Tragedi di Bawah Jembatan Pipa PDAM: Menguak Tabir Kematian Fredolina Kikhau di Liliba Kupang
KabarHarian — Kabut duka menyelimuti Kelurahan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyusul sebuah penemuan yang menggegerkan ketenangan warga pada Sabtu pagi, 9 Mei 2026. Sesosok jasad wanita ditemukan terbujur kaku dalam kondisi mengenaskan di bawah jembatan penyangga pipa PDAM, sebuah lokasi yang mendadak menjadi pusat perhatian publik dan aparat kepolisian. Korban teridentifikasi sebagai Fredolina Kikhau, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) berusia 26 tahun yang dikenal merupakan warga setempat.
Pagi yang Mencekam di Kawasan Liliba
Pagi yang biasanya diisi dengan aktivitas rutin warga berubah menjadi suasana mencekam ketika kabar penemuan mayat mulai menyebar dari mulut ke mulut. Lokasi penemuan yang berada tepat di perbatasan tiga wilayah Rukun Tetangga (RT), yakni RT 24, RT 41, dan RT 45, membuat gempar masyarakat di Kelurahan Liliba. Lokasi ini memang dikenal sebagai area yang cukup strategis namun tersembunyi karena berada di bawah struktur jembatan pipa besar milik PDAM.
Mikhael Onga Hala, Ketua RT 24 RW 06, menjadi salah satu saksi kunci yang memberikan keterangan awal mengenai situasi di lokasi kejadian. Menurutnya, jasad Fredolina ditemukan tepat di bawah jembatan penyangga pipa tersebut. Kondisi korban saat ditemukan sangat memprihatinkan dengan luka-luka di bagian wajah yang tampak jelas, serta ceceran darah yang masih terlihat segar di area sekitar penemuan. Hal ini memicu spekulasi di tengah warga bahwa korban mengalami tindakan kekerasan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Kondisi Mengenaskan di TKP Kali Mati
Berdasarkan pantauan tim di lapangan, lokasi kejadian berada di sebuah area yang menyerupai kali mati. Meskipun berjarak hanya sekitar 20 meter dari permukiman padat penduduk, titik spesifik di bawah jembatan tersebut tergolong cukup sunyi jika malam hari tiba. Garis polisi berwarna kuning kini telah terpasang melingkari area tersebut, memberikan tanda peringatan bagi warga agar tidak mendekat demi menjaga integritas Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Bercak darah yang ditemukan di beberapa titik sekitar jasad korban menjadi bukti bisu dari sebuah peristiwa tragis yang terjadi. Warga yang berkerumun di luar garis polisi tidak mampu menyembunyikan rasa ngeri dan prihatin mereka. Kehadiran Fredolina di lokasi tersebut pada waktu yang belum dipastikan memunculkan banyak pertanyaan besar. Mengingat luka-luka yang dialaminya, pihak keluarga dan tetangga mendesak agar kasus ini diusut tuntas hingga akar permasalahannya.
Sosok Fredolina: Ibu Dua Anak yang Berjuang Sendiri
Fredolina Kikhau bukanlah orang asing di lingkungan Liliba. Ia diketahui tinggal di RT 16 RW 10, Kelurahan Liliba. Kepergiannya yang mendadak menyisakan kepedihan mendalam, terutama bagi kedua anaknya yang masih kecil. Informasi yang dihimpun dari warga sekitar mengungkapkan sebuah sisi kehidupan Fredolina yang cukup berat. Sebagai seorang ibu muda, ia harus mengasuh dua buah hatinya seorang diri karena sang suami saat ini sedang menjalani masa hukuman di penjara akibat keterlibatan dalam kasus pencurian.
“Korban itu informasinya sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Sedangkanya suaminya masuk penjara karena kasus pencurian. Itu informasi yang saya dengar di lokasi,” ujar Mikhael menjelaskan latar belakang keluarga korban. Ketidakhadiran sosok kepala keluarga di sampingnya menambah beban emosional bagi kerabat yang ditinggalkan, yang kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Fredolina telah tiada dengan cara yang tragis.
Langkah Cepat Kepolisian dan Penyelidikan Forensik
Setelah menerima laporan dari masyarakat, personel kepolisian dari Polsek Kota Raja dan Polresta Kupang Kota langsung bergerak cepat menuju lokasi. Tim identifikasi melakukan olah TKP secara mendalam guna mencari barang bukti tambahan yang mungkin tertinggal, seperti senjata tajam, benda tumpul, atau jejak kaki yang bisa mengarah pada kronologi kejadian. Setelah proses olah TKP dirasa cukup, jenazah Fredolina segera dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Titus Uly Kupang untuk dilakukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Kasi Humas Polresta Kupang Kota, Iptu Frangki Lapuisaly, membenarkan bahwa pihaknya telah mengamankan lokasi dan tengah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi. Meskipun indikasi adanya kekerasan terlihat dari luka fisik korban, pihak kepolisian tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam menentukan penyebab pasti kematian. “Tadi piket Pamapta sudah lakukan olah TKP dan jenazahnya masih di RSB,” kata Frangki kepada media. Autopsi atau pemeriksaan luar akan menjadi kunci utama dalam membedah misteri di balik tewasnya IRT muda tersebut.
Menanti Jawaban di Tengah Teka-Teki Penyebab Kematian
Hingga berita ini diturunkan, penyebab resmi kematian Fredolina masih menjadi tanda tanya besar. Polisi belum bisa memastikan apakah korban merupakan korban pembunuhan, penganiayaan berat yang berujung maut, atau adanya faktor lain. Penyelidikan masih berada pada tahap awal, dan penyidik sedang mendalami aktivitas terakhir korban sebelum ia ditemukan tak bernyawa di bawah jembatan pipa tersebut.
Masyarakat Kelurahan Liliba kini berharap agar pihak berwajib dapat segera mengungkap tabir gelap ini. Keamanan di area sekitar jembatan PDAM juga menjadi sorotan, mengingat lokasinya yang cukup dekat dengan permukiman namun minim penerangan di malam hari. Tragedi ini menjadi pengingat bagi warga untuk lebih waspada dan saling menjaga keamanan lingkungan demi mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa mendatang. Kepergian Fredolina Kikhau meninggalkan duka yang mendalam, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Kupang yang merindukan rasa aman dan keadilan.