Kisah Inspiratif Nenek Ramlah: Menabung Uang Jajan dari 13 Anak Demi Menunaikan Haji di Usia 101 Tahun

Siska Amelia | KabarHarian
08 May 2026, 22:08 WIB
Kisah Inspiratif Nenek Ramlah: Menabung Uang Jajan dari 13 Anak Demi Menunaikan Haji di Usia 101 Tahun

KabarHarian — Di tengah hiruk-pikuk keberangkatan jemaah haji tahun ini, sebuah kisah mengharukan muncul dari Bumi Serambi Mekkah. Nenek Ramlah Sali, seorang perempuan tangguh yang kini telah menginjak usia 101 tahun, membuktikan bahwa niat yang tulus dan kesabaran yang tak terbatas mampu menembus batas usia dan rintangan fisik. Di usia yang telah melewati satu abad, ia bersiap melangkahkan kaki ke Tanah Suci, memenuhi panggilan Tuhan yang telah ia damba-dambakan sepanjang hidupnya.

Perjalanan Ramlah menuju Baitullah bukanlah hasil dari kekayaan yang instan. Sebaliknya, ini adalah buah dari ketelatenan luar biasa dalam menyisihkan rupiah demi rupiah. Sebagai ibu dari 13 anak, Ramlah memiliki cara unik untuk mengumpulkan biaya haji. Alih-alih mengandalkan satu sumber dana besar, ia dengan sabar mengumpulkan uang pemberian atau ‘uang jajan’ yang rutin diberikan oleh anak-anaknya. Setiap lembar uang yang diterimanya tidak ia habiskan untuk keperluan konsumtif, melainkan disimpan dengan rapi di balik lemari kayu tuanya.

Perjalanan Darat Delapan Jam yang Penuh Perjuangan

Langkah awal Ramlah menuju Arab Saudi dimulai dengan perjalanan darat yang cukup melelahkan. Berangkat dari kediamannya di Kota Langsa, Aceh, Ramlah harus menempuh perjalanan sekitar delapan jam menggunakan bus menuju Asrama Haji Embarkasi Kelas I Aceh yang terletak di Banda Aceh. Bagi seorang lansia berusia 101 tahun, duduk diam di dalam bus dalam durasi waktu tersebut tentu bukanlah perkara mudah.

Baca Juga Strategi Jitu Mengusir Kecoak: 4 Langkah Krusial untuk Melindungi Hunian dari Serangan Serangga Pengganggu
Strategi Jitu Mengusir Kecoak: 4 Langkah Krusial untuk Melindungi Hunian dari Serangan Serangga Pengganggu

Bersama putranya, Mahmud yang kini berusia 65 tahun, Ramlah tiba di asrama haji dengan raut wajah yang menunjukkan kelelahan namun tetap memancarkan binar kebahagiaan. Kepada tim KabarHarian, ia bercerita bahwa selama di perjalanan, ia sulit untuk memejamkan mata. Kakinya terasa kaku dan pegal karena ruang gerak yang terbatas di dalam bus, membuatnya tidak bisa meluruskan kaki atau selonjoran dengan nyaman.

“Sakit kaki saya karena terlalu lama duduk di bus. Tapi alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih baik karena sudah bisa berbaring sebentar tadi di kamar,” tutur Ramlah dengan logat Aceh yang khas saat ditemui di Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Banda Aceh. Selama perjalanan tersebut, ia mengaku terus memanjatkan doa agar diberikan kekuatan fisik, tidak mabuk darat, dan yang paling penting, tetap sehat hingga tiba di Mekkah nanti.

Ketelatenan Menabung: Rahasia di Balik Lemari Kayu

Kisah bagaimana Nenek Ramlah mendaftar haji menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia mendaftarkan diri secara resmi lima tahun yang lalu, tepatnya setelah ia merasa tabungan yang dikumpulkannya selama dua tahun telah mencukupi untuk biaya setoran awal. Menariknya, tabungan tersebut murni berasal dari uang pemberian anak-anaknya yang ia simpan dengan sangat disiplin.

Baca Juga Malam Bersejarah di Villa Park: Aston Villa Hancurkan Liverpool 4-2 dan Amankan Tiket Liga Champions
Malam Bersejarah di Villa Park: Aston Villa Hancurkan Liverpool 4-2 dan Amankan Tiket Liga Champions

Anak-anak Ramlah awalnya tidak menyangka bahwa uang yang mereka berikan untuk kebutuhan sehari-hari atau sekadar uang jajan sang ibu, ternyata tidak pernah dibelanjakan. Ramlah dengan tekun menyimpan uang tersebut di dalam lemari. Baginya, niat untuk melihat Ka’bah secara langsung jauh lebih besar daripada keinginan untuk membeli barang-barang kebutuhan pribadi yang tidak mendesak.

“Anak-anak saya sering bertanya, kenapa saya tidak pernah jajan atau membeli apa-apa. Mereka baru tahu kalau saya menyimpan uang itu untuk biaya haji,” ujarnya sambil tersenyum. Ketika merasa jumlahnya sudah cukup, ia baru memberi tahu anak-anaknya bahwa ia ingin mendaftar haji. Keputusan ini tentu disambut haru dan dukungan penuh dari seluruh keluarga besarnya.

Kebugaran Fisik yang Mengagumkan di Usia Satu Abad

Meski secara administratif tercatat berusia 101 tahun, kondisi fisik Ramlah tergolong luar biasa. Berbeda dengan banyak lansia lain yang memerlukan alat bantu jalan, Ramlah mengaku masih sanggup berjalan kaki tanpa tongkat. Di rumahnya di Langsa, ia bahkan masih aktif melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan menyapu halaman. Kemandirian ini ia bawa hingga ke asrama haji.

Baca Juga Drama 50 Menit Mencekam: Mahasiswi UMP Terjebak di Lift Saat Pemadaman Listrik Masif Melanda Palembang
Drama 50 Menit Mencekam: Mahasiswi UMP Terjebak di Lift Saat Pemadaman Listrik Masif Melanda Palembang

“Insyaallah, saya merasa kuat. Nanti saat di Tanah Suci, saya ingin mencoba berjalan sendiri untuk melaksanakan ibadah jika memang diizinkan dan kuat,” jelasnya optimis. Petugas asrama pun memberikan perhatian khusus kepadanya. Saat turun dari bus, ia sempat dibantu menggunakan kursi roda menuju kamarnya di lantai satu untuk memastikan ia tidak terlalu kelelahan sebelum penerbangan panjang.

Terkait rahasia kebugarannya, Ramlah tidak memiliki pantangan makanan yang rumit. Ia menyantap hampir semua jenis hidangan yang disediakan. Namun, ada satu hal unik yang ia hindari secara konsisten: sayur kangkung dan bayam. Menurut pengalamannya, mengonsumsi kedua jenis sayuran tersebut sering kali membuat persendiannya terasa sakit dan badannya linu. Dengan menghindari keduanya, ia merasa tubuhnya tetap ringan dan lincah bergerak.

Semangat Ibadah yang Tak Pernah Padam

Persiapan spiritual juga telah dilakukan Ramlah dengan matang. Selama masa manasik atau bimbingan ibadah haji di daerah asalnya, ia tidak pernah absen meski harus menempuh perjalanan menuju lokasi manasik dengan dibonceng motor oleh anaknya. Semangatnya yang membara menjadi pemandangan yang menyentuh hati bagi jemaah lain yang usianya jauh lebih muda darinya.

Baca Juga Pengakuan Pilu Karen Hartatum dan Penyesalan Dede Sunandar: Tabir Gelap KDRT di Balik Tawa Sang Komedian
Pengakuan Pilu Karen Hartatum dan Penyesalan Dede Sunandar: Tabir Gelap KDRT di Balik Tawa Sang Komedian

Ia mengaku tidak ada ketakutan dalam dirinya, yang ada hanyalah rasa syukur dan doa yang terus mengalir. Baginya, bisa berangkat haji di usia senja adalah mukjizat dan kehormatan besar. Ia pun selalu berdoa agar diberikan kesehatan selama menjalankan rukun-rukun haji, mulai dari wukuf di Arafah hingga tawaf di Masjidil Haram.

Detail Keberangkatan dan Kloter Jemaah Aceh

Nenek Ramlah merupakan bagian dari jemaah calon haji yang tergabung dalam kloter yang akan diberangkatkan melalui Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar. Dalam kloter ini, terdapat total 393 jemaah yang berasal dari berbagai daerah seperti Kota Langsa, Banda Aceh, Bireuen, Aceh Besar, dan Lhokseumawe.

Jadwal keberangkatan mereka telah ditetapkan pada Sabtu dini hari. Sebelum terbang, para jemaah juga telah mengikuti berbagai simulasi, termasuk simulasi naik pesawat di asrama haji untuk memberikan gambaran bagi para lansia mengenai kondisi di dalam kabin pesawat. Kehadiran Ramlah sebagai jemaah tertua dari Aceh tahun ini tentu menjadi perhatian khusus bagi tim medis dan petugas pendamping haji untuk memastikan kenyamanan dan keselamatannya selama perjalanan udara menuju Arab Saudi.

Baca Juga Skandal Mahkota di Balik Pisau Bedah: Eks Finalis Putri Indonesia Riau Ditetapkan Tersangka Malpraktik Ilegal
Skandal Mahkota di Balik Pisau Bedah: Eks Finalis Putri Indonesia Riau Ditetapkan Tersangka Malpraktik Ilegal

Kesimpulan: Teladan Bagi Generasi Muda

Kisah Nenek Ramlah Sali mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk sebuah impian besar. Usia hanyalah angka, dan keterbatasan materi bisa diatasi dengan disiplin serta niat yang kuat. Ketelatenannya dalam menabung dari hal-hal kecil menunjukkan bahwa konsistensi adalah kunci utama dalam mencapai tujuan yang mulia.

Kini, Nenek Ramlah tengah bersiap untuk memulai perjalanan spiritual paling penting dalam hidupnya. Masyarakat Aceh, khususnya warga Kota Langsa, turut mendoakan agar sang nenek diberikan kekuatan dan keselamatan hingga kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur. Kisah ini akan terus dikenang sebagai bukti nyata bahwa panggilan ke Baitullah akan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *