Nestapa Pendidikan di SDN 3 Sembung Gede: Antara Puing Sekolah dan Risiko Jalur Tengkorak

Andre Pratama | KabarHarian
04 May 2026, 10:07 WIB
Nestapa Pendidikan di SDN 3 Sembung Gede: Antara Puing Sekolah dan Risiko Jalur Tengkorak

KabarHarian — Dunia pendidikan di Kabupaten Tabanan tengah dirundung duka sekaligus kekhawatiran mendalam. SDN 3 Sembung Gede, yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi generasi penerus bangsa, kini tampak porak-poranda. Pasca-insiden ambruknya gedung sekolah pada Kamis, 30 April 2026 lalu, pihak sekolah menghadapi dilema besar terkait kelangsungan proses belajar mengajar. Rencana awal untuk meminjam Wantilan Banjar Mandung sebagai ruang kelas darurat terpaksa dibatalkan demi alasan yang sangat krusial: keselamatan nyawa siswa.

Dilema Keamanan: Mengapa Wantilan Banjar Mandung Ditolak?

Keputusan pembatalan penggunaan Wantilan Banjar Mandung bukanlah tanpa alasan yang kuat. Lokasi wantilan yang berada tepat di bibir Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk menjadi momok menakutkan bagi para orang tua murid dan pihak komite sekolah. Sebagaimana diketahui, jalur tersebut merupakan urat nadi transportasi logistik yang dikenal dengan kepadatan arus lalu lintasnya, di mana kendaraan besar seperti truk dan bus antarprovinsi melintas setiap detiknya.

Kepala SDN 3 Sembung Gede, Pande Komang Juni Arsana, mengungkapkan bahwa aspirasi ini murni datang dari kekhawatiran kolektif orang tua siswa. Mereka tidak ingin risiko kecelakaan lalu lintas menghantui anak-anak mereka saat tengah menuntut ilmu di lokasi darurat tersebut.

Baca Juga Mimpi Garuda Muda Terhenti di Jeddah: Analisis Kekalahan Menyakitkan Indonesia dari Jepang di Piala Asia U-17
Mimpi Garuda Muda Terhenti di Jeddah: Analisis Kekalahan Menyakitkan Indonesia dari Jepang di Piala Asia U-17

“Ini adalah permintaan langsung dari komite sekolah dan para orang tua. Mereka menyarankan agar siswa kelas I, II, dan III untuk sementara waktu mengikuti pembelajaran secara daring (online). Mengingat lokasi wantilan berada di pinggir jalur utama Denpasar-Gilimanuk, risikonya sangat tinggi karena arus lalu lintas yang luar biasa padat,” ujar Pande saat ditemui tim redaksi di lingkungan sekolah, Senin (4/5/2026).

Minimnya Pengawasan di Tengah Keterbatasan Personel

Selain faktor lokasi yang rawan kecelakaan, kendala internal juga menjadi pertimbangan serius. SDN 3 Sembung Gede saat ini hanya memiliki total 10 orang personel, yang terdiri dari guru dan pegawai. Jumlah yang terbatas ini dianggap tidak memadai untuk melakukan pengawasan ekstra ketat jika kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke fasilitas publik seperti wantilan.

Dalam suasana sekolah yang normal saja, pengawasan terhadap siswa sekolah dasar sudah menuntut perhatian penuh. Apalagi jika para siswa harus berada di ruang terbuka yang dekat dengan jalan raya. Para guru dikhawatirkan akan terpecah fokusnya antara memberikan materi pelajaran dan memastikan anak didik mereka tidak berlarian ke arah jalan raya.

Baca Juga Update Jadwal Salat Denpasar dan Sekitarnya 15 Mei 2026: Persiapan Ibadah Jumat di Pulau Dewata
Update Jadwal Salat Denpasar dan Sekitarnya 15 Mei 2026: Persiapan Ibadah Jumat di Pulau Dewata

Meskipun demikian, Pande menegaskan bahwa opsi penggunaan wantilan tidak sepenuhnya tertutup rapat untuk masa depan. Jika situasi mendesak dan ada jaminan keamanan tambahan, rencana tersebut bisa saja dibahas kembali melalui rapat komite yang lebih mendalam. Namun untuk saat ini, keselamatan siswa tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.

Kronologi Ambruknya Harapan: Gedung Uzur yang Terabaikan

Tragedi ambruknya gedung SDN 3 Sembung Gede sebenarnya bukan sebuah kejutan yang tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kondisi bangunan yang sudah lama merapuh. Gedung ini merupakan bangunan tua yang didirikan sejak tahun 1980. Selama puluhan tahun, perawatan yang dilakukan tergolong minim dan hanya menyentuh aspek estetika semata.

Berdasarkan catatan sekolah, salah satu ruang kelas sebenarnya sudah dikosongkan selama hampir dua tahun terakhir. Tanda-tanda kerusakan seperti keretakan dinding yang lebar dan plafon yang jebol sudah terlihat jelas. Sayangnya, kerusakan tersebut perlahan merembet ke struktur bangunan lainnya hingga akhirnya beban atap tak lagi sanggup ditahan oleh tiang-tiang penyangga yang telah lapuk termakan usia.

Baca Juga David Moyes Tegaskan Mikel Arteta Tak Perlu Berterima Kasih Usai Everton Berhasil Jegal Manchester City
David Moyes Tegaskan Mikel Arteta Tak Perlu Berterima Kasih Usai Everton Berhasil Jegal Manchester City

Hujan deras yang mengguyur wilayah Tabanan pada akhir April lalu menjadi pemicu terakhir. Struktur bangunan yang sudah ringkih tersebut akhirnya menyerah, mengakibatkan ruang kelas IV, V, VI, serta satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) rata dengan tanah. Beruntung, saat kejadian tidak ada aktivitas di dalam ruangan sehingga tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.

Solusi Darurat: Dari Perpustakaan hingga Layar Digital

Dengan kondisi gedung yang tak lagi bisa digunakan, pihak sekolah terpaksa memutar otak agar hak pendidikan siswa tetap terpenuhi. Skema pembelajaran daring menjadi pilihan paling rasional untuk saat ini bagi kelas-kelas rendah. Namun, pihak sekolah juga telah menyiapkan skema ‘berbagi ruang’ di dalam sisa bangunan yang masih dianggap aman.

Pande menjelaskan, beberapa ruangan yang tersisa seperti ruang perpustakaan, ruang guru, bahkan ruang kepala sekolah akan disulap menjadi ruang kelas darurat bagi siswa kelas I sampai III. Strategi ini akan diterapkan segera setelah proses pembersihan material bangunan yang ambruk selesai dilakukan.

Baca Juga Horor di Badung hingga Tragedi di Jalan Imam Bonjol: Rangkuman Peristiwa Kelam Bali Sepekan Terakhir
Horor di Badung hingga Tragedi di Jalan Imam Bonjol: Rangkuman Peristiwa Kelam Bali Sepekan Terakhir

“Kami tidak bisa memutuskan sendiri, setiap langkah harus kami koordinasikan dengan orang tua murid. Jika nantinya mereka setuju untuk kembali belajar di sekolah dengan memanfaatkan ruangan yang ada, maka kami akan laksanakan dengan pengaturan jadwal yang ketat,” tambahnya.

Langkah Cepat BPBD Tabanan dan Harapan Rehabilitasi

Respons pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan sudah mulai terlihat. Tim BPBD telah melakukan peninjauan lapangan pada Sabtu (2/5/2026) untuk memetakan risiko dan merencanakan proses evakuasi material.

Rencananya, pada hari Rabu lusa, tim BPBD akan dikerahkan secara penuh ke lokasi untuk meratakan puing-puing bangunan. Langkah ini sangat krusial, karena puing-puing yang berserakan tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menyimpan potensi bahaya bagi siswa yang bermain di sekitar area tersebut.

Di sisi lain, publik juga menyoroti wacana regrouping atau penggabungan sekolah dasar di Tabanan yang sempat mencuat. Namun, bagi SDN 3 Sembung Gede, kebutuhan mendesak saat ini adalah perbaikan infrastruktur yang nyata. Masyarakat berharap agar Pemerintah Kabupaten Tabanan tidak hanya memberikan solusi jangka pendek, tetapi juga mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kembali gedung sekolah yang lebih layak dan aman.

Baca Juga Transformasi Hijau Denpasar: Mengapa Green Hotel Kini Menjadi Standar Wajib Wisatawan Global?
Transformasi Hijau Denpasar: Mengapa Green Hotel Kini Menjadi Standar Wajib Wisatawan Global?

Pesan Moral: Keselamatan Anak Adalah Segalanya

Kasus SDN 3 Sembung Gede menjadi pengingat keras bagi pemangku kepentingan bahwa keselamatan infrastruktur pendidikan tidak boleh dipandang sebelah mata. Pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan nilai akademik, tetapi juga soal menyediakan lingkungan yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh.

Keputusan berani kepala sekolah dan orang tua murid untuk membatalkan penggunaan wantilan karena risiko lalu lintas menunjukkan bahwa kesadaran akan keselamatan publik mulai tumbuh kuat. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Apakah mereka akan bergerak cepat merenovasi gedung yang ambruk, atau membiarkan para siswa terus belajar di bawah bayang-bayang keterbatasan?

Selagi menunggu kepastian pembangunan kembali, para siswa SDN 3 Sembung Gede harus puas dengan ruang kelas seadanya. Di tengah debu puing dan suara bising kendaraan dari kejauhan, semangat belajar mereka tak boleh padam. Pendidikan harus terus berjalan, meski raga mereka harus terpisah oleh layar digital atau berdesakan di ruang perpustakaan yang sempit.

Andre Pratama

Andre Pratama

Jurnalis lapangan yang berdedikasi meliput isu-isu regional dan peristiwa terkini di Indonesia. Memiliki minat mendalam pada isu kebijakan publik dan perkembangan infrastruktur di daerah.

Load more article →

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *