Misteri di Balik Gundukan Tanah Darmasaba: Mengungkap Tabir Kematian DAD dan Jejak Keributan Berdarah
KabarHarian — Keheningan yang menyelimuti Banjar Cabe, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Badung, mendadak pecah oleh sebuah penemuan yang mengerikan. Aroma tak sedap yang sempat dikira bangkai binatang ternyata menuntun warga pada sebuah gundukan tanah di lahan kosong yang menyembunyikan jasad seorang pria dalam kondisi membusuk. Kini, perlahan namun pasti, teka-teki mengenai identitas pria malang tersebut mulai tersingkap, membawa serta rangkaian cerita kelam tentang pertikaian di tengah malam dan jejak-jejak yang coba dihilangkan.
Identitas yang Terkuak Lewat Guratan Tinta
Pihak kepolisian dan warga sekitar kini meyakini bahwa jasad yang ditemukan pada 12 Mei 2026 tersebut adalah DAD (25), seorang pemuda asal Sumbawa yang sehari-harinya dikenal bekerja sebagai tukang cuci motor. Keyakinan ini bukanlah tanpa alasan. Seiring dengan meluasnya kabar penemuan mayat tersebut, ciri-ciri fisik korban menjadi kunci utama dalam proses identifikasi awal.
Sebuah tato mahkota dengan tulisan ‘C2SP3R’ yang terukir di tubuh korban menjadi saksi bisu yang tak terbantahkan. Mantan pengelola tempat kerja DAD dan beberapa rekan yang mengenalnya memberikan konfirmasi bahwa rajah tersebut identik dengan milik pemuda tersebut. Guratan tinta di kulit itu seolah menjadi pesan terakhir dari DAD untuk memberi tahu dunia siapa dirinya di tengah kondisi jasad yang sudah sulit dikenali secara visual akibat proses pembusukan alami.
Kronologi Malam Berdarah di Banjar Cabe
Berdasarkan penelusuran mendalam tim di lapangan, kematian DAD diduga kuat berkaitan erat dengan sebuah insiden kekerasan yang pecah beberapa hari sebelum jasadnya ditemukan. Pada tanggal 7 Mei 2026 dini hari, suasana di tempat pencucian motor tempat DAD dulu bekerja dikabarkan sempat memanas. Suara gaduh dan keributan memecah kesunyian malam di wilayah Banjar Cabe.
Warga sekitar yang sempat terbangun mendengar gonggongan anjing yang bersahutan, seolah memberi peringatan akan adanya sesuatu yang tidak beres. Sumber lokal menyebutkan bahwa keributan tersebut melibatkan beberapa orang yang disinyalir merupakan rekan kerja atau orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan lokasi pencucian motor tersebut. Pertikaian yang terjadi antara pukul 02.00 hingga 03.00 WITA itu diduga menjadi titik awal tragedi yang merenggut nyawa DAD.
Jejak Kerusakan dan Semen yang Mencurigakan
Kecurigaan semakin menguat ketika pemilik usaha pencucian motor mendapati tempat usahanya dalam kondisi berantakan keesokan harinya. Sejumlah kursi plastik ditemukan hancur dan sekat-sekat triplek mengalami kerusakan serius, menandakan telah terjadi benturan fisik yang hebat di lokasi tersebut. Namun, ada satu detail yang jauh lebih mencurigakan dan terkesan janggal bagi sang pemilik.
Ia menemukan adanya bekas perbaikan lantai yang dilakukan secara terburu-buru menggunakan semen. Perbaikan ini seolah-olah dilakukan untuk menutupi sesuatu yang terjadi di atas permukaan lantai tersebut. Spekulasi pun berkembang bahwa jejak darah atau bukti kekerasan lainnya telah sengaja disamarkan dengan lapisan semen baru. Sayangnya, upaya pengungkapan lewat teknologi terkendala karena sistem CCTV di lokasi tersebut dalam keadaan mati akibat kendala teknis jaringan internet, sehingga detik-detik mencekam perkelahian itu tidak terekam secara visual.
Hilangnya Rekan Kerja dan Teka-Teki Pelaku
Drama di Darmasaba ini semakin kompleks dengan menghilangnya dua orang rekan kerja korban, yang diidentifikasi dengan inisial D dan A. Keduanya diketahui berada di lokasi saat keributan pecah pada 7 Mei tersebut. Pola kepergian mereka pun mengundang tanya bagi tim penyidik.
D dilaporkan mengundurkan diri secara mendadak hanya melalui pesan singkat (SMS) beberapa jam setelah keributan terjadi. Sementara itu, A secara misterius menghilang dari peredaran tepat setelah jasad DAD ditemukan terkubur tak jauh dari lokasi kerja mereka. Menghilangnya kedua saksi kunci ini menjadi fokus utama pihak kepolisian dalam mengejar dalang di balik kematian tragis sang pemuda asal Sumbawa.
Proses Penyelidikan Polres Badung
Hingga berita ini diturunkan, garis polisi masih melingkar erat di area pencucian motor dan lokasi penemuan mayat. Tim Inafis dan Reskrim Polres Badung terus bekerja keras mengumpulkan setiap butir bukti yang tertinggal, mulai dari sampel semen hingga keterangan dari para saksi yang mendengar suara keributan di malam nahas itu.
Aparat kepolisian masih sangat berhati-hati dalam memberikan pernyataan resmi terkait motif di balik dugaan pembunuhan ini. PS Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, menegaskan bahwa publik diharapkan bersabar dan tidak terjebak dalam spekulasi liar yang belum terverifikasi. Seluruh data fisik korban telah dicocokkan dengan data orang hilang, dan kini tim kepolisian tengah memburu keberadaan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden maut tersebut.
Harapan Keluarga dan Keadilan bagi Korban
DAD dikenal sebagai pekerja yang tekun meski sempat berpindah-pindah tempat kerja. Kepergiannya yang mendadak dan dalam kondisi yang tragis meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya di Bali maupun keluarga di tanah kelahirannya, Sumbawa. Komunitas warga di Darmasaba berharap kasus ini segera terungkap agar rasa aman di lingkungan mereka kembali pulih.
Keberadaan tato mahkota dan tulisan ‘C2SP3R’ mungkin memang menjadi identitas yang melekat pada DAD semasa hidup, namun kini tato tersebut menjadi simbol perjuangan untuk mencari keadilan. Di bawah pengawasan ketat Polres Badung, diharapkan tabir misteri yang menyelimuti Banjar Cabe segera tersingkap sepenuhnya, membawa pelaku ke hadapan hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.