Geliat Pariwisata Mataram: Tetap Tangguh Meski Harga Tiket Pesawat Meroket di Langit Indonesia
KabarHarian — Fenomena fluktuasi harga tiket pesawat yang terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir rupanya tidak serta-merta melumpuhkan denyut nadi industri perhotelan di Kota Mataram. Meski bayang-bayang kenaikan biaya perjalanan udara menjadi tantangan nyata bagi sektor pariwisata nasional, kota pusat pemerintahan di Nusa Tenggara Barat ini justru menunjukkan anomali yang menggembirakan. Kenaikan harga transportasi udara yang signifikan ternyata belum memberikan dampak destruktif bagi angka keterisian kamar hotel di wilayah tersebut.
Asosiasi Hotel Mataram (AHM) mencatat bahwa tren tingkat hunian kamar atau okupansi masih menunjukkan stabilitas yang cukup kuat. Berdasarkan data terkini, angka keterisian hotel di Mataram cenderung bertahan di kisaran 30 hingga 40 persen pada hari-hari biasa. Menariknya, angka ini akan mengalami lonjakan yang cukup tajam ketika memasuki akhir pekan (weekend), di mana okupansi mampu menyentuh angka 60 persen. Kondisi ini membuktikan bahwa minat masyarakat untuk berkunjung ke Mataram tetap terjaga meskipun beban biaya transportasi udara sedang tidak bersahabat.
Strategi Diversifikasi Transportasi: Kunci Ketahanan Hotel Mataram
Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), I Made Adiyasa, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena ini. Menurutnya, pengaruh kenaikan harga tiket pesawat terhadap ekosistem perhotelan di Mataram masih tergolong minim atau belum signifikan. Faktor utama yang menjadi penyelamat adalah karakteristik wisatawan yang datang ke Mataram tidak hanya mengandalkan jalur udara sebagai satu-satunya akses masuk.
“Dampak dari mahalnya tiket pesawat memang belum terasa secara mendalam di sektor perhotelan kami. Hal ini dikarenakan diversifikasi transportasi yang dimiliki wisatawan. Banyak dari mereka yang memilih menggunakan transportasi darat maupun laut untuk mencapai Mataram, sehingga ketergantungan pada maskapai penerbangan tidak mutlak,” ujar Made Adiyasa saat memberikan keterangan resmi kepada tim redaksi.
Karakteristik tamu yang menginap di hotel-hotel Mataram saat ini didominasi oleh wisatawan domestik dan lokal. Salah satu penyumbang okupansi terbesar berasal dari Pulau Sumbawa. Bagi para pelancong dari pulau tetangga tersebut, transportasi darat dan penyeberangan feri menjadi pilihan yang jauh lebih ekonomis dan efisien dibandingkan harus menggunakan pesawat terbang. Inilah yang membuat hotel-hotel di Mataram tetap mampu bernapas lega di tengah isu inflasi harga tiket pesawat.
Membedah Lonjakan Harga Tiket: Dari Yogyakarta hingga Jakarta
Jika menilik lebih jauh ke platform pemesanan tiket daring, kenaikan harga tiket pesawat memang cukup menguras kantong. Pantauan redaksi menunjukkan pergeseran harga yang cukup signifikan pada beberapa rute populer menuju Lombok. Sebagai contoh, rute Yogyakarta-Lombok yang sebelumnya dibanderol di kisaran Rp1,1 juta, kini telah melambung ke angka Rp1,5 juta bahkan hingga Rp2,1 juta per kursi.
Kondisi serupa juga terjadi pada rute utama dari Ibu Kota. Tiket pesawat Jakarta-Lombok yang biasanya bisa didapatkan dengan harga Rp1 juta, kini telah merangkak naik ke kisaran Rp1,5 juta sampai Rp2 juta. Kenaikan yang mencapai 50 hingga 100 persen ini tentu menjadi bahan pertimbangan bagi wisatawan kelas menengah yang memiliki anggaran terbatas.
Namun, uniknya, saat momentum libur panjang atau long weekend tiba, okupansi hotel di Mataram justru melesat jauh melampaui rata-rata harian. Made Adiyasa mengungkapkan bahwa pada periode tersebut, tingkat hunian bisa mencapai angka 60 persen hingga 80 persen. Hal ini memperkuat teori bahwa segmen pasar hotel di Mataram memiliki loyalitas dan pola pergerakan yang tidak mudah goyah hanya karena variabel harga tiket pesawat semata.
Krisis Avtur Global dan Tekanan Geopolitik
Kenaikan harga tiket pesawat ini bukanlah tanpa alasan yang fundamental. Pemerintah Indonesia melalui kebijakan terbaru telah mengizinkan maskapai nasional untuk menaikkan harga tiket dalam kisaran 9 hingga 13 persen. Langkah ini diambil sebagai respons atas lonjakan harga avtur dunia yang kian tidak terkendali. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam beberapa kesempatan menjelaskan bahwa tekanan geopolitik global menjadi pemicu utama meroketnya harga bahan bakar pesawat.
Indonesia sejatinya masih berada dalam posisi yang kompetitif jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Di Filipina, harga avtur telah menembus angka Rp25.326 per liter, sementara di Thailand jauh lebih tinggi mencapai Rp29.518 per liter. Sebagai perbandingan, harga avtur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tercatat berada di level Rp23.551 per liter. Meski demikian, biaya operasional maskapai tetap tertekan hebat karena komponen bahan bakar menyumbang sekitar 40 persen dari total pengeluaran maskapai.
Tekanan biaya operasional inilah yang kemudian diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan tarif tiket. Meskipun demikian, industri perhotelan di Mataram tetap optimistis karena pangsa pasar mereka yang cukup terdiversifikasi antara pelaku perjalanan bisnis (MICE) dan wisatawan mandiri yang menggunakan moda transportasi non-udara.
Menatap Optimisme di Bulan Juli: Harapan Besar pada Porprov NTB
Memasuki periode semester kedua tahun 2026, Asosiasi Hotel Mataram menyimpan optimisme besar. Meski sejak Januari hingga Mei okupansi cenderung stagnan di angka 40 persen akibat minimnya agenda nasional, bulan Juli diprediksi akan menjadi titik balik (turning point) yang krusial. Dua momentum besar akan terjadi secara bersamaan: libur sekolah dan penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB.
Event olahraga skala provinsi ini diyakini akan menjadi mesin penggerak utama ekonomi daerah. Made Adiyasa memproyeksikan bahwa kehadiran para atlet, ofisial, dan suporter dari berbagai kabupaten/kota akan menciptakan permintaan kamar yang sangat masif. “Kami memperkirakan bulan Juli nanti okupansi akan meroket tajam. Kebutuhan dari KONI saja diperkirakan mencapai 4.000 kamar untuk menampung seluruh peserta selama kurang lebih sepuluh hari kegiatan. Ini adalah angin segar bagi para pelaku usaha city hotel di Mataram,” tambahnya dengan nada optimis.
Persiapan matang terus dilakukan oleh pihak hotel untuk menyambut lonjakan tamu tersebut. Peningkatan kualitas layanan serta penawaran paket-paket menarik menjadi strategi utama untuk memastikan para tamu merasa nyaman dan mendapatkan nilai lebih dari biaya yang mereka keluarkan. Perbandingan dengan tahun 2025 menunjukkan bahwa meskipun ada efisiensi anggaran di berbagai sektor, keberadaan event besar tetap menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekosistem pariwisata.
Kesimpulan: Ketangguhan Sektor Pariwisata Lokal
Secara keseluruhan, fenomena yang terjadi di Mataram memberikan pelajaran berharga bagi industri pariwisata. Ketergantungan pada satu moda transportasi semata bisa menjadi titik lemah, namun bagi Mataram, akses darat yang kuat menjadi perisai pelindung yang efektif. Sinergi antara pemerintah daerah, asosiasi perhotelan, dan penyelenggara event nasional maupun lokal menjadi fondasi yang kokoh dalam menghadapi guncangan ekonomi global.
Masyarakat dan pelaku usaha kini hanya perlu menjaga momentum positif ini sembari berharap agar stabilitas harga energi global bisa segera pulih. Dengan demikian, beban biaya perjalanan udara dapat kembali normal dan memberikan stimulus tambahan bagi pertumbuhan pariwisata di Bumi Gora secara lebih luas dan berkelanjutan.