Tragedi Loker Palsu di Makassar: Mahasiswi Asal Nunukan Disekap dan Diperkosa di Rumah Sewaan

Hisan Halibin | KabarHarian
17 May 2026, 12:07 WIB
Tragedi Loker Palsu di Makassar: Mahasiswi Asal Nunukan Disekap dan Diperkosa di Rumah Sewaan

KabarHarian — Jagat maya kembali digemparkan oleh sebuah peristiwa memilukan yang menimpa seorang mahasiswi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Di tengah perjuangan menuntut ilmu di tanah rantau, seorang mahasiswi berinisial MA (21) justru terjerembab ke dalam perangkap keji yang dipasang oleh seorang predator melalui modus lowongan kerja palsu. Tragedi yang menimpa mahasiswi asal Nunukan, Kalimantan Utara ini, menjadi alarm keras bagi masyarakat mengenai betapa berbahayanya ancaman yang bersembunyi di balik layar media sosial.

Modus Keji Berkedok Lowongan Kerja ‘Baby Sitter’

Kisah kelam ini bermula dari kebutuhan mendesak MA akan biaya pendidikan. Sebagai seorang mahasiswi yang menempuh studi di Makassar, beban biaya kuliah atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) seringkali menjadi momok yang berat. Di tengah tekanan ekonomi tersebut, MA menemukan sebuah unggahan di media sosial yang menawarkan pekerjaan sebagai pengasuh anak atau baby sitter dengan iming-iming gaji sebesar Rp 3 juta per bulan.

Angka tersebut tentu tampak sangat menggiurkan bagi seorang mahasiswa yang sedang membutuhkan biaya tambahan. Tanpa menaruh curiga, korban kemudian menjalin komunikasi dengan pelaku yang diketahui bernama Feri Bin Dg Rumpa (33). Feri dengan lihainya meyakinkan korban bahwa lowongan tersebut nyata dan mendesak. Namun, di balik janji-janji manis tersebut, Feri sebenarnya sedang merajut jaring-jaring kejahatan yang sangat terencana.

Baca Juga Skandal ‘Getok’ Tarif Parkir di Makassar: Saat Jukir Nekat Tagih 20 Ribu dengan Dalih Durasi Lama
Skandal ‘Getok’ Tarif Parkir di Makassar: Saat Jukir Nekat Tagih 20 Ribu dengan Dalih Durasi Lama

Tiga Hari dalam Cengkeraman Predator: Intimidasi dengan Pisau Cutter

Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, dalam keterangannya kepada awak media mengungkapkan bahwa pelaku telah menyiapkan skenario matang untuk menjerat korbannya. Feri tidak menyewa rumah kontrakan dalam jangka waktu lama, melainkan menyewa sebuah rumah secara harian dengan tarif Rp 300 ribu per hari di kawasan Jalan Metro Tanjung Bunga, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate.

“Pelaku sengaja menyewa rumah harian tersebut sebagai tempat untuk menjebak korbannya. Ini menunjukkan adanya perencanaan yang sangat dingin dalam melancarkan aksinya,” ujar Kombes Arya Perdana. Saat MA tiba di lokasi, pelaku tidak langsung menunjukkan niat jahatnya. Ia sempat meminta korban untuk menunggu beberapa hari dengan alasan persiapan kerja belum rampung. Selama masa tunggu tersebut, korban bahkan sempat diminta bekerja layaknya pembantu rumah tangga selama dua hari.

Puncak horor terjadi pada hari ketiga, tepatnya sejak Jumat (8/5) hingga Minggu (10/5). Di bawah ancaman sebuah pisau cutter yang ditempelkan di bagian tubuhnya, MA tidak berdaya. Pelaku kemudian melakukan tindakan biadab dengan melakban mata dan mulut korban, serta mengikat tangannya agar tidak bisa melakukan perlawanan atau berteriak meminta pertolongan. Dalam kondisi tersekap dan terintimidasi itulah, MA berkali-kali menjadi korban kekerasan seksual oleh pelaku.

Baca Juga Perbaikan Pipa Bocor di Jalan Perintis Kemerdekaan: PDAM Makassar Imbau Warga Siapkan Cadangan Air Bersih
Perbaikan Pipa Bocor di Jalan Perintis Kemerdekaan: PDAM Makassar Imbau Warga Siapkan Cadangan Air Bersih

Jejak Pelarian Berakhir di Surabaya: Penangkapan Feri Bin Dg Rumpa

Setelah melakukan aksi kejinya, pelaku berusaha menghilangkan jejak dan melarikan diri ke luar Pulau Sulawesi. Feri diduga menyadari bahwa perbuatannya akan segera terendus oleh pihak berwajib. Namun, langkah pelariannya tidak berjalan mulus. Berkat koordinasi yang cepat antar aparat kepolisian, pelarian Feri berakhir di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5).

Pihak kepolisian berhasil melacak keberadaan pelaku yang mencoba bersembunyi di kerumunan penumpang kapal. Penangkapan ini menjadi titik terang bagi proses hukum yang sedang berjalan. Hingga saat ini, penyidik masih terus mendalami motif pelaku lebih dalam. Meskipun belum ditemukan indikasi kuat adanya sindikat perdagangan manusia (human trafficking), kepolisian tetap mewaspadai segala kemungkinan yang ada.

Perjuangan Mahasiswi Rantau dan Tekanan Ekonomi

Identitas MA sebagai mahasiswi asal Nunukan, Kalimantan Utara, memberikan gambaran tentang kerentanan mahasiswa rantau. Jauh dari keluarga dan kerabat membuat mereka seringkali harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan di kota besar. Seorang warga setempat berinisial IK mengonfirmasi bahwa korban memang dikenal sebagai pribadi yang sedang berjuang keras demi pendidikannya.

Baca Juga Jeritan 1.700 PPPK Paruh Waktu Maluku Tengah: Lima Bulan Mengabdi Tanpa Upah, Bagaimana Nasib Mereka?
Jeritan 1.700 PPPK Paruh Waktu Maluku Tengah: Lima Bulan Mengabdi Tanpa Upah, Bagaimana Nasib Mereka?

“Dia itu mahasiswa yang rajin, aslinya dari KTP itu dari perbatasan Nunukan. Dia tertarik ambil pekerjaan itu karena memang butuh uang untuk membayar biaya kuliahnya. Sangat menyedihkan melihat niat baik untuk mandiri malah berakhir seperti ini,” tutur IK dengan nada prihatin. Kasus ini mencerminkan fenomena di mana tekanan biaya pendidikan yang tinggi membuat mahasiswa menjadi target empuk bagi pelaku kriminal yang memanfaatkan keputusasaan ekonomi.

Kesaksian Warga dan Detik-detik Penyelamatan yang Mengharu Biru

Penyelamatan MA tidak lepas dari peran aktif dan kecurigaan warga serta pemilik rumah sewaan tersebut. Pada hari Minggu, saat masa sewa rumah berakhir, pemilik rumah datang untuk memeriksa propertinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok perempuan yang tampak ketakutan dari balik jendela rumah dengan kondisi yang memprihatinkan.

Warga yang berkumpul segera berinisiatif untuk menyelamatkan korban sebelum pihak kepolisian tiba di lokasi. Saat dievakuasi, MA ditemukan dalam kondisi menangis histeris dengan tangan yang masih terikat bekas lakban. Trauma mendalam terpancar jelas dari wajahnya. Warga yang menyaksikan proses evakuasi tersebut mengaku tak kuasa menahan air mata melihat penderitaan yang dialami oleh gadis muda tersebut.

Baca Juga Etika ASN Dipertanyakan, 3 Oknum Pemprov Sulbar Kena Tegur Usai Live TikTok dan Nyinyir ke Netizen
Etika ASN Dipertanyakan, 3 Oknum Pemprov Sulbar Kena Tegur Usai Live TikTok dan Nyinyir ke Netizen

Waspada Predator Digital di Tengah Himpitan Ekonomi

Kasus yang ditangani Polrestabes Makassar ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya para pencari kerja. Kombes Arya Perdana mengimbau agar masyarakat lebih selektif dan berhati-hati dalam menanggapi lowongan pekerjaan yang beredar di media sosial, terutama jika tawaran gaji yang diberikan terasa tidak masuk akal dengan beban kerja yang ditawarkan.

Beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan antara lain:

  • Selalu melakukan pengecekan latar belakang perusahaan atau individu yang menawarkan pekerjaan.
  • Hindari melakukan pertemuan di tempat yang bersifat privat atau tertutup untuk pertama kali.
  • Informasikan kepada keluarga atau teman dekat mengenai lokasi dan dengan siapa kita akan bertemu.
  • Jangan mudah tergiur dengan iming-iming gaji besar tanpa kontrak kerja yang jelas dan legal.

KabarHarian berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Kekerasan terhadap perempuan dan penyekapan adalah kejahatan luar biasa yang tidak boleh mendapatkan tempat di tengah masyarakat kita.

Baca Juga Jadwal Siaran Langsung PSM Makassar vs Bhayangkara FC: Misi Krusial Juku Eja Menjauh dari Jurang Degradasi
Jadwal Siaran Langsung PSM Makassar vs Bhayangkara FC: Misi Krusial Juku Eja Menjauh dari Jurang Degradasi
Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *