Komitmen Parenting Al Ghazali dan Alyssa Daguise: Rawat Buah Hati Tanpa Babysitter Demi Bonding Maksimal
KabarHarian — Kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan sering kali menjadi katalisator perubahan besar bagi setiap pasangan. Hal inilah yang tengah dirasakan oleh pasangan selebriti Al Ghazali dan Alyssa Daguise. Pasca dikaruniai putri pertama mereka yang diberi nama Soleil Zephora Ghazali pada Minggu, 19 Mei 2026 lalu, kehidupan putra sulung Ahmad Dhani ini berubah drastis. Alih-alih memilih kemudahan dengan menyewa jasa pengasuh profesional, pasangan ini justru mantap memutuskan untuk mengurus sang buah hati dengan tangan mereka sendiri.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Bagi Al Ghazali, melihat Alyssa bertransformasi menjadi seorang ibu adalah sebuah proses alamiah yang sudah ia prediksi jauh sebelum janji suci pernikahan mereka ucapkan. Al mengungkapkan bahwa insting dan aura keibuan Alyssa telah memancar kuat sejak masa pacaran, memberikan keyakinan penuh baginya bahwa sang istri akan menjadi sosok orang tua yang luar biasa bagi anak-anak mereka kelak.
Aura Keibuan yang Terpancar Sejak Dini
Banyak pria mungkin merasa gugup melihat pasangan mereka menghadapi fase baru sebagai ibu, namun tidak demikian dengan Al Ghazali. Dalam sebuah kesempatan berbincang dengan awak media, Al dengan bangga menceritakan bagaimana Alyssa telah mempersiapkan dirinya secara mental dan emosional bahkan sebelum kehamilan itu terjadi. Menurutnya, menjadi seorang ibu adalah impian terbesar Alyssa sejak lama.
“Kalau Alyssa mah aku melihat aura keibuannya dari sebelum nikah sih, sudah merasa dia memang jiwa ibunya kuat,” tutur Al Ghazali dengan nada penuh kekaguman. Baginya, persiapan Alyssa bukan sekadar tentang membeli perlengkapan bayi atau membaca buku parenting, melainkan tentang kesiapan hati. Impian Alyssa untuk memiliki buah hati menjadikan setiap proses, mulai dari masa kehamilan yang penuh tantangan hingga proses persalinan yang menegangkan, dilalui dengan penuh ketenangan.
Kepercayaan diri Al terhadap kemampuan istrinya bukan tanpa dasar. Ia melihat bagaimana Alyssa sangat telaten dalam mempersiapkan segala sesuatu. “Dia memang bermimpi banget jadi seorang ibu, jadi ya… aku sangat percaya sama dia lah. Apa yang dia jalani, atau yang dia lakukan saat lahiran, apa pun bakal lancar karena dia sudah bersiap sepenuhnya,” tambah Al. Kesiapan ini pula yang akhirnya melahirkan keputusan berani untuk mengasuh Soleil tanpa bantuan babysitter tetap.
Filosofi ‘Bonding’ Tanpa Campur Tangan Babysitter
Di tengah tren kehidupan artis yang serba praktis dengan bantuan asisten rumah tangga dan pengasuh anak, pilihan Al dan Alyssa untuk mandiri tentu mencuri perhatian. Al menegaskan bahwa Alyssa memiliki keinginan kuat untuk membangun ikatan batin atau bonding yang tak terputus dengan Soleil Zephora Ghazali di masa-masa awal pertumbuhannya. Periode emas atau golden age sang anak dianggap sebagai momen krusial yang tidak ingin mereka lewatkan sedikit pun.
“Babysitter… nggak, Alyssa nggak mau pakai babysitter,” tegas Al Ghazali saat ditanya mengenai manajemen pengasuhan di rumahnya. Menurut Al, istrinya ingin merasakan setiap tetes keringat dan tawa dalam merawat anak secara langsung. Sentuhan langsung seorang ibu, mulai dari memandikan, mengganti popok, hingga menidurkan, dipercaya akan menciptakan koneksi emosional yang jauh lebih kuat dibandingkan jika tugas-tugas tersebut didelegasikan kepada orang lain.
Meski demikian, Al menjelaskan bahwa mereka tidak benar-benar menutup diri dari bantuan. Namun, bantuan tersebut bersifat suportif dan bukan sebagai pengasuh utama. Alyssa lebih memilih bantuan dari keluarga terdekat, seperti ibundanya, yang kebetulan turut mendampingi. Jika pun ada asisten, perannya hanya sebatas membantu hal-hal teknis di sekitar, bukan mengurus kebutuhan inti sang bayi.
Dilema Ayah Baru: Antara Pekerjaan dan Kerinduan
Menjadi ayah baru tentu membawa gejolak emosi tersendiri bagi Al Ghazali. Di satu sisi, ia ingin terus berada di samping Soleil dan Alyssa, namun di sisi lain, tanggung jawab pekerjaan sebagai figur publik tetap harus ia jalankan. Al mengaku tidak mengambil cuti panjang dan tetap menjalankan aktivitas profesionalnya seperti biasa, meskipun kini dengan berat hati jika harus meninggalkan rumah.
“Mmm… nggak sih, kalau aku tetap kerja. Ini minggu depan sudah ada pekerjaan luar kota. Jadi aku lihat kayak aduh… sudah harus keluar kota lagi nih,” ujarnya sambil menghela napas, menggambarkan kerinduan yang sudah mulai tumbuh bahkan sebelum ia berangkat. Transisi menjadi seorang ayah membuat Al kini memiliki prioritas baru, di mana setiap waktu yang dihabiskan di luar rumah terasa jauh lebih lama karena teringat sang buah hati yang menanti di rumah.
Dilema ini merupakan hal yang wajar dirasakan oleh para ayah baru di seluruh dunia. Namun, bagi Al, hal ini justru menjadi motivasi tambahan untuk bekerja lebih giat demi masa depan keluarganya. Ia menyadari bahwa perannya bukan hanya sebagai pelindung emosional, tetapi juga sebagai penyokong utama bagi stabilitas keluarga kecilnya tersebut.
Rasa Tak Percaya Menjadi Orang Tua
Salah satu momen paling manusiawi dari pengakuan Al Ghazali adalah rasa tidak percayanya bahwa kini ia telah menyandang status sebagai seorang ayah. Terkadang, ia masih sering tertegun melihat sosok mungil Soleil yang hadir di tengah-tengah mereka. Perasaan campur aduk antara bahagia, bangga, dan sedikit keheranan menyelimuti hari-harinya.
“Aku nyangka cuma… kadang nggak nyangka,” katanya sambil tertawa kecil. Ada semacam keajaiban yang dirasakan Al ketika menyadari bahwa kini ada sosok manusia baru yang bergantung sepenuhnya padanya dan Alyssa. Kehadiran Soleil dianggapnya sebagai sebuah kehidupan baru yang memberikan warna berbeda pada eksistensinya sebagai manusia.
“Nggak nyangka saja kayak kita punya satu yang baru dan hidup, susah dijelaskan dengan kata-kata,” tutur kakak dari El Rumi dan Dul Jaelani tersebut. Ungkapan ini menunjukkan sisi lembut Al yang mungkin jarang terlihat di depan kamera. Ia kini bukan lagi sekadar musisi atau aktor muda, melainkan seorang kepala keluarga yang tengah belajar menavigasi kompleksitas dunia parenting.
Membangun Warisan Parenting dari Keluarga Besar
Sebagai bagian dari keluarga besar Ahmad Dhani dan Maia Estianty, gaya pengasuhan Al Ghazali tentu tidak lepas dari pengaruh orang tuanya. Meskipun tumbuh dalam dinamika keluarga yang sempat menjadi sorotan publik, Al tampaknya ingin mengambil nilai-nilai terbaik dari kedua orang tuanya untuk diterapkan kepada Soleil. Komitmennya untuk terlibat langsung dalam pengasuhan mencerminkan keinginan untuk memberikan perhatian yang utuh, sebuah hal yang sangat dihargai dalam tumbuh kembang anak.
Keputusan Al dan Alyssa untuk mengurus anak sendiri juga mengirimkan pesan positif kepada generasi muda lainnya. Bahwa sesibuk apa pun karier seseorang, kehadiran orang tua secara fisik dan emosional dalam kehidupan anak adalah investasi terbaik yang tidak bisa digantikan oleh materi atau jasa asisten mana pun. Kemandirian Alyssa dalam merawat Soleil, didampingi oleh dukungan moral dari Al, menjadi potret keluarga modern yang harmonis dan penuh dedikasi.
Kini, publik menantikan perkembangan Soleil Zephora Ghazali yang diprediksi akan tumbuh menjadi sosok yang luar biasa di bawah asuhan langsung kedua orang tuanya. Dengan fondasi kasih sayang yang kuat dan komitmen hands-on parenting, Al Ghazali dan Alyssa Daguise siap menghadapi setiap tantangan yang ada dalam perjalanan panjang mereka sebagai orang tua.