Misteri Hujan “Salah Musim” di Makassar: Menguak Dalang di Balik Cuaca Ekstrem Saat Kemarau
KabarHarian — Langit Kota Makassar belakangan ini seolah menyimpan anomali yang sulit ditebak. Di saat kalender meteorologi menunjukkan bahwa wilayah ini seharusnya sudah didekap terik musim kemarau, yang terjadi justru sebaliknya. Hujan dengan intensitas persisten mengguyur “Kota Daeng” selama tiga hari berturut-turut, menyisakan tanya di benak warga tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi di atas atmosfer Sulawesi Selatan.
Pemandangan langit kelabu dan rintik hujan yang tak kunjung reda telah menjadi kawan setia masyarakat Makassar sejak akhir pekan lalu. Fenomena ini tergolong unik karena terjadi di tengah periode yang diprediksi sebagai puncak kemarau. Namun, alam memiliki mekanismenya sendiri, dan kali ini, sebuah kolaborasi fenomena atmosfer tingkat tinggi menjadi aktor utama di balik basahnya jalanan Makassar di bulan Mei 2026 ini.
Sinkronisasi Langka: Empat Gelombang Ekuator Bertemu
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memberikan penjelasan ilmiah yang komprehensif terkait kondisi ini. Berdasarkan analisis data satelit dan permodelan cuaca, hujan yang seolah enggan beranjak ini dipicu oleh aktifnya empat gelombang ekuator secara bersamaan. Fenomena ini jarang terjadi dengan intensitas yang sesinkron sekarang.
Retno Noviana, Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah IV Makassar, mengungkapkan bahwa ada konvergensi besar yang melibatkan Depresi Tropis, Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby, dan Gelombang Kelvin. Keempat elemen ini bekerja secara simultan menciptakan kondisi yang sangat mendukung pertumbuhan awan hujan masif di wilayah Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya empat gelombang ekuator tersebut secara bersamaan. Ketika gelombang-gelombang ini berada pada fase aktif di wilayah yang sama, mereka bertindak sebagai ‘mesin’ pengumpul massa udara basah, yang kemudian berkondensasi menjadi awan-awan hujan yang tebal dan awet,” ujar Retno dalam keterangan resminya kepada tim KabarHarian pada Senin (18/5/2026).
Pengaruh Suhu Laut Banda yang Menghangat
Selain faktor gelombang ekuator, pasokan uap air dari perairan sekitar juga memainkan peran krusial. BMKG mencatat adanya kenaikan suhu muka laut yang signifikan di wilayah Laut Banda. Suhu yang hangat ini memicu penguapan yang tinggi, menciptakan cadangan uap air yang melimpah di atmosfer.
Uap air yang melimpah ini kemudian “dijemput” oleh angin timuran yang berembus kencang. Massa udara yang lembab dan sarat air tersebut dibawa menuju daratan Sulawesi Selatan. Interaksi antara uap air yang melimpah dengan gangguan atmosfer dari gelombang ekuator inilah yang menciptakan curah hujan dengan durasi yang lama, atau yang oleh warga lokal sering disebut sebagai hujan yang “awet”.
“Suhu muka laut yang hangat di Laut Banda meningkatkan suplai uap air ke atmosfer. Massa udara lembab ini dibawa oleh angin timuran menuju Sulawesi Selatan, sehingga peluang terjadinya hujan tetap tinggi meskipun kita berada di musim kemarau,” tambah Retno menjelaskan mekanisme alam tersebut.
Wajah Kota Makassar: Genangan di Urat Nadi Jalanan
Dampak dari hujan yang turun terus-menerus ini mulai terasa di berbagai sudut kota. Berdasarkan pantauan lapangan tim KabarHarian, genangan air mulai muncul di beberapa titik vital. Salah satu yang paling terdampak adalah kawasan Jalan AP Pettarani hingga Jalan Yusuf Dg Ngawing. Di lokasi ini, air sempat menggenang setinggi betis orang dewasa pada Senin siang, sekitar pukul 13.00 WITA.
Kawasan komersial di sekitar gedung Informa hingga pertigaan menuju Jalan Yusuf Dg Ngawing berubah menjadi kolam dadakan. Tidak hanya itu, rembetan genangan juga terlihat di sepanjang Jalan Emmy Saelan, Jalan Mapala, hingga Jalan Pendidikan yang berbatasan langsung dengan gedung Phinisi UNM. Kendaraan-kendaraan yang melintas terpaksa memperlambat laju mereka, menciptakan efek domino pada kelancaran arus lalu lintas.
Para pengendara sepeda motor terlihat banyak yang menepi di bawah jembatan layang atau teras-teras toko, menunggu hujan mereda. Namun, bagi mereka yang nekat menerobos, risiko mogok menjadi ancaman nyata. Kondisi ini memperburuk situasi jalanan yang sudah padat sejak pagi hari.
Kemacetan Parah dan Kelumpuhan Arus Lalu Lintas
Hujan dan genangan air adalah kombinasi sempurna untuk menciptakan kemacetan horor di Makassar. Memasuki waktu malam, situasi di jalan-jalan protokol semakin memprihatinkan. Kemacetan parah dilaporkan terjadi di poros Jalan AP Pettarani hingga menyambung ke Jalan Sultan Alauddin. Antrean kendaraan tampak mengular, mulai dari persimpangan Letjen Hertasning hingga ke arah perbatasan Kabupaten Gowa.
Di Jalan Sultan Alauddin, kendaraan nyaris tidak bergerak menuju arah kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh). Volume kendaraan yang tinggi tidak mampu ditampung oleh ruas jalan yang sebagian terhambat oleh genangan. Selain itu, pengerjaan jalan di beberapa titik, seperti di sekitar Jembatan Aroepala dan Jalan Tun Abdul Razak, semakin memperparah sumbatan arus kendaraan.
Jalur-jalur alternatif yang biasanya menjadi penyelamat bagi para komuter pun tak berdaya. Jalan-jalan sempit di wilayah pemukiman ikut dipadati kendaraan yang berusaha menghindari macet di jalan utama. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kendaraan yang berhenti sembarangan di bahu jalan untuk berteduh, yang secara otomatis memakan badan jalan dan memperlambat aliran kendaraan di belakangnya.
Kapan Hujan Akan Berakhir?
Masyarakat Makassar tentu bertanya-tanya, sampai kapan anomali cuaca ini akan berlangsung? Menjawab kegelisahan tersebut, Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, memberikan prediksinya. Menurut Rizky, kondisi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat ini diperkirakan masih akan bertahan hingga Selasa.
“Untuk wilayah Makassar dan sekitarnya, kami prediksi kondisi ini bertahan sampai hari ini (Selasa). Namun, warga bisa sedikit bernapas lega karena pada hari Rabu, intensitas hujan diprediksi akan mulai berkurang secara signifikan seiring dengan melemahnya pengaruh gelombang ekuator tersebut,” jelas Rizky.
Meski demikian, BMKG tetap mengeluarkan peringatan dini agar warga tetap waspada. Potensi hujan yang disertai kilat, petir, dan angin kencang berdurasi singkat masih sangat mungkin terjadi. Risiko pohon tumbang, papan reklame yang roboh, serta genangan air yang lebih tinggi harus tetap diantisipasi oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas luar ruangan yang padat.
Imbauan untuk Warga dan Pengguna Jalan
Menyikapi kondisi cuaca yang tidak menentu, otoritas terkait mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam berkendara. Jalanan yang licin dan jarak pandang yang terbatas saat hujan lebat menjadi faktor risiko kecelakaan yang tinggi. Selain itu, warga diminta untuk memperhatikan saluran drainase di sekitar lingkungan masing-masing untuk mencegah sumbatan yang bisa memperparah genangan.
Pihak kepolisian lalu lintas juga menyarankan agar para pengendara tidak berteduh di bawah jembatan layang (flyover) atau di bawah pohon besar yang rawan tumbang. Penggunaan lampu utama kendaraan saat hujan lebat juga sangat disarankan untuk membantu visibilitas pengendara lain.
Fenomena hujan di musim kemarau ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perubahan iklim dan dinamika atmosfer global dapat membawa kejutan sewaktu-waktu. Tetap pantau informasi cuaca terkini melalui saluran resmi BMKG dan berita terbaru dari KabarHarian untuk memastikan keselamatan dan kelancaran aktivitas harian Anda di tengah cuaca ekstrem ini.