Senyum Ferona dari Alor: Mengakhiri Era Belajar di Atas Tanah Lewat Transformasi Pendidikan NTT
KabarHarian — Di bawah langit Alor yang terik, mimpi-mimpi siswa SMA Negeri 3 Kalabahi dulunya sering kali terancam oleh rintik hujan yang menembus atap seng berlubang. Bagi Ferona Keren Balol, seorang siswi yang tumbuh di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT), ruang kelas bukan sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan saksi bisu perjuangan melawan keadaan yang tidak memihak.
Kini, narasi pilu itu telah berganti. Saat menghadiri acara peresmian revitalisasi sekolah di Kupang pada Selasa, 5 Mei 2026, wajah Ferona memancarkan rona bahagia yang sulit disembunyikan. Ia hadir bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai representasi dari ribuan anak bangsa di pelosok negeri yang akhirnya mendapatkan haknya atas fasilitas pendidikan yang layak dan bermartabat.
Kenangan Pahit di Balik Bangunan Darurat
Mengingat masa lalu sekolahnya seperti membuka kembali lembaran memoar tentang ketabahan. Ferona menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya harus berjibaku dengan kondisi gedung yang lebih mirip barak darurat daripada sebuah institusi pendidikan. Bayangkan, di era digital seperti sekarang, mereka masih harus menginjakkan kaki di atas lantai tanah yang berdebu saat kemarau dan becek saat hujan melanda.
“Dulu sekolah kami benar-benar memprihatinkan. Kami belajar di bangunan darurat. Sengnya banyak yang berlubang, dindingnya hanya dari triplek tipis yang sudah rapuh. Yang paling menyedihkan adalah lantainya yang masih tanah. Dalam kondisi seperti itulah kami harus tetap fokus belajar,” kenang Ferona dengan nada suara yang bergetar namun penuh rasa syukur.
Kondisi ini, menurut Ferona, sering kali meruntuhkan motivasi belajar. Namun, semua itu kini tinggal sejarah. Program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) telah menyulap gedung yang nyaris roboh itu menjadi ruang-ruang penuh harapan yang aman, nyaman, dan kokoh.
Undangan Khusus dari Sang Menteri
Kehadiran Ferona di Kupang pun memiliki cerita tersendiri. Ia tidak sekadar datang sebagai perwakilan biasa, melainkan diundang langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Perjalanan dari Alor menuju ibu kota provinsi menggunakan pesawat menjadi pengalaman emosional bagi Ferona dan Kepala Sekolahnya.
“Kami datang jauh-jauh dari Alor karena undangan langsung dari Bapak Menteri. Beliau ingin mendengar langsung bagaimana perubahan itu terjadi di tempat kami,” tuturnya. Dalam kesempatan itu, Ferona membacakan sepucuk surat yang ia tulis dengan penuh perasaan. Surat itu berisi ungkapan terima kasih yang tulus kepada Presiden dan jajaran kementerian atas perhatian nyata bagi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Sembilan Tahun Menanti Keajaiban
Lety Andiani Waang, Kepala SMA Negeri 3 Kalabahi, memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai betapa krusialnya bantuan ini. Bagi institusi yang dipimpinnya, bantuan ini adalah jawaban dari doa yang dipanjatkan selama hampir satu dekade. Selama sembilan tahun, sekolah ini seolah terlupakan dan tidak pernah mendapatkan sentuhan renovasi atau bantuan infrastruktur dari pemerintah.
“Sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menunggu. Selama itu kami tidak mendapatkan sentuhan bantuan sama sekali. Revitalisasi ini adalah jawaban terbaik bagi kami,” ungkap Lety. Akibat fasilitas yang tidak memadai, SMA Negeri 3 Kalabahi sempat kehilangan banyak potensi siswa. Banyak murid yang memilih pindah ke sekolah lain bukan karena kualitas pengajarnya rendah, melainkan karena mereka tidak tahan belajar di lingkungan yang tidak manusiawi.
Anggaran sebesar Rp 1,74 miliar yang dikucurkan pemerintah dialokasikan secara efektif untuk membangun tiga gedung utama. Meliputi dua ruang kelas baru yang sudah dilengkapi dengan meja dan kursi standar nasional, satu laboratorium komputer yang sangat dibutuhkan untuk literasi digital, serta fasilitas sanitasi dan toilet yang layak bagi siswa.
Pemberdayaan Masyarakat Lewat Sistem Swakelola
Salah satu poin unik dari pembangunan di SMA Negeri 3 Kalabahi adalah penerapan sistem swakelola murni. Alih-alih menyerahkan pengerjaan sepenuhnya kepada kontraktor besar dari luar daerah, pihak sekolah justru melibatkan masyarakat sekitar dan jemaat gereja lokal dalam proses pembangunan.
Lety menjelaskan bahwa pendekatan ini memberikan dampak ganda. Selain bangunan fisik yang lebih berkualitas karena dikerjakan dengan penuh tanggung jawab oleh warga setempat, perputaran ekonomi di lingkungan sekitar sekolah pun ikut meningkat. Masyarakat merasa memiliki sekolah tersebut, sehingga pengerjaannya dilakukan dengan standar yang sangat baik.
“Hasilnya luar biasa. Anak-anak sangat bahagia melihat gedung baru mereka. Perekonomian warga di sekitar sekolah juga ikut berputar karena mereka dilibatkan langsung dalam pembangunan,” tambah Lety.
Skala Besar Revitalisasi Pendidikan di NTT
Apa yang dirasakan oleh SMA Negeri 3 Kalabahi merupakan bagian dari langkah besar pemerintah dalam membenahi kualitas pendidikan di NTT. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam sambutannya di SMA Negeri 9 Kupang, memaparkan data yang cukup masif mengenai program ini.
Pada tahun anggaran 2025 saja, pemerintah telah mengalokasikan Rp 589 miliar untuk merevitalisasi 576 satuan pendidikan di NTT. Cakupannya sangat luas, mulai dari 43 PAUD, 234 SD, 174 SMP, hingga sekolah-sekolah berkebutuhan khusus (SLB) dan sekolah kejuruan (SMK). Komitmen ini tidak berhenti di situ, karena pada tahun 2026, NTT kembali mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 225 miliar untuk melanjutkan perbaikan di 474 sekolah lainnya.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyambut hangat inisiatif pusat ini. Menurutnya, momentum peresmian ini bukan sekadar seremoni simbolis, melainkan ajang silaturahmi pendidikan untuk mendengar testimoni langsung dari mereka yang berada di garda terdepan pembelajaran.
Menatap Masa Depan Pendidikan di Bumi Flobamora
Pembangunan infrastruktur memang menjadi fondasi utama, namun tantangan pendidikan di NTT tentu tidak berhenti pada gedung semata. Dengan tersedianya fasilitas laboratorium komputer di sekolah-sekolah pelosok seperti di Alor, diharapkan kesenjangan digital dapat diminimalisir. Siswa di perbatasan kini memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi global seperti halnya siswa di kota-kota besar.
Revitalisasi ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pedagogis mereka. Ketika kenyamanan belajar sudah terjamin, fokus utama kini beralih pada peningkatan kompetensi dan karakter siswa. Kisah Ferona dan SMA Negeri 3 Kalabahi adalah pengingat bahwa di balik tembok-tembok sekolah yang kokoh, ada masa depan bangsa yang sedang diperjuangkan.
Negara hadir bukan hanya lewat angka-angka anggaran dalam dokumen PKS (Perjanjian Kerja Sama), tetapi lewat senyum syukur seorang siswi dari Alor yang kini tak lagi perlu khawatir bajunya kotor terkena debu lantai tanah atau bukunya basah karena atap yang bocor.