Taman Rinjani Selong Gelap Gulita: Ancaman Keamanan dan Jeritan Pedagang di Jantung Lombok Timur
KabarHarian — Suasana malam di jantung Kota Selong, Lombok Timur, yang biasanya riuh dengan gelak tawa warga dan aktivitas ekonomi kreatif, kini berubah menjadi mencekam. Taman Rinjani Selong, salah satu ikon ruang publik kebanggaan masyarakat Bumi Gora, dilaporkan mengalami kegelapan total akibat padamnya fasilitas lampu penerangan jalan umum (PJU) dan lampu taman. Kondisi ini tidak hanya memicu kekhawatiran akan tindak kriminalitas, tetapi juga memukul sektor ekonomi mikro yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Suramnya Wajah Ikon Kota Selong
Pemandangan kontras terlihat jelas saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Jika biasanya cahaya lampu warna-warni menghiasi sudut-sudut Taman Rinjani, kini kegelapan mendominasi hampir seluruh area strategis tersebut. Pohon-pohon besar yang rimbun, yang biasanya menjadi peneduh yang nyaman, kini justru menciptakan bayangan-bayangan gelap yang menambah kesan angker bagi siapa saja yang melintas.
Kondisi ini dilaporkan telah berlangsung selama lebih dari sepekan terakhir. Minimnya perhatian terhadap perawatan infrastruktur dasar di ruang publik ini menjadi sorotan tajam. Masyarakat yang biasanya memanfaatkan taman ini untuk melepas penat setelah bekerja, kini harus berpikir dua kali sebelum menginjakkan kaki di sana saat malam tiba.
Keluh Kesah Pedagang: Omzet Merosot Tajam
Dampak dari gelapnya Taman Rinjani dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM yang menjajakan kuliner dan jasa mainan anak di lokasi tersebut. Indah (27), salah seorang pedagang yang setiap hari menggantungkan nasibnya di taman ini, mengungkapkan kegundahannya. Baginya, cahaya lampu bukan sekadar penerangan, melainkan magnet yang mendatangkan pembeli.
“Sudah lebih dari seminggu kondisinya seperti ini. Kalau malam benar-benar gelap gulita karena lampu-lampunya mati total. Pengunjung pun sekarang jadi sepi sekali. Orang-orang takut mau masuk ke area taman kalau kondisinya begini,” keluh Indah saat diwawancarai tim KabarHarian pada Jumat (8/5/2026).
Ia menambahkan bahwa penurunan jumlah pengunjung ini berbanding lurus dengan merosotnya penghasilan harian mereka. Tanpa adanya kerumunan pengunjung, barang dagangan seringkali tidak laku, yang berujung pada kerugian bagi para pedagang kecil yang modalnya sangat terbatas. Harapan mereka sederhana: taman kembali terang benderang agar denyut nadi ekonomi di kawasan tersebut bisa kembali normal.
Kekhawatiran Pengunjung: Keamanan Menjadi Taruhan
Bagi warga Selong dan sekitarnya, Taman Rinjani bukan sekadar lahan terbuka hijau, melainkan ruang interaksi sosial. Namun, fungsi tersebut kini terhambat. Novi Safitri, seorang pengunjung setia taman kota ini, mengaku merasa tidak nyaman dan was-was saat berada di area taman dalam kondisi minim cahaya.
“Kami sebenarnya sering nongkrong di sini kalau malam hari bersama teman-teman. Tapi karena lampu-lampu sudah tidak menyala lagi, kami jadi jarang ke sini. Rasa takut itu ada, apalagi kalau kondisinya gelap sekali, kita tidak tahu siapa saja yang ada di sekitar kita atau potensi bahaya apa yang mengintai,” ujar Novi dengan nada khawatir.
Ketakutan Novi sangatlah beralasan. Ruang publik yang gelap seringkali menjadi lokasi empuk bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan asusila, transaksi barang terlarang, hingga aksi pembegalan atau pencurian. Baginya, kenyamanan warga saat mengakses fasilitas publik harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Sentilan untuk Pemkab: Antara Retribusi dan Fasilitas
Kritik tajam pun dialamatkan kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Timur terkait manajemen pengelolaan fasilitas umum. Novi dan warga lainnya menyoroti adanya ketimpangan antara penarikan retribusi dengan penyediaan layanan publik yang memadai. Ia merasa bahwa aspek pemeliharaan seringkali terabaikan, padahal kontribusi dari masyarakat terus berjalan.
“Harapan kami tentu supaya kondisi penerangan ini segera diperhatikan. Pemerintah jangan hanya rajin mengambil retribusi parkir atau pungutan lainnya saja, tetapi fasilitas dasar seperti lampu taman diabaikan. Hak kami sebagai warga adalah mendapatkan rasa aman dan nyaman di ruang publik yang kami biayai juga melalui pajak,” tegasnya.
Persoalan ini mencuatkan kembali diskusi mengenai pentingnya alokasi anggaran pemeliharaan rutin yang responsif. Masyarakat berharap pemerintah tidak menunggu adanya insiden buruk terlebih dahulu sebelum melakukan perbaikan terhadap fasilitas vital seperti penerangan jalan dan taman.
Respons DLHK Lombok Timur: Janji Perbaikan Kilat
Menanggapi keresahan yang meluas di tengah masyarakat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Lombok Timur, Pathurrahman, memberikan klarifikasinya. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai padamnya lampu di Taman Rinjani Selong dan mengklaim telah mengambil langkah-langkah teknis.
“Kami sudah mengetahui kondisi tersebut dan saya sudah memerintahkan tim teknis untuk mengecek langsung ke lapangan. Penyebab matinya lampu sedang diidentifikasi, apakah karena faktor teknis kelistrikan atau ada kerusakan komponen lainnya,” kata Pathurrahman saat dikonfirmasi.
Ia juga memberikan jaminan bahwa perbaikan akan dilakukan secepat mungkin agar aktivitas di taman dapat kembali pulih. “Petugas sudah turun ke lapangan untuk melakukan upaya perbaikan. Kami upayakan secepatnya lampu-lampu tersebut menyala kembali sehingga masyarakat tidak perlu khawatir lagi saat berkunjung ke Taman Rinjani,” tambahnya.
Pentingnya Ruang Publik yang Terang dan Ramah
Kasus gelapnya Taman Rinjani Selong ini menjadi pengingat betapa krusialnya peran penerangan dalam tata kota. Secara psikologis, lingkungan yang terang memberikan kesan keteraturan dan pengawasan yang baik. Selain itu, dalam konsep Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED), pencahayaan yang memadai merupakan salah satu pilar utama dalam menekan angka kriminalitas di perkotaan.
KabarHarian akan terus memantau perkembangan perbaikan fasilitas ini. Masyarakat berharap janji pemerintah daerah bukan sekadar angin surga, melainkan tindakan nyata yang segera dirasakan manfaatnya. Ruang publik yang hidup dan bercahaya bukan hanya soal estetika, melainkan simbol peradaban kota yang menghargai keamanan dan kesejahteraan warganya.
Ke depannya, diharapkan ada sistem pemantauan berkala agar jika terjadi kerusakan serupa, penanganannya tidak perlu menunggu hingga sepekan lebih. Kerjasama antara dinas terkait, keamanan lingkungan, dan kepedulian pengunjung sangat dibutuhkan untuk menjaga Taman Rinjani tetap menjadi destinasi yang ramah, aman, dan membanggakan bagi seluruh masyarakat Lombok Timur.