Menantang Batas di Kintamani: Teknologi GPS Kawal 200 Pelari Ultra Marathon Taklukkan Tiga Gunung Bali

Andre Pratama | KabarHarian
15 May 2026, 20:40 WIB
Menantang Batas di Kintamani: Teknologi GPS Kawal 200 Pelari Ultra Marathon Taklukkan Tiga Gunung Bali

KabarHarian — Langit Kintamani yang biasanya tenang di sore hari, mendadak bergetar oleh energi kompetisi yang luar biasa. Sebanyak 200 pelari elit dari berbagai belahan dunia berkumpul di Batur Natural Hot Spring, Bangli, bukan untuk sekadar menikmati pemandangan, melainkan untuk memulai perjalanan epik sejauh 100,6 kilometer dalam ajang BCA Bali Trail Run (BTR) Ultra kategori 100K. Ini bukan sekadar lari lintas alam biasa; ini adalah ujian ketahanan manusia yang melibatkan pendakian tiga gunung ikonik Bali sekaligus dalam satu rute yang brutal namun memukau.

Pelepasan peserta yang berlangsung tepat pukul 18.00 WITA tersebut menandai dimulainya perjuangan panjang melewati malam dan medan yang ekstrem. Namun, di balik semangat yang berkobar, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama penyelenggara. Mengingat medan yang dilalui mencakup kawasan hutan dan lereng gunung yang menantang, setiap langkah pelari kini berada dalam pengawasan teknologi mutakhir.

Mata di Langit: Pengamanan Berlapis dengan GPS Tracker

Salah satu aspek paling krusial dalam BTR Ultra tahun ini adalah penggunaan teknologi The Global Positioning System (GPS) tracker yang wajib disematkan pada setiap peserta. Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko tersesat atau kecelakaan di jalur pendakian yang sering kali minim cahaya dan sinyal seluler konvensional.

Baca Juga Aksi Heroik Petugas Damkar Badung: Kisah Dramatis Penyelamatan Sapi dari Kedalaman Sumur Tua di Abiansemal
Aksi Heroik Petugas Damkar Badung: Kisah Dramatis Penyelamatan Sapi dari Kedalaman Sumur Tua di Abiansemal

Petugas Basarnas Bali, Eka Darma, menjelaskan bahwa perangkat pelacak ini bekerja dengan menangkap sinyal langsung dari satelit. Dengan teknologi ini, posisi presisi para pelari dapat dipantau secara real-time oleh tim pemantau di pusat kendali. Tak hanya itu, transparansi keamanan ini juga dibuka untuk publik. Keluarga, rekan, maupun penggemar olahraga lari dapat mengikuti pergerakan peserta secara langsung melalui situs followmychallenge.com.

“Untuk keamanan ekstra, setiap pelari dibekali dengan GPS tracker. Jadi posisi di mana mereka berlari, sudah diketahui secara pasti,” ungkap Eka Darma saat ditemui di sela-sela kesibukannya di Kintamani. Penggunaan alat ini memberikan ketenangan bagi penyelenggara, mengingat cuaca di pegunungan Bali seringkali tidak terprediksi dan dapat berubah dalam hitungan menit.

Rute Brutal: Menaklukkan Tiga Puncak Ikonik Bali

Jalur yang disiapkan untuk kategori 100K ini benar-benar menguji batas kemampuan fisik. Setelah dilepas dari titik start, para peserta langsung dihadapkan pada tanjakan tajam menuju puncak Gunung Batur. Setelah menuruni lereng vulkanik Batur, tantangan tidak berhenti di situ. Jalur berikutnya membawa mereka menuju kemegahan Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali, sebelum akhirnya menyisir jalur teknis di Gunung Abang.

Baca Juga Mewujudkan Lansia Tangguh: Langkah Nyata TP PKK Gianyar Melalui Pemberdayaan dan Layanan Kesehatan Gratis
Mewujudkan Lansia Tangguh: Langkah Nyata TP PKK Gianyar Melalui Pemberdayaan dan Layanan Kesehatan Gratis

Setelah berhasil melewati “trio raksasa” tersebut, para pelari harus kembali menempuh sisa jarak menuju garis finis yang berlokasi di tempat mereka memulai, yakni Batur Natural Hot Spring. Total jarak 100,6 kilometer dengan elevasi yang signifikan menjadikan ajang ini sebagai salah satu trail run paling bergengsi di Asia Tenggara.

Baru setengah jam lari dimulai, alam seolah ingin menunjukkan taringnya. Hujan deras mengguyur kawasan Kintamani, menambah tingkat kesulitan bagi para pelari. Tanah yang licin dan suhu yang menurun drastis menjadi musuh tambahan yang harus dihadapi selain rasa lelah yang menghampiri di tengah kegelapan malam.

Kualifikasi Ketat: Bukan Untuk Pelari Amatir

Mengingat risiko dan beratnya rute yang dihadapi, panitia menerapkan standar kualifikasi yang sangat ketat. Eka Darma menegaskan bahwa kategori 100K hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah memiliki rekam jejak mumpuni di dunia lari ultra marathon. Setiap pendaftar wajib melampirkan bukti pengalaman mengikuti kompetisi serupa, minimal di kategori 80 kilometer.

“Semua peserta kategori 100K bukan amatiran. Mereka yang mendaftar wajib punya pengalaman ikut kompetisi serupa. Jadi, hanya yang sudah berpengalaman dan memiliki mental baja yang ikut serta dalam tantangan ini,” tegasnya. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap orang di lintasan memahami cara bertahan hidup di alam liar dan mengetahui batasan fisik mereka sendiri.

Baca Juga Prahara Internal PPP NTB: Duel Panas Taj Yasin Maimoen dan Muzhir Berebut Legitimasi Kursi Kepemimpinan
Prahara Internal PPP NTB: Duel Panas Taj Yasin Maimoen dan Muzhir Berebut Legitimasi Kursi Kepemimpinan

Sinergi Pengamanan: Ratusan Personel Siaga Penuh

Keamanan ajang berskala internasional ini melibatkan kolaborasi masif antara aparat kepolisian, Basarnas, dan tim medis. Kapolsek Kintamani, Kompol Made Dwi Puja, menyatakan bahwa sebanyak 158 personel dari Polsek Kintamani dan Polres Bangli dikerahkan untuk menjaga titik-titik krusial sepanjang jalur pendakian.

Strategi pengamanan dibagi menjadi tiga regu yang bekerja secara bergantian dalam rotasi 12 jam. Setiap regu tidak hanya terdiri dari polisi, tetapi juga didampingi oleh personel tim SAR yang memiliki keahlian evakuasi di medan sulit. Basarnas sendiri menempatkan personel siaga di titik start, finish, serta pos-pos pemantauan di Gunung Abang dan Gunung Agung.

Sinergi ini bertujuan untuk memberikan respons cepat jika terjadi keadaan darurat, seperti pelari yang mengalami cedera otot parah, hipotermia, atau mengalami disorientasi arah akibat kelelahan luar biasa.

Kedisiplinan Mandatory Gear dan Sistem Cut-Off

Selain faktor eksternal, keselamatan pelari juga bergantung pada kesiapan pribadi mereka. Putu Rio, perwakilan Komite Penyelenggara BCA BTR Ultra, menekankan pentingnya mandatory gear atau perlengkapan wajib. Perlengkapan ini mencakup lampu kepala (headlamp) dengan baterai cadangan, peluit, jaket tahan air, kotak P3K standar, hingga persediaan air dan nutrisi yang cukup.

Baca Juga Diplomasi Hangat di Beijing: Donald Trump Sanjung Xi Jinping Sebagai Pemimpin Hebat Demi Stabilitas Global
Diplomasi Hangat di Beijing: Donald Trump Sanjung Xi Jinping Sebagai Pemimpin Hebat Demi Stabilitas Global

Sepanjang rute 100,6 km tersebut, penyelenggara telah menyiapkan 11 check point (pos pemeriksaan). Di setiap pos, petugas akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi fisik pelari dan kelengkapan alat mereka. Sistem cut-off time juga diberlakukan dengan sangat disiplin.

“Setiap peserta akan dicek di check point. Apakah bawa gear lengkap, apakah kondisi fisiknya masih memungkinkan untuk lanjut berlari. Kalau head lamp mati atau peserta terlihat terlalu lama beristirahat dan menunjukkan gejala kelelahan ekstrem, langsung kami cut (hentikan). Kami tidak ingin mengambil risiko terhadap nyawa peserta,” pungkas Rio.

Dengan pengawasan teknologi GPS yang canggih, pengamanan ketat dari aparat, serta kedisiplinan peserta, BCA Bali Trail Run Ultra 2026 diharapkan tidak hanya menjadi panggung prestasi atletik, tetapi juga standar baru dalam penyelenggaraan ajang lari lintas alam yang aman dan profesional di Indonesia.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *