Perebutan Tahta Beringin Sulsel: Di Balik Manuver Andi Ina dan IAS Temui Bahlil Lahadalia
KabarHarian — Panggung politik Sulawesi Selatan kembali bergejolak seiring dengan semakin dekatnya perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar. Di tengah atmosfer yang kian memanas, dua figur kelas berat secara mengejutkan melakukan langkah taktis dengan menemui Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Kehadiran Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, dan mantan Wali Kota Makassar dua periode, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), di hadapan sang nakhoda pusat menjadi sinyal kuat betapa dinamisnya bursa calon Ketua DPD I Golkar Sulsel saat ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Sekretaris Golkar Sulsel, Arief Rosyid, mengonfirmasi pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan biasa. Menurutnya, langkah Andi Ina dan IAS merupakan bagian dari dinamika sehat dalam internal partai berlambang pohon beringin tersebut. Kendati kedua tokoh ini sudah mengambil langkah lebih awal, Arief menegaskan bahwa pintu pencalonan masih terbuka lebar bagi figur-figur potensial lainnya yang ingin mengabdi dan mengembalikan kejayaan Golkar di tanah Celebes.
Langkah Strategis di Bawah Restu Pusat
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut ternyata tidak terjadi secara spontan. Arief membeberkan bahwa kehadiran Andi Ina dan IAS difasilitasi langsung oleh Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhiddin M. Said. Langkah Muhiddin ini dinilai sebagai upaya transparan untuk memperkenalkan kader-kader terbaik Sulsel kepada pimpinan pusat sebelum genderang Musda resmi ditabuh.
“Sejauh ini, memang baru dua figur tersebut, Ibu Andi Ina dan Pak IAS, yang telah bertemu langsung dengan Ketum Bahlil. Namun, jika ke depannya ada figur lain yang ingin difasilitasi oleh Kak Muhiddin, tentu akan kami sambut baik. Semangatnya adalah kita tidak ingin terburu-buru; orientasi utama kita adalah menemukan nakhoda terbaik bagi Golkar Sulsel,” ungkap Arief dalam wawancara mendalam baru-baru ini.
Sikap hati-hati yang ditunjukkan oleh jajaran pengurus ini bukan tanpa alasan. Golkar Sulsel sedang berada dalam fase krusial di mana mereka membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga mampu merangkul semua faksi yang ada. Arief menambahkan bahwa Ketum Bahlil memiliki visi besar untuk menuntaskan konsolidasi di seluruh Indonesia. Dari 38 provinsi, saat ini menyisakan Sulsel dan Sumatera Selatan yang belum merampungkan agenda Musda mereka.
Beban Sejarah dan Kutukan Kepemimpinan di Sulsel
Berbicara mengenai Golkar di Sulawesi Selatan sama halnya dengan mengupas sejarah panjang politik yang penuh intrik dan dinamika tinggi. Arief Rosyid secara jujur mengakui bahwa sejarah kepemimpinan Golkar di provinsi ini sering kali dihantui oleh ketidakstabilan. Jika menilik ke belakang, hampir seluruh ketua terpilih pasca-era Amin Syam gagal menuntaskan masa jabatannya hingga akhir karena berbagai gejolak internal.
“Sulsel ini unik dan tidak pernah mudah. Setelah era Pak Amin Syam, kita melihat rentetan kepemimpinan yang kerap berakhir di tengah jalan atau harus diisi oleh Pelaksana Tugas. Mulai dari era Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang harus digantikan Plt Nurdin Halid, hingga masa Taufan Pawe yang juga harus berakhir dengan penunjukan Plt Muhiddin. Ini adalah catatan sejarah yang ingin kita putus mata rantainya,” papar Arief dengan nada reflektif.
Oleh karena itu, Muhiddin M. Said selaku pemegang tongkat estafet sementara, sangat berambisi agar Musda kali ini menghasilkan pemimpin definitif yang kuat dan mampu bertahan hingga akhir periode. Targetnya jelas: proses transisi harus berjalan mulus (smooth) tanpa meninggalkan luka atau perpecahan yang berpotensi melahirkan Plt di kemudian hari.
Sulsel Sebagai ‘Jangkar’ Politik Indonesia Timur
Pentingnya posisi Ketua Golkar Sulsel juga ditekankan oleh Ketua DPD II Golkar Pinrang, Usman Marham. Baginya, Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah administratif biasa, melainkan lumbung suara tradisional dan pintu gerbang utama bagi konstelasi politik di kawasan Indonesia Timur. Siapa pun yang memimpin Sulsel akan memegang peranan kunci dalam menentukan arah kebijakan partai di level nasional.
“Sulawesi Selatan adalah jangkar utama. Jika Golkar ingin kembali mendominasi secara nasional pada Pemilu 2029, maka fondasi di Sulsel harus diperkokoh sekarang juga. Kita butuh ketua yang bukan hanya bekerja di atas kertas, tapi mampu turun ke lapangan dan mengonsolidasikan seluruh kekuatan yang sempat tercerai-berai,” tegas Usman.
Usman juga menyoroti hasil Pileg 2024 yang menjadi peringatan keras bagi kader beringin. Kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel setelah hanya mampu mengamankan 14 kursi adalah tamparan yang menunjukkan adanya pelemahan dalam mesin partai. Menurutnya, kegagalan tersebut adalah akumulasi dari kurang optimalnya orkestrasi internal, sebuah kesalahan yang tidak boleh terulang di masa depan.
Menuju Musyawarah Mufakat: Menghindari Perpecahan
Di sisi lain, Plt Ketua Golkar Sulsel Muhiddin M. Said terus menyuarakan pentingnya persatuan. Ia menegaskan bahwa Musda sedapat mungkin harus dilaksanakan di Makassar, bukan di Jakarta, sebagai simbol kedaulatan kader daerah. Fokus utamanya saat ini adalah memastikan seluruh kubu yang ada bisa menyatu sebelum pemilihan dimulai.
“Target kita adalah Golkar kembali eksis dan disegani. Saya ingin semua kader merasa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menyukseskan Musda ini. Kita sedang mengupayakan jalan tengah melalui asas musyawarah mufakat. Harapannya, kita bisa mencapai aklamasi setelah semua pihak bersepakat pada satu visi besar,” tutur Muhiddin.
Dinamika yang terjadi saat ini, mulai dari manuver sowan ke Ketum hingga konsolidasi di daerah-daerah seperti Soppeng, menunjukkan bahwa Golkar Sulsel sedang berbenah diri. Meskipun bursa calon masih sangat cair, satu hal yang pasti: siapapun yang nantinya terpilih akan memikul beban berat untuk mengembalikan marwah partai dan memenangkan hati rakyat Sulawesi Selatan menuju pesta demokrasi 2029.
Kesimpulan: Menanti Akhir Drama Beringin
Dengan sisa waktu yang ada sebelum Musda digelar, mata publik kini tertuju pada manuver-manuver selanjutnya dari figur lain seperti Appi (Munafri Arifuddin) atau tokoh senior lainnya yang mungkin akan menyusul langkah Andi Ina dan IAS. Akankah tradisi konflik kepemimpinan di Sulsel berakhir, ataukah Musda kali ini justru akan melahirkan babak baru dalam drama politik beringin? Satu yang pasti, nakhoda baru nanti haruslah sosok yang mampu merangkul, bekerja keras, dan memiliki loyalitas tanpa batas untuk kejayaan Partai Golkar.