Kisah Unik Kober: Mengubah Amarah Jadi Rupiah Lewat Jualan Cilok ‘Barbar’ di Jalur Wisata Sembalun

Andre Pratama | KabarHarian
17 May 2026, 04:07 WIB
Kisah Unik Kober: Mengubah Amarah Jadi Rupiah Lewat Jualan Cilok 'Barbar' di Jalur Wisata Sembalun

KabarHarian — Kawasan wisata Sembalun di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama ini dikenal dengan panorama pegunungan yang menyejukkan mata dan udara dingin yang menusuk tulang. Namun, belakangan ini, ada pemandangan berbeda yang menarik perhatian para pelancong saat melintasi jalur menuju Bukit Gedong. Bukan sekadar deretan pedagang kaki lima biasa, melainkan aksi teatrikal dari seorang pemuda yang kini menjadi buah bibir di jagat maya.

Pria itu akrab disapa Kober. Di balik kepulan asap dandang ciloknya, ia menyimpan sebuah strategi pemasaran yang tergolong ekstrem namun sangat efektif. Jika biasanya pedagang bersikap ramah tamah dengan nada suara lembut, Kober justru memilih jalan sebaliknya. Ia mengadopsi gaya “barbar”—sebuah persona yang ia bangun dengan cara mengomel, berteriak, bahkan mengejar kendaraan wisatawan yang melintas hanya demi menawarkan dagangannya.

Fenomena Viral di Jalur Menuju Bukit Gedong

Kehadiran Kober di pinggir jalan raya dekat pintu masuk Bukit Gedong telah mengubah atmosfer perdagangan di sana. Pria kelahiran 1999 yang memiliki nama asli Saril Rasyidi ini, berasal dari Desa Sapit, Kecamatan Suela. Setiap hari, dari pagi hingga petang, ia berdiri di posisinya dengan penuh energi, siap menyambut siapa saja yang melintas dengan gaya khasnya yang meledak-ledak.

Baca Juga Jadwal Lengkap SIM Keliling Bali 15 Mei 2026: Layanan Cepat di Badung, Tabanan, dan Klungkung
Jadwal Lengkap SIM Keliling Bali 15 Mei 2026: Layanan Cepat di Badung, Tabanan, dan Klungkung

Gaya jualan unik ini tidak muncul begitu saja. Kober menceritakan bahwa perjalanannya menjadi sensasi internet dimulai sekitar dua tahun lalu secara tidak sengaja. Saat itu, seorang kawan merekam aksinya yang sedang mengomel dengan logat lokal yang kental saat melayani pembeli yang hanya membeli cilok seharga Rp 5.000. Siapa sangka, video sederhana tersebut meledak di media sosial dan mendapat respon luar biasa dari netizen.

“Teman saya dulu yang pertama kali merekam. Waktu itu dia cuma beli sedikit, lalu saya omeli sambil bercanda, ternyata videonya viral. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak sekalian saja dijadikan konten? Akhirnya saya mulai rutin membuat video dengan gaya marah-marah yang dibuat-buat, dan ternyata banyak orang yang malah suka,” ujar Saril alias Kober saat berbincang hangat dengan tim redaksi.

Seni Membaca Karakter Pembeli: Tidak Sekadar Marah

Meskipun dikenal dengan gaya barbarnya, Kober menegaskan bahwa dirinya bukan benar-benar marah tanpa alasan. Ada kecerdasan emosional yang ia terapkan di balik setiap aksi “ngamuknya”. Ia mengaku sangat selektif dalam memilih target audiensnya agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada ketersinggungan.

Baca Juga Bongkar Sindikat Prostitusi Online di X dan Telegram, Polda Bali Amankan Tiga Wanita: Begini Modus Operandinya
Bongkar Sindikat Prostitusi Online di X dan Telegram, Polda Bali Amankan Tiga Wanita: Begini Modus Operandinya

“Saya harus milih-milih juga. Kalau ada wisatawan yang lewat dan wajahnya kelihatan lagi capek atau sedang tidak mood, saya cukup menyapa dengan senyum sopan saja. Tapi kalau dari kejauhan mereka sudah senyum atau memanggil nama saya, di situlah saya keluarkan ‘jurus’ barbar saya. Saya kejar mereka, saya omeli, kadang sampai saya paksa beli cilok saya,” katanya sambil tertawa lepas.

Menariknya, cara promosi yang terkesan agresif ini justru menjadi hiburan tersendiri bagi para wisatawan. Alih-alih merasa terintimidasi, para pembeli justru tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kocak Kober. Banyak dari mereka yang sengaja berhenti bukan hanya karena lapar, tapi karena ingin merasakan sensasi diomeli oleh sang penjual cilok viral tersebut.

Dari Kuli Bangunan di Bali hingga Nama ‘Kober’

Banyak yang bertanya-tanya mengapa ia memilih nama panggung “Kober”. Ternyata, ada sejarah personal di balik pemilihan nama tersebut. Sebelum memutuskan pulang ke kampung halaman dan berjualan cilok, Saril pernah merantau ke Bali untuk bekerja sebagai kuli bangunan. Di Pulau Dewata, ia merupakan pelanggan setia Mie Kober, sebuah gerai kuliner populer di sana.

Baca Juga Badung Jadi Magnet Dunia: Kunjungan Wisatawan Tembus 1,5 Juta di Triwulan I 2026 dan Strategi Baru Pariwisata Berkelanjutan
Badung Jadi Magnet Dunia: Kunjungan Wisatawan Tembus 1,5 Juta di Triwulan I 2026 dan Strategi Baru Pariwisata Berkelanjutan

“Dulu setiap habis pulang kerja capek sebagai kuli, saya sering makan Mie Kober. Saya suka namanya, rasanya ikonik. Akhirnya waktu mulai jualan cilok dan bikin akun media sosial, saya pakai nama itu. Sekarang orang-orang lebih kenal saya sebagai Kober daripada nama asli saya,” ungkapnya mengenang masa lalunya di perantauan.

Identitas ini kini melekat kuat. Saat melintas di jalanan Sembalun, tak jarang wisatawan meneriakkan namanya dari dalam mobil atau motor. “Kober, Kober!” seru mereka. Respons ini menjadi bukti bahwa personal branding yang ia bangun telah berhasil menembus pasar digital sekaligus pasar tradisional secara bersamaan.

Dampak Nyata Ekonomi Digital bagi Pedagang Kecil

Keberhasilan Kober bukan hanya soal jumlah pengikut di media sosial yang terus bertambah, tetapi juga berdampak langsung pada kondisi finansial keluarganya. Strategi pemasaran melalui konten kreatif ini terbukti mampu mendongkrak penjualan ciloknya secara signifikan. Kini, penghasilannya tidak hanya bersumber dari setiap butir cilok yang terjual, tetapi juga dari dunia digital.

Baca Juga 5 Inspirasi Khutbah Jumat Menyambut Idul Adha 1447 H: Menelusuri Jejak Ketaatan dan Makna Pengorbanan
5 Inspirasi Khutbah Jumat Menyambut Idul Adha 1447 H: Menelusuri Jejak Ketaatan dan Makna Pengorbanan

Kober mengakui bahwa dirinya kini mulai mendapatkan penghasilan tambahan dari adsense (iklan digital) serta beberapa tawaran endorsement dari produk lokal maupun nasional. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pelaku UMKM di daerah pelosok sekalipun bisa bersaing jika mampu memanfaatkan teknologi dengan cara yang kreatif.

“Alhamdulillah, hasil dari konten sudah mulai terasa buat tambahan kebutuhan rumah tangga. Tapi kalau ditanya mana yang lebih besar, untuk saat ini masih lebih banyak dari hasil jualan cilok harian. Jualan cilok tetap prioritas utama, konten itu bonusnya,” jelas pria yang dikenal energik ini.

Undangan bagi Wisatawan Sembalun

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Sembalun dalam waktu dekat, mampir ke lapak Kober bisa menjadi agenda seru yang tak terlupakan. Ia biasanya mangkal tepat di pinggir jalan raya utama dekat pintu masuk pendakian Bukit Gedong. Operasionalnya dimulai pukul 08.00 WITA hingga menjelang matahari terbenam sekitar pukul 17.00 WITA.

Kehadiran sosok seperti Kober memberikan warna baru bagi industri pariwisata di NTB. Ia membuktikan bahwa di era informasi ini, kreativitas adalah kunci utama. Dengan modal keberanian dan kemampuan menghibur, seorang penjual cilok di pinggir jalan mampu menarik perhatian ribuan pasang mata dan menggerakkan ekonomi lokal dengan cara yang tidak biasa.

Baca Juga Jadwal Salat Denpasar & Sekitarnya Jumat 22 Mei 2026: Panduan Ibadah Lengkap Bagi Umat Muslim di Pulau Dewata
Jadwal Salat Denpasar & Sekitarnya Jumat 22 Mei 2026: Panduan Ibadah Lengkap Bagi Umat Muslim di Pulau Dewata

Jadi, jika nanti Anda melintas dan tiba-tiba dikejar oleh seorang pria membawa kursi sambil berteriak menyuruh Anda membeli cilok, jangan takut. Itu hanyalah sambutan hangat ala Kober, sang maestro pemasaran barbar dari Sembalun.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *