Aksi Heroik dan Menegangkan: Petugas Damkar Pekanbaru Evakuasi Cincin yang Terjepit di Alat Vital Pria
KabarHarian — Tugas seorang petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) sering kali melampaui sekadar memadamkan api yang berkobar di pemukiman warga. Mereka kerap dihadapkan pada situasi tak terduga yang menuntut ketenangan, presisi tinggi, dan tentu saja nyali yang kuat. Baru-baru ini, sebuah peristiwa yang tidak lazim sekaligus mendebarkan terjadi di Kota Pekanbaru, Riau. Tim Rescue Damkar dan Penyelamatan Kota Pekanbaru harus berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan organ vital seorang pria yang terjepit sebuah cincin.
Insiden yang tergolong langka ini menimpa seorang pria berusia 30 tahun yang identitasnya dirahasiakan. Kasus ini menjadi sorotan karena tingkat kesulitannya yang tinggi serta risiko besar yang menyertainya. Kejadian ini bermula ketika korban dengan sengaja memasang cincin di area alat kelaminnya, namun berakhir dengan bencana saat benda logam tersebut tidak dapat dilepaskan kembali hingga memicu pembengkakan yang mengkhawatirkan.
Panggilan Darurat dari Rumah Sakit Madani
Peristiwa ini pertama kali terendus media ketika Rumah Sakit (RS) Madani di Jalan Garuda Sakti, Pekanbaru, melaporkan adanya seorang pasien di Unit Gawat Darurat (UGD) yang mengalami kondisi medis darurat akibat benda asing yang menjepit alat vitalnya. Tim dokter di rumah sakit tersebut menyadari bahwa untuk memotong cincin tersebut tanpa melukai pasien lebih lanjut, mereka membutuhkan peralatan khusus yang biasanya dimiliki oleh tim penyelamat Damkar.
Komandan Peleton (Danton) Rescue Damkar dan Penyelamatan Pekanbaru, Robi Setiawan, menceritakan bagaimana awal mula pihaknya terlibat dalam misi penyelamatan yang cukup memalukan sekaligus berbahaya bagi korban tersebut. Robi mengakui bahwa laporan ini merupakan kasus pertama yang pernah ditangani oleh unitnya selama bertugas di Pekanbaru.
“Kami menerima laporan awal dari pihak RS Madani. Mereka menginformasikan ada pasien di UGD yang mengalami penyempitan sirkulasi darah pada alat kelamin akibat sebuah cincin yang terpasang dan sudah menjepit dengan sangat kuat,” ujar Robi kepada tim redaksi KabarHarian pada Rabu (28/4/2026).
Dari Evakuasi Satwa hingga Operasi Mikro di Ruang Medis
Uniknya, sebelum menerima panggilan mendesak dari rumah sakit, tim Rescue Damkar Pekanbaru sebenarnya sedang berada di lapangan untuk menangani laporan warga lainnya. Mereka tengah mengevakuasi seekor musang yang masuk ke area pemukiman dan meresahkan warga. Tugas rutin ini harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum tim bisa beralih ke tugas yang jauh lebih sensitif di rumah sakit.
Segera setelah evakuasi satwa tersebut tuntas, tim langsung meluncur menuju RS Madani. Setibanya di sana, suasana tegang mulai terasa. Kondisi pasien dilaporkan sudah mulai memburuk. Menurut penuturan Robi, area sensitif korban sudah menunjukkan tanda-tanda sianosis atau perubahan warna menjadi kehitaman akibat aliran darah yang terhambat dalam waktu lama.
“Begitu kami sampai di lokasi, kami melihat kondisi alat vital korban memang sudah bengkak dan menghitam. Ini menandakan bahwa cincin tersebut sudah menjepit cukup lama dan menghentikan sirkulasi darah dengan sangat parah. Kami sadar, setiap detik sangat berharga agar tidak terjadi nekrosis atau kematian jaringan,” jelas Robi secara mendalam.
Tantangan dan Risiko di Area Vital
Melakukan pemotongan cincin di jari tangan saja sudah membutuhkan ketelitian, apalagi jika dilakukan di area yang sangat sensitif dan penuh dengan pembuluh darah utama. Petugas Damkar mengaku sempat merasa ragu dan harus berkoordinasi ekstra hati-hati dengan tim medis rumah sakit. Ruang gerak yang terbatas serta kondisi fisik korban yang menahan rasa sakit luar biasa menjadi tantangan tersendiri.
Robi mengakui bahwa meskipun mereka sudah biasa melakukan tindakan pemotongan cincin di jari atau kaki, kasus kali ini berada pada level yang berbeda. Ketegangan menyelimuti ruang tindakan saat alat pemotong mulai didekatkan ke tubuh pasien. Kehadiran dokter pendamping sangat krusial untuk memastikan prosedur berjalan sesuai standar keselamatan medis.
“Kalau ditanya jujur, ini kasus pertama kami. Kami sempat bertanya-tanya dan merasa heran mengapa cincin itu bisa ada di sana. Berdasarkan pengakuan korban, tindakannya tersebut dilakukan karena motif iseng semata. Namun, keisengan itu justru berbuah petaka saat cincin tersebut tidak bisa ditarik kembali,” kata Robi menambahkan.
Proses Evakuasi yang Cepat dan Akurat
Beruntung, pengalaman bertahun-tahun dalam menangani berbagai evakuasi membuat tim Damkar Pekanbaru tetap tenang. Setelah melakukan observasi singkat terhadap jenis logam cincin tersebut, petugas menemukan bahwa bahan cincin tersebut tergolong lunak dan tidak terbuat dari baja tahan karat yang keras. Hal ini memberikan sedikit napas lega bagi tim penyelamat.
Dengan bantuan alat pemotong mini dan pelindung tipis untuk menjaga kulit korban, proses pemotongan dilakukan dengan sangat perlahan. Keheningan menyelimuti ruangan selama proses berlangsung. Setelah sekitar 10 menit pengerjaan yang sangat hati-hati, cincin tersebut akhirnya berhasil dipatahkan dan dilepaskan dari tubuh korban.
“Alhamdulillah, prosesnya berjalan lancar dan aman. Posisi cincinnya tidak terlalu keras, sehingga dalam waktu 10 menit misi bisa kami selesaikan dengan tuntas tanpa melukai pasien lebih jauh,” ucap Robi dengan nada lega.
Penyesalan Korban dan Peringatan Medis
Sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan meminta bantuan Damkar, korban diketahui sempat melakukan berbagai upaya mandiri untuk melepaskan cincin tersebut. Di lokasi kejadian, ditemukan bekas-bekas penggunaan alat tertentu yang digunakan korban untuk mencoba membuka cincin secara paksa, namun upaya tersebut justru memperparah pembengkakan.
Robi menjelaskan bahwa korban sebenarnya sudah merasakan sakit sejak sehari sebelumnya. Namun, rasa malu mungkin menghambatnya untuk segera mencari pertolongan medis. Baru setelah rasa sakitnya tidak tertahankan dan kondisi fisiknya memburuk, korban memberanikan diri menuju RS Madani.
Pihak medis mengingatkan bahwa tindakan iseng seperti memasukkan benda asing ke organ vital sangat berbahaya. Selain risiko terjepit, hal ini bisa menyebabkan infeksi permanen, gangguan fungsi organ, hingga komplikasi serius yang mengharuskan tindakan amputasi jika jaringan sudah mati. Kasus di Pekanbaru ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat luas untuk tidak mencoba-coba hal yang berisiko tinggi terhadap kesehatan tubuh.
Dengan selesainya tugas ini, tim Rescue Damkar Pekanbaru sekali lagi membuktikan bahwa dedikasi mereka tidak terbatas pada api, melainkan pada keselamatan nyawa manusia dalam bentuk apa pun. Kini, pria tersebut tengah menjalani perawatan pemulihan di bawah pengawasan tim medis untuk memastikan fungsi organnya kembali normal pasca-insiden traumatis tersebut.