Maut di Jalur Trans Sulawesi: Kronologi Kecelakaan Beruntun Akibat Rem Blong di Morowali yang Merenggut Dua Nyawa
KabarHarian — Suasana tenang di Minggu siang di kawasan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, seketika berubah menjadi mencekam. Sebuah insiden kecelakaan lalu lintas fatal yang melibatkan kendaraan berat kembali terjadi, menorehkan duka mendalam bagi warga di wilayah Desa Bete-bete, Kecamatan Bahodopi. Peristiwa yang terjadi di jalur Trans Sulawesi ini melibatkan dua unit truk bermuatan besar dan satu sepeda motor, yang mengakibatkan dua nyawa melayang di lokasi kejadian.
Kronologi Tragedi di Tanjakan Bete-bete
Kecelakaan maut tersebut terjadi pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 11.30 WITA. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi di lapangan, titik koordinat kecelakaan berada di jalur penurunan dan tanjakan yang cukup terjal di wilayah perbukitan Desa Bete-bete. Medan yang ekstrem di kawasan ini memang kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para pengemudi kendaraan logistik dan operasional perusahaan tambang yang melintas setiap harinya.
Insiden bermula ketika sebuah truk raksasa dengan konfigurasi 10 roda merek FAW melaju dari arah Tangowa menuju arah Desa Bete-bete. Truk tersebut diduga membawa beban yang cukup berat. Masalah mulai muncul ketika kendaraan memasuki jalur yang menurun dan berkelok. Rem yang seharusnya menjadi tumpuan utama untuk menahan laju kendaraan di jalur curam tersebut mendadak tidak berfungsi alias blong.
Sopir truk 10 roda, yang kemudian diidentifikasi bernama Muh Agung, dilaporkan berusaha keras untuk mengendalikan kemudi di tengah kepanikan saat menyadari sistem pengeremannya gagal total. Di jalur Trans Sulawesi yang relatif sempit untuk ukuran kendaraan sebesar itu, kegagalan mekanis adalah resep menuju bencana yang tak terelakkan.
Tabrakan Beruntun yang Tak Terhindarkan
Kapolres Morowali, AKBP Zulkarnain, dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa ketidakmampuan kendaraan untuk melambat di jalur penurunan mengakibatkan truk tersebut meluncur liar. Situasi semakin memburuk karena pada saat yang bersamaan, dari arah berlawanan, muncul sebuah truk enam roda (truk Canter) dan satu unit sepeda motor yang dikendarai warga setempat.
“Kecelakaan diduga kuat dipicu oleh kegagalan sistem pengereman atau rem blong pada truk 10 roda tersebut saat melintasi jalur penurunan gunung di Desa Bete-bete,” ungkap AKBP Zulkarnain saat memberikan keterangan kepada awak media. Karena kecepatan yang terus meningkat akibat gravitasi dan hilangnya kendali mekanis, truk FAW tersebut menghantam kendaraan di depannya dengan kekuatan yang sangat besar.
Dentuman keras dilaporkan terdengar oleh warga sekitar saat ketiga kendaraan tersebut saling bertabrakan. Puing-puing kendaraan berserakan di badan jalan, sementara debu dan asap sempat membubung tinggi dari lokasi kejadian. Truk Canter yang dihantam mengalami kerusakan parah pada bagian kabin, sementara pengendara motor tak memiliki cukup ruang untuk menghindar dari insiden berantai tersebut.
Identitas Korban dan Dampak Kecelakaan
Kecelakaan hebat ini memakan korban jiwa. Pengemudi truk 10 roda, Muh Agung, dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka parah yang dideritanya saat kendaraan yang ia kemudikan menghantam objek keras. Selain Agung, nasib malang juga menimpa seorang kernet truk enam roda bernama Fauzi. Ia mengembuskan napas terakhirnya setelah terjepit di dalam kabin kendaraan yang ringsek akibat hantaman keras truk raksasa tersebut.
Selain dua korban meninggal dunia, terdapat dua orang lainnya yang mengalami luka-luka. Haris, sopir truk Canter yang ditabrak, mengalami cedera serius berupa luka pada kaki kanan dan lengan kanannya. Sementara itu, pengendara sepeda motor bernama Samaluddin berhasil selamat dari maut meski harus menderita sejumlah luka lecet di bagian kaki akibat terjatuh dan terseret di aspal saat mencoba menyelamatkan diri.
Pihak kepolisian segera bergerak cepat setelah menerima laporan warga. Tim medis dikerahkan untuk mengevakuasi korban ke pusat layanan kesehatan terdekat di Bahodopi. “Dua korban selamat sudah mendapatkan penanganan medis secara intensif. Anggota kami juga sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memastikan kronologi secara teknis,” tambah Kapolres.
Kerugian Material dan Penyelidikan Lanjutan
Bukan hanya hilangnya nyawa manusia, kecelakaan ini juga mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Berdasarkan taksiran awal dari pihak kepolisian, total kerugian mencapai angka Rp 500 juta. Nilai ini mencakup kerusakan total pada truk 10 roda, kerusakan berat pada truk Canter, serta kerusakan pada sepeda motor korban.
Proses evakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan memakan waktu cukup lama karena ukuran truk yang besar dan posisi kendaraan yang menutup sebagian akses jalan Trans Sulawesi. Hal ini sempat memicu kemacetan panjang di kedua arah, mengingat jalur ini merupakan urat nadi transportasi logistik utama di Sulawesi Tengah, terutama bagi industri di Morowali.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami apakah ada unsur kelalaian lain, seperti kelebihan muatan (overloading) atau keterlambatan dalam melakukan uji berkala (KIR) pada kendaraan berat tersebut. Penyelidikan mendalam diperlukan untuk memberikan kepastian hukum bagi seluruh korban yang terlibat.
Sorotan pada Keamanan Jalan di Jalur Industri
Tragedi di Desa Bete-bete ini kembali memicu diskusi publik mengenai pentingnya standar keselamatan kendaraan berat di kawasan industri seperti Morowali. Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi, volume kendaraan besar di Morowali terus meningkat secara signifikan. Namun, kondisi geografis yang berbukit-bukit menuntut kondisi kendaraan yang selalu prima.
KabarHarian mencatat bahwa insiden serupa, yakni truk yang gagal menanjak atau mengalami rem blong di jalur penurunan, bukan kali pertama terjadi di wilayah hukum Morowali. Para pengamat transportasi menyarankan agar perusahaan pemilik armada lebih memperketat pengawasan terhadap perawatan rutin sistem pengereman dan kondisi ban, terutama sebelum kendaraan menempuh jalur ekstrem.
Masyarakat setempat juga berharap adanya penambahan fasilitas keselamatan jalan, seperti pemasangan rambu peringatan yang lebih banyak, pembangunan jalur penyelamat (emergency safety ramp) di titik-titik turunan tajam, serta penerangan jalan yang memadai. Jalur Trans Sulawesi di Morowali tidak hanya menjadi jalan bagi kendaraan tambang, tetapi juga akses harian bagi warga sipil, sehingga standar keselamatannya harus benar-benar terjaga demi mencegah terulangnya tragedi yang memilukan seperti ini.