Maut di Puncak Dukono: Menelusuri Jejak Kelalaian di Balik Tragedi Pendakian Ilegal yang Merenggut Nyawa

Hisan Halibin | KabarHarian
11 May 2026, 06:08 WIB
Maut di Puncak Dukono: Menelusuri Jejak Kelalaian di Balik Tragedi Pendakian Ilegal yang Merenggut Nyawa

KabarHarian — Kabut duka menyelimuti lereng Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Sebuah petualangan yang seharusnya berakhir dengan kekaguman akan kemegahan alam, justru berujung pada tragedi memilukan yang merenggut nyawa. Tiga nyawa melayang—dua warga negara Singapura dan satu warga Indonesia asal Jayapura—setelah terjebak dalam amukan erupsi gunung api tersebut. Kini, di balik sisa abu vulkanik yang masih hangat, aparat kepolisian mulai mengendus adanya aroma kelalaian yang berujung maut.

Insiden ini bukan sekadar kecelakaan alam biasa. Hasil investigasi awal menunjukkan adanya pelanggaran serius terhadap prosedur keselamatan pendakian. Rombongan pendaki tersebut diketahui nekat menerobos jalur pendakian yang secara resmi telah ditutup oleh otoritas setempat. Tragedi ini pun memicu pertanyaan besar: mengapa pendakian ilegal masih bisa terjadi di tengah status gunung yang sedang waspada?

Kronologi Erupsi Maut Gunung Dukono

Gunung Dukono memuntahkan material vulkaniknya pada Jumat pagi, 8 Mei 2026, sekitar pukul 07.41 WIT. Ledakan besar itu mengirimkan kolom abu tinggi ke langit, memerangkap para pendaki yang saat itu berada di posisi rawan. Padahal, tanda-tanda alam sudah menunjukkan geliat yang mengkhawatirkan jauh sebelumnya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mencatat peningkatan aktivitas visual dan kegempaan sejak akhir Maret 2026.

Baca Juga Polemik Kericuhan di Stadion BJ Habibie: Antara ‘Tradisi’ Akhir Musim dan Bayang-bayang Sanksi Berat
Polemik Kericuhan di Stadion BJ Habibie: Antara ‘Tradisi’ Akhir Musim dan Bayang-bayang Sanksi Berat

Berdasarkan laporan resmi, status Gunung Dukono saat itu berada pada Level II atau Waspada. Status ini secara otomatis melarang adanya aktivitas manusia dalam radius tertentu dari kawah aktif. Namun, keindahan kawah Dukono yang eksotis tampaknya menjadi magnet yang terlalu kuat bagi para pencari adrenalin, hingga mereka mengabaikan rambu-rambu bahaya yang telah dipasang pemerintah.

Upaya Penyelamatan di Medan Ekstrem

Sesaat setelah laporan pendaki terjebak masuk, tim SAR gabungan yang terdiri dari 98 personel langsung diterjunkan ke lokasi. Proses evakuasi berlangsung dramatis dan penuh risiko. Dari total 20 pendaki yang berada di kawasan puncak saat erupsi terjadi, 17 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, meski lima di antaranya mengalami luka-luka akibat hantaman material vulkanik.

Namun, harapan untuk menemukan tiga orang lainnya dalam kondisi selamat perlahan pupus. Tim SAR harus berhadapan dengan medan yang sangat berat: tanah yang tidak stabil, ancaman erupsi susulan, serta ketebalan abu vulkanik yang menimbun jalur pendakian. Pencarian yang dilakukan secara intensif akhirnya membuahkan hasil yang menyedihkan pada hari-hari berikutnya.

Baca Juga Spektakel Sepak Bola Dunia: Chelsea Hadapi AC Milan di GBK Jakarta, Simak Jadwal Lengkap dan Cara War Tiketnya!
Spektakel Sepak Bola Dunia: Chelsea Hadapi AC Milan di GBK Jakarta, Simak Jadwal Lengkap dan Cara War Tiketnya!

Temuan Memilukan di Bibir Kawah

Korban pertama yang ditemukan adalah seorang pendaki wanita asal Jayapura bernama Enjel. Ia ditemukan pada Sabtu siang, 9 Mei 2026, hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir kawah. Kondisinya sangat tragis; tubuhnya hampir seluruhnya tertimbun pasir vulkanik, menyisakan hanya bagian kaki hingga pinggang yang terlihat di permukaan.

Pencarian berlanjut hingga hari ketiga, Minggu, 10 Mei 2026. Tim SAR menemukan dua jenazah warga negara Singapura, Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid (27), di titik yang sama. Kepala Kantor Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, mengungkapkan momen memilukan saat menemukan keduanya. Kedua korban ditemukan dalam posisi saling berpelukan di bawah himpitan batu besar, sekitar 13 meter arah utara dari bibir kawah. Kondisi jenazah yang tidak utuh akibat panasnya material vulkanik menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya erupsi pagi itu.

Polisi Usut Dugaan Kelalaian Penyelenggara

Meskipun operasi SAR telah resmi ditutup seiring ditemukannya seluruh korban, babak baru dalam kasus ini dimulai di meja hijau. Polres Halmahera Utara kini tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan kelalaian. Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menegaskan bahwa pendakian tersebut jelas melanggar aturan yang berlaku.

Baca Juga Panduan Lengkap Jadwal Takbiran Idul Adha 2026: Jenis, Waktu Pelaksanaan, dan Bacaan Sesuai Sunnah
Panduan Lengkap Jadwal Takbiran Idul Adha 2026: Jenis, Waktu Pelaksanaan, dan Bacaan Sesuai Sunnah

“Karena statusnya Level II atau Waspada, pendakian sudah dilarang. Jika tetap dilakukan, tentu ada unsur kelalaian di sana,” tegas Erlichson. Pihak kepolisian telah mengamankan dan memeriksa enam orang yang berstatus sebagai pemandu (guide) dan porter. Mereka diduga menjadi pihak yang memfasilitasi rombongan tersebut untuk mendaki secara diam-diam melalui jalur yang tidak terpantau petugas.

Larangan yang Terabaikan: Surat Keputusan Dinas Pariwisata

Ironisnya, larangan pendakian ke Gunung Dukono sebenarnya sudah ditegaskan sejak 17 April 2026 melalui surat keputusan bernomor 556/061 yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata Halmahera Utara. Surat tersebut secara eksplisit melarang operator, pengelola, maupun penyedia jasa untuk memberikan izin pendakian kepada siapa pun tanpa terkecuali.

Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyayangkan sikap para pegiat wisata yang tetap memaksakan aktivitas di kawasan rawan bencana. Radius 4 kilometer dari puncak kawah seharusnya menjadi zona merah yang suci dari aktivitas manusia. Pelanggaran ini bukan hanya membahayakan nyawa pendaki, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan tim penyelamat yang harus bekerja di bawah ancaman maut.

Baca Juga Sinopsis Film Midway: Kisah Epik Strategi Intelijen dan Keberanian Pilot AS di Perang Pasifik
Sinopsis Film Midway: Kisah Epik Strategi Intelijen dan Keberanian Pilot AS di Perang Pasifik

Pelajaran Berharga bagi Dunia Pariwisata

Tragedi Gunung Dukono ini menjadi alarm keras bagi industri pariwisata minat khusus di Indonesia. Keinginan untuk meraih keuntungan dari jasa pemanduan seringkali menutup mata akan faktor keselamatan. Di sisi lain, lemahnya pengawasan di jalur-jalur “tikus” menuju puncak gunung menjadi celah bagi pendaki ilegal untuk masuk.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara kini berkomitmen untuk memperketat pengawasan dan memberikan sanksi tegas bagi siapa pun yang melanggar aturan penutupan kawasan wisata pendakian. Masyarakat dan wisatawan diingatkan bahwa alam memiliki hukumnya sendiri, dan mengabaikan peringatan otoritas berwenang adalah resep instan menuju bencana.

Kesimpulan dan Penutupan Operasi

Seluruh jenazah korban kini telah dievakuasi ke RSUD Tobelo untuk menjalani proses autopsi sebelum diserahkan kepada pihak keluarga. Operasi SAR yang melibatkan puluhan personel dari berbagai unsur ini berakhir dengan duka mendalam. Bagi para penyintas, luka fisik mungkin akan sembuh, namun trauma terjebak di tengah amukan gunung api akan membekas selamanya.

Kini, publik menunggu hasil akhir dari penyelidikan kepolisian. Apakah para pemandu dan porter tersebut akan ditetapkan sebagai tersangka? Satu yang pasti, nyawa yang telah hilang tidak akan bisa kembali, dan tragedi ini harus menjadi titik balik bagi perbaikan manajemen pendakian gunung di Indonesia agar tidak ada lagi nyawa yang dikorbankan demi sebuah ambisi menaklukkan puncak.

Baca Juga Arogansi Parkir di Makassar Berakhir Lesu: Jukir Herman Tertunduk Minta Maaf Usai Patok Tarif ‘Getok’ Rp 20 Ribu
Arogansi Parkir di Makassar Berakhir Lesu: Jukir Herman Tertunduk Minta Maaf Usai Patok Tarif ‘Getok’ Rp 20 Ribu
Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *