Aksi Begal Makassar Berujung Petaka: Ditinggal Rekan Saat Beraksi, AGS Babak Belur Dihajar Massa di Tamalate
KabarHarian — Kota Makassar kembali diguncang oleh aksi kriminalitas jalanan yang berakhir tragis bagi pelakunya. Seorang pemuda berinisial AGS (21) kini harus mendekam di balik bangsal Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sulawesi Selatan, bukan karena penyakit, melainkan akibat luka-luka serius yang dideritanya. AGS menjadi sasaran kemarahan warga setelah upayanya melakukan aksi pembegalan berujung kegagalan total yang nyaris merenggut nyawanya sendiri.
Insiden mencekam ini terjadi di kawasan Jalan Manunggal 31, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar, pada Selasa malam (28/4). Suasana malam yang awalnya tenang mendadak pecah menjadi hiruk-pikuk ketika suara teriakan minta tolong membelah kesunyian pemukiman warga sekitar pukul 21.55 Wita. Kejadian ini menjadi pengingat keras akan masih maraknya ancaman kejahatan jalanan di ibu kota Sulawesi Selatan tersebut.
Kronologi Percobaan Pembegalan di Jalan Manunggal
Peristiwa ini bermula ketika dua orang remaja, yang diidentifikasi dengan inisial IL (18) dan IK (19), sedang berboncengan motor melintasi Jalan Manunggal 31. Tanpa ada kecurigaan sebelumnya, mereka tiba-tiba dipepet oleh sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang pria tidak dikenal. Salah satu dari pria tersebut adalah AGS, yang saat itu duduk di bangku penumpang.
Tanpa banyak bicara, AGS langsung menunjukkan niat jahatnya. Untuk mengintimidasi korban agar menyerahkan harta bendanya, AGS mencabut sebilah parang panjang dan mengayunkannya ke arah kedua remaja tersebut. Ancaman fisik yang nyata ini sempat membuat suasana menjadi sangat tegang. Namun, alih-alih menyerah pada rasa takut, IL dan IK memilih untuk melakukan perlawanan dengan cara yang paling efektif dalam situasi mendesak: berteriak sekencang-kencangnya.
Teriakan histeris korban yang menggema di lorong-lorong pemukiman ternyata memancing perhatian warga sekitar yang masih terjaga. Dalam hitungan detik, masyarakat yang geram dengan aksi begal di wilayah mereka langsung keluar dari rumah dan mengepung lokasi kejadian. Melihat massa yang mulai berdatangan dengan emosi meluap, nyali rekan AGS langsung ciut.
Pengkhianatan Rekan dan Amukan Massa yang Tak Terbendung
Nasib nahas benar-benar menimpa AGS malam itu. Di saat dirinya masih berupaya menguasai keadaan, rekan kriminalnya yang bertindak sebagai joki motor justru mengambil langkah seribu. Tanpa memedulikan AGS yang masih tertinggal, sang rekan langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan AGS sendirian di tengah kepungan warga yang sudah tersulut emosi.
“Salah satu pelaku tertinggal dan menjadi sasaran kemarahan warga yang berada di lokasi. Sementara satu pelaku lainnya berhasil melarikan diri menggunakan sepeda motor yang mereka gunakan saat beraksi,” ungkap Kasi Humas Polsek Tamalate, Aiptu Haeruddin, dalam keterangan resminya kepada tim KabarHarian.
Warga yang sudah lama resah dengan aksi begal di Makassar seolah mendapatkan pelampiasan. AGS tidak berdaya menghadapi terjangan bogem mentah dari puluhan orang. Beruntung bagi AGS, aparat dari Polsek Tamalate yang sedang melakukan patroli rutin di sekitar wilayah tersebut segera mendapatkan laporan dan menuju lokasi kejadian dengan cepat. Polisi berhasil mengevakuasi pelaku dari kerumunan massa yang nyaris melakukan tindakan main hakim sendiri yang lebih fatal.
Kondisi Pelaku dan Langkah Hukum Selanjutnya
Pasca diamankan dari amukan massa, kondisi AGS cukup memprihatinkan. Ia mengalami sejumlah luka memar, robek, dan bengkak di bagian wajah serta tubuhnya. Pihak kepolisian segera melarikannya ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapatkan perawatan medis intensif sebelum proses hukum dilanjutkan.
Aiptu Haeruddin menegaskan bahwa saat ini AGS masih dalam pemantauan tim medis. Meski demikian, statusnya sudah jelas sebagai tersangka dalam kasus percobaan pencurian dengan kekerasan. Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita sejumlah barang bukti, termasuk senjata tajam jenis parang yang digunakan pelaku untuk mengancam korbannya.
“Kami tidak akan mentolerir aksi premanisme dan begal di wilayah hukum kami. Saat ini, pelaku AGS sedang menjalani perawatan, namun proses penyidikan terus berjalan,” tambah Haeruddin. Kasus ini menambah daftar panjang keberhasilan kolaborasi antara kewaspadaan warga dan respons cepat kepolisian dalam menekan angka kriminalitas di Makassar.
Pengejaran Pelaku Lain yang Melarikan Diri
Meskipun satu pelaku telah berhasil diringkus, tugas kepolisian belum selesai. Rekan AGS yang kabur kini menjadi target utama pengejaran tim buser Polsek Tamalate. Polisi mengklaim telah mengantongi identitas pelaku tersebut berdasarkan keterangan dari AGS dan beberapa saksi mata di lokasi kejadian.
“Identitas satu pelaku lainnya sudah kami ketahui. Kami mengimbau agar pelaku segera menyerahkan diri sebelum kami melakukan tindakan tegas dan terukur. Tim kami sudah disebar untuk melacak keberadaan yang bersangkutan,” tegas Haeruddin dengan nada serius. Kepolisian Makassar berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini hingga ke akarnya guna memberikan rasa aman bagi pengguna jalan di malam hari.
Himbauan Kamtibmas bagi Warga Makassar
Menanggapi kejadian ini, pihak kepolisian kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada, terutama saat berkendara di malam hari atau melewati jalur yang minim penerangan. Kerja sama antara warga dan polisi melalui pelaporan cepat dianggap sebagai kunci utama dalam menggagalkan aksi kriminalitas serupa di masa depan.
Kejadian di Jalan Manunggal 31 ini juga menjadi cerminan betapa tingginya tingkat sensitivitas warga terhadap masalah keamanan. Meskipun polisi berterima kasih atas bantuan warga dalam menangkap pelaku, mereka tetap mengimbau agar masyarakat tidak melakukan tindakan main hakim sendiri yang melanggar hukum. Serahkan sepenuhnya penanganan tersangka kepada pihak berwajib agar proses keadilan dapat berjalan sesuai prosedur hukum yang berlaku di Indonesia.
Kini, AGS hanya bisa menyesali perbuatannya di balik jeruji besi (setelah pulih nanti), sementara rekannya yang sempat ia anggap sebagai kawan setia justru menjadi orang pertama yang membiarkannya celaka. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang mencoba mengusik ketenangan warga Makassar dengan aksi-aksi kriminalitas jalanan.