Tragedi Sunyi di Jalan Hawai: Kisah Pilu Kakek Putu Sumendra yang Ditemukan Tak Bernyawa di Klungkung

Andre Pratama | KabarHarian
09 May 2026, 10:07 WIB
Tragedi Sunyi di Jalan Hawai: Kisah Pilu Kakek Putu Sumendra yang Ditemukan Tak Bernyawa di Klungkung

KabarHarian — Suasana tenang di Kelurahan Semarapura Kelod, Kabupaten Klungkung, mendadak berubah menjadi penuh haru dan ketegangan pada Sabtu pagi yang cerah. Sebuah kabar duka menyelimuti warga setempat setelah ditemukannya jasad seorang kakek berusia 74 tahun, Putu Sumendra, di area belakang rumahnya sendiri. Penemuan ini mengakhiri pencarian melelahkan yang dilakukan pihak keluarga sejak malam sebelumnya, menyisakan duka mendalam sekaligus pengingat akan kerentanan lansia dengan kondisi kesehatan khusus.

Awal Mula Kecurigaan Sang Anak

Peristiwa memilukan ini bermula pada Jumat sore, sekitar pukul 17.30 Wita. Ketut Surya Hermawan (36), salah satu putra korban, datang mengunjungi rumah ayahnya di Jalan Hawai dengan maksud rutin: membawakan makanan dan memastikan kondisi orang tuanya baik-baik saja. Namun, setibanya di sana, ia tidak mendapati sang ayah di dalam kamar maupun ruang tengah.

Ketidakberadaan Putu Sumendra segera memicu alarm kewaspadaan di benak Surya. Mengingat kondisi ayahnya yang sudah lanjut usia dan memiliki beberapa riwayat penyakit, ia segera menghubungi kakaknya, Nyoman Surya Dharma. Kekhawatiran mereka beralasan, karena sang ayah biasanya tidak pernah pergi jauh tanpa berpamitan, apalagi di waktu yang sudah mulai beranjak gelap.

Baca Juga Panduan Ala Ayuning Dewasa 21 Mei 2026: Hari Baik Membuka Lahan dan Pantangan Penting Menurut Kalender Bali
Panduan Ala Ayuning Dewasa 21 Mei 2026: Hari Baik Membuka Lahan dan Pantangan Penting Menurut Kalender Bali

Pencarian Tengah Malam yang Berujung Nihil

Tanpa membuang waktu, kedua bersaudara ini mulai menyisir sudut-sudut wilayah Klungkung. Mereka mendatangi satu per satu rumah kerabat dan teman lama sang ayah, berharap kakek Putu mungkin sedang mampir untuk sekadar bercengkerama. Namun, setiap pintu yang mereka ketuk memberikan jawaban yang sama: nihil.

Pencarian terus berlanjut hingga dini hari. Di bawah temaram lampu jalanan Kota Semarapura, mereka mencari ke berbagai tempat yang mungkin disinggahi. Hingga pukul 00.30 Wita, lelah mulai menyergap, namun sosok sang ayah tetap belum ditemukan. Dengan berat hati, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dan melanjutkan pencarian begitu matahari terbit.

Penemuan Jasad di Sudut Tembok Belakang

Pagi harinya, Sabtu (9/5), sekitar pukul 06.30 Wita, Surya kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh di area sekitar rumah. Kali ini, ia mencoba memeriksa bagian paling belakang yang berbatasan dengan tembok sebelah utara. Di sanalah, pencariannya berakhir dengan sebuah pemandangan yang menyayat hati.

Kasi Humas Polres Klungkung, Iptu I Made Nyoman Alit Purnawibawa, mengonfirmasi penemuan tersebut kepada tim redaksi KabarHarian. “Benar, jasad laki-laki atas nama Putu Sumendra ditemukan pertama kali oleh anak kandungnya sendiri. Posisi korban berada di ujung tembok belakang rumah dalam keadaan sudah tidak bernyawa,” jelasnya saat memberikan keterangan resmi.

Baca Juga Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Hari Ini Selasa 5 Mei 2026: Panduan Ibadah Lengkap dan Bacaan Niat
Jadwal Salat Denpasar, Badung, dan Gianyar Hari Ini Selasa 5 Mei 2026: Panduan Ibadah Lengkap dan Bacaan Niat

Korban ditemukan dalam posisi terlentang dengan badan sedikit miring ke kiri. Kepalanya menghadap ke arah selatan. Kondisi tubuh korban menunjukkan tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa ia telah meninggal dunia lebih dari 24 jam sebelum ditemukan.

Analisis Kepolisian dan Kondisi Fisik Korban

Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan oleh tim identifikasi Polres Klungkung, ditemukan beberapa luka pada tubuh korban. Terdapat luka melepuh di area pinggang dan kaki yang diduga kuat akibat paparan sinar matahari dalam durasi yang cukup lama setelah korban terjatuh.

Selain itu, petugas juga mencatat adanya darah yang keluar dari telinga dan mulut. Iptu I Made Nyoman Alit menjelaskan bahwa hal tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh benturan keras saat korban terjatuh ke tanah atau pecahnya pembuluh darah akibat penyakit sistemik yang dideritanya. Mengingat usia dan riwayat kesehatannya, terjatuh di area terbuka tanpa pertolongan segera menjadi faktor fatal dalam kejadian ini.

Potret Kehidupan Keluarga yang Tangguh

Kisah di balik kematian Putu Sumendra menambah sisi emosional dari tragedi ini. Diketahui, sang kakek selama ini tinggal dalam situasi keluarga yang cukup berat. Di usianya yang senja, ia tinggal bersama istrinya yang juga sudah lansia. Tak hanya itu, salah satu anaknya yang tinggal bersama mereka juga tengah menderita stroke, sehingga ruang gerak keluarga ini memang terbatas dalam hal saling mengawasi.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Kupang: Terbakar Cemburu Foto Profil WA, Seorang Ayah Tega Siksa Bayinya yang Berusia 7 Bulan
Tragedi Berdarah di Kupang: Terbakar Cemburu Foto Profil WA, Seorang Ayah Tega Siksa Bayinya yang Berusia 7 Bulan

Pihak keluarga memaparkan bahwa Putu Sumendra memiliki riwayat penyakit diabetes dan hipertensi (tekanan darah tinggi). Lebih jauh lagi, faktor usia telah membuatnya mengalami gejala pikun atau demensia. Kondisi inilah yang diduga membuat sang kakek berjalan ke arah belakang rumah, kehilangan orientasi, lalu mengalami serangan fisik yang menyebabkannya terjatuh dan tidak mampu meminta pertolongan.

Pentingnya Pengawasan Lansia dengan Demensia

Kasus yang menimpa Putu Sumendra ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas mengenai tantangan dalam merawat lansia dengan kondisi demensia atau pikun. Penurunan fungsi kognitif sering kali membuat lansia merasa ingin ‘pulang’ atau pergi ke suatu tempat, namun kehilangan arah di tengah jalan.

Para ahli kesehatan menyarankan agar keluarga dengan anggota lansia yang mengalami pikun memberikan pengawasan ekstra, seperti memasang tanda pengenal pada pakaian atau gelang, serta memastikan area rumah aman dari risiko terjatuh. Namun, dalam kasus keluarga kakek Putu, keterbatasan fisik anggota keluarga lain memang menjadi kendala yang tak terelakkan.

Keikhlasan Keluarga dan Langkah Terakhir

Meskipun terpukul dengan kepergian sang ayah yang tragis, pihak keluarga menyatakan telah menerima kejadian ini dengan penuh keikhlasan. Mereka menganggap kematian Putu Sumendra sebagai sebuah musibah murni dan menolak untuk dilakukan prosedur autopsi lebih lanjut.

Baca Juga Tragedi Berdarah di Muara Naus: Perjuangan Terakhir Mindis Melawan Ganasnya Predator Amfoang
Tragedi Berdarah di Muara Naus: Perjuangan Terakhir Mindis Melawan Ganasnya Predator Amfoang

“Pihak keluarga sudah mengikhlaskan dan tidak menaruh kecurigaan terhadap pihak manapun. Mereka menolak autopsi dan memilih untuk segera mengurus jenazah sesuai dengan tradisi keluarga,” tambah Iptu Alit. Saat ini, jenazah telah dievakuasi ke RSUD Klungkung menggunakan ambulans untuk penanganan medis terakhir sebelum diserahkan sepenuhnya kepada keluarga untuk prosesi penguburan atau kremasi.

Penutup dan Belasungkawa

Kepergian Putu Sumendra meninggalkan lubang di hati keluarganya dan menjadi catatan duka bagi warga Semarapura Kelod. Tragedi di Jalan Hawai ini mengajarkan kita tentang rapuhnya kehidupan dan pentingnya kepedulian terhadap para orang tua di sekitar kita, terutama mereka yang berjuang melawan penurunan kesehatan di masa tua.

Kini, area belakang rumah di Jalan Hawai itu kembali sunyi, namun kenangan akan sang kakek akan tetap hidup di hati anak-anaknya yang telah berupaya maksimal mencarinya hingga detik terakhir. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan ekstra menghadapi cobaan ini.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *