap tenang dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak berwajib tanpa harus melakukan tindakan-tindakan di luar koridor hukum yang berlaku.
Kini, Polsek Kadatua tengah melakukan pembersihan dan inventarisasi kerusakan. Meskipun aktivitas pelayanan sempat terganggu, pihak kepolisian berkomitmen untuk tetap memberikan perlindungan kepada masyarakat. Kasus ini menjadi catatan penting bagi semua pihak bahwa kekerasan bukanlah solusi atas ketidakpuasan, dan setiap tindakan anarkis hanya akan melahirkan masalah baru yang lebih kompleks di masa depan.