Bencana di Balik Dinding: Drainase Jebol Terjang Pemukiman Warga Dalung, Badung

Andre Pratama | KabarHarian
09 May 2026, 18:07 WIB
Bencana di Balik Dinding: Drainase Jebol Terjang Pemukiman Warga Dalung, Badung

KabarHarian — Sebuah insiden yang mengganggu ketenangan pagi warga di kawasan Kuta Utara terjadi pada Sabtu (9/5/2026). Kesunyian di Jalan Beringin, Banjar Tuka, Desa Dalung, Kabupaten Badung, mendadak berubah menjadi kepanikan ketika saluran drainase utama di kawasan tersebut jebol. Tak hanya merusak fasilitas umum, luapan air got yang hitam dan berbau menyengat itu pun menerjang pemukiman warga, meruntuhkan tembok pagar, hingga merendam area dapur salah satu rumah penduduk setempat.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan pentingnya pemeliharaan infrastruktur di tengah pesatnya pembangunan pemukiman. Arnoldus I Nyoman Adi Suryanata, pemilik rumah yang menjadi korban terdampak paling parah, menceritakan detik-detik mencekam saat air mulai merangsek masuk ke ranah pribadinya. Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat, tepat ketika aktivitas warga baru saja dimulai.

Kronologi Pagi yang Mencekam di Banjar Tuka

Waktu menunjukkan sekitar pukul 08.00 WITA ketika suara gemuruh kecil diikuti dengan dentuman keras mengejutkan Arnoldus. Tanpa peringatan apa pun, tembok pagar rumahnya tiba-tiba ambrol. Dalam hitungan detik, volume air yang besar dari saluran drainase di depan rumahnya meluap dan langsung mengalir deras menuju bagian bawah bangunan rumahnya.

Baca Juga Teror Ular Piton di Jembrana: Setelah Mangsa Ayam Warga, Predator Melata Dievakuasi dengan Perut Membuncit
Teror Ular Piton di Jembrana: Setelah Mangsa Ayam Warga, Predator Melata Dievakuasi dengan Perut Membuncit

“Got itu jebol sekitar jam 8 pagi. Kami sangat kaget karena tiba-tiba saja tembok pagar rumah jebol dan air langsung masuk dengan deras. Tidak ada hujan deras saat itu, namun debit air memang sedang tinggi,” ungkap Arnoldus saat memberikan keterangan kepada tim redaksi KabarHarian. Keadaan semakin sulit karena letak geografis rumah Arnoldus yang berada di lahan miring, membuat posisi bangunan lebih rendah sekitar satu hingga dua meter dari permukaan jalan raya dan saluran drainase.

Air yang meluap tidak hanya menggenangi halaman, tetapi juga merangsek masuk ke area dapur. Mengingat posisi dapur yang berada di bagian bawah karena kontur tanah yang menurun, genangan air pun sempat mengancam perabotan rumah tangga. Dengan peralatan seadanya, Arnoldus dan keluarganya berupaya mengalirkan air menuju sungai kecil yang berada di bagian belakang lahannya agar air tidak terus merendam struktur bangunan utama.

Faktor Geografis dan Struktur Lahan yang Berisiko

Kawasan Dalung, khususnya Banjar Tuka, memang dikenal memiliki kontur tanah yang bervariasi. Banyak rumah warga yang dibangun di atas lahan miring yang mengikuti alur alam. Hal inilah yang dialami oleh Arnoldus. Meski dari kejauhan rumahnya tampak seperti bangunan bertingkat, pada kenyataannya itu adalah strategi pembangunan untuk menyiasati tanah yang menurun.

Baca Juga Banjir Bandang Terjang Desa Manong Manggarai: Delapan Rumah Terendam, Sembilan KK Terpaksa Mengungsi
Banjir Bandang Terjang Desa Manong Manggarai: Delapan Rumah Terendam, Sembilan KK Terpaksa Mengungsi

“Itu memang tembok dapur saya yang jebol. Kalau dilihat dari video atau foto memang dikira saya punya rumah bertingkat, padahal posisi tanahnya yang menurun tajam dari jalan utama,” ujar pria yang juga mengemban amanah sebagai Kelian Dinas Banjar Tuka tersebut. Ia menjelaskan bahwa kerentanan ini sebenarnya sudah ia sadari, namun ia tidak menyangka bahwa kerusakan akan datang dari fasilitas umum yang seharusnya kokoh menopang beban air.

Posisi rumah yang lebih rendah dari drainase menuntut adanya struktur penahan yang sangat kuat. Namun, ketika saluran publik yang dikelola pemerintah mengalami kegagalan fungsi, maka benteng pertahanan pribadi milik warga pun tak akan mampu menahan beban tekanan air yang sedemikian masif.

Analisis Kerusakan: Beton Tipis dan Fondasi yang Tergerus

Berdasarkan pengamatan langsung di lokasi kejadian, Arnoldus menduga kuat bahwa penyebab utama jebolnya drainase tersebut adalah kualitas konstruksi yang sudah mulai usang dan tidak standar. Ia menemukan bahwa lapisan beton pada saluran drainase tersebut tergolong sangat tipis, sehingga mudah sekali mengalami rembesan.

Baca Juga Jadwal Lengkap SIM Keliling Badung dan Tabanan 22 Mei 2026: Syarat, Biaya, dan Lokasi Strategis
Jadwal Lengkap SIM Keliling Badung dan Tabanan 22 Mei 2026: Syarat, Biaya, dan Lokasi Strategis

“Saya sempat cek kondisinya, itu memang ada lapisan beton yang sangat tipis. Air rembes melalui celah-celah tersebut dan perlahan menggerus tanah di bawah fondasi pagar rumah saya. Karena tanah di bawahnya terus tergerus air (erosi bawah tanah), akhirnya fondasi tembok saya ambles dan ikut menarik drainase itu hingga jebol,” jelasnya secara detail. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa saluran drainase tersebut masih aktif mengalirkan air untuk irigasi persawahan di sekitarnya, sehingga meski tidak turun hujan, debit air tetap stabil tinggi.

Pantauan tim KabarHarian di lapangan memperlihatkan kerusakan yang cukup signifikan. Tembok rumah sepanjang kurang lebih lima meter tampak hancur total. Sisa-sisa fondasi terlihat miring dan menggantung secara berbahaya, mengancam keselamatan jika tidak segera ditangani. Risiko longsor susulan pun tetap ada, terutama jika intensitas hujan di wilayah Badung kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Dilema Perbaikan dan Harapan Kepada Pemerintah

Sebagai warga yang taat aturan, Arnoldus merasa berada dalam posisi yang dilematis. Untuk memperbaiki kerusakan tersebut, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit karena memerlukan konstruksi fondasi yang sangat kokoh mengingat curamnya lahan. Di sisi lain, ia menegaskan bahwa sumber utama kerusakan berasal dari fasilitas publik yang merupakan tanggung jawab pemerintah daerah.

Baca Juga Aksi Heroik Suster Marisa: Bertaruh Nyawa Tembus Kobaran Api Demi Selamatkan Bayi di Kupang
Aksi Heroik Suster Marisa: Bertaruh Nyawa Tembus Kobaran Api Demi Selamatkan Bayi di Kupang

“Karena posisinya lebih rendah dari got, harus ada fondasi yang benar-benar paten dan kuat. Namun, untuk perbaikan drainase itu sendiri, tentu tidak mungkin saya yang memperbaiki karena itu adalah fasilitas umum,” tegasnya. Arnoldus telah bergerak cepat dengan melaporkan kejadian ini kepada pihak Pemerintah Desa Dalung dan juga petugas BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Badung.

Besar harapan warga agar Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung segera memberikan atensi khusus. Kekhawatiran utama Arnoldus adalah jika terjadi hujan lebat di malam hari, luapan air bisa lebih destruktif lagi jika drainase tidak segera direkonstruksi secara total. “Saya sangat khawatir jika hujan turun deras. Drainase ini aktif 24 jam dan air sudah pasti mengalir deras ke sini,” pungkasnya dengan nada cemas.

Respon Cepat BPBD dan Janji Dinas PUPR Badung

Menanggapi laporan warga tersebut, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Badung, I Ketut Murdika, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima informasi tersebut dan melakukan koordinasi lintas instansi. Petugas BPBD telah diterjunkan untuk meninjau lokasi guna memastikan tidak ada ancaman keselamatan jiwa secara langsung, serta memetakan tingkat kerusakan.

Baca Juga Mimpi Haji yang Kandas di Pintu Imigrasi: Kisah Jemaah Mataram Terjerat ‘Dosa Masa Lalu’ di Arab Saudi
Mimpi Haji yang Kandas di Pintu Imigrasi: Kisah Jemaah Mataram Terjerat ‘Dosa Masa Lalu’ di Arab Saudi

Murdika menambahkan bahwa pihaknya sudah meminta tim teknis dari Dinas PUPR Badung untuk segera mengecek kondisi drainase tersebut secara mendalam. Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Badung, I Nyoman R Karyasa, secara terpisah menyatakan komitmennya untuk segera menindaklanjuti keluhan warga Banjar Tuka. Pihaknya berjanji akan mengirimkan tim lapangan untuk melakukan evaluasi teknis dan merancang langkah perbaikan permanen agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Insiden di Dalung ini menjadi sinyal penting bagi Pemerintah Kabupaten Badung untuk kembali melakukan audit terhadap kondisi saluran air di pemukiman padat penduduk. Seiring dengan pertumbuhan hunian, beban drainase pun semakin bertambah, sehingga pemeliharaan berkala bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan demi melindungi hak-hak warga atas rasa aman di rumah mereka sendiri.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *