Dugaan Perlakuan Tak Profesional Petugas Imigrasi Sekupang: Kisah WNA Singapura yang Berujung Pemeriksaan Internal

Siska Amelia | KabarHarian
07 May 2026, 14:08 WIB
Dugaan Perlakuan Tak Profesional Petugas Imigrasi Sekupang: Kisah WNA Singapura yang Berujung Pemeriksaan Internal

KabarHarian — Dunia pariwisata dan pintu perbatasan Kepulauan Riau kembali diguncang isu miring terkait integritas pelayanan publik. Baru-baru ini, sebuah unggahan dari seorang warga negara asing (WNA) asal Singapura mendadak viral di jagat maya setelah dirinya membagikan pengalaman yang kurang menyenangkan saat berhadapan dengan oknum petugas imigrasi di Terminal Feri Internasional Sekupang, Batam. Insiden yang memicu perdebatan hangat di media sosial ini tidak hanya menyangkut soal aturan birokrasi, tetapi juga menyentuh aspek etika dan profesionalisme aparat di garda terdepan negara.

Awal Mula Ketegangan di Pintu Masuk Sekupang

Peristiwa tersebut bermula pada suatu sore yang sibuk, tepatnya sekitar pukul 19.30 WIB. Berdasarkan narasi yang dibagikan oleh korban, perjalanan yang seharusnya berjalan lancar berubah menjadi mimpi buruk saat dirinya melangkah menuju konter pemeriksaan imigrasi. Seperti layaknya pelancong modern, WNA tersebut memegang telepon genggamnya dengan maksud mempersiapkan QR code kedatangan yang telah diisi sebelumnya sebagai syarat administratif masuk ke wilayah Indonesia.

Namun, suasana mendadak tegang ketika seorang petugas yang belakangan diidentifikasi berinisial B menghentikannya dengan nada suara yang tinggi. “Saya dihentikan oleh seorang petugas bernama Barnas. Dengan suara keras dia berteriak, ‘Ibu, tidak boleh menggunakan handphone!’,” tulis WNA tersebut dalam unggahannya yang kini menjadi konsumsi publik. Meskipun sang WNA mencoba memberikan penjelasan bahwa penggunaan ponsel tersebut semata-mata untuk menunjukkan dokumen digital, petugas tersebut dilaporkan tetap bersikap keras dan enggan menerima alasan tersebut.

Baca Juga Tragedi Berdarah di KM 63 Tol Sergai: Kecelakaan Maut Bus Halmahera Merenggut Empat Korban Jiwa
Tragedi Berdarah di KM 63 Tol Sergai: Kecelakaan Maut Bus Halmahera Merenggut Empat Korban Jiwa

Ancaman Penjara dan Aroma Alkohol: Tuduhan Serius yang Viral

Ketegangan tidak berhenti pada teguran soal penggunaan ponsel. Dalam narasinya yang emosional, WNA Singapura tersebut mengaku merasa terintimidasi oleh serangkaian ancaman yang dilontarkan sang petugas. Menurutnya, ia diancam akan dideportasi kembali ke Singapura malam itu juga atau bahkan bermalam di tempat yang tidak diinginkan. “Dia bahkan mengatakan kami bisa tidur di kapal feri atau di penjara. Saya membela diri karena merasa tidak melakukan kejahatan apa pun. Dipenjara hanya karena menyiapkan dokumen di handphone?” ungkapnya penuh tanya.

Yang lebih mengejutkan, sang pelancong juga melontarkan tuduhan yang cukup serius terkait kondisi fisik sang petugas saat bertugas. Ia mengklaim mencium aroma alkohol dari napas petugas tersebut, yang memperkuat dugaannya bahwa oknum tersebut sedang tidak dalam kondisi prima untuk melayani masyarakat. Tak hanya itu, muncul pula dugaan upaya pungutan liar (pungli) dengan dalih pembayaran visa sebesar Rp500 ribu per orang serta permintaan untuk membuat video permintaan maaf secara paksa sebagai syarat penyelesaian masalah.

Baca Juga Tragedi Kekerasan di Daycare Banda Aceh: Bayi 18 Bulan Dianiaya Pengasuh Hingga Terungkapnya Izin Ilegal
Tragedi Kekerasan di Daycare Banda Aceh: Bayi 18 Bulan Dianiaya Pengasuh Hingga Terungkapnya Izin Ilegal

Respons Cepat Imigrasi Batam: Pembebasantugasan Petugas

Menanggapi bola liar yang terus bergulir di media sosial, pihak Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam tidak tinggal diam. KabarHarian memantau bahwa instansi tersebut langsung bergerak melakukan investigasi internal untuk memverifikasi kebenaran cerita yang beredar. Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Imigrasi Batam, Kharisma Rukman, secara resmi mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan detail mengenai insiden di Pelabuhan Sekupang tersebut.

Sebagai langkah tegas untuk menjaga integritas institusi, petugas yang bersangkutan kini telah ditarik dari posisinya di lapangan. “Saat ini kami sedang melakukan pemeriksaan internal yang mendalam. Petugas yang bertugas di Pelabuhan Sekupang tersebut untuk sementara waktu telah dibebastugaskan guna memperlancar proses pemeriksaan,” ujar Kharisma saat memberikan keterangan pers pada Kamis (7/5/2026).

Klarifikasi Terkait Isu Alkohol dan Mediasi yang Dilakukan

Terkait tudingan mengenai aroma alkohol yang dialamatkan kepada petugasnya, Kharisma Rukman memberikan bantahan awal. Berdasarkan pemeriksaan sementara, pihak imigrasi menyatakan bahwa indikasi tersebut tidak ditemukan. Namun, ia menegaskan bahwa pendalaman akan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada prosedur yang dilanggar, termasuk pemeriksaan kesehatan dan disiplin pegawai.

Baca Juga Komitmen Parenting Al Ghazali dan Alyssa Daguise: Rawat Buah Hati Tanpa Babysitter Demi Bonding Maksimal
Komitmen Parenting Al Ghazali dan Alyssa Daguise: Rawat Buah Hati Tanpa Babysitter Demi Bonding Maksimal

“Mengenai dugaan petugas berada di bawah pengaruh alkohol, hasil sementara menunjukkan hal itu tidak benar. Namun, kami tetap melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap seluruh aspek pengaduan tersebut,” tambahnya. Ia juga menyampaikan bahwa proses mediasi antara pihak imigrasi dan WNA Singapura tersebut telah dilakukan. Langkah persuasif ini diambil untuk meredam kegaduhan dan memberikan penjelasan yang komprehensif mengenai regulasi yang berlaku di area terbatas imigrasi.

SOP Area Terbatas dan Tantangan Digitalisasi

Insiden ini membuka ruang diskusi mengenai aturan penggunaan perangkat elektronik di area imigrasi. Secara internasional, area pemeriksaan paspor memang merupakan zona terbatas di mana penggunaan kamera dan ponsel dilarang demi alasan keamanan negara. Namun, di era digital di mana banyak dokumen perjalanan seperti e-Visa, QR Code Bea Cukai, dan sertifikat kesehatan tersimpan di ponsel, batas antara kepatuhan aturan dan kebutuhan praktis seringkali menjadi abu-abu.

Pakar pelayanan publik menilai bahwa diperlukan pendekatan yang lebih humanis dan edukatif dari petugas di lapangan. Alih-alih menggunakan nada keras, sosialisasi mengenai kapan ponsel boleh dikeluarkan dan kapan harus disimpan perlu dilakukan dengan cara yang lebih profesional agar tidak menimbulkan trauma bagi wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, khususnya ke Batam sebagai salah satu gerbang utama pariwisata nasional.

Baca Juga Jejak Kelam Poenale Sanctie: Di Balik Gemerlap Emas Hijau dan Air Mata Buruh Perkebunan Deli
Jejak Kelam Poenale Sanctie: Di Balik Gemerlap Emas Hijau dan Air Mata Buruh Perkebunan Deli

Dampak Terhadap Citra Pariwisata Batam

Batam, yang selama ini mengandalkan kunjungan dari Singapura dan Malaysia, sangat sensitif terhadap isu-isu negatif terkait pelayanan di perbatasan. Satu berita viral mengenai ketidaknyamanan wisatawan dapat berdampak luas pada minat kunjungan warga asing. Oleh karena itu, tindakan cepat dari Imigrasi Batam untuk memediasi dan mengevaluasi anggotanya dipandang sebagai langkah tepat untuk memulihkan kepercayaan publik internasional.

WNA yang bersangkutan pun dikabarkan telah mengunggah klarifikasi tambahan di akun media sosialnya, yang menyatakan bahwa persoalan tersebut telah dianggap selesai setelah adanya komunikasi dengan pihak berwenang. Meskipun masalah secara personal telah tuntas, evaluasi internal di tubuh Imigrasi Batam dipastikan akan terus berlanjut guna memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Harapan Masa Depan: Pelayanan yang Berintegritas

Kejadian ini menjadi pengingat bagi seluruh instansi pelayanan publik bahwa di era keterbukaan informasi, setiap tindakan petugas di lapangan selalu berada di bawah pengawasan masyarakat. Integritas, keramahan, dan kepatuhan terhadap SOP adalah harga mati dalam menyambut tamu mancanegara. Masyarakat berharap agar hasil pemeriksaan internal ini dapat dibuka secara transparan agar menjadi pelajaran bagi petugas lainnya.

Baca Juga Skandal Moral di Korps Adhyaksa: Oknum Jaksa di Madina Diperiksa Intensif Atas Dugaan Perselingkuhan dengan CPNS
Skandal Moral di Korps Adhyaksa: Oknum Jaksa di Madina Diperiksa Intensif Atas Dugaan Perselingkuhan dengan CPNS

Pihak imigrasi senantiasa mengimbau kepada para pelancong untuk tetap mematuhi aturan di area terbatas, namun di sisi lain, institusi juga berjanji untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu memberikan pelayanan yang tegas namun tetap santun. Dengan berakhirnya drama di Sekupang ini, diharapkan hubungan pariwisata antara Singapura dan Batam tetap terjaga harmonis demi pertumbuhan ekonomi di kawasan Kepulauan Riau.

Siska Amelia

Siska Amelia

Penulis konten kreatif yang mengkhususkan diri pada topik gaya hidup, tren media sosial, dan pariwisata lokal. Siska fokus menghadirkan sisi humanis dan inspiratif dari setiap peristiwa harian.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *