Konflik Berdarah di Adonara Timur Pecah Kembali: Enam Rumah Hangus dan Enam Warga Terkapar Akibat Peluru Rakitan
KabarHarian — Langit malam di wilayah Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali diwarnai oleh suasana mencekam. Kabut asap dari rumah-rumah yang terbakar membubung tinggi, sementara bunyi letusan senjata rakitan memecah keheningan Sabtu malam (9/5/2026). Perselisihan lama yang belum tuntas kembali memicu bentrokan fisik antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak, meninggalkan luka mendalam dan kerugian materil yang signifikan.
Malam Mencekam di Jantung Adonara
Bentrokan yang terjadi di penghujung pekan tersebut bukanlah kejadian pertama, melainkan akumulasi dari ketegangan yang terus memanas dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan laporan lapangan yang dihimpun tim redaksi, konflik mulai memanas sejak sore hari hingga mencapai puncaknya pada malam hari. Warga dari kedua belah pihak terlibat aksi saling serang menggunakan senjata tajam dan senjata api rakitan yang sudah dipersiapkan.
Kejadian tragis ini menyebabkan setidaknya enam unit rumah warga hangus rata dengan tanah. Tidak hanya kerugian bangunan, tragedi ini juga memakan korban jiwa dari sisi kemanusiaan. Enam orang warga dilaporkan mengalami luka serius akibat terjangan peluru rakitan. Luka-luka yang dialami korban tersebar di berbagai bagian tubuh, mulai dari dada, paha, hingga bokong, yang memaksa mereka harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan darurat.
Daftar Kerusakan dan Kondisi Para Korban
Kepala Desa Waiburak, Muhamad Saleh, memberikan keterangan terkait kondisi di wilayahnya yang terdampak cukup parah. Menurut Saleh, proses pembakaran rumah terjadi dalam dua gelombang. Serangan pertama pada sore hari menghanguskan empat rumah, kemudian disusul pada pagi harinya di mana dua rumah kembali dibakar oleh massa yang beringas.
“Total ada enam rumah yang hangus terbakar. Kemarin sore ada empat rumah, dan pagi ini bertambah dua rumah lagi,” ujar Saleh dengan nada prihatin saat memberikan konfirmasi pada Minggu pagi (10/5/2026). Di sisi lain, Kepala Desa Narasaosina, Yandris Toland, menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan rumah di wilayah administratifnya. Namun, konsentrasi massa tetap dijaga ketat guna menghindari serangan balasan yang lebih luas.
Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Pratama Adonara, Danny Gunawan, menjelaskan rincian kondisi para korban yang masuk ke instalasi gawat darurat. Dari enam warga yang terluka, mayoritas adalah pemuda dengan rentang usia produktif, yakni 18 hingga 24 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik banyak melibatkan generasi muda dari kedua desa.
“Satu orang korban mengalami luka tembak di area dada dan sudah kami rujuk ke RSUD Larantuka sejak Sabtu malam. Kemudian pada Minggu pagi, lima orang lagi datang ke rumah sakit dengan kondisi luka tembak di bagian bokong dan paha. Tiga di antaranya terpaksa kami rujuk juga ke RSUD Larantuka karena memerlukan tindakan operasi pengangkatan proyektil yang lebih kompleks,” jelas Danny.
Akar Masalah: Sengketa Tanah Adat yang Tak Berujung
Penelusuran lebih mendalam mengungkap bahwa akar dari kekerasan yang berulang ini adalah sengketa kepemilikan tanah adat. Masalah agraria di wilayah NTT, khususnya di Adonara, memang dikenal sangat sensitif dan kompleks karena melibatkan batas-batas wilayah tradisional yang diwariskan secara turun-temurun tanpa dokumen formal yang kuat di mata hukum negara.
Ironisnya, bentrokan ini terjadi di tengah upaya mediasi yang terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur. Sebelumnya, pada 26 Februari 2026, Penjabat Bupati Flores Timur telah memanggil kedua belah pihak ke kantor bupati untuk mencari jalan tengah. Namun, kesepakatan di atas kertas tampaknya belum mampu memadamkan api permusuhan di tingkat akar rumput.
Catatan kelam konflik ini juga mencatat insiden serupa pada Maret 2026 yang melukai lima warga dan merusak enam rumah. Kemudian disusul lagi insiden pada bulan April. Rentetan kejadian yang terus berulang dalam waktu singkat ini menandakan adanya dendam yang belum tuntas serta provokasi yang terus berjalan di tengah masyarakat.
Respons Aparat Keamanan dan Langkah Antisipatif
Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Polres Flores Timur bersama unsur TNI terus mempertebal pengamanan di titik-titik perbatasan kedua desa. Patroli skala besar dilakukan untuk memastikan tidak ada konsentrasi massa tambahan yang bisa memicu bentrokan susulan.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, mengimbau masyarakat untuk tetap berkepala dingin. Beliau menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di atas segalanya. “Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Dusun Bele, Desa Waiburak, maupun Desa Narasaosina, untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya, terutama yang beredar di media sosial,” tegasnya.
Pihak kepolisian saat ini juga mengedepankan pendekatan persuasif dengan merangkul tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dari kedua belah pihak. Harapannya, para pemangku kepentingan lokal ini dapat meredam emosi warga dan mengarahkan penyelesaian sengketa melalui jalur hukum atau musyawarah adat yang lebih bermartabat.
Harapan untuk Kedamaian Permanen
Tragedi di Adonara ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa penyelesaian konflik lahan membutuhkan pendekatan yang lebih dari sekadar mediasi formal. Diperlukan kehadiran negara secara intensif untuk melakukan pemetaan wilayah adat yang jelas dan diakui secara kolektif, sehingga tidak ada lagi celah klaim yang bisa memicu pertumpahan darah.
Kini, warga Adonara hanya bisa berharap agar aroma asap dari rumah yang terbakar segera hilang, berganti dengan aroma kedamaian. Tidak ada tanah yang sebanding dengan harga satu nyawa manusia, dan tidak ada kemenangan dalam sebuah perang antarsaudara. Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi kejadian mulai berangsur kondusif meski aparat keamanan tetap berjaga dalam status siaga satu.