Melacak Jejak Lamaholot di Pesisir Asam Satu: Rinca Ranca Festival dan Misi Besar Mengasuh Budaya Sejak Dini

Andre Pratama | KabarHarian
10 May 2026, 22:07 WIB
Melacak Jejak Lamaholot di Pesisir Asam Satu: Rinca Ranca Festival dan Misi Besar Mengasuh Budaya Sejak Dini

KabarHarian — Angin sepoi dari perairan Flores Timur menyapu lembut pesisir Pantai Asam Satu pada Minggu, 10 Mei 2026. Namun, suasana hari itu jauh dari sekadar ketenangan rutin pantai wisata. Di sana, riuh rendah suara anak-anak berpadu dengan ritme tradisi yang kental. Sebuah panggung megah bertajuk Rinca Ranca Festival Budaya Anak Flores Timur resmi digelar, menandai sebuah babak baru dalam upaya pelestarian kearifan lokal Lamaholot yang diwariskan secara turun-temurun melalui penuturan dan gerak kreatif generasi muda.

Festival yang lahir dari kolaborasi apik antara Taman Baca Masyarakat (TBM) Solita dengan dukungan Dana Indonesiana ini bukan sekadar seremoni musiman. Rinca Ranca hadir sebagai manifesto bahwa kebudayaan bukanlah artefak kaku yang hanya bisa dipandang dari balik kaca museum, melainkan sebuah entitas hidup yang harus berdenyut dalam nadi anak-anak sebagai pewaris masa depan. Di bawah terik matahari yang mulai melunak, anak-anak Flores Timur berkumpul untuk merayakan identitas mereka.

Lebih dari Sekadar Penonton: Memberi Daulat pada Anak

Selama ini, dalam berbagai perhelatan budaya besar, posisi anak-anak sering kali terjebak dalam peran marginal. Mereka biasanya hanya menjadi penonton di barisan belakang, atau paling banter menjadi pelengkap dekoratif dalam acara-acara orang dewasa. Paradigma inilah yang ingin diruntuhkan oleh Yohana Angela Uran, Ketua Taman Baca Solita. Baginya, anak-anak adalah subjek aktif dalam ekosistem kebudayaan.

Baca Juga Darurat Tata Kelola Pariwisata: Hanya 10 Agen Travel di Nusa Penida yang Kantongi Izin Resmi
Darurat Tata Kelola Pariwisata: Hanya 10 Agen Travel di Nusa Penida yang Kantongi Izin Resmi

“Kita harus menyadari bahwa keterlibatan anak dalam kegiatan budaya tidak cukup jika hanya ditempatkan sebagai penonton atau pemanis acara dewasa. Mereka memerlukan panggung khusus yang dirancang sesuai dunia mereka,” ungkap Yohana dengan nada penuh penekanan. Ia menegaskan bahwa Rinca Ranca Festival adalah upaya untuk menyediakan ‘ruang aman’ di mana anak-anak bisa bereksplorasi tanpa rasa takut salah, berekspresi secara jujur, dan merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi bagian dari tradisi Lamaholot.

Ruang aman yang dimaksud bukan sekadar fisik, melainkan ruang psikologis di mana kreativitas mereka dihargai. Melalui festival ini, nilai-nilai kearifan lokal Lamaholot ditanamkan bukan melalui indoktrinasi yang membosankan, melainkan lewat kegembiraan. Hasilnya adalah tumbuhnya rasa bangga dan percaya diri pada identitas asli mereka di tengah gempuran budaya global yang kian masif.

Laboratorium Bahasa dan Tradisi di Luar Sekolah

Pentingnya festival ini juga diamini oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Flores Timur, Felix Suban Goda. Dalam pandangannya, pendidikan kebudayaan tidak boleh dipenjara hanya di dalam ruang kelas atau lingkungan formal sekolah. Rinca Ranca Festival dianggap sebagai ‘medan pemaparan’ yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan bahasa, tradisi lisan, dan etika sosial kepada generasi muda.

Baca Juga Diplomasi Hangat di Beijing: Donald Trump Sanjung Xi Jinping Sebagai Pemimpin Hebat Demi Stabilitas Global
Diplomasi Hangat di Beijing: Donald Trump Sanjung Xi Jinping Sebagai Pemimpin Hebat Demi Stabilitas Global

“Apa yang kita saksikan hari ini adalah bentuk pendidikan luar sekolah yang sangat vital. Anak-anak kita harus memperoleh akses terhadap budayanya tidak hanya melalui buku teks, tetapi melalui interaksi langsung di wilayahnya masing-masing,” jelas Felix. Ia menambahkan bahwa bahasa daerah sebagai fondasi kelokalan merupakan bekal hidup yang krusial. Tanpa bahasa, identitas Lamaholot akan keropos. Oleh karena itu, festival semacam ini menjadi benteng pertahanan bagi kelestarian dialek-dialek lokal yang mulai jarang dituturkan oleh generasi Alpha.

Felix berharap festival ini menjadi pemantik bagi wilayah lain di Flores Timur untuk menciptakan inisiatif serupa. Dengan begitu, setiap sudut daerah ini akan menjadi laboratorium hidup bagi pengembangan karakter anak yang berbasis pada nilai-nilai luhur nenek moyang, namun tetap relevan dengan tantangan zaman modern.

Membangun Ekosistem Pariwisata Berbasis Komunitas

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Flores Timur, Hery Lamawuran, melihat Rinca Ranca Festival dari kacamata yang lebih luas, yakni pembangunan ekosistem kreatif. Hery memuji inisiatif kelompok masyarakat seperti TBM Solita yang mampu bergerak secara mandiri dan inovatif. Menurutnya, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian dalam menjaga marwah kebudayaan dan memajukan pariwisata.

Baca Juga Skandal Memalukan di Balik Seragam: Dua Oknum Polisi dan Casis di NTB Tersangkut Kasus Asusila dan Foto Syur
Skandal Memalukan di Balik Seragam: Dua Oknum Polisi dan Casis di NTB Tersangkut Kasus Asusila dan Foto Syur

“Inisiatif dari komunitas dan taman baca seperti inilah yang kami harapkan terus bertumbuh. Mereka adalah mesin penggerak yang membantu pemerintah menciptakan iklim wisata yang sehat dan ekosistem seni yang dinamis di Flores Timur,” kata Hery. Ia mencatat bahwa festival dengan karakter spesifik, seperti yang fokus pada anak-anak, akan memperkaya kalender acara daerah dan menarik minat wisatawan yang mencari autentisitas.

Lebih jauh, Hery menekankan bahwa pemilihan lokasi di Pantai Asam Satu bukan tanpa alasan. Destinasi wisata kini harus bertransformasi. “Asam Satu bukan lagi sekadar tempat orang datang untuk makan-makan atau berfoto. Melalui festival ini, kita mewujudkan destinasi sebagai ‘kantong kreativitas’. Ada nilai tambah edukatif yang ditawarkan di sini,” imbuhnya.

Regenerasi Melalui Permainan Rakyat dan Tradisi Lisan

Salah satu inti dari Rinca Ranca Festival adalah fokusnya pada objek pemajuan kebudayaan yang sangat dekat dengan dunia anak, yakni permainan rakyat dan tradisi lisan seperti pantun. Dalam budaya Lamaholot, pantun bukan sekadar susunan kata rima, melainkan cara berkomunikasi yang penuh dengan nilai diplomasi, etika, dan estetika. Dengan memperkenalkan kembali tradisi lisan ini kepada anak-anak, festival ini sedang menjahit kembali benang sejarah yang hampir putus.

Baca Juga Waspada Ancaman Virus Hanta: Dinkes NTB Perketat Pengawasan dan Imbau Warga Jauhi Tikus
Waspada Ancaman Virus Hanta: Dinkes NTB Perketat Pengawasan dan Imbau Warga Jauhi Tikus

Permainan rakyat pun mendapatkan porsi yang sama pentingnya. Di era digital di mana anak-anak lebih sering menatap layar gawai, menghidupkan kembali permainan tradisional adalah cara efektif untuk melatih motorik, kerja sama tim, dan sportivitas yang berakar pada nilai lokal. Permainan-permainan ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan anak dengan lingkungan sosialnya secara nyata.

Hery Lamawuran meyakini bahwa regenerasi kebudayaan yang dimulai sejak usia dini adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya. “Jika sejak kecil mereka sudah mencintai budayanya, maka saat dewasa nanti, mereka jugalah yang akan menjadi garda terdepan untuk menjaga dan mempromosikan Flores Timur ke dunia luar,” pungkasnya optimis.

Menatap Masa Depan Kebudayaan Flores Timur

Rinca Ranca Festival Budaya Anak Flores Timur di Pantai Asam Satu telah memberikan gambaran jernih tentang bagaimana seharusnya kebudayaan dirawat. Kesuksesan acara ini membuktikan bahwa sinergi antara komunitas akar rumput, dukungan pendanaan seperti Dana Indonesiana, dan restu dari pemerintah daerah dapat menciptakan dampak yang luar biasa besar.

Baca Juga Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha 2026, Pemkot Mataram Sebar Pasar Murah di Enam Lokasi Strategis
Kendalikan Inflasi Jelang Idul Adha 2026, Pemkot Mataram Sebar Pasar Murah di Enam Lokasi Strategis

Ketika matahari benar-benar terbenam di ufuk barat Flores Timur, acara mungkin berakhir secara seremonial. Namun, semangat yang ditinggalkan dalam sanubari anak-anak yang hadir hari itu akan terus menyala. Mereka pulang tidak hanya dengan kenangan manis bermain di pantai, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa menjadi anak Lamaholot adalah sebuah kebanggaan, dan budaya mereka adalah harta karun yang harus terus mereka ‘rinca’ dan ‘ranca’ agar tidak pernah padam ditelan waktu.

Kini, tantangan berikutnya adalah konsistensi. Menjadikan festival ini sebagai agenda rutin tahunan dan memperluas jangkauannya adalah tugas kolektif bagi seluruh pemangku kepentingan di Flores Timur. Sebab, dalam setiap tawa anak yang berlari mengejar bayang tradisi, di situlah masa depan bangsa ini sedang ditenun dengan rapi.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *