Polemik Donasi Rp 2 Juta Bupati Enrekang di Tengah Perbaikan Jalan Swadaya, Yusuf Ritangnga: Itu Hanya untuk Uang Minum

Hisan Halibin | KabarHarian
29 Apr 2026, 14:08 WIB
Polemik Donasi Rp 2 Juta Bupati Enrekang di Tengah Perbaikan Jalan Swadaya, Yusuf Ritangnga: Itu Hanya untuk Uang Minum

KabarHarian — Sebuah kontroversi hangat tengah menyelimuti Bumi Massenrempulu, Sulawesi Selatan. Aksi gotong royong warga Desa Baringin yang nekat merogoh kocek pribadi demi memperbaiki akses jalan yang rusak parah selama puluhan tahun, mendadak menjadi perbincangan publik setelah munculnya kabar mengenai nilai donasi dari orang nomor satu di Kabupaten Enrekang, Yusuf Ritangnga.

Sorotan tajam tertuju pada sang Bupati setelah warga mengungkapkan kekecewaan mereka atas bantuan yang dinilai sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan dana perbaikan jalan tersebut. Namun, Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi serta meluruskan persepsi yang berkembang di tengah masyarakat terkait bantuan senilai Rp 2 juta tersebut.

Klarifikasi Bupati: Bantuan Pribadi untuk Konsumsi, Bukan Infrastruktur

Menanggapi polemik yang kian memanas, Yusuf Ritangnga menjelaskan bahwa uang senilai Rp 2 juta yang ia berikan bukanlah anggaran resmi dari pemerintah daerah (Pemda) untuk perbaikan jalan, melainkan sumbangan pribadi darinya. Ia menegaskan bahwa dana tersebut ditujukan secara khusus untuk membantu kebutuhan konsumsi warga yang sedang melakukan kerja bakti.

Baca Juga Ketegangan di Kedalaman Laut Barents: Sinopsis Hunter Killer dan Misi Mustahil Mencegah Perang Dunia III
Ketegangan di Kedalaman Laut Barents: Sinopsis Hunter Killer dan Misi Mustahil Mencegah Perang Dunia III

“Dulu memang ada perwakilan warga dari Baringin yang mengirimkan permohonan donasi terbuka untuk kegiatan gotong royong. Secara pribadi, saya merasa terpanggil untuk membantu sedikit, yakni Rp 2 juta, yang tujuannya sekadar untuk membeli air minum bagi warga yang bekerja. Pemberian itu murni ikhlas tanpa ada tujuan politik atau maksud lain,” ujar Yusuf kepada awak media.

Ia menekankan bahwa sumbangan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai kontribusi pemerintah untuk pembangunan jalan. Sebagai individu, ia merasa perlu mengapresiasi semangat warga yang bergotong royong, namun ia juga meminta masyarakat memahami keterbatasan posisi pribadinya dalam merespons penggalangan dana swadaya tersebut.

Jeritan Warga Desa Baringin: 80 Tahun Menanti Aspal yang Layak

Di sisi lain, narasi kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Desa Baringin merupakan wilayah strategis yang menjadi penghubung antara Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap. Sayangnya, kondisi jalan di wilayah ini diklaim warga telah mengalami kerusakan parah selama hampir 80 tahun, atau sejak zaman kemerdekaan, tanpa ada perbaikan yang signifikan dari pemerintah setempat.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Lembah Baliem: Akar Konflik Denda Adat yang Mengoyak Kedamaian Wamena
Tragedi Berdarah di Lembah Baliem: Akar Konflik Denda Adat yang Mengoyak Kedamaian Wamena

Karena merasa tidak mendapat perhatian serius dari birokrasi, warga akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah mandiri melalui gerakan swadaya. Muhammad Fadil Nugraha, salah satu penggerak donasi warga, mengungkapkan bahwa semangat masyarakat dalam membangun desa mereka sendiri sangatlah tinggi.

“Hingga saat ini, donasi yang terkumpul dari swadaya masyarakat telah mencapai angka Rp 102 juta. Awalnya terkumpul Rp 70 juta, kemudian ada tambahan lagi sebesar Rp 32 juta. Dana inilah yang kami gunakan untuk membeli material dan menyewa alat berat demi memperbaiki jalan penghubung Enrekang-Sidrap ini,” tutur Fadil.

Bagi warga, donasi Rp 2 juta dari bupati terasa sangat kontras dengan keringat dan modal yang telah mereka keluarkan. Mereka berharap seorang kepala daerah bisa memberikan solusi yang lebih sistematis atau setidaknya menunjukkan keberpihakan anggaran yang lebih nyata untuk kebutuhan infrastruktur dasar.

Krisis Keuangan Daerah dan Minimnya Anggaran Pembangunan

Menanggapi tuntutan warga akan perbaikan permanen, Yusuf Ritangnga membeberkan kondisi pahit yang tengah dialami Pemerintah Kabupaten Enrekang. Ia mengakui bahwa kondisi fiskal atau keuangan daerah saat ini sedang dalam keadaan yang sangat sulit. Keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) membuat Pemkab harus memutar otak dalam menentukan skala prioritas.

Baca Juga Sinopsis Film Reprisal: Aksi Balas Dendam Frank Grillo dan Bruce Willis Menumpas Perampok Sadis
Sinopsis Film Reprisal: Aksi Balas Dendam Frank Grillo dan Bruce Willis Menumpas Perampok Sadis

“Untuk saat ini, anggaran daerah yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur memang sangat terbatas. Kondisi keuangan kita sedang tidak baik-baik saja. Kami bukannya ingin menutup mata atau telinga terhadap keluhan masyarakat, namun realita anggaran yang ada memang memaksa kita untuk tidak bisa berbuat banyak dalam waktu singkat,” jelas Yusuf dengan nada prihatin.

Situasi ini memicu dilema bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, kebutuhan infrastruktur jalan adalah urat nadi perekonomian warga, namun di sisi lain, beban utang daerah atau kewajiban belanja rutin lainnya seringkali menyerap sebagian besar anggaran yang tersedia.

Klaim Lemahnya Komunikasi dari Tingkat Desa dan Kecamatan

Hal menarik lainnya yang diungkapkan oleh Yusuf Ritangnga adalah mengenai jalur komunikasi birokrasi. Ia mengaku terkejut saat mengetahui kondisi kerusakan jalan di Desa Baringin justru melalui pemberitaan media massa, bukan melalui laporan resmi dari jajarannya di tingkat bawah.

Menurut sang Bupati, hingga saat ini dirinya belum menerima laporan tertulis maupun lisan secara formal, baik dari Kepala Desa Baringin maupun dari Camat setempat terkait urgensi perbaikan jalan tersebut. Ia menyayangkan hilangnya mata rantai informasi ini yang seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah kabupaten untuk mengambil kebijakan.

Baca Juga Prediksi dan Jadwal Siaran Langsung Arema FC vs PSM Makassar: Duel Panas di Kanjuruhan Demi Harga Diri dan Eksistensi
Prediksi dan Jadwal Siaran Langsung Arema FC vs PSM Makassar: Duel Panas di Kanjuruhan Demi Harga Diri dan Eksistensi

“Informasi mengenai jalan itu baru saya ketahui lewat media baru-baru ini. Belum pernah ada kepala desa atau camat yang datang menemui saya secara resmi untuk memaparkan kondisi jalan itu dan mengusulkan perbaikan. Koordinasi seperti ini sangat penting agar kami bisa memetakan mana yang harus segera ditangani,” tambahnya.

Langkah Ke Depan: Menggantungkan Harapan pada Pemerintah Pusat

Meskipun kondisi keuangan daerah sedang sulit, Yusuf memastikan bahwa pemerintah kabupaten tidak akan tinggal diam. Ia menyatakan akan segera menyusun usulan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan maupun Pemerintah Pusat melalui kementerian terkait.

Namun, Yusuf juga bersikap realistis dan tidak ingin memberikan janji manis kepada warga yang tengah terluka. Menurutnya, proses pengusulan anggaran ke tingkat provinsi atau pusat membutuhkan prosedur yang panjang dan hasil yang tidak bisa dipastikan secara instan.

“Pemda memiliki kewajiban untuk mengusulkan perbaikan jalan ini ke pusat dan provinsi. Tapi prosesnya butuh waktu, birokrasi, dan tentu saja persetujuan dari mereka. Saya tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum pasti karena takut nantinya malah mengecewakan masyarakat lebih dalam lagi,” tegasnya.

Baca Juga Menakar Keadilan di Jalanan Makassar: Jejak Brutal Begal dan Kontroversi Larangan Tembak di Tempat
Menakar Keadilan di Jalanan Makassar: Jejak Brutal Begal dan Kontroversi Larangan Tembak di Tempat

Pentingnya Kolaborasi dan Transparansi dalam Pembangunan Desa

Fenomena di Desa Baringin ini menjadi cermin bagi banyak daerah lain di Indonesia. Ketika kepercayaan publik terhadap kemampuan anggaran pemerintah mulai luntur, gerakan swadaya menjadi solusi terakhir. Namun, langkah mandiri warga ini seharusnya menjadi tamparan keras sekaligus pemantik bagi pemerintah untuk lebih transparan dalam mengelola prioritas pembangunan.

Kekecewaan warga Baringin bukan semata soal nominal Rp 2 juta, melainkan soal rasa keadilan dan kehadiran negara dalam persoalan menahun yang mereka hadapi. Diperlukan dialog yang lebih terbuka antara Bupati, jajaran kecamatan, desa, hingga tokoh masyarakat agar kesalahpahaman semacam ini tidak terus berulang.

KabarHarian akan terus memantau perkembangan perbaikan jalan di Desa Baringin dan bagaimana langkah konkret Pemerintah Kabupaten Enrekang dalam menindaklanjuti aspirasi warga yang sudah puluhan tahun menanti akses jalan yang layak bagi kehidupan mereka.

Hisan Halibin

Hisan Halibin

Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi kabarharian. Berpengalaman dalam jurnalisme digital dan manajemen media. Fokus pada akurasi data dan penyajian berita yang edukatif bagi pembaca.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *