Menata Wajah Kota Mataram: Dilema Cidomo dan Anggaran Puluhan Juta Demi Atasi Ceceran Kotoran Kuda

Andre Pratama | KabarHarian
09 May 2026, 08:07 WIB
Menata Wajah Kota Mataram: Dilema Cidomo dan Anggaran Puluhan Juta Demi Atasi Ceceran Kotoran Kuda

KabarHarian — Kota Mataram, sebagai jantung dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, terus berupaya mempercantik diri sebagai destinasi wisata unggulan. Namun, di balik kemajuan infrastruktur dan gemerlap lampu kota, terselip sebuah persoalan klasik yang hingga kini masih menjadi keluhan utama warga maupun pelancong: ceceran kotoran kuda. Aroma tak sedap dan pemandangan yang kurang elok akibat operasional angkutan tradisional cidomo di jalan-jalan protokol kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram.

Persoalan Estetika dan Kebersihan di Jalan Protokol

Cidomo, moda transportasi ikonik yang menggabungkan tenaga kuda dengan roda mobil bekas, memang memiliki daya tarik tersendiri secara kultural. Namun, keberadaannya di jalur-jalur utama seperti Jalan Pejanggik atau area pusat kota lainnya sering kali meninggalkan jejak yang tidak diinginkan. Kotoran kuda yang berjatuhan di aspal panas bukan hanya merusak estetika kota, tetapi juga menimbulkan masalah higienitas yang dikhawatirkan dapat mengganggu kenyamanan publik.

Banyak warga merasa bahwa pemeliharaan kebersihan oleh para kusir cidomo masih sangat minim. Sering kali, saat kendaraan tradisional ini melintas di tengah kemacetan atau berhenti di lampu merah, limbah organik tersebut jatuh begitu saja tanpa ada upaya pembersihan segera. Hal inilah yang memicu gelombang keluhan dari masyarakat yang menginginkan Mataram tampil lebih bersih dan modern tanpa harus menghilangkan identitas tradisionalnya.

Baca Juga David Moyes Tegaskan Mikel Arteta Tak Perlu Berterima Kasih Usai Everton Berhasil Jegal Manchester City
David Moyes Tegaskan Mikel Arteta Tak Perlu Berterima Kasih Usai Everton Berhasil Jegal Manchester City

Langkah Strategis Pemkot: Anggaran Rp 30 Juta untuk Kantong Karet

Merespons keresahan yang kian meningkat, Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mengambil langkah konkret. Tidak tanggung-tanggung, anggaran sebesar Rp 30 juta telah disiapkan untuk pengadaan kantong penampung kotoran kuda. Berbeda dengan kantong plastik atau karung biasa yang mudah bocor, kali ini pemerintah memilih bahan karet yang dinilai lebih tahan lama, kedap bau, dan mudah untuk dibersihkan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin, menjelaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk intervensi pemerintah dalam menjaga kebersihan fasilitas umum. Menurutnya, penggunaan bahan karet diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar kotoran kuda tidak lagi tercecer dan mencemari jalanan kota yang setiap hari dilewati ribuan kendaraan.

Kendala Logistik dan Titik Pembuangan yang Belum Tersedia

Meskipun pengadaan kantong karet telah direncanakan, Zulkarwin mengakui bahwa masalah sebenarnya tidak berhenti pada ketersediaan wadah. Ada rantai manajemen limbah yang masih terputus. Hingga saat ini, Kota Mataram belum memiliki titik pembuangan akhir khusus untuk kotoran kuda dari cidomo yang beroperasi di pusat kota.

Baca Juga Jadwal Lengkap SIM Keliling Badung dan Tabanan 8 Mei 2026: Panduan Strategis Perpanjangan Tanpa Antre
Jadwal Lengkap SIM Keliling Badung dan Tabanan 8 Mei 2026: Panduan Strategis Perpanjangan Tanpa Antre

“Masalahnya sering kali muncul saat para kusir keluar dari pasar atau area pangkalan. Seharusnya kantong kotoran itu sudah dalam keadaan kosong. Namun, mereka kebingungan hendak membuang isinya di mana ketika sudah penuh di tengah jalan,” ungkap Zulkarwin saat memberikan keterangan kepada tim redaksi. Tanpa adanya tempat pembuangan sementara (TPS) yang spesifik untuk limbah hewan, para kusir sering kali mengambil jalan pintas yang akhirnya merugikan pengguna jalan lainnya.

Wacana Biogas yang Terhenti di Tengah Jalan

Jauh sebelum solusi kantong karet ini muncul, sempat tersiar kabar bahwa Pemkot Mataram berencana mengolah limbah kotoran kuda cidomo menjadi biogas. Inisiatif ini awalnya dipandang sebagai solusi win-win, di mana limbah yang tadinya menjadi polusi bisa dikonversi menjadi energi alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat atau pelaku UMKM.

Namun, harapan tinggal harapan. Hingga detik ini, wacana ambisius tersebut belum juga terealisasi. Kendala teknologi, manajemen operasional, hingga konsistensi pengumpulan bahan baku disinyalir menjadi penyebab mandeknya proyek biogas tersebut. Alhasil, pemerintah harus kembali ke cara-cara konvensional, yakni pengumpulan manual menggunakan kantong penampung yang lebih layak.

Baca Juga Strategi Polres Gianyar Perkuat Ketahanan Pangan: Panen Raya 5 Ton Jagung dan Peluncuran SPPG untuk Generasi Sehat
Strategi Polres Gianyar Perkuat Ketahanan Pangan: Panen Raya 5 Ton Jagung dan Peluncuran SPPG untuk Generasi Sehat

Keluhan dari Masyarakat: Antara Budaya dan Kebersihan

Suara keberatan tidak hanya datang dari para pengamat tata kota, tetapi juga dari kalangan mahasiswa dan warga lokal. Nabila, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Mataram, mengungkapkan rasa risihnya terhadap kondisi jalanan saat ini. Ia sering kali mendapati kotoran kuda berceceran justru di titik-titik vital, seperti di depan pusat perbelanjaan atau persimpangan jalan besar.

“Rasanya sangat jorok, apalagi kalau kita sedang berhenti di lampu merah. Kadang kusirnya terlihat cuek saja padahal kudanya sedang buang kotoran. Padahal ini jalan utama yang juga dilewati wisatawan,” keluh Nabila. Menurutnya, kesadaran individu dari para kusir sangat krusial, karena sebagus apa pun fasilitas yang diberikan pemerintah, jika perilaku tidak berubah, maka masalah ini akan terus berulang.

Sanksi Belum Berlaku, Pendekatan Persuasif Jadi Pilihan

Meski desakan untuk memberikan sanksi tegas mulai bermunculan, Dinas Perhubungan Kota Mataram memilih untuk tetap menggunakan pendekatan persuasif. Hingga saat ini, belum ada regulasi yang mengatur sanksi denda atau pidana bagi kusir cidomo yang membiarkan kudanya mengotori jalanan. Petugas di lapangan hanya sebatas memberikan teguran dan imbauan agar para kusir segera membersihkan ceceran kotoran tersebut.

Baca Juga Ubud Berbenah: Ratusan Kendaraan Terjaring Operasi Penertiban Parkir Liar di Jantung Pariwisata Gianyar
Ubud Berbenah: Ratusan Kendaraan Terjaring Operasi Penertiban Parkir Liar di Jantung Pariwisata Gianyar

“Kami belum menerapkan sanksi. Jika ditemukan ada yang tercecer, petugas kami akan meminta mereka membersihkannya saat itu juga. Toh, mereka sebenarnya sudah dibekali alat kebersihan sederhana,” tambah Zulkarwin. Pemerintah berharap dengan dibagikannya kantong karet baru nanti, para kusir tidak punya alasan lagi untuk tidak menjaga kebersihan lingkungan operasional mereka.

Harapan Menuju Mataram yang Lebih Bersih

Langkah pengadaan kantong karet senilai Rp 30 juta ini diharapkan menjadi titik awal perbaikan manajemen cidomo di Mataram. Namun, banyak pihak menilai bahwa pemerintah juga perlu memikirkan integrasi transportasi tradisional ini ke dalam sistem yang lebih modern, termasuk penyediaan insentif bagi kusir yang tertib menjaga kebersihan.

Kota Mataram memiliki potensi besar untuk menyelaraskan antara kemajuan zaman dengan pelestarian budaya seperti cidomo. Ke depannya, sinergi antara pemerintah, pemilik cidomo, dan kesadaran masyarakat akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga bersih, nyaman, dan berestetika tinggi bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Baca Juga Waspada! Penipuan BBM Oplosan Air Hantui Pedagang Kecil di Lombok Timur, Polisi Kejar Pelaku Misterius
Waspada! Penipuan BBM Oplosan Air Hantui Pedagang Kecil di Lombok Timur, Polisi Kejar Pelaku Misterius
Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *